
Sebastian bahkan harus mengabaikan pesan tersebut yang ia tebak,pasti Billy yang sedang mengiriminya pesan.Ia selalu mengingat nasihat-nasihat dari kedua orang tuanya,dan inilah salah satu nasihat dari kedua orang tuanya,yaitu jangan melihat HP jika sedang berbicara dengan orang tua.
Tapi untuk orang tua-orang tua tertentu saja,yang akan ia hormati,dan terhadap Daddynya Jennifer,ntah kenapa ia merasa kalau ia harus menghormati pria tua yang menyebalkan ini.
Daddypun hanya tersenyum kecil saja saat ia mendengar apa jawaban dari Sebastian barusan.Lalu ia kembali menghela napas dengan panjang dan berat,sebelum ia harus kembali berbicara panjang lebar.
"Lihatlah,putri sulungku itu..." ucap Daddy dengan wajah yang sedang menetralkan semua rasa kesalnya,tapi ada terselip rasa khawatir disana,dan Sebastian yang memang selalu jeli pada setiap keadaan itupun,ia langsung bisa menyadarinya dengan cepat.
"Apakah kamu tahu,putri sulungku itu tidak pernah jatuh cinta,tapi kamu sendiri bisa melihatnya bukan? Sekali dia jatuh cinta,dia sudah tidak ingin memperdulikan apapun lagi,dia pasti akan tetap dengan keras kepalanya...Aku rasa,kamu mengerti apa maksudku..." lanjut Daddy dengan nada pelannya tapi terdengar serius,sambil terus menelisik wajah tenangnya Sebastian.
" Jadi aku sarankan padamu...Jika kamu bisa mencintai putri kami dalam waktu dekat ini,restu kami akan terus ada untukmu.Tapi jika kamu tidak bisa mencintai putri kami,jauhi dia sejauh mungkin pada saat itu juga.Jangan menyakiti hatinya Jennifer dengan wajah serba salahmu itu..."lanjut Daddy lagi,dengan nada menyindirnya dan juga wajah seriusnya.
Karena memang itu yang terlihat dimatanya sekarang,menurutnya Sebastian tidak terlihat menolak ataupun menerima cintanya Jennifer,tapi putri keras kepalanya itu malah seperti tidak ada pria lain saja didunia ini,selain Sebastian.
Ntahlah,ia sendiri juga tidak tahu harus mengatakan apa tentang putri sulungnya itu,dan ia berharap kalau Sylvia tidak akan seperti kakaknya dimasa depan nanti...
'Ntahlah...' batin Sebastian dengan wajah malasnya,sambil terus menelisik wajah seriusnya Daddy yang terus saja menghela napas pelan sedari mulai berbicara panjang lebar tadi.
"Dan jangan pernah menyentuhnya lagi,walau sedikitpun,sebelum kamu yakin dengan perasaanmu sendiri.Aku tidak mau,kalau sampai kamu tiba-tiba saja pergi meninggalkannya setelah kamu sudah puas bermain-main dengannya.Kalau sampai hal itu terjadi,aku pasti akan menguburmu hidup-hidup pada saat itu juga, sebelum kamu sempat berkata sepatah kata perpisahanpun.." lanjut Daddy lagi, dengan nada penuh peringatan dan menyindirnya lagi, karena Sebastian sudah menjadi pria munafik, seperti kucing peliharaan istrinya saja.
Awalnya memang sok-sok an jual mahal,tapi saat disodorkan ikan padanya,pasti akan disosor juga.
Walaupun ia sendiri juga bisa melihat kalau dalam satu tahun ini,Sebastian terlihat begitu galau karena terus memikirkan Jennifer,dan sekarang juga sudah terlihat sedikit perkembangan ditatapan datarnya itu yang mungkin saja sudah ada arti cinta disana,untuk Jennifer.
Tapi tetap saja,ia tidak mau hal yang ia khawatirkan tadi benar-benar terjadi.Jadi ia harus berusaha mengantisipasi semaksimal mungkin supaya hal tersebut tidak akan terjadi,paling tidak sampai mereka berdua benar-benar sudah menikah.
"Paman,aku jelaskan padamu,aku bukan pria brengsek seperti apa yang kamu pikirkan itu..." ucap Sebasttian dengan nada kesalnya karena tidak terima dikatain oleh Daddynya Jennifer seperti itu,wajah malas dan tenangnya tadipun langsung merasa terganggu,berkat perkataan tidak berdasar tersebut,walaupun ia akui kalau perbuatannya tadi memang sedikit tidak terpuji.
