Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 157


__ADS_3

Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu menghela napas kesal karena sikap berlebihan suaminya tersebut.Tapi sejujurnya didalam hatinya ia merasa sangat senang,memangnya siapa yang akan menolak ataupun mengeluh,jika telah disiapkan sebegitu banyaknya makanan kesukaan berserta penjualnya dihalaman rumahnya mereka yang seperti ini oleh suaminya mereka sendiri.


Apa lagi,saat ia melihat Ibu dan Stella yang terlihat sedang sibuk mencicipin semuanya satu persatu,bahkan sampai melupakan dirinya untuk sejenak karena fokusnya mereka hanya pada permandangan yang memang begitu menggiurkan tersebut.


"Aku memang menginginkan semua ini,Honey. Tapi kamu juga tidak perlu sampai membeli penjual sama alat-alatnya juga,Honey..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya, sambil bersedekap dada kearah Sebastian.


"Sweety...Bukankah lebih baik seperti ini,jadi kamu bisa makan sepuasnya,Sweety..." ucap Sebastian dengan kening yang mengernyit heran,saat ia melihat wajah kesalnya Jennifer tersebut.


Karena setahunya wanita manapun pasti sudah akan langsung meloncat kegirangan,jika diberi kejutan kecil yang seperti ini,tapi istrinya sama sekali tidak memberikan respon yang ia harapkan tersebut dan malah menampilkan wajah memberengut kesal kearahnya saat ini.


"Makan sepuasnya? Jadi,apakah sekarang kamu ingin membiarkan aku menjadi semakin gendut,dengan terus makan,begitu?" tanya Jennifer balik,dengan nada dan wajah yang semakin kesal saja.


"Hah! Ti tidak,bukan begitu maksudku,Honey..." Sebastian langsung menjadi kebingungan,saat ia mendengar kalimatnya Jennifer yang malah ntah mengarah kemana tersebut.


"Aku ingin masuk kedalam dan tidur saja...Kamu saja yang makan semuanya,aku sudah tidak berselera..." ucap Jennifer dengan wajah memberengut kesalnya,sambil berniat ingin turun dari gendongannya Sebastian saat ini juga.


Ntah kenapa rasanya sangat kesal,saat ia mendengar perkataannya Sebastian yang terdengar sengaja ingin membuatnya menjadi gendut,lalu akan mencari penggantinya karena dirinya yang nanti telah menjadi gendut dan juga jelek.


"Sweety,hati-hati.Jangan seperti ini,ya..." Sebastianpun langsung membujuk Jennifer dengan suara lembut,wajah bingung dan juga khawatirnya karena takut kalau pegangannya akan terlepas dan Jennifer akan terjatuh hingga membahayakan janin mereka yang baru saja sedang bertumbuh kembang disana,tapi nyatanya perkataannya tersebut tidak berhasil membuat Jennifer terhibur sedikitpun.


"Tidak,aku tidak mau.Aku sudah tidak punya nafsu makan lagi,untuk memakan semua ini sekarang..." Jennifer bahkan semakin merajuk dengan wajah memberengut kesalnya tersebut, tanpa memperdulikan wajah bingungnya Sebastian ataupun yang lainnya lagi.


Tapi tidak ada satupun yang berani menonton adegan baru yang tidak pernah terjadi tersebut, karena mereka semua takut kalau kepala mereka akan terlepas dari tempatnya saat ini juga,jika mereka semua sampai ketahuan sedang menonton ataupun sekedar melirik sedikitpun.


Kecuali,Ibu dan Stella,mereka berdua hanya mampu berdiri melongo tidak percaya kearah sepasang manusia yang sedang sibuk berdebat tersebut.Sedangkan Ayah,ia sudah berada diruang tamu dan sedang membaca koran sorenya sedari tadi,karena ia memang tidak begitu suka makan-makan seperti Ibu dan Stella.


