
Sedangkan beberapa bawahannya Sebastian tadi, salah satu dari merekapun segera mengambil kursi untuk Tuan Muda mereka,saat ia melihat Tuan Muda mereka yang memang terlihat berniat ingin duduk disamping brankar tersebut.
Sebastian yang memang sudah terasa sangat lelah itupun langsung duduk,saat ekor matanya menangkap apa yang dilakukan oleh bawahannya untuknya itu.
"Tuan Muda,ini makan malamnya..." ucap salah satu bawahannya,dengan nada pelan dan wajah sedihnya,begitu juga dengan yang lainnya.
Sedari tadi malam hingga saat ini,Tuan Muda mereka sama sekali belum tidur,dan juga tidak begitu banyak minuman atau makanan yang masuk kedalam tubuhnya Tuan Muda mereka. Mereka semua bahkan ntah telah makan berapa kali,dan masih sempat beristirahat sejenak tadi.
Dan sekarang,Nona Muda mereka malah mengalami kejadian yang tidak terduga seperti ini. Padahal Tuan Muda dan mereka semua sudah berusaha sebisa mungkin,untuk menyelamatkan Nona Muda mereka,tapi nyatanya pergerakan mereka agak terlambat hingga membuat kepala Nona Muda mereka sampai terbentur dan belum sadarkan diri seperti ini.
"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat dan nada pelannya,sambil mengangkat dan mengibaskan sebelah tangannya kearah beberapa bawahannya tersebut.
"Baik,Tuan Muda..." jawab beberapa bawahannya secara serentak sambil menunduk hormat,lalu merekapun segera keluar dari sana saat mereka melihat isyarat keluar dari Tuan Mudanya barusan, setelah salah satu dari mereka sudah meletakkan makan malam tersebut diatas nakas yang ada disamping Tuan Muda mereka.
Sedangkan Sebastian,ia mulai mengenggam pelan tangannya Jennifer,setelah semuanya sudah keluar dari sana dan hanya meninggalkan dirinya seorang saja.
Ia terus menelisik wajah pucatnya Jennifer selama beberapa menit,ia juga merenung semua kejadian yang telah terjadi diantara dirinya dan Jennifer selama ini.Ia bahkan masih mengingat jelas dengan semua kalimat-kalimat yang telah Jennifer lontarkan padanya.
Kadang-kadang semua sikap menyebalkan Jennifer tersebut berhasil membuat wajah lelahnya tersenyum lucu,tapi kemudian berubah menjadi marah dan kesal.Apa lagi,saat ia mengingat tentang surat cerai yang telah ia koyakkan menjadi 4 semalam.
"Semoga kamu bahagia? Cih...Apakah memang ini yang kamu harapkan? Membuat diriku menderita, dengan cara yang seperti ini..." Sebastian mulai bertanya kesal dan juga berdecih kesal saat ia mengingat kembali kalimat-kalimat anehnya Jennifer pada saat ditelepon semalam,sambil mengelus-elus pelan punggung tangannya Jennifer.
"Dan kamu bahkan telah menyediakan banyak kejutan untukku,tanpa berniat ingin memberitahuku terlebih dahulu..." gumam Sebastian lagi,saat ia mengingat tentang semua kartu tabungan,surat cerai semalam,dan juga kabar baik yang baru diberi oleh dokter tadi.
"Apakah kamu baik-baik saja disana,nak? Maafkan Daddy bod*hmu ini,karena tidak berhasil melindungi Mommymu,hingga Mommymu menjadi seperti ini.Daddy berharap,kalau kamu akan membantu Daddy,untuk membangunkan tidur panjangnya Mommymu ini..." lanjut Sebastian lagi, dengan nada dan wajah bersalahnya,sambil bergantian mengelus-elus perut istrinya yang masih datar itu tapi sudah terasa seperti sebuah bukit kecil disana.
Iapun tidak menyangka kalau dirinya yang baru berumur 24 tahun pada tahun ini,ia sudah akan menjadi seorang Daddy sebentar lagi.Tapi sejujurnya,saat ini ia merasa sangat senang dan bahagia dengan kabar baik tersebut.Hanya saja,ia takut kalau saat ini Jennifer sudah tidak mencintainya lagi.