'Ya,dan hanya putri kalian,wanita yang mampu membuat diriku menjadi sebrengsek itu...Tapi itu semua juga karena......Ya sudahlah,tidak guna juga aku mengatakan apapun saat ini...' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,ia menjadi bingung bagaimana caranya ia akan membela diri,karena sedikit banyak dirinya juga wajib disalahkan atas kekhilafan tersebut.
"Lalu,yang tadi itu apa? Jangan katakan,kalau tadi itu kamu hanya sedang khilaf saja ..." tanya Daddy balik dengan nada kesalnya,saat ia melihat Sebastian yang masih juga sempat mengelak.
"Itu tidak akan terjadi lagi..." jawab Sebastian dengan nada yakin dan wajah seriusnya,mereka berdua bahkan terus saja saling beradu tatapan mata,kadang tatapan kesal dan kadang juga tatapan serius.
"Apakah kamu yakin?" tanya Daddy dengan nada mengejeknya,karena melihat tingkah nakal putrinya itu,pasti untuk kedepannya hal yang seperti tadi akan terjadi lagi.
"Yakin..." jawab Sebastian dengan singkat dan wajah seriusnya.
"Apakah kamu yakin,kalau kamu bisa menepatinya?" tanya Daddy lagi,dengan nada yang masih saja mengejek.
"Yakin,aku bahkan sangat yakin..." jawab Sebastian dengan wajah yakinnya,ia juga mengabaikan nada ejekannya Daddy.
"Tapi aku sendiri yang tidak yakin padamu..." ucap Daddy dengan wajah tidak percayanya,dan hal itupun mampu membuat Sebastian langsung mendengkus kesal.
"Ya,itu bukan urusanku,paman..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya sambil melirik sekilas jam tangannya yang ternyata baru jam 9 malam saja.
"Tentu saja itu juga menjadi urusanmu,karena yang sedang kamu nodai itu putri sulungku..." ucap Daddy yang masih belum ingin mengalah.
__ADS_1
"Tuan Arka,aku rasa Tuan cukup mengerti dengan apa yang sedang terjadi diantara kami,sedari hari itu hingga sekarang? Bukan aku yang sengaja ingin menodai putri sulungmu itu,Jennifer sendiri yang selalu menganggu aku..." ucap Sebastian dengan wajah kesalnya,karena memang benar adanya seperti itu.
Ia bahkan kembali memanggil seperti awal,karena rasa kesalnya,tapi sepertinya Daddynya Jennifer mengabaikannya begitu saja.
Ia juga bahkan sudah bersembunyi,tapi takdir berkata lain,Jennifer malah secara tidak sengaja menemui dirinya disaat ia ke Mall hari itu.
"Memangnya kamu kira,aku begitu tidak memiliki perkerjaan lain apa? Sampai aku harus terus mengawasi kegiatan-kegiatan kalian berdua..." jawab Daddy dengan nada malasnya dan wajah yang berpura-pura benar-benar tidak mengetahui apapun.
Tapi didalam hatinya ia tersenyum lega,karena Sebastian tidak menyebut Jennifer dengan sebutan penggoda atau sebagainya,itu juga berarti putri sulungnya itu sudah ada tempat tersendiri didalam hatinya Sebastian.
Karena dari laporan yang selalu ia dengar,jika itu wanita-wanita yang lainnya,pasti mereka sudah mendapatkan kata-kata kasar dari Sebastian.
"Apakah paman mengira,kalau aku akan mempercayainya?" tanya Sebastian dengan wajah yang semakin kesal saja,saat ia melihat tingkah Daddynya Jennifer yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.
Padahal mereka berdua sama-sama tahu bagaimana kemampuan mereka masing-masing,tapi Daddynya Jennifer malah berlagak,seolah-olah dirinyalah orang bod*hnya.
"Ya,itu juga bukan urusanku..." jawab Daddy dengan tersenyum puas dibalik wajah santainya tanpa merasa bersalah sedikitpun,karena ia sudah berhasil membalas rasa kesalnya tadi.
Sebastian langsung mendengkus kesal,saat ia mendengar jawaban Daddynya Jennifer barusan,kenapa ia harus berdebat panjang lebar sama Daddynya Jennifer,padahal hal tersebut tidak pernah ia lakukan selama 1 tahun ini.