"Sweety... Bukan begitu maksudku...Tapi jika walaupun kamu akan menjadi segendut apapun nanti,kamu sama sekali tidak perlu merasa khawatir,karena aku pasti akan tetapmencintaimu.Dan karena disisa hidupku ini, dihatiku hanya ada kamu seorang saja..." Sebastianpun mau tidak mau harus menguras tenaga untuk mencari cara,untuk membujuk Jennifer,walaupun sebenarnya perkataannya tersebut memang jujur dari dalam lubuk hatinya.


Ia bahkan berbicara begitu lembut dan juga serius,sambil mengenggam atau mengendong tubuhnya Jennifer dengan lebih erat supaya tidak akan terlepas dari gendongannya tersebut,tapi tidak sampai menyakiti Jennifer.


Dan hal tersebutpun, berhasil menghentikan pergerakannya Jennifer yang sedang ingin turun dari gendongan nyamannya tersebut,sedari tadi.


"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada pelannya,sambil menatap menelisik kearah wajah khawatirnya Sebastian yang terlihat mulai melega.


"Tentu saja benar,Sweety.Kamu mau gendut seperti apapun,aku pasti akan tetap mencintaimu untuk sisa hidupku.Bahkan jika bisa, untuk kehidupan kita yang akan datang lagi.Atau jika kamu tidak menyukai apa yang aku persiapkan ini,aku akan segera membubarkan semua ini sekarang juga.Bagaimana?" jawab Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya yang telah bercampur sisa bingung dan juga khawatir yang tetap terlihat,sambil terus memerhatikan wajahnya Jennifer yang masih tetap memberengut kesal.


"Tidak perlu.Aku ingin memakan semua ini disini dan sekarang juga,karena nafsu makanku tadi sudah kembali..." jawab Jennifer dengan nada cepatnya dan wajah yang tersenyum senang,sambil kembali merangkul leher kokohnya Sebastian dengan gerakan manjanya.


"Benarkah?" kali ini Sebastian yang bertanya dengan nada dan wajah tidak percayanya,saat ia melihat sikap dan ekspresi wajahnya Jennifer yang begitu cepat berubah.

__ADS_1


"Apakah sekarang aku terlihat sedang bercanda,hm?" tanya Jennifer balik,dengan nada dan wajah kesalnya,sambil kembali menatap kesal kearah Sebastian.


Ia tidak mungkin akan menyia-nyiakan semua makanan yang telah berjejer rapi,yang telah ada dihadapannya sekarang.Hanya saja,ia sendiri bahkan tidak menyadari kalau betapa sikap rewelnya dalam beberapa hari ini,berhasil menguji kesabaran suami tampannya ini


"Hah! Tidak,tentu saja tidak.Baiklah...Kalau begitu,sekarang kamu duduk disini,kamu boleh memanggil, memesan dan memakan apa saja makanan yang ingin kamu makan duluan dan seterusnya..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya saat ia melihat wajah senyum senang tadinya Jennifer yang malah kembali memberengut kesal,tapi hanya sebentar saja.


Karena Sebastian segera melanjutkan pembahasan yang lainnya untuk menghibur istri cantiknya itu,sambil mendudukkan Jennifer kesofa yang baru saja Billy sediakan dihalaman tersebut sedari 30 menit yang lalu,setelah ia sudah berjalan beberapa langkah dari tempatnya berdiri tadi.


Ia juga takut kalau nanti Jennifer akan berubah pikiran,dan ia akan menjadi lebih kesulitan untuk membujuknya.


"Kakak ipar,apakah kakak ipar tidak ingin mencoba yang ini? Kakak ipar,rasanya sangat enak,aku sudah memakannya 2 kali tadi..." tiba-tiba saja terdengar suara cemprengnya Stella dari jarak beberapa langkah diantara mereka berdua,karena Stella yang ingin membantu untuk meringankan kesulitan yang sedang dialami oleh kakaknya saat ini.


Begitu juga dengan Ibu yang juga segera mengikuti langkah cepatnya Stella,Stella dan Ibu bahkan harus menahan tawanya mereka karena melihat Sebastian yang agak kewalahan dalam menghadapi sikap Ibu hamil yang satu ini.