Terlihat dengan tekadnya Jennifer yang ingin pergi dari sisinya dan berserta surat cerai tersebut, Sekarang,ia akan belajar untuk memahami apa sebenarnya arti dari Jennifer baginya,karena saat ini yang ia tahu kalau Jennifer hanya sangat berharga dan berarti bagi hidupnya.
"Nak,kali ini kamu harus membantu Daddy untuk membangunkan Mommymu.Daddy berjanji padamu...Setelah Mommymu bangun nanti,Daddy pasti akan melakukan apapun yang Mommymu inginkan..." Sebastian kembali memohon dengan disertai janji-janji serius,tulusnya dan wajah yang masih terlihat khawatir dan kacau tersebut, kemudian tangannya bergantian mengelus-elus pelan tangannya Jennifer.
Kemudian ia kembali terdiam selama beberapa menit,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pucat istrinya tersebut.
"Kenapa kamu bod*h sekali? Aku mengabaikan kamu,bukan berarti aku tidak mencintaimu... Tapi,hanya saja,,," lanjut Sebastian dengan nada kesalnya,tapi kemudian ia menjeda kalimatnya, karena tiba-tiba saja ia merasa bingung harus mengatakan apa.
"Kriuukk kriuukk kriuukk..." suara perut keroncong dari perutnya Sebastian yang secara tiba-tiba juga itupun,berhasil menghentikan dirinya yang kembali ingin bergerutu kesal.
Sebastianpun langsung menghela napas berat dengan panjang,karena ia baru menyadari kalau ia belum mengisi perutnya sedari tadi pagi.
Iapun melepaskan pelan genggaman tangannya tersebut,dan berdiri dari duduknya,lalu mengambil makan malam yang telah tanpa bungkusan tersebut.
Dan membawanya kemeja sofa sana,lalu memakannya dalam diam,sambil sekali-kali memerhatikan istrinya yang terlihat masih belum ingin bangun juga.
Beberapa menit kemudian...
"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar,dan bertepatan dengan Sebastian yang baru selesai makan dan baru saja duduk kembali dikursi sampingnya Jennifer tadi.Makan malamnya bahkan hanya berkurang sedikit saja,karena nafsu makannya yang masih sama tersebut.
__ADS_1
"Masuk..." jawab Sebastian dengan nada tegasnya, sambil meminum air putih yang telah disediakan oleh bawahannya tadi.
"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka,dan masuklah salah satu bawahannya dan juga 2 perawat wanita yang membawa beberapa kain dan sebaskom air hangat, untuk mengelap tubuhnya Nona Muda mereka.
"Apa yang sedang ingin kalian lakukan,hah?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,saat ia melihat 2 perawat tersebut yang berniat ingin membuka baju pasien istrinya,tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu.
"Ka kami hanya ingin membersihkan tubuhnya Nona Muda saja,Tuan Muda..." jawab 2 perawat tersebut dengan nada gugup dan wajah menunduk takut mereka,sambil sedikit mencuri pandang kearah wajah lelah Tuan Muda mereka yang masih terlihat sangat tampan itu.
Walaupun wajahnya terlihat agak kacau,tapi pesona dari Tuan Muda mereka itu tidak mengurang sedikitpun dimata mereka semua. Hanya saja,tidak satupun dari mereka yang berani mencoba untuk menggoda ataupun mempertaruhkan nyawa berharga mereka itu.
"Tidak perlu,aku bisa melakukannya sendiri..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang masih marah,sambil menatap tajam kearah 2 perawat tersebut.
"Ma maafkan kami,Tuan Muda..."jawab 2 perawat tersebut secara serentak,sedikitpun tidak berani mengangkat kepala mereka yang sedang menunduk takut tadi.
"Sekarang tinggalkan semua itu,dan keluar dari sini..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya, tanpa menghilangkan tatapan tajamnya sedikitpun.
"Ba baik,Tuan Muda..." jawab 2 perawat tersebut dengan cepat dan nada takutnya,lalu mereka berduapun segera berjalan keluar dari sana,setelah sudah selesai menunduk hormat kearah Tuan Muda mereka.
