Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 81


__ADS_3

"Hmm,Paman,Tante,Jennifer,kalau begitu,kami pulang dulu ya.Maaf,kalau kami telah merepotkan kalian...Sampai jumpa,pada besok pagi lagi..." ucap Elvan dengan nada cepatnya,kepala yang menunduk hormat,dan juga wajah yang tersenyum ramah kearah mereka ber 3,lalu ia langsung berjalan pergi dari sana dengan menarik paksa tangannya kedua sahabatnya itu.


Ia tidak ingin berlama-lama lagi disana,dan Erik akan terus bersikap serta berbicara nakal untuknya,lalu membuat dirinya harus merasa malu.Padahal pertolongan dan tatapan tadi itu hanya refleks dari dirinya saja,tapi hasilnya malah diluar dugaannya.


"Paman,Tante,Jennifer,sampai jumpa besok pagi lagi ya..." Erik...


"Paman,Tente,Jennifer,sampai jumpa besok pagi lagi ya...Daa daa..." Elisa.


Mereka berdua berucap secara bersamaan dengan cepat,sambil berusaha mengikuti langkah cepatnya Elvan.


Dan langsung ditanggapi dengan lambaian tangan,anggukkan pelan dan wajah tersenyumnya Mommy dan Jennifer,dan Daddy yang hanya mengangguk pelan saja,karena ingin menjawabpun mereka ber 3 tidak akan begitu mendengarnya akibat sudah jauh diluar Mansion sana.


Sedangkan Billy,ia langsung mengikuti langkahnya ke 3 sahabat Tuan mudanya,begitu juga dengan Aldy.Hanya saja Aldy hanya ingin menunggu kedatangan kedua orang tua Tuan Mudanya diluar mansion saja,dari pada nanti ia harus mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Besarnya tersebut,karena dirinya telah merusak permandangan didalam sana.


"Mom,Dad,bagaimana menurut kalian,tentang Elvan?" tanya Jennifer dengan wajah yang tersenyum serius,sambil memeluk Daddy yang langsung memeluknya dengan sebelah tangannya,dan sebelah tangannya yang juga memeluk Mommy.


"Menurut Mommy,Elvan pria yang baik.Apa lagi,Elvan itu sahabat baiknya Sebastian.Jadi,aku tidak akan keberatan,kalau saja nanti mereka akan menjalin hubungan..." jawab Mommy dengan wajah yang jujur dan nada senangnya.


Lagi pula,ada suaminya dan Sebastian,2 pria yang kuat dan berkuasa dikeluarganya,itu sudah cukup baginya.Jadi,cukup pria yang baik hati, bertanggung jawab dan sopan untuk Sylviau putri bungsunya yang manja itu.


Sedangkan Jennifer,ia langsung tersenyum senang saat ia mendengar jawaban Mommynya,karena ia juga tidak keberatan.Ia bahkan merasa sangat senag, karena pria tersebut sahabatnya Sebastian, dan ia yakin,pasti sikap baik mereka tidak akan beda jauh.


"Kalian jangan berbicara yang tidak-tidak...Lagi pula,hal itu belum tentu akan terjadi..." timpal Daddy dengan nada malasnya,saat ia melihat wajah senang istrinya.


Ia bertanya-tanya,kenapa para wanita selalu berpikir terlalu jauh,sebelum hal tersebut masih berada dikejauhan sana,itupun ntah akan terjadi atau tidak.


"Tapi sayang..." belum sempat Mommy menyelesaikan kalimatnya,Daddy sudah terlebih dulu menyelanya dengan cepat.


"Sudah,sekarang kalian masuklah.Dan kamu, bersiap-siaplah untuk menjadi seorang istri dari Sebastian Sachdev Rendra besok pagi.Daddy akan berangkat kerja dulu,cup cup..." sela Daddy dengan nada dan wajah seriusnya,sambil mengecup sekilas pipinya Mommy dan juga Jennifer yang langsung tersenyum mengangguk,ia masih harus meeting pagi ini,jadi ia tidak mau terlambat karena berdebat dengan istri dan putri sulungnya itu.


