Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bba. 144


__ADS_3

Sedangkan Jennifer,ia masih sibuk terus menatap kearah pintu sana dengan ekspresi wajah tidak relanya,dengan Sebastian yang sibuk menghela napas berat karena Jennifer terlihat tidak menginginkan keberadaannya disana.


"Eheh ehem ehem... Apa kamu masih berharap, kalau mereka akan menemanimu,hm?" tanya Sebastian dengan nada sedangnya dan wajah santainya,sambil menatap sebentar kearah pintu yang telah tertutup itu, lalu beralih menatap santai kearah Jennifer yang langsung menatap kearahnya.


"Apakah kamu tidak tahu kalau merepotkan orang yang sedang sibuk itu sangat tidak baik,mereka masih memiliki banyak perkerjaan diluar sana..." lanjut Sebastian dengan cepat,sebelum Jennifer sempat menjawabnya.


"Jadi,lebih baik......." belum sempat Sebastian menyelesaikan lanjutannya lagi,Jennifer sudah langsung menyelanya dengan cepat dan wajah yang kembali memberengut kesal.


"Lebih baik aku mengharapkan bantuan dari seorang pria pengangguran yang sepertimu ini, begitu?" sela Jennifer dengan nada kesalnya, sambil menatap kesal kearah Sebastian yang langsung tersenyum kecil.


"Iya,kamu memang wanita yang pintar... Kamu tenang saja,karena aku akan selalu ada disini untuk menjagamu,dan aku juga akan melakukan apapun yang kamu inginkan..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,tapi hal tersebut malah terlihat sangat aneh dan juga kaku dimatanya Jennifer.


"Aku rasa,disaat kamu berada diluar ruangan tadi,kepalamu telah terbentur oleh tembok cukup kuat.Maka dari itu,sekarang kamu semakin lama semakin aneh saja..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya,sambil membaringkan tubuhnya kembali,dengan gerakan kesalnya.


Ntah kenapa? Jika biasanya ia sangat mengharapkan perlakuan manis dari Sebastian,salah satu contohnya seperti yang dilakukan oleh Sebastian padanya barusan.Tapi saat ini,ntah kenapa semua itu malah terlihat dan terasa agak menyebalkan dimatanya.


Lagi pula,perubahan sikapnya Sebastian yang mendadak ini,sedari tadi selalu saja berhasil mengagetkan dirinya.Lihatlah,bahkan wajah datarnya Sebastian tidak begitu terlihat lagi,karena terus saja berubah menjadi santai,dan kadang juga tersenyum kecil.


"Hati-hati..." peringat Sebastian dengan suara lembutnya saat ia melihat pergerakan kesalnya Jennifer itu,sambil berdiri dan membantu Jennifer supaya bisa berbaring dengan baik.


"Dasar menyebalkan..." gumam Jennifer dengan nada pelannya karena sikap pemaksanya Sebastian tersebut,tapi Sebastian hanya mengabaikannya tanpa merasa kesal ataupun marah sedikitpun.


Sebastian bahkan tidak memikirkan tentang perkerjaannya lagi,perkerjaan yang selalu ia anggap sangat penting itu,demi untuk bisa membujuk dan sekalian menjaga istri cantiknya ini.Lagi pula,sudah ada Billy yang akan dengan senang hati membanting tulang untuknya disana.


"Apa kamu tidak bisa duduk agak jauh disana?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil menunjuk kearah sofa sana,melalui ekor matanya.


"Tidak.Kamu suka atau tidak,aku akan tetap duduk disini..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya kembali,sambil sedikit menggerak- gerakkan badannya yang terasa agak lelah karena kurang tidurnya tersebut,dan mengabaikan tatapan kesalnya Jennifer.


"Apakah kamu memang suka memaksakan keinginanmu kepada setiap wanita yang sedang kamu temui,seperti ini?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,karena rasa kesalnya tersebut,ia sampai lupa kalau suami tampannya itu sama sekali tidak pernah mendekati satupun wanita manapun,bahkan sekedar hanya untuk berbasa-basi sedikitpun.