Sedangkan salah satu bawahannya yang sedang berbalik badan tadi,iapun segera berbalik badan kembali karena ada sesuatu yang harus ia laporkan pada Tuan Mudanya saat ini.
"Tuan Muda,mereka berdua sudah kami kurungksn dibawah tanah sana. Apa yang harus kami lakukan pada mereka,Tuan Muda?" tanya bawahan tersebut dengan singkat dan nada pelannya,tapi ia tahu kalau Tuan Mudanya pasti mengerti dengan siapa yang ia maksudkan barusan.
"Berikan masing-masing pada mereka berdua,100 kali cambukan.Dan siksa mereka,sebanyak yang kalian inginkan,tapi jangan sampai membiarkan mereka mati terlebih dahulu...Aku ingin mereka merasakan sakit yang lebih dari apa yang dirasakan oleh istriku saat ini..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang telah bercampur amarah kembali,sambil mengepalkan kuat kedua tangannya karena rasa marahnya terhadap Irfan dan juga Rebeeca.
Jika saat ini ia tidak sedang menemani Jennifer, sudah dipastikan,kalau ia yang akan langsung pergi menyiksa mereka berdua dengan tangannya sendiri.
"Tuan Muda...Tuan Billy ada diluar,sedari 10 menit yang lalu..." bawahan tersebut kembali melapor dengan nada hati-hatinya dan wajah ragu-ragunya, sambil memerhatikan ekspresi wajah penuh amarah Tuan Muda mereka yang telah bercampur kesal saat ini.
"Katakan padanya...Kerjakan saja, perkerjaan-perkerjaan diperusahaan dengan baik..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya kembali,lalu ia menghela napas pelan dengan panjang.
"Tapi,Tuan Muda......." bawahan tersebut yang berniat ingin membantu Tuan Billy merekapun menghentikan perkataannya,karena Tuan Mudanya yang langsung menyelanya,bahkan dengan nada tegas yang lebih tinggi lagi.
"Apa aku harus mengulanginya untuk kedua kalinya,hah?" sela Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang telah bercampur marah,tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun.
"Baik,Tuan Muda..." jawab bawahannya tersebut dengan cepat dan nada takutnya,lalu ia langsung berjalan keluar dari sana,setelah ia sudah menunduk hormat kearah punggung Tuan Mudanya tersebut.
Tidak lupa juga,ia segera menggantikan sisa makan malam Tuan Mudanya tadi,dengan beberapa macam minuman, roti dan selai yang telah ia beli untuk Tuan Mudanya barusan.
Setelah bawahannya tersebut sudah keluar dari sana dan juga menutup pintu ruangan tersebut, Sebastianpun kambali menghela napas pelan dengan panjang,sebanyak beberapa kali.
Bukannya ia tidak ingin memaafkan Billy,tapi rasa kesalnya masih tersisa didalam hatinya sampai saat ini,dan rasanya niat ingin memberi bogeman mentahnya pada Billy tersebut masih ada.
Walaupun ia tahu kalau dirinya juga salah,tapi perbuatannya Billy yang telah melanggar perintahnya itu,itu sangat tidak dibenarkan didalam kamusnya.
Lagi pula,saat ini perusahaannya yang telah ia telantarkan selama 2 hari itu lebih memerlukan Billy dari pada dirinya.Dan ia juga yakin,kalau bekas tembakan yang ada dilengannya Billy pasti sudah membaik saat ini.
Setelah selesai menghela napas pelannya tersebut, Sebastianpun segera menormalkan segala rasa amarah dan kesalnya tersebut. Kemudian iapun kembali berdiri dari duduknya,lalu mulai membersihkan tubuh istrinya dengan penuh perasaan sayang dan juga cintanya yang belum ia sadari sepenuhnya.
__ADS_1
***
3 hari kemudian...
Pagi ini adalah hari ke 3 dimana Jennifer masih belum juga sadarkan diri,dan Sebastian yang masih setia menemani dan mengajak istrinya mengobrol.
