Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 142


__ADS_3

Sedangkan didalam ruangan tersebut,Jennifer dan yang lainnya masih sibuk mengobrol dengan ekspresi senang dan bahagia diwajah mereka, tanpa memperdulikan perasaan seorang pria yang sedang merasa frustasi diluar ruangan tersebut.


"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka dari luar,dan terlihatlah Sebastian yang sedang berjalan masuk dengan wajah tenang dan tegasnya tersebut,tapi ia lupa merapikan rambut berantakannya tersebut.


Hingga mampu membuat semua yang ada didalam ruangan tersebut harus menahan tawa tapi obrolan ringan mereka tersebut tetap berlanjut,termasuk Jennifer.


Dan karena tidak ingin membuat Sebastian merasa curiga dan ide konyol mereka itu gagal,merekapun langsung menampilkan ekspresi wajah yang agak santai dan bercampur dengan sedikit obrolan-obrolan tentang kesedihan mereka selama beberapa hari ini.


Sebastianpun langsung mengernyit heran saat ia melihat permandangan yang terlihat begitu damai tersebut,tidak seperti perasaannya yang sangat kacau sedari tadi hingga saat ini.Permandangan damai tersebut bahkan berhasil membuat rasa kesal dan marahnya kembali meningkat diantara segala rasa yang ia rasakan saat ini,tapi beruntungnya ia masih mampu mengendalikannya.


"Tuan Muda..." panggil sang dokter dan beberapa perawat yang ada disana,sambil menunduk hormat kearah Sebastian yang baru saja melewati mereka,dan berhenti tepat dihadapannya.


"Kamu...Ikut aku keluar,sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,lalu ia langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari sana,sambil melirik sekilas kearah Jennifer yang malah mengabaikan dirinya begitu saja.


"Baik,Tuan Muda..." jawab sang dokter dengan nada dan wajah pasrahnya,sambil berjalan mengikuti Tuan Mudanya,dengan langkah terpaksanya.


Ayah yang memang telah berjanji tadipun langsung mengikuti langkah mereka berdua,hingga mampu membuat Sebastian langsung menghela napas kesal karena melihat tingkah Ayahnya tersebut.


Sedangkan ke 3 wanita yang sangat disayangi oleh kedua pria itu,mereka ber 3 hanya mampu menahan tawa saja.


Setelah ke 3 pria beda usia tersebut berada diluar ruangan...


"Apakah kamu sudah memeriksanya kembali? Bagaimana keadaan istriku sekarang? Apa istriku benar-benar dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Sebastian pada sang dokter dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menatap lurus kedepan.


Ia bahkan bertanya dengan panjang lebar,karena didalam hatinya,ia terus berharap kalau tebakannya tadi tidak akan terjadi.


"Su sudah,Tuan Muda.Ternyata saat ini Nona Muda sedang mengalami amnesia akibat benturan keras tersebut,Tuan Muda.Jadi kemungkinan besar,Nona Muda akan melupakan sebagian dari kejadian-kejadian selama 1 tahun kebelakangan ini..." jawab sang dokter dengan nada gugupnya karena merasa takut,sambil memerhatikan Tuan Mudanya yang sedang berdiri diam dan mulai memejamkan dan membuka kedua matanya dengan pelan.


Sebastian terus berusaha untuk mengendalikan segala amarahnya,saat ia mendengar kabar yang disampaikan oleh dokter tersebut,dan sama seperti tebakannya tadi.


"Benturannya terlalu keras,sehingga mencederai sebagian syaraf-syaraf kepalanya Nona Muda.Jadi......." kalimat penjelasan lanjutannya sang dokterpun terhenti,karena langsung disela oleh Sebastian dengan cepat.


"Bukankah sedari awal hingga saat istriku sadarkan diri tadi,kamu mengatakan padaku kalau semuanya baik-baik saja.Kenapa sekarang,kamu malah tiba-tiba saja mengatakan tentang begitu banyak sekali faktor-faktor kesehatannya istriku,hah?" sela Sebastian dengan nada tingginya karena rasa marahnya kembali meningkat lagi,sambil membuka kedua matanya dan juga menatap tajam kearah sang dokter yang mulai kembali berkeringat dingin.


