
Jennifer segera meletakkan kota P3K tersebut keatas meja dan ikut duduk,setelah mereka berdua sudah berjalan hingga keteras tersebut dan Sebastian yang juga sudah duluan duduk disana,iapun mulai bersiap-siap untuk mengobati lukanya Sebastian
Lalu ia mulai mendekatkan tangannya untuk membersihkan darah dibibirnya Sebastian,dengan basahan alkohol yang sudah ia siapkan itu.
"Tahan ya..." ucap Jennifer dengan nada pelannya,sambil mulai membersihkan luka tersebut dengan perlahan-lahan,Sebastian hanya menanggapinya dengan anggukan pelan saja.
Terlihat Sebastian yang hanya sedikit meringis saja,karena luka tersebut memang hanya sedikit sakit saja.Sakitnya memang hanya akan begitu terasa saat ia berbicara dan disentuh seperti ini,tapi rasa sakit sekecil itu tidak ada apa-apanya baginya.Lagi pula,ia sudah menahan sakit sedari ia mulai berbicara banyak pada Daddynya Jennifer tadi.
Jennifer bahkan tidak menyadari tatapannya Sebastian yang terus saja tertuju kewajah cantiknya yang sedang begitu serius membersihkan dan mengoles obat cream pada kedua sudut bibirnya Sebastian dengan hati-hati,karena takut kalau Sebastian akan merasakan sakit.
'Memang cantik,tapi menyebalkan...Tapi kenapa aku malah merasa candu pada bibir merahnya itu? Aku benar-benar akan dalam bahaya,jika aku selalu berdekatan dengannya seperti ini...' batin Sebastian dengan perasaan bingung dibalik wajah tenangnya,dengan tatapan yang terus saja terarah pada seluruh wajah cantiknya Jennifer hingga kebibir merahnya tersebut.
Bukan apa-apa,hanya saja ia sendiri tidak yakin kalau dirinya akan selalu berdekatan sama Jennifer seperti ini.Kecuali,jika mereka berdekatan seperti ini hanya untuk beberapa kali saja.
Tapi sepertinya ia harus menyiapkan mentalnya, karena mungkin saja untuk kedepannya mereka berdua akan sering bertemu.Ntah dengan jarak jauh ataupun dengan jarak dekat,ntahlah ia sendiri tidak ingin membayangkannya.
Sekarang saja,ia bahkan harus menahan diri untuk tidak menerkam bibir merah lembut tersebut,bisa-bisa ia akan kembali mendapatkan bogeman-bogeman mentah yang lainnya lagi...
Beberapa detik kemudian...
"Sudah selesai..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum lega,saat ia sudah selesai mengoles cream pada kedua sudut bibirnya Sebastian.
"Bagaimana? Apakah kamu masih......" pertanyaannya Jennifer langsung terhenti diudara ,saat ia baru menyadari kalau Sebastian terus saja menatap wajahnya dengan jarak yang dekat karena kursi duduk mereka yang memang berdekatan.
"Honey,apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Jennifer dengan nada sedangnya dan wajah bingungnya,sambil terus menelisik wajah tampannya Sebastian.
Sebastian yang masih sibuk memerhatikan keseluruhan wajah cantiknya Jennifer itupun langsung tersadar dari lamunannya itu,wajahnya langsung menjadi malu karena tertangkap basah oleh Jennifer kalau dirinya terus memerhatikan wajah cantiknya.
"Ehm ehm ehm..." dehem Sebastian dengan cepat,untuk menetralkan rasa malunya,sambil memgalihkan pandangannya kesembarangan arah.
"Apakah sedari tadi,kamu hanya terus memerhatikan wajahku saja?..." tanya Jennifer dengan tersenyum menggoda,saat ia melihat salah tingkahnya Sebastian,belum lagi dengan sisa ekspresi malu diwajahnya Sebastian saat ini.
"Tidak..." jawab Sebastian dengan cepat dan berusaha mempertahankan wajahnya yang sudah tenang itu, sambil berdiri dari duduknya dan melangkah kepinggiran teras yang memang memiliki pembatas kacanya tersebut.
"Apakah wajahku terlihat cantik,hm? Sampai kamu tidak mampu mengalihkan tatapan indahmu itu..." tanya Jennifer lagi,sambil ikut berdiri dari duduknya,ia semakin semangat untuk menggoda Sebastian.
