Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 62


__ADS_3

"Ehm ehm...Sebaiknya kita kedalam terlebih dahulu,tidak sopan sama para tamu..." tegur Daddy dengan wajah tegasnya dan itu hanya alasannya saja,sambil menelisik Jas kerja yang menurutnya pasti miliknya Sebastian dan ia juga menelisik wajah tampannya Sebastian,dan rambutnya Sebastian yang terlihat sedikit berantakan tersebutpun berhasil membuat dirinya mencurigai Sebastian tentang sesuatu.


"Apa yang kamu katakan memang benar sayang,lebih baik kita masuk kedalam dulu.Mari,kita semua masuk dulu..." ucap Mommy dengan wajah yang pura-pura tersenyum ramah karena ia sepemikiran dengan suaminya,sambil berjalan masuk dengan membawa pelan putri nakalnya itu.


Jenniferpun hanya mampu ikut berjalan pasrah saja,dan mengikuti langkah Mommy dengan langkah lemahnya,setelah ia sudah selesai memberi kode mata pada Sebastian untuk meminta Sebastian harus membantunya.


Karena ia sangat yakin,kalau paman sepupu dan keluarganya itu pasti akan mencari kesempatan untuk membuat dirinya terlihat buruk.Walaupun ia tahu kalau kedua orang tuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi,tapi ia lebih berharap kalau penolongnya itu pria pujaan hatinya tersebut.


Lalu langkah anak ibu tersebutpun langsung diikuti oleh sekeluarga licik tersebut dengan wajah mereka yang sedang tersenyum sinis,kecuali wajah wanita muda yang terus saja tersenyum malu dan mencuri pandang kearah Sebastian,yaitu putri bungsunya dari keluarga tersebut.


"Apakah kamu tidak berniat ingin masuk,hm? Atau kamu berpikir,kalau kamu tidak perlu menyelesaikan apa yang telah kamu mulai tadi,hm?" tanya Daddy dengan rasa kesal dibalik wajah tegasnya karena Sebastian hanya tetap berdiri diam saja disana,sambil menatap tajam sebentar kearah Sebastian lalu ia segera berjalan masuk kedalam.


"Dan satu lagi,jika ingin mengelabuiku,belajarlah dulu untuk merapikan rambutmu serapi mungkin" lanjut Daddy lagi,dengan nada kesalnya,tanpa menghentikan langkahnya.


Sedangkan Sebastian yang sibuk memikirkan kode matanya Jennifer dan ia juga harus mendengar apa yang telah dikatakan oleh Daddynya Jennifer tadi,ia langsung menghela napas berat,sekarang dirinya benar-benar akan berada dalam bahaya.


"Putrimu sendiri yang telah berani menggodaku,Tuan Arka.Kenapa kamu malah menyalahkan aku,Tuan.Dan kenapa wanita ini terus saja mengangguku dan juga merepotkanku sampai seperti ini?" gumam Sebastian dengan nada pelan dan wajah kesalnya,sambil berjalan masuk dengan langkah tidak bersemangatnya, untuk mengikuti langkah-langkah yang lainnya.


Diruang tamu,semuanya sudah duduk dengan rapi,termasuk Sebastian dan Jennifer yang sedang duduk berdampingan.Mereka diam untuk beberapa detik,dengan tatapan mereka masing-masing, untuk menunggu sang pemilik Mansion bersuara terlebih dahulu.


'Bagaimana ini? Aku harus melakukan apa sekarang?' batin Jennifer dengan wajah bingungnya,sambil mengenggam pelan tangannya Sebastian yang hanya bisa pasrah saja,dan tangannya yang lainnya masih tetap menjaga Jas tersebut.


Sedangkan yang lainnya,mereka semua terus saja sibuk menatap wajah datarnya Sebastian,dengan ekspresi wajah mereka masing-masing.


'Tuan Arka,aku harap kamu tidak akan mempersulitkan aku nanti...' batin Sebastian dengan tatapan lurus kedepan,saat ia bisa merasakan tatapan tajam Daddynya Jennifer yang terus saja tertuju padanya,sisanya ia tidak berniat ingin menghiraukannya,karena ia memang tidak perduli.


'Pria kurang ajar ini,aku akan memberi pelajaran kecil padamu,setelah ini...' batin Daddy dengan wajah datar yang sedang menahan rasa kesal,sambil menghela napas dengan pelan.