Rasanya ia sangat ingin membunuh sang dokter itu sekarang juga,tapi sayangnya,Ayahnya sudah menatap tajam kearahnya sedari mereka ber 3 berada diluar ruangan tadi.


"Ma maaf,Tuan Muda.Pemeriksaanku hari itu dan tadi ternyata salah,Tuan Muda..." jawab sang dokter dengan nada yang semakin gugup saja, sambil menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap tatapan tajam Tuan Mudanya tersebut.


"Sekarang jelaskan padaku...Jika istriku mengalami amnesia,kenapa istriku hanya tidak mengenali aku seorang saja?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,hal tersebut benar-benar terasa tidak adil untuknya.


"Sepertinya Nona Muda mengalami amnesia sekaligus trauma psikologis,Tuan Muda.

__ADS_1


Trauma psikologis juga bisa menyebabkan hilangnya ingatan yang bersifat disosiatif. Trauma psikologis yang dialami berbentuk depresi, stres, menjadi korban pemerkosaan atau kejahatan lainnya. Dalam kondisi ini, pikiran atau perasaan dan informasi yang menyebabkan trauma akan dibuang oleh otak untuk menghindari rasa sakit akibat trauma.Mungkin saja,Tuan Muda mengetahui stres atau hal-hal yang tidak disukai oleh Nona Muda selama 1 tahun kebelakangan ini. Maka dari itu,Nona Muda hanya melupakan tentang Tuan Muda saja..." jawab sang dokter dengan panjang lebar,tanpa mengangkat kepala menunduk takutnya tersebut sedikitpun,ia bahkan telah berbicara salah tanpa ia sadari.


Ia sendiri juga merasa bingung dengan apa yang baru saja ia katakan,padahal pasiennya sedang baik-baik saja saat ini.Tapi sayangnya,saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti perintah Nona Mudanya saja.


"Jadi,apa sekarang kamu sedang mengatakan kalau aku yang menjadi tersangkanya dari penyebab amnesianya Nona Mudanya kalian itu,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesal yang telah bercampur marah,sambil menatap tajam kearah sang dokter,setelah ia baru saja selesai mencerna semua perkataan sang dokter barusan.


"Bu bukan begitu maksudku,Tuan Muda..." jawab sang dokter dengan nada dan wajahnya yang semakin gugup, sambil melirik sekilas kearah Tuan Besarnya yang terlihat sedang menahan tawa.


Selama ia hidup dijabatan tertingginya ini,baru kali ini pertama kalinya kemampuan kedokterannya sama sekali tidak berguna,tidak sebaik seperti sebelum-sebelumnya.


Apa lagi selama ini,mereka semua memang selalu dilarang untuk banyak mengetahui tentang banyak hal ataupun hanya sekedar untuk bertanya saja. Sehingga saat ini,ia sama sekali tidak tahu tentang kehidupan sebenarnya majikan-majikannya tersebut.


Hanya saja,dengan melihat usaha dan ekspresi wajah kacau Tuan Mudanya selama beberapa hari ini.Ia telah mampu meyakini 1 hal,yaitu betapa besarnya cinta Tuan Mudanya kepada Nona Mudanya.


"Ta tapi,Tuan Muda tenang saja.Bentuk Amnesia yang sedang dialami oleh Nona Muda saat ini, masih termasuk yang ringan.Jadi,Tuan Muda hanya perlu terus mengingatkan pada Nona Muda,tentang apa saja kegiatan-kegiatan yang pernah Tuan Muda dan Nona Muda lakukan selama 1 tahun atau beberapa bulan belakangan ini.Karena dengan begitu,Nona Muda akan segera sembuh dan mengingati Tuan Muda kembali..." lanjut sang dokter lagi,ia berharap kalau kali ini,kalimat panjang lebarnya barusan akan berhasil meredakan perasaan marah Tuan Mudanya tersebut.


Sebastian langsung menghela napas berat dengan panjang,saat ia mendengar saran atau cara penyembuhan dari sang dokter barusan.