Jennifer bahkan sempat terbengong dengan wajah tampannya Sebastian yang semakin membuatnya terpesona karena gerakan-gerakan perenggangan ototnya Sebastian tersebut,tapi hanya selama beberapa detik saja,karena ia segera mengusirnya jauh-jauh.


"Menurutmu?" tanya Sebastian dengan singkat dan nada santainya,setelah ia sudah selesai merenggangkan otot-otot lelahnya itu,lalu iapun kembali memerhatikan ekspresi wajahnya Jennifer.


"Menurutku?!" Jenniferpun mulai berpikir keras sambil mengetuk-ngetukkan pelan jari telunjuknya kedagunya,saat ia langsung menyadari kalau Sebastian sedang sibuk memerhatikan dirinya.


"Menurutku,kamu memang seperti yang sedang aku katakan barusan.Semua pria kan sama saja, sama-sama hidung belang,munafik dan egois..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah malasnya, sambil berpura-pura menatap kesekitarnya karena tidak tahan dengan pesona suaminya tersebut.


"Begitukah yang ada dipikiranmu selama ini, tentang pria?" tanya Sebastian dengan kening yang mengernyit heran,karena setahunya Jennifer tidak pernah mengatakan hal yang seperti itu,selama bersamanya.


"Bukankah semua pria memang seperti itu,hm?" tanya Jennifer balik,sambil mengalihkan wajah malasnya kearah Sebastian.


Sedangkan Sebastian,ia langsung menepuk pelan keningnya saat ia baru mengingat kembali kalau istri cantiknya ini sedang amnesia dan dalam penyembuhan saat ini.Karena pikirnya jika Jennifer tidak amnesia,Jennifer pasti tahu dirinya pria yang seperti apa.


"Ya,terserah kamu mau berpikir seperti apa,tentang diriku.Yang hanya perlu kamu tahu dan ingat,kamu tidak diperbolehkan untuk meninggalkan diriku lagi. Ingat,aku akan memastikan kalau kamu tidak akan pernah mampu menghindar ataupun menjauh dariku..." jawab Sebastian yang sudah malas berdebat,jadi iapun lebih memilih untuk memperingatkan Jennifer tentang beberapa hal tersebut,karena ia benar-benar tidak mau kalau kejadian tidak terduga hari itu akan terulang kembali.


"Apakah tadi kepala kamu benar-benar telah terbentur sesuatu,hm? Apakah kamu tidak perlu memeriksanya? Mana tahu saja,otakmu telah bergeser banyak didalam sana..." tanya Jennifer dengan nada dan wajah santainya,sambil menahan tawanya karena tepukan jidatnya Sebastian yang terlihat lucu barusan.

__ADS_1


"Sudah.Sekarang kamu istirahat,ya...Bukankah tadi,Tante sudah berpesan kalau tubuhmu harus banyak beristirahat..." ucap Sebastian dengan suara lembutnya tapi wajah tersenyum kecilnya terlihat ekspresi lelah disana,sambil menaikkan pelan selimutnya Jennifer yang hanya sebatas perut itu hingga sebatas dadanya Jennifer.


"Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,ia sebenarnya juga merasa tidak tega saat ia sendiri bisa melihat jelas ekspresi wajah lelahnya Sebastian tersebut,tapi ia harus berakting sebaik mungkin untuk memastikan seberapa besar cinta suaminya padanya atau malah memang tidak pernah ada cinta sama sekali.


Sebastianpun langsung menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat ia melihat Jennifer yang sedang memejamkan kedua matanya,dengan wajah yang memberengut kesal.Walaupun istri cantiknya ini amnesia tapi sikap menyebalkan dan menggemaskannya Jennifer,sama sekali tidak berubah.