Jennifer yang tadinya ingin melanjutkan perdebatannya dengan Sebastian itupun langsung terhenti,dan mengalihkan pandangannya kearah Stella dan Ibu yang telah berjalan mendekat hingga dihadapannya saat ini,tentu saja dengan semangkok bakso yang sedang dan berserta anak-anak baksonya.


Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum lega saat ia melihat Jennifer yang langsung tersenyum senang dan pandangannya terlihat fokus kearah mangkok bakso tersebut, sepertinya kali ini ia memang perlu mengucapkan kata terima kasih kepada adik kecilnya tersebut.


Tapi wajah tersenyum leganya kembali menjadi khawatir,saat ia melihat begitu banyaknya cabe merah dan juga hijau yang ada didalam mangkok bakso yang telah berada diatas meja dan dihadapannya Jennifer tersebut.


"Iya nak,yang ini rasanya juga enak..." timpal Ibu dengan nada senangnya,sambil menunjukkan sisa es campur yang ada digenggaman tangannya,karena ia berbicara sambil menyeruputnya.


"Kalau begitu,aku akan mencoba yang Ibu dan Stella makan dulu..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum senangnya,saat ia melihat 2 macam makanan tersebut yang memang terlihat begitu enak dan menggiurkan,apa lagi disaat-saat sore hari yang panas seperti ini.


"Tapi Honey,apa baksonya tidak akan terasa pedas nanti? Apa bayi kita tidak akan kenapa-kenapa nanti?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil duduk disampingnya Jennifer dengan gerakan pelannya.


"Baiklah,baiklah...Aku akan segera memanggil mereka untuk mengambilnya sekarang juga, Honey..." lanjut Sebastian dengan cepat dan wajah pasrahnya,saat ia melihat Jennifer yang akan menampilkan wajah kesalnya kembali.


Sedangkan Jennifer,ia langsung melebarkan wajah senyum senangnya tersebut,saat ia mendengar perkataannya Sebastian barusan.


"Kalian tunggu apa lagi,hm? Cepat kerjakan sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya sambil menatap tajam kearah beberapa bawahannya yang memang sedang berdiri tegak diantara mereka semua,dan bawahannya tersebut bahkan hanya menggu kata iya darinya untuk melakukan hal apa yang diinginkan oleh Nona Muda mereka tadi.


"Baik,Tuan Muda..." jawab salah satu bawahannya Sebastian dengan cepat,lalu iapun segera berjalan pergi dari sana untuk membawakan semangkok bakso dan segelas es campur untuk Nona Mudanya mereka.


"Tidak apa-apa,nak.Cabenya tadi hanya sedikit,jadi tidak akan sampai bisa membahayakan bayi kalian berdua..." Ibupun segera menjawab pertanyaannya Sebastian tadi, supaya Sebastian tidak akan merasa begitu khawatir lagi.


Lagi pula,siapa yang akan sanggup melawan sikap rewelnya Ibu hamil ini nantinya,jika sampai membuatnya kembali merasakan kesal.


"Iya,Bu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum pasrahnya,sambil memeluk Jennifer dengan sayang.

__ADS_1


"Iya.Kamu tenang saja,Honey.Bayi kuat kita ini tidak akan mungkin,tidak mampu menahan rasa pedas yang hanya sedikit tadi..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum seriusnya, sambil membalas pelukan sayang dari Sebastian dengan perasaan sayangnya juga.


"Iya,Sweety...Makanlah,asalkan cabenya jangan sampai terlalu banyak,ya..." peringat Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya tapi masih terlihat sisa ekspresi khawatir diwajah tampannya tersebut.


Jenniferpun langsung mengangguk pelan dengan wajahnya yang terus tersenyum senang, sambil memerhatikan sekitarnya yang terlihat begitu ramai karena telah dipenuhi berbagai penjual kaki lima dan yang lainnya.