Apa lagi,saat ia memikirkan tentang Sebastian yang hari itu ternyata tidak secara langsung menjemput putrinya,dan ditambah lagi dengan kejadian hari ini.


"Sekarang silakan dilanjutkan...Apa yang ingin kalian bicarakan tadi?" tanya Daddy dengan nada tegasnya,sambil mengalihkan tatapan tajamnya kearah adik sepupunya tersebut.


Adik sepupunya yang selalu mengincar harta kekayaannya dengan tidak tahu malunya,adik sepupunya yang bernama Brennan Naava,istrinya yang bernama Carmilla,putra sulungnya Byron Naava,dan putri bungsunya Cecilia Naava.


Adik sepupu dekat,tapi sayangnya,sifat mereka berbanding terbalik.


Mereka tidak akan pernah datang berkunjung,jika mereka tidak sedang menginginkan sesuatu.Tadi mereka semua baru saja datang,duduk,dan ingin berbicara panjang lebar,saat suara paniknya pengawal tersebut yang mampu membuat mereka semua merasa kaget dan juga buru-buru keluar dari dalam sana untuk melihat apa yang telah terjadi sebenarnya...

__ADS_1


Dan ternyata ia harus menahan rasa kesalnya, karena putrinya dan Sebastian yang telah menjadi pelaku dari kepanikan tersebut.Lebih parahnya lagi,mereka berdua berada didalam mobil terlalu lama.Untung saja,dirinya masih mampu menahan diri untuk tidak memukuli Sebastian sebelum Sebastian sempat masuk kedalam tadi.


"Kak,apa tidak sebaiknya kamu menyuruh pria ini keluar terlebih dahulu?" tanya Brennan dengan wajah kesalnya,sambil menelisik wajahnya Sebastian yang masih saja terlihat duduk dengan tenang disudut sofa sana bersama Jennifer.


"Iya,paman.Kita tidak bisa membicarakan sesuatu yang bersikap pribadi,dengan orang luar yang sedang mendengarnya..." timpal Byron dengan wajah yang tersenyum sinis.


"Iya,kalau perlu,kakak harus segera mengusirnya saja" timpal Camilla dengan nada kesalnya,sambil bersedekap dada.


"Dia bukan orang luar,pria ini calon menantuku..." jawab Daddy dengan wajah seriusnya,sambil menatap santai kearah putrinya,Sebastian,lalu beralih sebentar kearah wajah tidak percaya istrinya.


'Apa suamiku sedang tidak waras...' Mommy hanya mampu bertanya didalam hatinya saja,dengan perasaan bingungnya.


"What?" tanya putri bungsunya Brennan dengan wajah tidak percayanya,sedangkan keluarganya hanya mampu terdiam dan sedikit mengangakan mulut mereka karena merasa tidak percaya.


Sebelum kesini,mereka semua bukan hanya mendengar kabar,kalau Jennifer sudah terlalu banyak menolak pria manapun yang ingin melamarnya.Tapi Jennifer yang suka bersikap cuek dan juga berwajah datar,hal tersebut mampu membuat mereka merasa lega dan juga senang.


Karena dengan begitu,tidak akan ada orang yang mampu mempersulitkan rencana mereka untuk merebut semua kekayaan yang dimiliki oleh Daddynya Jennifer.


Padahal tanpa Sebastianpun,Daddynya Jennifer juga tidak akan semudah itu akan menyerahkan hasil jerih payahnya pada orang lain,begitu saja.


Apa lagi,pada orang-orang tamak yang seperti mereka.Hanya saja,mereka semua terlalu yakin dan percaya diri kalau mereka mampu mendapatkan apa yang mereka inginkan.Karena mereka yakin dengan satu hal,kalau Daddynya Jennifer tidak akan mampu melakukan apa-apa,karena tidak memiliki putra.


Berbeda dengan Sebastian yang langsung merasa kesal,Jennifer malah langsung berteriak senang didalam hatinya.Daddynya telah meringankan perkerjaannya dan juga mempercepatkan apa yang ia inginkan,walaupun ia tidak tahu apa sebenarnya tujuan Daddy,tapi sepertinya ia tidak perduli.