Dan setidaknya,hal tersebut sudah mampu membuat rasa lelah dan segala perasaan kacau balaunya tersebut menjadi sedikit mengurang. Walaupun hanya sedikit saja,ia tidak akan mempermasalahkannya karena ia akan terus berusaha untuk mendapatkan hatinya Jennifer kembali.


Karena sekarang ia telah menyadari sesuatu,kalau ia benar-benar telah mencintai Jennifer selama ini.Lihatlah,hanya dengan melihat wajah memberengutnya Jennifer saja,perasaannya sudah terasa bahagia dan bahkan sangat nyaman dan menggemaskan untuk ia lihat.


Merekapun terdiam selama beberapa menit, dengan Jennifer yang terus berusaha untuk bisa tidur,tapi Sebastian sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah cantiknya Jennifer.Tapi tiba-tiba saja,perutnya terasa agak mules karena ingin membuang air kecil,akibat dirinya yang sedari sadarkan diri tadi masih belum membuang air kecil.


"Apa ada yang terasa tidak nyaman,hm?" tanya Sebastian dengan nada pelannya dan kening mengernyit herannya,saat ia melihat Jennifer yang terlihat sedang bergerak gelisah.


Jennifer yang memang sudah tidak bisa menahannya itu,iapun mau tidak mau segera membuka kedua matanya kembali.


"Apa ada yang tidak nyaman? Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu?" tanya Sebastian lagi,sambil menahan tangannya Jennifer yang berniat ingin turun dari atas ranjangnya dan juga menatap bingung kearah Jennifer yang malah menampilkan wajah malunya.


Jenniferpun langsung mendengkus kesal,sambil berusaha menyembunyikan wajah malunya tapi nyatanya wajah malunya tersebut tidak mampu ia sembunyikan.


"A aku......" Jennifer malah jadi bingung,mau bagaimana caranya ia mengatakan tentang keinginannya tersebut.


"A aku,aku hanya ingin membuang air kecil saja, karena sedari tadi aku belum sempat membuang air kecil..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah yang tersneyum malu,saat ia melihat keningnya Sebastian yang semakin lama semakin menukik tajam kearahnya,karena merasa heran,bingung dan sekaligus penasaran.


"Ayo,aku akan membantumu..." Sebastian langsung berdiri dari duduknya dan segera menelusupkan kedua tangannya dibawah paha dan punggungnya Jennifer,tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Ta tapi......" belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimat keberatannya,tubuhnya sudah melayang terlebih dahulu,hingga membuat dirinya harus segera mengalungkan kedua tangannya kebelakang lehernya Sebastian,karena takut kalau dirinya akan terjatuh.


"Tidak ada tapi-tapian,aku tidak akan menerima penolakan dalam bentuk apapun..." sela Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya kembali,sambil menahan senyumnya dan mengalihkan tatapan tegasnya kearah lurus kedepan,lalu iapun langsung berjalan pelan kearah kamar mandi.


"Dasar menyebalkan..." Jennifer hanya mampu menggerutu kesal saja,sambil menelusupkan wajah malunya dibalik dadanya Sebastian.


Didalam kamar mandi...


Walaupun mereka berdua agak kesulitan karena infusnya Jennifer masih terpasang,tapi mereka berdua tetap bisa mengatasinya dengan baik.


Sebastian langsung mendudukkan Jennifer diatas closed yang masih tertutup dan berniat ingin membantu Jennifer untuk melepaskan pakaian pasiennya Jennifer,tapi ia langsung menghentikan gerakan tangannya tersebut,saat ia mengingat kembali tentang amnesianya Jennifer tersebut.


"Apakah kamu memerlukan bantuanku,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah santainya, sambil memerhatikan wajah malunya Jennifer.


"Hah! Tidak,tidak perlu,aku bisa sendiri.Bisakah kamu keluar sebentar..." jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah yang masih saja malu,ia memang sudah mulai terbiasa tapi tetap saja ia akan merasa malu.


Apa lagi,sekarang ia harus berakting seolah-olah mereka berdua adalah dua orang asing yang baru saja saling kenal.


