Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 110


__ADS_3

Dikediamannya Rendra...


Sedari tadi,setelah selesai makan siang tadi,hingga sekarang sudah jam 4 sore.Sepasang manusia yang sedang bertengkar usai melakukan kegiatan panas tadi,masih belum saling berbicara sedari tadi.Dan bahkan tempat duduk mereka yang agak berjauhan,karena Jennifer sendiri yang tidak mau duduk bersama Sebastian.


Sedangkan yang lainnya,Ayah,Ibu dan juga Stella,mereka ber 3 masih setia fokus menonton TV diruang tamu tersebut,sambil memerhatikan sikap aneh mereka berdua itu dalam diam.


Ya,walaupun sikapnya Jennifer masih sama seperti biasanya,bersikap biasa dan sopan terhadap mereka.Tapi ada yang aneh dipenglihatan mereka siang ini,karena tatapannya Jennifer yang selalu akan terlihat mencuri pandang kearah Sebastian, sekarang tatapan tersebut sama sekali tidak terlihat lagi,bahkan Jennifer terlihat seperti menganggap Sebastian hanya bayangan yang sedang lewat saja.


Dan lihatlah,bahkan sekarang kejadiannya berbanding terbalik dengan biasanya yang akan terjadi.Mereka merasa kalau dunia ini seperti sudah terbalik saja,saat mereka melihat ada sedikit yang aneh dengan sikapnya Sebastian yang super cuek itu,pada siang hari ini.


Biasanya Jennifer yang seperti tidak ada waktu lain untuk menatap suaminya,tapi sekarang gantian Sebastian yang terus menatap Jennifer sedari makan siang tadi.


Mereka masih belum ingin bertanya jauh tentang reaksi sepasang manusia yang tadinya,yang mereka harapkan akan lebih baik dari ini,tapi akhirnya merekapun hanya mampu menebak-nebak didalam hati mereka saja.


Karena mereka tidak mau terlalu ikut campur dalam masalah suami istri mereka berdua,kecuali jika memang hal tersebut sudah tidak boleh dibiarkan lagi.


"Sebastian,apa sore ini kamu tidak berkerja?" tanya Ayah dengan nada dan wajah penasarannya,sambil mengalihkan tatapannya dari tontonan yang paling tidak ia sukai itu kearah putranya.


Ia sangat jarang melihat putranya duduk bersama mereka,jika dihari-hari seperti ini,kecuali dihari weekend saja.


"Tidak Yah,sudah ada Billy disana..." jawab Sebastian dengan singkat dan nada santainya, tanpa mengalihkan tatapan tenangnya dari wajah cantik istrinya sedari tadi.


Walaupun tatapannya terlihat tenang,tapi sesungguhnya hati dan pikirannya sedang sibuk memikirkan ulang semua kejadian dan tangisannya Jennifer yang telah berhasil membuatnya merasa bersalah itu,tapi masih saja ia tidak mampu mengerti semua itu.


Ayahpun langsung mendengkus kesal,saat ia mendengar jawaban singkat dan tatapannya Sebastian itu.Ia tidak menyangka,kalau akan ada hari dimana putra datarnya itu menjadi aneh seperti ini,dan hal itu sangat langka menurutnya dan yang lainnya.


Sedangkan Ibu dan Stella,mereka berdua hanya menahan tawa mereka saja,tanpa mengalihkan tatapan mereka dari TV.Dan Jennifer yang hanya berpura-pura tidak mendengar,ia hanya ikut fokus pada TV saja.


Beberapa menit kemudian...


"Ibu,ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Ibu..." Jennifer tiba-tiba saja bersuara,memberitahu dengan nada dan wajah santainya,sambil menonton drama korea yang sudah lama tidak ia nonton itu karena sibuk mencari perhatian dari suaminya sedari hari itu.


"Sesuatu? Memangnya apa yang ingin kamu katakan pada Ibu,nak?" tanya Ibu dengan nada dan wajah penasarannya,sambil mengalihkan tatapannya dari drama kesukaannya kewajah menantu kesayangannya itu,dan juga melirik sekilas kearah putranya yang masih saja menatap kearah Jennifer.