Ia dan Jennifer saja, sangat jarang menghabiskan waktu berdua bersama,selama ini atau selama beberapa bulan ini.Lalu bagaimana caranya,ia akan mengingatkan banyak hal tentang dirinya pada Jennifer nantinya.


"Baiklah.Jika nanti istriku tidak juga mengingatiku, kamu bersiap-siaplah untuk mengucapin salam perpisahan dengan keluargamu nanti..." ucap Sebastian akhirnya,dengan nada dan wajah tegas yang terlihat begitu serius,setelah ia sudah berpikir selama beberapa menit.


"Sekarang,kamu sudah boleh pergi melanjutkan perkerjaanmu yang lainnya lagi..." ucap Ayah dengan nada dan wajah tersenyum seriusnya, sambil menepuk pelan pundaknya sang dokter,lalu iapun segera mengikuti langkah lebarnya Sebastian tersebut.


Sedangkan sang dokter,iapun segera berjalan pergi dari sana,sambil memghela napas lega,mengucap syukur,dan juga mengelap pelan keringat dinginnya tersebut.


Sedangkan Sebastian,mungkin saja karena ia menganggap kalau sang dokter merasa takut terhadapnya,jadi hasil pemeriksaannya Jennifer tadi terdengar agak aneh begitu.Maka dari itu, Sebastian tidak merasa curiga terhadap sang dokter.Apa lagi,saat ini perasaannya sedang kacau balau.


"Ceklek..." suara pintu yang kembali terbuka itupun, berhasil mengalihkan pandangan ke 3 wanita cantik beda usia tersebut.


"Sayang,bukan...Maksudku,apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang,hm?" tanya Sebastian dengan nada pelan dan wajah bingungnya,sambil terus berjalan mendekati Jennifer yang juga menatap bingung kearahnya.


"Ya,aku sudah merasa lebih baik sekarang. Benarkah,kamu yang telah menjagaku selama beberapa hari ini,Tuan?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya,dengan nada dan wajah yang dibuat sesantai mungkin.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu mengangguk pelan dengan perasaan yang semakin kacau saja,saat ia mendengar Jennifer yang malah memanggilnya dengan sebutan Tuan.


"Kalau begitu,aku ucapkan terima kasih banyak padamu,karena telah berbaik hati dengan menjagaku selama beberapa hari disini..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,sambil memerhatikan ekspresi wajahnya Sebastian yang terlihat sedang menahan kesal.


"Iya,tapi itu bukan masalah bagiku..." jawab Sebastian dengan singkat dan nada santainya, sambil terus memerhatikan wajah pucatnya Jennifer yang telah mulai berkurang.


"Tapi tetap saja,aku harus mengucapkan terima kasih padamu,Tuan..." ucap Jennifer dengan nada santainya,sambil terus berusaha untuk menyembunyikan rasa gugupnya tersebut,karena terus diperhatikan oleh Sebastian.

__ADS_1


"Sudah,sudah...Ayo,kita semua makan siang terlebih dahulu..." timpal Ibu dengan cepat dan nada santainya karena sekalian ingin menyelamatkan Jennifer dari tatapan mematikannya Sebastian tersebut,sambil berjalan kekursi sofa sana,untuk segera menyediakan makan siang yang telah mereka bawa tadi.


Lagi pula,saat ini memang sudah waktunya makan siang.Lihatlah,sekarang sudah hampir jam 1 siang tanpa mereka semua sadari karena terlalu sibuk mengobrol sedari tadi.


"Iya,kak Jennifer.Kita harus makan siang terlebih dahulu,supaya kak Jen cepat sembuh dan bisa segera keluar dari rumah sakit ini..." timpal Stella yang langsung mengerti apa maksudnya dari Ibu tersebut,ia bahkan harus merubah nama panggilannya terhadap Jennifer.


"Iya,yang kamu katakan memang benar.Terima kasih ya,karena kamu begitu memerhatikan diriku..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,ia juga mengabaikan Sebastian yang langsung mengernyit heran kearah mereka berdua.