"Tidak,tapi kamu tenang saja,karena aku akan berbalik badan.Jadi,segeralah lakukan apa yang ingin kamu lakukan tadi,karena aku bukan tipe pria yang akan bersabar dalam menunggu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah santainya, sambil berbalik badan.


"Dan ingat,aku tidak akan menerima penolakan dalam bentuk apapun..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya kembali karena ia sangat tahu kalau Jennifer pasti akan kembali berdebat dengannya,sambil bersedekap dada dan juga menahan senyumnya karena tepat dihadapan wajahnya terdapat cermin yang hanya sebatas lehernya saja.

__ADS_1


Jennifer yang baru saja membuka mulutnya itupun terpaksa menutupnya kembali dan mendengkus kesal,lalu iapun segera melakukan apa yang ingin ia lakukan sedari tadi,tentu saja dengan wajah memberengut kesalnya.


'Dasar wanita ...' Sebastian hanya mampu terus menggerutu kesal sambil menunggu Jennifer menyelesaikan ritual kecilnya tersebut, sambil terus mempertahankan ekspresi wajah tegasnya tersebut.


Padahal dirinya bahkan mampu mengingat setiap jengkal tubuhnya Jennifer tanpa ada yang terlewati,walaupun ia harus menutup kedua matanya sekalipun.


'Apa yang telah terjadi dengan wajahku? Kenapa,,,,,,?' batin Sebastian lagi,dengan nada dan wajah bingungnya,dan semakin lama semakin tidak percaya,sambil menyentuh kesekitar dagunya yang ternyata memang telah ditumbuhi bulu-bulu pendek.


Walaupun sebenarnya bulu brewok pendeknya tersebut telah berhasil membuat wajahnya semakin terlihat tampan dan mempesona,karena bulu tersebut tumbuh dengan sangat rapi disekitar bawah dagu dan kesekitar kedua pipinya, tapi ia tidak pernah terbiasa dengan hal itu.


Sedangkan Jennifer,ia langsung menahan tawanya dibelakang sana sambil memakai pakaiannya kembali karena ritualnya tersebut telah selesai ia lakukan.


"Apakah kamu baru menyadari,kalau wajah pengangguranmu itu terlalu jelek untuk diperlihatkan.Atau seorang pria yang hidup dalam pengangguran,memang akan selalu mengabaikan wajahnya dan membiarkan bulu-bulu kecil itu terus tumbuh disekitar wajahnya begitu saja..." suara pelannya Jennifer yang terdengar mengejek itupun langsung berhasil membuat Sebastian terlonjak kaget,karena terlalu sibuk fokus pada brewokan tipisnya tersebut.


Sebastianpun hanya mampu menghela napas kesal dan juga mengelus-elus pelan dadanya saja, karena tidak mungkin ia memarahi Jennifer.Apa lagi,hanya karena masalah kecil seperti itu saja.


"Ya,aku baru menyadarinya.Tapi aku juga baru menyadari 1 hal,kalau ternyata sedari awal,sudah ada seorang wanita yang begitu memerhatikan wajah tampanku ini..." jawab Sebastian akhirnya, dengan nada menyindirnya dan wajah yang tersenyum kecil,sambil kembali mengendong Jennifer yang hanya mampu kembali menyembunyikan wajah malunya tersebut dan pasrah saja.Apa lagi,saat ia mendengar kalimat menyindirnya Sebastian tersebut.


Sedangkan Sebastian,ia hanya berpikir untuk segera membawa Jennifer keatas ranjang karena takut kalau Jennifer akan kembali merasakan pusing.


"Kalau wajahku yang seperti ini terlihat jelek dimatamu,lalu yang bagaimana,yang akan terlihat tampan dimatamu? Apakah aku harus mencukur habis semua bulu-bulu kecilku ini,hm?" lanjut Sebastian lagi,ia bertanya dengan nada dan wajah yang tersenyum menggoda,sambil membaringkan pelan tubuhnya Jennifer keatas ranjang empuknya pasien tersebut.