Sedangkan Ayah dan Stella,mereka ber 2 hanya melirik saja,dan juga sekalian menajamkan pendengaran mereka.


"Sebenarnya bukan hanya pada Ibu saja,tapi juga pada Ayah dan Stella..." jawab Jennifer dengan nada pelannya dan wajah seriusnya,sambil menelisik wajah semakin penasarannya Ibu,dan Ayah dan juga Stella yang langsung menatapnya,ia bahkan mengabaikan suaminya yang langsung mendengkus kesal karena barusan ia tidak menyebut nama suaminya.


"Aku ingin memberitahu sesuatu,pada kalian ber 3. Tadi aku sudah mengirim pesan kepada Daddy,dan Daddy juga sudah membalas pesanku tadi.Kalau beberapa hari lagi,aku akan mulai berkerja dan mengurus perusahaannya Daddy..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,sambil memerhatikan ekspresi wajahnya Ayah dan Ibu yang langsung mengernyit heran dan juga bingung.


"What? Apa kamu serius?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kaget yang bercampur tidak percayanya,sambil berdiri dari duduk tenangnya tadi,ia bahkan harus menahan rasa kesalnya saat ia mendengar Jennifer menekan kata "ber 3" dikalimat yang barusan tersebut.


Sedangkan yang lainnya,mereka hanya mampu menunggu giliran mereka saja,karena telah ada yang mendahului mereka saat ini.

__ADS_1


"Apakah aku terlihat sedang bercanda,hm?" tanya Jennifer dengan nada santainya,sambil menatap malas kearah Sebastian.


"Apa kamu dan Daddymu tidak berpikir terlebih dahulu,sebelum kalian akan melakukan sesuatu?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya dan juga duduk kembali dengan gerakan kesalnya,sambil mencoba menetralkan wajah kesalnya.


Daddynya Jennifer bahkan belum pernah berbicara atau bertanya padanya tentang masalah yang satu ini,makanya tadi ia langsung menjadi kaget dan juga merasa tidak percaya sekaligus.


Bukannya ia ingin melarang,tapi untuk sekarang,ia memang belum bisa memberi Jennifer kebebasan yang penuh untuk berada diluar sana.Apa lagi jika Jennifer akan menggantikan Daddynya nanti, sudah dipastikan,kalau waktunya Jennifer akan lebih banyak berada diluar rumah nanti.Dan hal itu, akan sangat berbahaya untuk keselamatan istrinya


"Ada apa dengan mu,hm? Bukankah lebih baik aku menghabiskan waktu emasku ini diperusahaan Daddy,dari pada aku harus berdiam diri didalam rumah seperti orang bod*h? Dan seperti kamu ini akan selalu berpikir terlebih dahulu saja,sebelum kamu akan melakukan sesuatu..." tanya Jennifer balik dengan nada menyindirnya dan wajah kesalnya,sambil bersedekap dada dengan posisi duduknya tersebut kearah Sebastian yang langsung membalas tatapannya dengan tatapan kesal juga.


'Seperti kamu ini akan selalu berpikir terlebih dahulu saja,sebelum kamu ingin berbicara?' lanjut Jennifer didalam hatinya,dengan meralat kalimat terakhirnya barusan.


"Bukankah lebih baik, kamu berada dirumah saja?" tanya Sebastian balik,dengan nada kesalnya,tapi didalam hatinya ia mulai merasa khawatir saat ini,karena sepertinya kali ini Jennifer tidak akan mau mendengarnya.


"Dan lagi pula, walaupun kamu selalu berada didalam rumah,tidak akan ada seorangpun yang akan berani mengataimu orang bod*h..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya.


"Ya,memang tidak ada satupun yang akan mengataiku, kecuali kamu..." ucap Jennifer dengan nada menyindirnya karena rasa kesalnya,padahal Sebastian tidak pernah mengatainya begitu,sambil berdiri dari duduknya.


"Apa kamu ini sedang butuh tidur atau periksa kepalamu kerumah sakit,hm? Kapan aku pernah mengataimu bod*h?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang semakin kesal saja,sambil ikut berdiri dari duduknya juga.