Begitu juga Ayah,Ibu dan Stella yang masih selalu bolak-balik kerumah sakit,untuk melihat keadaannya Jennifer dan sekalian melihat keadaannya Sebastian,mereka juga sekali-kali mengajak Jennifer mengobrol.
Tapi hasilnya tetap nihil karena Jennifer tidak juga sadarkan diri,hingga membuat wajah kacaunya Sebastian semakin tidak menentu saja.
"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka,dan masuklah Ayah,Ibu dan Stella yang memang akan selalu datang dipagi hari untuk membawa sarapan dan menemani Sebastian,untuk mengajak Jennifer mengobrol.
"Sayang...Lihatlah mereka..." ucap Ibu dengan nada dan wajah tersenyumnya,sambil memeluk sayang lengannya Ayah.
Ayah dan Stellapun langsung ikut tersenyum,saat mereka melihat Sebastian yang sedang tertidur diatas brankar tersebut,dengan memeluk Jennifer.
"Mudah-mudahan semua ini cepat berlalu,dan kita bisa melihat mereka hidup berbahagia..." ucap Ayah dengan doa tulusnya,sambil menepuk pelan tangannya Ibu.
"Iya.Setelah putri kita ini bangun nanti,semoga saja putra nakal kita ini sudah mengerti tentang bagaimana caranya menghargai seorang wanita..." timpal Ibu dengan nada dan wajah kesalnya.
"Iya Bu...Semoga saja,kakak tidak akan lagi memberi sedikitpun luka ,pada kakak ipar nantinya..." timpal Stella dengan nada dan wajah kesalnya juga.
Setelah itu,merekapun sibuk meletakkan sarapan dan barang-barang bawaan mereka yang lainnya keatas meja sofa sana,hingga menimbulkan sedikit kebisingan.
Beberapa detik kemudian...
"Brak..." tiba-tiba saja terdengar suara benda yang terjatuh kelantai cukup keras,dan ternyata Sebastianlah yang terjatuh dari atas brankar yang seperti kasur empuk tersebut.
Ia langsung terbangun akibat kebisingan yang dibuat oleh keluarganya itu,karena rasa kagetnya, iapun langsung buru-buru berniat ingin turun dari atas sana,hingga berakhir diatas lantai dengan posisi yang lumayan menyakitkan.
"Auchk..." terdengar suara susulan,suaranya Sebastian yang sedang mengaduh kesakitan, sambil mengelus-elus bokongnya yang terasa lumayan sakit karena barusan bokongnya yang duluan mendarat.
"Ya,Tuhan...Nak...Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil melangkah terburu-buru kearah Sebastian yang sibuk berdiri dari jatuhnya,tanpa menghentikan elusannya tersebut.
Sedangkan Ayah dan Stella,mereka berdua hanya langsung tersenyum lucu karena tadi ekor mata mereka sempat melihat tingkah konyolnya Sebastian tersebut.
"Aku baik-baik saja,Bu..." jawab Sebastian dengan berusaha tetap tenang dengan wajah ngantuknya, sambil menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan sedang memeluk Jennifer dipagi hari ini.
Sebenarnya hal tersebut sudah biasa ia lakukan selama ini,hanya saja ia merasa agak malu,jika harus dilihat oleh Ayah dan yang lainnya.
Karena terlalu lelah dan tidur terlalu malam dalam beberapa malam ini,hingga membuat dirinya terlelap pulas dan sampai tidak menyadari kedatangannya Ayah,Ibu dan Stella.
"Kakak ipar,cepatlah bangun,dan lihat ekspresi wajahnya kakak sekarang..." ucap Stella dengan nada sedang dan wajah yang tersenyum menggodanya,sambil berjalan mendekat kearah Jennifer.
"Aku akan pergi membersihkan diri terlebih dahulu..." ucap Sebastian dengan berusaha tetap tenang dan santai,sambil berjalan kearah kamar mandi,untuk membersihkan diri dan sekalian ingin menyembunyikan rasa malunya tersebut.
Apa lagi,jika Jennifer sampai bisa melihat ekspresi wajah kacaunya yang telah bercampur malu saat ini.Ntah bagaimana caranya ia akan menyembunyikannya...
__ADS_1