Lalu iapun langsung berjalan kearah mobilnya yang memang sudah ada Asistennya yang sedang menunggunya sedari tadi,Asisten paruh baya yang bernama Noah dan sekitar berumur 45 tahun,yang memang sudah mengikutnya sedari ia mulai merintis usaha besar tersebut.


'Berusahalah semampumu,kamu tidak akan mampu menemukan apapun,kecuali jika aku yang mengizinkannya...' lanjut Daddy didalam hatinya dengan wajah yang tersenyum, tanpa menghentikan langkah tegasnya itu,saat ia mengingat kembali pada Sebastian yang ia tahu kalau Sebastian bukan ingin kekamarnya, melainkan keruang bagian keamanannya terlebih dahulu,baru akan kekamarnya.


Sedangkan Mommy dan Jennifer,mereka berdua tersenyum lebar sambil terus menatap punggung lebar Daddy sampai menghilang dibalik pintu mobil sana.


"Lihatlah,Daddymu itu,tidak pernah berubah sedari dulu,selalu memikirkan perkerjaannya.Ya,walaupun kadang-kadang suka bersikap manis juga..." ucap Mommy dengan kepala yang menggeleng-geleng pelan dan heran,sambil menatap punggung mobil suaminya yang sudah menjauh dari pandangannya.


"Mom,Mommy seperti baru mengenal Daddy saja.Tapi walaupun begitu,aku sangat bangga dan merasa sangat bahagia karena memiliki Daddy dan juga Mommy...Cup..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum bahagia,sambil mengecup sekilas pipinya Mommy.


"Iya,iya,Mommy sudah mendengarnya beratus kali dari mulut manismu ini..."ucap Mommy dengan wajah yang tersenyum malas kearah Jennifer yang langsung tertawa kecil,sambil bersedekap dada.

__ADS_1


"Kalau begitu...Ayo, kita memasak makan siang untuk calon mertuaku nanti,Mom..." ucap Jennifer dengan nada senangnya,sambil membawa Momny untuk berjalan kearah dapur,dimana sudah ada Tante Irma disana yang mulai memasak sedari jam 6 pagi tadi,Tante yang akan selalu mengikuti kemana Jennifer pergi,jika diperlukan.


"Iya,iya,seperti kamu sudah pintar memasak saja..." jawab Mommy dengan wajah yang tersenyum geli,sambil mengikuti langkahnya Jennifer.


"Mommy tenang saja...Beberapa bulan lagi,aku pasti sudah pintar memasak..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yakinnya dan ditanggapi senyumannya Mommy,tanpa menyadari kalau ada Sebastian yang menatap sedang mereka dari lantai 2 sana.


Akhirnya mereka berduapun terus berjalan kedapur sambil mengobrol panjang lebar,hingga masak-memasak mereka selesai nanti.


Sedangkan dilantai 2 sana...


"Cih...Lihatlah,bahkan ekspresi wajahnya tidak terlihat seperti wanita yang baru saja dinodai ataupun bersedih atas kejadian yang telah menimpanya..." Gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah kesalnya,sambil menatap punggungnya Mommy dan Jennifer yang baru saja masuk kedalam dapur sana.


Ia bahkan bisa melihat dengan jelas kalau Jennifer terlihat seperti tidak terjadi apa-apa saja,dan ekpresi wajahnya Jennifer malah terlihat sangat senang atas kejadian tersebut.Hanya saja,ia telah melewatkan permandangan indahnya Elvan bersama Sylvia tadi.


Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Daddy tadi,karena Sebastian baru saja keluar dari ruang keamanan atau ruang CCTV sana,tapi nyatanya Sebastian benar-benar tidak bisa mendapatkan bukti apapun dari ruangan tersebut.


"****...Orang kaya seperti apa ini,kenapa menjebakku dengan cara seperti ini? Apa tujuan mereka sebenarnya? Pasti pria tua itu sudah mengedit ulang direkaman CCTV yang ada disini,terutama yang tadi malam..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah yang sekesal-kesalnya, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Bahkan umpatan tersebut terus saja keluar dari mulutnya,untuk beberapa kali sedari ia keluar dari dalam ruangan CCTV tadi,karena hanya rasa kecewa saja yang ia dapatkan karena ia tidak mendapatkan apa-apa,dan sepertinya tebakannya tentang jebakan tersebut memang benar adanya.