"Terserah kamu saja.Kenapa juga,kamu harus bertanya kepadaku? Kamu ini ada-ada saja,dasar pria aneh..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum malas,sambil menarik selimutnya hingga batas dadanya,lalu ia mulai memijit pelan pelipisnya karena kali ini ia benar-benar merasa sedikit pusing karena aktivitasnya kekamar mandi barusan.


"Sini,aku pijitin..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya,wajah tersenyum menggodanya tadipun langsung menghilang begitu saja,saat ia melihat Jennifer yang malah sibuk memijit pelipisnya.


"Diam,turuti saja apa kataku,dan nikmati saja,pijitan dariku ini..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menyingkirkan paksa tangannya Jennifer yang sedang sibuk berebut posisi dipelipisnya itu.


"Dasar menyebalkan..." lagi-lagi Jennifer hanya mampu kembali menggerutu kesal,sambil menarik tangannya tersebut dan bersedekap dada dengan posisi tidurnya dan wajah memberengut kesalnya tersebut.


Sedangkan Sebastian,lagi-lagi ia hanya mampu menahan senyumnya saja,saat ia melihat wajah memberengut kesalnya Jennifer tersebut,sambil terus memijit pelan pelipis hingga kepalanya Jennifer.


'Ternyata pijitannya tidak buruk juga,terasa sangat nyaman.Dan rasa pusingku barusan juga sudah mulai mengurang,dengan begitu cepat...' lanjut Jennifer dengan wajah memberengut kesalnya yang semakin lama semakin menghilang atau mengurang,karena pijitannya Sebastian tersebut memang benar-benar terasa sangat nyaman, hingga berhasil membuatnya tersenyum senang dan juga memejamkan kedua matanya secara perlahan-lahan.


Sekitar hampir 10 menit kemudian...


Lihatlah,bahkan kedua tangannya Jennifer yang sedang bersedekap dada tadi itupun telah melemah kesamping kiri dan kanan tubuhnya, karena hal tersebut menandakan kalau Jennifer telah tertidur lelap karena pijitan tersebut.


"Dasar...Hanya sedang tidur saja,kamu akan terlihat tenang tanpa rewelmu itu..." gumam Sebastian dengan nada pelannya,sambil menggeleng- gelengkan pelan kepalanya dengan heran,saat ia melihat Jennifer yang benar-benar telah terlelap dan suara berisiknya tadipun ikut sirna.


Sepertinya tubuhnya Jennifer memang masih sangat lelah dan harus beristirahat lebih lagi, karena kejadian yang telah ia alami tersebut.


'Tapi apakah istriku ini memang benar-benar sedang mengalami amnesia? Atau dia tidak mengenaliku karena perubahan wajah brewokku ini?' lanjut Sebastian didalam hatinya,sambil menyentuh brewoknya dengan sebelah tangannya dan berpikir keras,dan juga terus memerhatikan wajah terlelapnya Jennifer,tanpa menghentikan pijitan lembutnya tersebut.


Beberapa menit kemudian,Sebastianpun menggeleng-gelengkan pelan kepalanya untuk mengusir tebakannya tersebut,untuk sementara waktu karena saat ini seluruhnya tubuhnya juga terasa lumayan lelah.


"Sekarang,lebih baik aku ikut tidur sebentar.Jika tidak,aku takut kalau nanti aku tidak akan memiliki tenaga extra lagi,untuk menjaga dan mendengarkan suara berisiknya lagi..." gumam Sebastian lagi,dengan nada dan wajah yang tersenyum lucu,sambil berdiri dari duduknya dan naik keatas ranjang,lalu menelusup kedalam selimut bersama Jennifer yang telah duluan terlelap.

__ADS_1


Karena segala rasa lelahnya tersebut,ia sampai melupakan tentang amnesianya Jennifer tersebut,ia bahkan ikut terlelap dengan memeluk sayang Jennifer didalam selimut tersebut.


__ADS_2