"Paman,bisakah sekarang aku pulang saja?..." tanya Sebastian dengan wajah seriusnya,ia ingin menegaskan kalau dirinya tidak bisa menginap disini,lebih tepatnya ia tidak mau.
"Tidak bisa.Bukankah perkataanku dibawah tadi sudah cukup jelas,kenapa kamu malah bertanya lagi..." jawab Daddy dengan wajah santainya.
"Aku perjelaskan lagi,padamu...Kamu harus menginap disini dan juga tidak perlu berkerja untuk beberapa hari kedepan,masalah perusahaan biar Billy dan Aldy saja yang mengurusnya.Dan satu lagi,aku tidak suka mendengar penolakan apapun darimu..." lanjut Daddy dengan nada dan wajah tegasnya,sebelum Sebastian sempat bersuara kembali dan memberi berbagai alasan padanya.
Yang benar saja,ia harus berada disini selama beberapa hari kedepan dan sepanjang hari. Dirinya yang sudah terbiasa disetiap harinya berkerja 11-12 jam diperusahaannya dan beberapa jam diluar rumah atau dirumahnya,dan sisanya akan ia pergunakan untuk beristirahat.
Tapi sekarang,ia harus berdiam diri di Mansion besar ini untuk sepanjang hari tanpa berkerja. Belum lagi,ia harus terus berhadapan dengan keluarga yang aneh dan menyebalkan ini,terutama sama Jennifer.
"Apakah aku terlihat sedang bercanda?" tanya Daddy balik dengan nada kesalnya,apa Sebastian tidak bisa melihat wajah seriusnya saat ini.
"Ya,saat ini aku berharap kalau paman memang sedang bercanda..." jawab Sebastian dengan wajah kesalnya,sambil menurunkan kakinya dengan gerakan kesal.
"Kalau begitu,buang jauh-jauh harapanmu itu,karena aku tidak sedang bercanda saat ini..." ucap Daddy dengan wajah santainya,sambil menahan senyum.
Sedangkan Sebastian,ia sudah malas mau berdebat dengan Daddynya Jennifer lagi.Dan mungkin saja perdebatan mereka itu tidak akan ada habis-habisnya,jika terus saja dilanjutkan, pasti akan sampai subuh,karena tidak ada yang mau mengalah duluan.
Kemudian iapun hanya mampu mendengkus kesal dan menyandarkan tubuh malasnya kebelakang dengan wajah kesalnya,sambil mengeluarkan HPnya untuk melihat isi pesan masuk tadi.
Daddynya Jenniferpun ikut menyandarkan tubuhnya kebelakang dengan pelan,sambil mengangkat sebelah kakinya dan menyilangkannya.
Tapi wajah santainya tadi langsung terlihat sedang mengernyit heran saat ia melihat Sebastian yang sedang tersenyum kecil dengan kedua mata yang terus fokus pada layar HPnya.
"Lihatlah...Walaupun paman memang mampu mengetahui banyak hal,tapi sudah dipastikan kalau akulah orang pertama yang akan memgetahuinya terlebih dahulu..." ucap Sebastian dengan wajah yang tersenyum senang,setelah ia sudah melihat isi pesan tersebut yang ternyata dari Billy.
"Apa maksudmu?" tanya Daddy dengan wajah bingungnya,sambil terus menelisik wajah senangnya Sebastian.
__ADS_1
Dan pertanyaan tersebutpun bertepatan dengan suara nada dering pesan masuk dari HPnya Daddy,hingga membuat Daddy mulai menebak apa maksudnya Sebastian tadi.
"Paman,jangan terlalu banyak berpikir,tidak bagus untuk kesehatanmu.Buka saja,dan baca..." ucap Sebastian dengan wajah santainya,dan mengabaikan pertanyaan dari Daddy,sambil menyimpan HPnya kembali.
"Cih..." Daddypun langsung berdecih kesal,saat ia sudah selesai membaca isi pesan tersebut yang juga dari Billy,dan isi pesan-pesan tersebut yang juga ternyata sama.
Terlihat disana,isi pesannya dari Billy barusan...
(Billy...).