Direkaman tersebut,ia bahkan mempercepatkan rekaman tersebut,hanya melihat Jennifer yang sedang membawa tubuh tidak seimbangnya kedalam kamarnya.Tapi anehnya,setelah itu, Jennifer tidak keluar-keluar lagi dari dalam kamarnya.


"Aku lupa,kalau disini bukan tempat kekuasaanku..." gumam Sebastian lagi, sekarang ia hanya bisa terus menebak-nebak didalam hatinya saja dan mengontrol segala rasa kesalnya


Beberapa jam kemudian...


Sekarang sudah jam 12 siang lewat 30 menit dan semua orang sudah duduk rapi diruang tamu,dan Daddy juga sudah pulang sedari 2 jam yang lalu,begitu juga dengan keluarga kecilnya Sebastian yang memang sudah sampai sedari tadi.


Mereka semua baru saja selesai makan siang,dan beralih keruang tamu dengan ekspresi wajah mereka masing-masing.


Sedangkan Sebastian, sedari ia selesai berbicara berdua bersama Ayahnya tadi,ekspresi wajahnya hanya antara datar dan kesal saja,karena ternyata Ayahnya malah mendukung keputusan Daddynya Jennifer.


***


Kembali kebeberapa jam yang lalu...


"Apa yang telah terjadi? Kenapa kami harus dijemput seperti ini,hm? " tanya Ayah dengan wajah bingungnya,setelah kedatangan mereka tadi disambut dengan wajah tersenyum ramah dari pemilik Mansion ini.


Bahkan istri bersama putri bungsunya itu dibawa bersama pemilik Mansion ini kedapur,untuk memasak bersama,walaupun istri dan putrinya masih merasa bingung tapi mereka hanya diam saja,mengikuti apa yang diinginkan oleh pemilik Mansion ini dan mencoba untuk akrabkan diri bersama mereka.


Ia merasa heran,kenapa mereka seperti sudah akrab saja,hanya dalam sekejap mata saja.Padahal baru ini kali pertamanya mereka bertemu,tanpa ia tahu kalau Stella sudah pernah bertemu dengan Jennifer.

__ADS_1


"Apakah karena tinggal di Mansion megah ini,sampai kamu tidak tahu jalan pulang?" tanya Ayah lagi,dengan nada dan wajah kesalnya,karena Sebastian hanya diam saja.


Sebastian sudah tidak pulang-pulang dalam 2,3 hari ini,dan juga tidak memberi kabar pada mereka sedikitpun.Untung saja mereka sudah terbiasa, karena sudah beberapa kali Sebastian tidak pulang hingga beberapa hari,dan juga sama sekali tidak memberi kabar pada mereka.


"Ayah,aku harus mulai dari mana?" tanya Sebastian balik dan mengabaikan perkataan kesal Ayahnya, dengan nada bingungnya juga,karena ia merasa kalau masalahnya sangat banyak akibat frustasinya tadi.


Padahal,ia hanya tidak menyangka kalau hal tersebut bisa sampai terjadi padanya.Dirinya bahkan sangat waspada pada apapun,atau berada dimanapun.Tapi lihatlah,hanya sama Jennifer saja,kewaspadaan dirinya malah mengurang tanpa ia sadari.


"Dari penyebab kamu bisa berada di Mansion megah ini,sampai sekarang..." jawab Ayah dengan wajah nada dan wajah seriusnya,sambil menelisik wajah bingung putra sulungnya.


"Ayah,begini..........................." Sebastianpun langsung bercerita panjang lebar,sedari Jennifer datang kekantornya,ia mengantar pulang Jennifer, dan berakhir dirinya yang harus menginap.


Kemudian malam ulang tahunnya Jennifer,hingga ia tidak sadarkan diri malam tadi.Dan besok paginya terjadilah hal yang sama sekali tidak ia duga tersebut.Lalu,tentang apa saja yang dikatakan oleh Daddynya Jennifer yang mengatakan tentang pernikahan ,dan tentang tebak-tebakannya tersebut.