" Percaya diri sekali,kamu ini..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,saat ia mendengar perkataan percaya diri dari Jennifer.
"Honey,percaya diri itu wajib,asal jangan berlebihan saja...Lagi pula,semua pria yang bertemu denganku,mereka semua juga pasti akan mengatakan kalau aku cantik..."ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum bangga,sambil bersandar kelengan kekarnya Sebastian dengan posisi mereka yang sedang berdiri dan menyangga tubuh mereka pada pembatas kaca tersebut.
Sebastianpun menolehkan kepalanya kesamping,dimana ia bisa melihat pucuk kepalanya Jennifer yang sedang bersandar dilengannya,iapun langsung tersenyum kecil tapi sayangnya Jennifer tidak bisa melihatnya karena tatapannya yang lurus kedepan.
__ADS_1
"Apakah aku juga cantik,dimatamu?" tanya Jennifer lagi,dengan nada dan wajah penasarannya,tanpa mengalihkan tatapannya.
"Biasa saja..." jawab Sebastian dengan singkat dan nada santainya,wajah tersenyumnya tadi juga sudah kembali kewajah tenangnya,sambil mengalihkan tatapannya kedepan sana,dimana ada sebuah mobil yang terlihat tetap setia berada dipinggir jalan sana.
"Ya,kecuali kamu,pria satu-satunya yang tidak akan mengatakan cantik padaku..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya,sambil mengalihkan tatapan kesalnya kearah wajah tenangnya Sebastian.
"Tapi,apakah kamu tahu? Kalau karena itulah salah satunya alasan yang telah membuat aku menaruh hati padamu..." lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang tersenyum malu,tanpa ia sadari kalau Sebastian terus saja tersenyum didalam hatinya,sedari ia merasa kesal tadi.
"Hanya itu?" tanya Sebastian dengan nada santainya sambil terus menelisik mobil tersebut yang sepertinya,merekalah yang dilaporkan oleh Billy tadi,padahal dirinya sedang merasa penasaran dengan apa penyebabnya Jennifer terus saja memaksa untuk memilihnya.
"Selain itu,tentu saja karena kamu tampan,dan aku juga sangat menyukai wajah datarmu itu..."jawab Jennifer dengan wajah yang tampak sedang berpikir, walaupun semua itu bukan alasan utamanya dan hanya alasan pelengkapnya saja.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu memutar kedua bola matanya dengan malas,saat ia fokus pada kata"tampan" tersebut,karena kata itulah yang menjadi alasan utamanya banyak wanita yang mengejar-ngejar dirinya.
Tapi saat ia mendengar kalimat "Sangat menyukai wajah datarnya" ,ntahlah...Wanita menyebalkan ini kan memang aneh...
"Tapi alasan yang paling utamanya,karena..." lanjut Jennifer,tapi ia sengaja menjedanya karena malu ingin mengatakannya dengan jujur,hingga mampu membuat Sebastian menjadi semakin penasaran.
"Karena apa?" tanya Sebastian dengan nada tidak sabarannya sambil mengalihkan tatapannya kearah Jennifer yang juga menatapnya,saat ia melihat Jennifer yang menjeda terlalu lama.
"Karena,,,jantungku terus saja berdebar-debar saat aku berdekatan denganmu seperti ini.Dan itu terus terjadi,sejak pertemuan ke 3 kita malam itu hingga sekarang..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum malu.
'Berdebar-debar? Bukankah aku juga merasa hal yang sama seperti Jennifer...Apakah itu berarti...Tidak,tidak,itu tidak mungkin...' batin Sebastian dengan perasaan bingungnya,ia bahkan langsung mengusir pemikiran bingung tersebut dengan cepat karena ia tidak ingin mempercayainya.
"Tidak,aku sudah lupa..." jawab Sebastian sambil mengalihkan tatapan tenangnya tadi kedepan,ia sengaja berbohong,untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan Jennifer lontarkan padanya nanti,jika ia menjawab ingat.
'Bagaimana aku bisa melupakan tentang malam itu,bahkan sejak pertemuan kita malam itu, perkataan dan wajah polos kamu ini terus saja berputar-putar dan terbayang-bayang didalam kepalaku.Apa lagi,tentang c**m*n singkat kita itu.Dan setiap harinya aku harus rela kekurangan tidur karena perbuatan nakalmu,pada malam itu...' lanjut Sebastian didalam hatinya dengan perasaan kesalnya.