Padahal tadinya ia hanya ingin membahas tentang istrinya yang ingin pergi berkerja saja,tapi kenapa sekarang mereka malah mempeributkan tentang kata bod*h dan yang lainnya.Lagi pula,ia benar-benar tidak pernah mengatakan bod*h terhadap Jennifer.Ya,kecuali kata tidak waras.


"Apa kam................" baru saja Jennifer ingin membalas atau menjawab pertanyaannya Sebastian,suara malas dan kesalnya Ibu sudah terlebih dahulu menghentikannya.


Kecuali Ayah yang masih tetap dengan duduk tenangnya sambil menahan rasa kesalnya,saat ia melihat sikap menyebalkan Sebastian itu.


"Ibu tanya saja pada putranya Ibu,aku juga tidak mengerti dengan jalan pikirannya itu..." jawab Jennifer dengan nada kesal yang bercampur sindiran untuk Sebastian,sambil duduk kembali dengan posisi tangan yang masih sama,tapi sayangnya Sebastian malah tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan rasa kesalnya.


"Sebastian,sebenarnya apa yang telah terjadi? Bukankah tadi masih baik-baik saja,kenapa sekarang kalian berdua seperti ingin berperang saja?" tanya Ibu dengan nada dan wajah kesalnya, sambil bersedekap dada kearah Sebastian yang masih saja menampilkan wajah kesalnya.


Ia sudah bersabar sedari tadi untuk tidak ikut campur dalam urusan mereka,dan ia bahkan rela menunggu giliran.Tapi kelihatannya, semakin dibiarkan malah semakin ribut saja.


Sedangkan Stella,berbeda dengan Ayah yang masih tetap tenang,Stella malah hanya mampu terdiam bengong karena ia sama sekali tidak berani ikut campur.Apa lagi kakaknya juga ikut terlibat, takut-takut kalau dirinya akan terkena semburan dari mereka nanti.


"Ibu,jangan tanyakan padaku,Ibu tanyakan saja pada menantu kesayangan Ibu ini..." jawab Sebastian yang sudah bingung mau mengatakan apa,sambil menatap kesal kearah istrinya yang sedang memberengut kesal kearah lurus kedepan itu.


Setelah ia selesai bicara dan menghela napas dengan berat dan juga panjang,Sebastian langsung berjalan pergi dari sana,sepertinya ia harus segera menelepon Daddynya Jennifer dan membicarakan masalah yang telah mampu membuatnya merasa khawatir itu.


Sedangkan Ibu dan yang lainnya,termasuk Jennifer.Merekapun sama-sama terus menatap punggung dan langkah tegasnya Sebastian yang sedang berjalan kearah halaman belakang sana,dengan ekspresi wajah mereka masing-masing.


Beberapa detik kemudian...


Ibupun langsung duduk kembali disampingnya Jennifer,setelah ia sudah selesai menghela napas dengan pelan.

__ADS_1


"Ibu,Ayah,maafkan aku,karena aku telah membuat keributan dan juga harus membuat kalian melihatnya..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah bersalahnya,sambil menundukkan kepalanya kearah Ibu setelah ia sudah menurunkan kedua tangannya tadi.


"Tidak apa-apa,nak,kami tidak mempermasalahkannya.Yang terpenting,ributnya kalian jangan sampai berlarut-larut.Lagi pula, bukankah Ayah pernah mengatakannya padamu,kalau Sebastian berani memganggumu, katakan saja pada Ayah..." jawab Ayah dengan nada serius dan wajah yang tersenyum tulusnya.


"Iya nak,tidak baik kalau suami istri terus bertengkar.Apa lagi,kalian berdua baru saja menikah..." timpal Ibu dengan nada dan wajah tersenyum seriusnya,sambil mengambil tangannya Jennifer dan menepuk-nepuknya dengan pelan.


"Iya,Yah,Bu,akan aku usahakan supaya kami tidak terus bertengkar..." jawab Jennifer dengan nada pelannya,sambil tersenyum lega karena Ibu dan Ayah mertuanya tidak marah kepadanya.