Beberapa menit kemudian,bawahannya Sebastian tadipun sudah berada dihadapan mereka dengan semangkok bakso dan juga segelas es campur yang telah dipenuhi dengan berbagai macam agar-agar dan buah-buahan.


"Ini,Tuan Muda..." ucap bawahan tersebut,sambil mengbungkuk untuk meletakkan 2 macam makanan tersebut kehadapan Nona Mudanya mereka.


Lalu iapun segera berjalan mundur dari sana tanpa menunggu jawaban dari Tuan Mudanya lagi,karena Tuan Mudanya memang tidak akan menjawabnya lagi.


"Enaknya..Ibu,Stella,rasanya memang benar-benar enak..." Jenniferpun langsung menikmati kedua makanan tersebut karena ia memang telah menunggunya sedari tadi.


"Iya nak,pelan-pelan saja..." peringat Ibu dengan nada dan wajah tersenyum lucunya,saat ia melihat Jennifer yang memakan baksonya dengan gerakan yang agak terburu-buru.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu terus menghela napas pelan dan membuangnya dengan pelan.Ia bahkan hanya mampu terus memerhatikan Jennifer yang sedang makan tersebut,karena ia tidak ingin menegur atau apapun,karena takut kalau sikap kesalnya Jennifer akan kambuh lagi.


"Iya,Bu..." jawab Jennifer dengan singkat,karena sibuk menikmati bakso sapinya tersebut.


Beberapa menit kemudian...


"Honey,aku ingin satu lagi..." pinta Jennifer dengan nada dan wajah manjanya tersebut, setelah ia baru saja selesai memakan mangkok pertamanya tadi.


"Satu lagi?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil menatap secara bergantian kearah wajah manjanya Jennifer dan mangkok bakso yang telah kosong tersebut.


"Baiklah,baiklah..." lanjut Sebastian dengan cepat sambil memerintahkan bawahannya tersebut melalui isyarat sebelah tangannya,saat ia melihat ekspresi wajahnya Jennifer yang terlihat akan berubah sebentar lagi.


Sedangkan Jennifer,senyum senang diwajahnya semakin melebar.Lalu iapun lanjut meminum es campurnya tadi,sambil menunggu mangkok bakso keduanya tersebut.


"Apa rasa pusing dan mualmu sudah hilang,nak?" tanya Ibu dengan nada dan wajah tersenyum santainya,sambil melirik heran kearah Stella dan juga menyeruput pelan es campurnya yang seperti tidak akan ada habis-habisnya itu,karena ia menyeruputnya dengan penuh perasaan.


Tidak seperti Stella yang malah sudah melanjutkan dengan mengunyah makanan yang lainnya saat ini,seperti orang yang tidak pernah makan saja.


Sepertinya nafsu makannya Jennifer yang tiba-tiba meningkat itu langsung menular kepada Stella dengan cepat,karena sekarang mereka berdua seperti sedang berlomba makan saja.


"Sudah tidak Bu,rasa ngantukku tadi juga ikut hilang,Bu...Sepertinya,semua makanan ini telah berhasil mengusir semua rasa pusing dan rasa mualku itu,Bu..." jawab Jennifer dengan wajah senyum senangnya,sambil memerhatikan semua penjual yang terlihat begitu sibuk melayani para pengawal dan pelayan yang juga diperbolehkan ikut menikmati semua macam makanan enak tersebut.


"Baguslah kalau begitu..." ucap Ibu dengan nada dan wajah yang tersenyum lega,begitu juga dengan Sebastian yang sedari tadi hanya sibuk memerhatikan mereka saja.

__ADS_1


"Apakah kalian tidak berniat ingin pergi berbulan madu,hm?" tanya Ibu lagi,dengan nada dan wajah penasarannya.


Lagi pula ia berpikir,setidaknya dengan bulan madu,pasti akan begitu menyenangkan bagi sepasang pengantin yang baru menikah beberapa bulan ini.Terutama,bagi Ibu hamil yang mulai menampakkan sikap rewel-rewelnya tersebut.


__ADS_2