"Secepat itu? Apa kamu benar-benar sudah lupa?" tanya Jennifer dengan wajah tidak percayanya.
"Iya,aku benar-benar sudah lupa.Lagi pula,itu tidak penting bagiku,buat apa juga aku mengingatinya... Kamu ini,bertanya yang tidak-tidak saja..." jawab Sebastian dengan nada santainya dan melanjutkan kebohongannya,tanpa menatap Jennifer.
'Cepat apanya? Satu tahun itu seperti 10 tahun untukku...' lanjut Sebastian didalm hatinya,karena ia terus saja merasakan kalau dirinya sedang merindukan Jennifer walaupun ia juga terus saja mengelaknya.
"Kamu ini tega sekali,padahal semua tentang kita pada malam itu,semuanya itu kenangan terindah yang pertama untuk kita.Bagimu mungkin tidak penting,tapi bagiku itu sangat penting..." ucap Jennifer dengan wajah yang memberengut kesal, sambil menjauhkan sandaran kepalanya dari lengan kekarnya Sebastian,lalu menyanggakan dagunya dipembatas kaca tersebut.
Ia tidak menyangka kalau Sebastian akan melupakan hal tersebut begitu saja,padahal selama satu tahun ini dirinya selalu berharap kalau mereka berdua sama-sama mengingatnya tanpa melupakan sedikitpun tentang malam itu, suara-suara merdu mereka saat bernyanyi dan pembicaraan panjang lebar mereka.Apa lagi, dengan c**m*n singkat mereka malam itu.
Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum lucu didalam hatinya sambil melirik sekilas kearah wajah memberengut kesalnya Jennifer.Ternyata tentang pertemuan mereka itu,Jennifer bahkan menganggapnya sangat penting.
Sepertinya wanita menyebalkan ini memang benar-benar serius dan tulus dalam mencintai dirinya,hanya saja ia masih belum siap untuk menjalin sebuah hubungan karena traumanya tentang cintanya yang tidak berjalan baik dulu.
__ADS_1
Sebastianpun mengabaikan wajah memberengut kesalnya Jennifer dengan terus tersenyum didalam hatinya,sambil terus memerhatikan mobil musuh yang masih setia berada dipinggiran jalan sana.
Setelah memberengut kesal dan sambil berpikir selama beberapa menit,Jennifer menjadi semakin kesal karena ternyata Sebastian malah mengabaikannya. Karena rasa kesalnya,iapun memilih untuk melakukan apa yang sedang ia pikirkan saat ini,untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Bagaimana kalau kita mengulanginya kembali, supaya kamu tidak akan lupa lagi.Dan kali ini,aku pasti akan melakukannya dengan lebih bagus lagi,dari pada yang pada malam itu,hingga kamu akan terus mengingatnya sampai seumur hidupmu..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum menggoda sambil menepiskan pelan tangannya Sebastian yang sedang berpegangan dengan pembatas kaca tersebut kesamping,lalu ia langsung memeluk cepat tubuh kekarnya Sebastian dari depan.
"Ti tidak perlu..." jawab Sebastian dengan nada gugup dan juga wajah kagetnya sambil sedikit mengangkat kedua tangannya keatas,karena terlalu fokus kemobil musuh tersebut,ia sampai tidak sempat menghindari pelukannya Jennifer padanya.
"Tentu saja perlu,supaya kamu tidak akan lupa lagi..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum kesal,sambil terus memeluk erat tubuh kekarnya Sebastian,dengan kepalanya yang sedikit mendongak keatas hingga wajah mereka berduapun menjadi hampir tidak berjarak.
"I iya,tapi apa kamu lupa,bukankah tadi sore kita juga sudah melakukannya? Dan aku rasa,itu saja sudah cukup..." ucap Sebastian dengan berusaha menetralkan rasa gugupnya,ia juga berusaha membujuk Jennifer untuk menghentikan tingkah konyolnya tersebut.
"Itu tidak cukup,itu juga hanya karena khilaf saja.Kalau yang sekarang berbeda...Karena kamu sudah berani melupakan c**m*n pertamaku..." ucap Jennifer dengan perasaan gugup dibalik wajah tersenyum menggodanya,sambil mendekatkan bibir mereka dengan gerakan perlahan-lahan.