"Tuan Besar,hari ini ada 2 mobil yang sedang mengawasi Mansionnya Tuan Besar.Satu pada sore hari tadi,pelakunya adalah Nona Rebeeca.Dan satu lagi pada malam hari,yaitu sekarang,mereka adalah Tuan Brennan dan orang-orangnya... Sekarang aku harus melakukan apa pada mereka,Tuan Besar?"
Billy menulis dengan panjang lebar,dan juga bertanya,tapi keduanya malah tidak berniat ingin membalas sedikitpun,dan membiarkan dirinya menunggu tanpa kepastian disana.
"Jangan merasa bangga dulu,itu semua hanya karena dia takut sama kamu..." ucap Daddy yang tidak mau kalah,dengan nada kesalnya.
Tapi apa yang ia katakan,hampir sepenuhnya memang benar adanya,karena Sebastian selalu membunuh musuh-musuhnya dengan kejam.Ia pernah mendengar beberapa laporan dari anak buahnya yang mengatakan kalau Sebastian selalu membantai habis-habisan musuh-musuh yang berniat ingin melukai adiknya hari itu.
Dan sisanya karena rasa hormat dan kagum mereka pada Sebastian,karena selama ini Sebastian sama sekali tidak pernah merendahkan mereka sedikitpun.Sebastian bahkan tidak akan bersikap pelit,dan selalu menolong kesulitan mereka dan orang-orang miskin yang lainnya.
Kecuali,jika ada pengkhianatan atau ada yang telah menganggunya.
Tapi sebenarnya dalam hatinya ia sendiri juga merasa tidak masalah dengan kekejamannya Sebastian tersebut,karena dengan begitu,baru Sebastian akan mampu melindungi putri nakalnya itu karena musuh-musuh mereka juga memang tidak memiliki rasa belas kasihan sedikitpun.
"Terserah,paman ingin berpikir seperti apa,aku tidak masalah.Sekarang,bolehkah aku pergi beristirahat dulu,paman...?" jawab Sebastian dan sekalian bertanya,sambil berdiri dari duduknya dengan gerakan malasnya.
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Daddy dengan wajah penasarannya,sambil menyimpan HPnya kembali.
"Mereka? Aku lebih suka menunggu sebentar,dan melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.Setelah itu,baru aku akan memberi mereka imbalan yang setimpal...Apakah ideku bagus,paman?" jawab Sebastian dan juga kembali sekalian bertanya dengan nada santainya.
"Ya,lumayan..." jawab Daddy dengan wajah malasnya,ia tidak ingin terlalu memuji kemampuan dan kecerdasannya Sebastian.Karena menurutnya jika semakin dipuji,Sebastian pasti akan semakin menyebalkan.
"Baiklah,kalau begitu pergilah beristirahat..." lanjut Daddynya Jennifer dengan nada santainya kembali,tanpa mengalihkan tatapannya yang terus tertuju kearah Sebastian.
"Baik,paman..." jawab Sebastian dengan cepat, karena memang sudah sedari tadi ia ingin beristirahat,ia sudah mulai merasakan lelah saat ini.
Sebastianpun langsung berjalan pergi dari sana,dengan langkah tegasnya,dan melewati Daddynya Jennifer dengan pelan dan sopan.
"Ingat pesanku tadi,untuk beberapa hari kedepan, kamu harus terus berada disini..." peringat Daddy dengan nada seriusnya,sambil menatap punggungnya Sebastian yang sudah hampir mendekati pintu tapi langkahnya terhenti karena mendengar peringatan tersebut.
"Kenapa kamu sampai begitu memaksa,paman?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,tanpa menoleh kebelakang lagi.
"Aku rasa,aku tidak perlu memberimu alasan apapun..." jawab Daddy dengan nada santainya.
"Bagaimana,kalau aku yang memaksa?" tanya Sebastian dengan nada seriusnya.
"Kalau begitu,aku akan segera memanggil keluargamu kesini.Jika memungkinkan,aku juga akan menyarankan pada mereka untuk mengenal lebih dekat calon menantu mereka...Bagaimana? Apakah kamu masih ingin memaksa?" jawab Daddy dengan nada seriusnya juga,ia juga bertanya dengan wajah senangnya diakhir kalimatnya.
__ADS_1
"Cih..." kali ini Sebastian yang berdecih kesal,ia benar-benar tidak ingin berdebat lagi,ia ingin melanjutkan langkahnya tapi kembali terhenti karena Daddynya Jennifer kembali bertanya.