'Lagi pula,setelah ini waktuku akan lebih banyak berada diperusahaan,jadi aku tidak perlu akan selalu bertemu dan berdebat dengannya lagi...' lanjut Jennifer didalam hatinya,dengan perasaan senangnya.


Setidaknya dengan mengalihkan pikirannya keperkerjaan dikantor Daddynya nanti,ia tidak akan begitu memikirkan Sebastian.


"Baiklah.Sekarang,maukah kamu menceritakannya pada Ibu?" tanya Ibu dengan suara lembutnya.


"Iya,kakak ipar.Bagaimana dengan idenya Ibu hari itu? Apakah sudah berhasil?" timpal Stella yang sedari tadi hanya bisa diam saja, dengan nada cepat,tidak sabarannya dan juga wajah penasarannya


Dan langsung mendapatkan tatapan malas dari Ibu,karena Ibu juga merasa penasaran sedari tadi,tapi lanjutan pertanyaannya malah ditimpal oleh Stella.


Tapi didalam hati mereka,sebenarnya juga sudah menebak.Pasti ide tersebut tidak berhasil dengan baik,karena jika berhasil,pasti tidak akan berakhir seperti tadi.


"I itu....." Jenniferpun menjeda jawabannya sambil melirik sekilas kearah Ayah,rasanya ia akan merasa sangat malu kalau ia harus menceritakan pada Ibu dan juga Stella.Apa lagi,ada Ayah juga yang sedang bersama mereka saat ini.


"Tidak apa-apa,kamu bisa menganggapnya sebagai boneka hidup saja,nak..." ucap Ibu dengan wajah tidak bersalahnya,saat ia bisa langsung mengerti apa maksudnya Jennifer.


Ayahpun langsung mendengkus kesal saat ia mendengar perkataan istrinya barusan,dan Stella yang hanya mampu menahan tawanya saja,karena takut akan dimarahi oleh Ayah.


"Baiklah,Bu.Kalau begitu,aku akan menceritakannya pada kalian..." ucap Jennifer dengan nada malu dan wajah pasrahnya,karena ia akhirnya memilih untuk bercerita saja.


Lagi pula,Ibu,Ayah dan Stella memang orang-orang yang menyayanginya dan mendukungnya selama hampir 1 bulan ini.


"Tadi pagi itu Sebastian ternyata datang ke Cafe, tempat dimana kami sedang sarapan bersama,dan lalu...................." Jenniferpun langsung memulai ceritanya dengan ekspresi serius,kesal,marah,dan juga kecewa.


Ia menceritakan semuanya hingga yang terakhir tadi,tanpa ada yang terlewati sedikitpun.Hanya saja,ia tidak sampai menceritakan cara mereka bercinta tadi secara detail,karena ia hanya mengatakan dengan kalimat singkat,yang mudah untuk dipahami oleh Ibu,Ayah dan juga Stella.


Dan begitu juga dengan ekspresi wajahnya Ibu dan Stella,mereka berdua juga merasa sangat kesal dan juga marah saat mereka mendengar ceritanya Jennifer tersebut.Kecuali Ayah yang hanya tetap dengan ekspresi tenang diwajahnya sedari tadi,hanya saja ia juga ikut menahan rasa kesal dan marah didalam hatinya saja.


"Anak nakal itu benar-benar keterlaluan..." Ibu langsung menggeram kesal,saat Jennifer sudah selesai bercerita.


"Kenapa kakak bisa menyebalkan sampai seperti itu,Bu.Rasanya,aku ingin sekali menguburkannya hidup-hidup..." timpal Stella dengan nada dan wajah kesalnya yang tidak jauh beda sama miliknya Ibu.


"Memangnya,kamu sanggup? Mendengar atau melihat wajah marah kakakmu itu saja,kamu ntah akan berlari sampai kemana..." ucap Ibu dengan nada dan wajah tersenyum mengejeknya yang telah bercampur kesalnya yang ditujukan untuk Sebastian tadi.


"Ibu ini,kenapa malah jadi sama-sama menyebalkan seperti kakak?" tanya Stella dengan nada kesalnya,sambil menatap malas kearah ibu yang hanya mengabaikannya.

__ADS_1


__ADS_2