"Ber berbeda apanya? A apa kamu tidak ta takut ketahuan sama Daddymu,hm?" tanya Sebastian dengan nada pelan,gugup dan juga menggeram kesal,sambil menahan kedua bahunya Jennifer,karena jar0ak bibir mereka hanya tersisa 1 cm saja saat ini.
"Tidak..." jawab Jennifer dengan wajah yang dipenuhi tekad,tapi didalam hatinya ia juga sibuk menahan segala rasa malu dan gugupnya.
"Oke,oke,tadi itu aku hanya berbohong saja.Aku mengingatnya dan aku tidak pernah melupakan c**m*n singkat kita pada malam itu...Apakah kamu sudah puas sekarang?" tanya Sebastian dengan wajah kesalnya,saat ia melihat Jennifer yang ternyata nekad ingin menc**mnya.
"Aku tidak percaya..." ucap Jennifer dengan wajah tidak percayanya walaupun ia sempat merasa sedikit kaget barusan ,ia berpikir kalau Sebastian pasti sengaja berbohong untuk memghindari c**m*nnya itu.
"Aku sudah jujur dan mengatakan yang sebenarnya,kenapa kamu malah tidak mau percaya.Selama satu tahun ini,aku terus saja tidak bisa tidur awal dimalam harinya,karena kepalaku selalu saja dipenuhi tentang kita pada malam itu..." ucap Sebastian dengan nada pelan dan lambatnya sambil menatap kedua matanya Jennifer yang juga menatapnya,bahkan perkataannya tersebut baru sebagiannya saja.
Karena bibir mereka yang hampir tidak berjarak itu,mampu membuat dirinya tidak bisa terlalu bicara,bahkan hembusan napas mereka yang saling membalas itupun mampu membuat tubuhnya mulai merasakan panas dingin.
"Apa yang baru saja kamu katakan ini,memang benar-benar mampu membuat rasa kesalku langsung menghilang dan hatiku juga sangat bahagia mendengar semua itu..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum bahagia,tanpa melepaskan pelukan mereka.
Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum lega,karena ia mengira kalau Jennifer sudah tidak berniat ingin melanjutkan tingkah konyolnya tadi...
"Tapi aku tidak perduli dengan semua yang kamu katakan itu bohong atau tidak,karena sekarang sudah terlambat untuk kamu bicara apapun lagi..." lanjut Jennifer dengan wajah yang tersenyum menggoda dan juga menahan rasa gugupnya yang masih belum berkurang sedari tadi.
"A apa mak........" belum sempat Sebastian menyelesaikan pertanyaannya karena rasa bingungnya,bibir tebalnya sudah duluan diterkam oleh Jennifer dengan cepat dan kedua mata yang sudah terpejam rapat.
Kedua matanya Sebastian langsung membola,tapi ia tidak berniat ingin menolak c**m*nnya Jennifer sedikitpun,ia hanya terpaku diam sambil menatap kedua matanya Jennifer yang sedang terpejam,bahkan kedua tangannya yang berada dikedua bahunya Jennifer itupun sudah mulai melemah.
Perlahan-lahan tapi pasti,Jennifer sudah berhasil menguasai bibirnya Sebastian hingga kerongga-rongga mulutnya karena tidak mendapatkan penolakan sedikitpun,gerakan bibir dan lidah lenturnya Jennifer yang lembut itupun mampu membuat kedua matanya Sebastian mulai terpejam dan membalas l*m*t*n-l*m*t*nnya tersebut.
Mereka berdua terus berc**m*n,dan semakin lama semakin panas,hingga mereka berdua tidak menyadari kalau dibalik pintu sana ada pria paruh baya yang secara tidak sengaja melihat c**m*n panas mereka.
"****...Apa-apaan mereka ini? Padahal,tadi aku baru saja memperingati mereka,sekarang mereka berdua malah......Sepertinya,aku harus membuat mereka berdua segera menikah secepatnya, sebelum terlambat..." gumam pelan pria paruh baya tersebut yang ternyata Daddynya Jennifer.
__ADS_1
Ia yang tadinya berniat ingin memeriksa sepasang manusia tersebut itupun langsung berbalik badan dan berjalan pergi dari sana dengan langkah kesalnya,ia lebih memilih untuk pergi dari sana karena ia mempercayai Sebastian yang pasti tidak akan melewati batasnya.