Sedangkan Ayah,ia mendengar cerita panjangnya Sebastian,dengan ekspresi wajah yang terus saja berubah-ubah sesuai tanggapannya pada setiap bait isi ceritanya Sebastian tersebut.Ia juga tidak suka menyela,karena ia masih mampu bersabar untuk mendengar Sebastian bercerita hingga selesai.


"Apakah Jennifer,wanita yang sama dengan wanita yang telah kamu ceritakan padaku pada 1 tahun yang lalu?" tanya Ayah dengan nada tenangnya setelah Sebastian baru saja selesai bercerita, sambil menelisik wajah kesal putranya yang masih terlihat tampan itu.


"Iya.Mereka,wanita yang sama..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,ternyata Ayahnya masih saja mengingat tentang cerita lamanya itu.


"Ayah,aku harus bagaimana sekarang?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya kembali,saat ia melihat Ayahnya yang hanya diam saja,dan terlihat sedang berpikir dengan ekpresi tenang diwajah tuanya itu.Padahal sudah 10 menit berlalu,tapi Ayahnya masih setia dengan diamnya.


"Kenapa kamu harus bingung-bingung,nak.Ikuti saja,apa katanya calon mertuamu itu.Ayah rasa,itu tidak masalah bagimu bukan?" jawab Ayah dengan nada santainya,sambil menatap dari jauh,istri dan putrinya yang terlihat sudah mulai akrab dengan kedua wanita beda usia tersebut.Ya,dan juga kaya.


Lagi pula,pada 1 tahun yang lalu,ia sudah mengerti dan merasakan kalau putranya ini sudah mulai memiliki rasa sama wanita yang bernama Jennifer tersebut,hanya saja Sebastian selalu mengelaknya, jadilah berakhir seperti ini.


Jadi mau dijebak atau bukanpun,ia rasa hal tersebut bukan jadi masalah bukan,hanya takut kalau putra bod*hnya itu tidak akan mengerti tentang perasaan tersembunyinya tersebut sampai kapanpun.


Kembali lagi,ia juga berpikir kalau saja benar adanya seperti tebakannya Sebastian tadi,kedua orang tuanya Jennifer pasti sudah berpikir matang,makanya mereka memilih untuk membantu putri mereka.


Jadi ia merasa,sepertinya ia harus mengikuti alurnya saja,dan melihat bagaimana kelanjutannya terlebih dahulu


"Cih...Calon mertua? Ayah,sebenarnya aku putramu atau bukan sih? Kenapa kamu malah tidak berniat untuk membantuku?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang semakin kesal saja.


"Nak,kenapa aku harus membantumu saat ini,kalau nanti kamu akan berterima kasih sama Ayahmu ini...Sudahlah,jalani dan hadapi saja,nanti kamu pasti akan menikmatinya juga..." jawab Ayah dengan nada santainya dan wajah tidak bersalahnya sedikitpun,sambil berdiri dari duduknya.


Kemudian iapun mengabaikan dengkusan kesal dan wajah kesalnya Sebastian,lalu ia langsung berjalan kearah dapur sana,dimana istri dan putrinya berada.Tapi ia hanya ingin duduk dimeja makan ,dan memerhatikan mereka dari jauh saja,dari pada ia harus berdebat dengan putra bod*hnya itu.


"Kenapa hari ini,aku sangat si*l,bahkan Ayahku sendiripun membela orang lain,dari pada putranya sendiri..." gumam Sebastian dengan nada kesalnya,sambil terus menatap punggung Ayahnya yang semakin menjauh.


"Dan aku rasa,mereka berdua pasti sama saja..." Sebastian kembali bergumam pelan dan kesal,saat tatapan kesalnya beralih pada Ibu dan adik perempuannya yang ternyata begitu cepat nyambung dengan Jennifer dan juga Mommynya. Jennifer didapur sana.

__ADS_1


Apa lagi,saat ia mengingat tentang Stella yang begitu menyukai Jennifer,Stella bahkan telah memanggil Jennifer dengan panggilan kakak ipar.


***


__ADS_2