"Itu tidak masalah bagiku,kak Jennifer.Ayo,aku akan membantumu untuk duduk,supaya kak Jen tidak akan kesulitan untuk makan siangnya..." jawab Stella dengan menahan tawa karena merasa geli sendiri,akibat dirinya yang telah mengikuti perkataan kakaknya tadi,Jennifer bahkan ikut-ikutan menahan tawa.


"Biar aku saja..." timpal Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengambil alih pegangan tangannya Stella dipunggungnya Jennifer dengan cepat.


Karena memikirkan tentang Jennifer yang baru sadarkan diri,iapun mau tidak mau,terpaksa menahan segala rasa kesalnya karena perkataannya Stella tersebut yang terdengar seperti ejekan untuknya.Ia juga mengabaikan rasa herannya tadi,karena memikirkan Jennifer yang pasti sudah sangat lapar saat ini.


Stellapun sama sekali tidak merasa keberatan sedikitpun,ia bahkan langsung berjalan pergi untuk mengambil bagian makan siangnya karena ia juga sudah merasa sangat lapar.


"Jangan mencoba untuk menolak bantuanku, Nona..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,saat ia melihat Jennifer yang berniat ingin menolak bantuannya tersebut.


Sedangkan Jennifer,iapun terpaksa bersikap tidak nyaman dengan perlakuannya Sebastian tersebut hingga mampu membuat Sebastian terus saja menghela napas pelan.Ayah,Ibu,Stella dan Jennifer bahkan harus kembali menahan tawa mereka, karena Sebastian yang terpaksa mengikuti drama bohongan mereka tersebut.


"Nak,ini makan siangnya.Ayo,biar tante yang menyuapimu.Kamu pasti masih merasakan pusing,kan?..." ucap Ibu dengan nada khawatirnya, sambil membawakan sepiring makan siang berserta kuah sayuran yang begitu kebetulan ia bawa pada siang hari ini.


"Biar aku saja..." timpal Sebastian dengan berusaha bernada santai,sambil merebut piring makan siang yang sedang dibawa oleh Ibu itu.


'Ada apa dengan mereka semua? Apakah amnesianya istriku separah itu,sampai melupakan tentang pernikahan kami hari itu...' lanjut Sebastian didalam hatinya,dengan segala perasaan kesalnya tersebut.


"Tuan,kamu tidak perlu repot-repot seperti ini.Aku bisa sendiri,kok..." tolak Jennifer dengan nada dan wajah tidak nyamannya,sambil berusaha merebut makan siangnya,tapi sayangnya ia tidak mampu merebutnya dari tangannya Sebastian.


"Bukankah sudah aku katakan,Nona.Jangan mencoba untuk menolak bantuan dariku... Sekarang duduk dengan baik,dan aku akan menyuapimu.Dan satu lagi,aku sama sekali tidak merasa kerepotan..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang sama tegasnya,sambil menatap tajam kearah Jennifer.


"Dasar pemaksa,menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,dan mau tidak mau,iapun terpaksa menuruti perkataannya Sebastian barusan.


Walaupun sebenarnya saat ini ia memang masih merasa sedikit pusing,tapi ia akan merasa semakin gugup,jika ia terus berdekatan dengan Sebastian seperti ini.


Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum bahagia saat ia bisa melihat kembali wajah menggemaskannya Jennifer tersebut,wajah memberengut kesal yang akan selalu ia rindukan selama ia pergi berkerja dan terutama dalam beberapa hari ini.


"Bagus,anak pintar.Sekarang,buka mulutmu..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah santainya kembali,sambil menyendokkan sesendok makan siang kedepan mulutnya Jennifer yang masih tertutup.


Jennifer yang memang sedang lapar dan hanya bisa pasrah saja,iapun mau tidak mau,terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan Sebastian menyuapinya sesendok demi sesendok.


Sedangkan Ayah,Ibu dan Stella,mereka ber 3 pun langsung memakan makan siang mereka dengan tenang,dan sekali-kali melirik kearah sepasang manusia yang terlihat lucu tersebut.

__ADS_1


__ADS_2