'Wanita ini...Putri dan Daddynya sama saja,sama-sama menyebalkan dan tidak waras...' batin Sebastian lagi,dengan perasaan kesal yang masih belum berkurang sedikitpun,saat genggaman tangannya Jennifer pada telapak tangannya malah semakin erat.


Ntah kenapa,setiap kali ia berurusan dengan Jennifer,kepalanya terus saja tidak mampu menemukan ide apapun untuk bisa keluar dari sana,selain mengikuti alur cerita yang telah dibuat oleh Jennifer.


Dan sekarang,ia harus menghadapi Daddynya Jennifer yang seperti sedang menjebaknya saja.Tapi lagi-lagi,ia hanya mampu mengikuti saja,tanpa ia tahu apa alasannya,ia harus melakukan semua itu.


"Paman,apa kamu yakin dengan calon menantumu ini?" tanya Byron dengan nada tidak sukanya, sambil menelisik seluruh tubuhnya pria yang tidak ia kenal tersebut.


'Pria ini lumayan juga...' lanjut Byron didalam hatinya dengan perasaan kagumnya,saat ia melihat tubuhnya pria tersebut yang lebih berotot,dan mungkin juga lebih tinggi dari dirinya,tapi tetap saja rasa tidak sukanya lebih banyak dari rasa kagumnya barusan.


"Iya.Kak,ini demi kebaikan kalian.Aku harap,kakak akan mempertimbangkan kembali untuk mengakui pria asing ini sebagai menantu dikeluarga besar kita .." timpal Brennan dengan wajah yang berpura-pura sungguh-sungguh perduli.


"Iya,benar kata suamiku.Jennifer,Kakak dan kakak ipar jangan sampai tertipu sama wajah tampan dan mulut manisnya,itu semua hanya cara kotornya untuk menaklukkan hati kalian saja..." timpal Carmilla,ia sengaja ingin memanas-manaskan keadaan.

__ADS_1


'Cih,Keluarga kita...Keluarga ini memang pantas dijuluki sebagai keluarga ular berkepala 2,atau mungkin lebih tepatnya berkepala 4' batin Mommynya Jennifer dengan wajah tenangnya yang sedang menahan rasa geli dan juga kesal karena tadi suaminya telah mengingati dirinya untuk tetap tenang sebisa mungkin,sambil terus menelisik pria yang telah membuat putri mereka menjadi bahan pembicaraan tersebut,dan kenapa ia merasa seperti pernah melihat pria tersebut tapi dimana...


"Lihat saja tadi,ntah apa saja yang telah mereka berdua lakukan didalam mobil tadi..." timpal Byron dengan wajah yang tersenyum sinis kearah Jennifer dan juga Sebastian yang sedang menyembunyikan rasa malu mereka.


"Kakak,apa kamu tidak takut kalau hal itu akan merusak nama baikmu dimasa yang akan datang.Dan semua kejayaanmu akan dipandang sebelah sama orang-orang diluar sana.Sangat memalukan..." timpal Brennan lagi,dengan tersenyum mengejek diwajah seriusnya.


"Iya.Kakak Jennifer jangan terlalu mudah dirayu sama pria tampan.Pria ini pasti hanya menginginkan harta kekayaan keluarga kita saja" timpal Cecilia dengan wajah seriusnya,sambil tersenyum senang didalam hatinya karena keluarganya ikut menentang kebersamaannya Jennifer dengan pria tampan itu,dengan begitu ia bisa lebih mudah mendapatkan pria tampan itu,menurutnya.


"Kakak,kakak ipar, jangan sampai hal tidak senonoh tadi tersebar luas..." timpal Carmilla dengan wajah tersenyum sinisnya,mereka ber 4 bahkan sampai tidak menyadari kalau kedua tangannya suami istri tersebut sudah mulai mengepal kuat karena rasa kesal dan juga rasa marah mereka,termasuk Sebastian dan juga Jennifer.


"Bagaimana paman bisa membiarkan Jennifer untuk memimpin sebuah perusahaan yang sangat besar itu...Bahkan untuk menjaga dirinya sendiri saja,dia tidak mampu menjaganya dengan baik.Jika saja paman memilihku,aku pasti akan mampu melakukan yang lebih baik dari Jennifer dan juga yang lainnya..." timpal Byron dengan gaya angkuhnya.


"Iya,itu benar kak.Jika kakak mengizinkan,aku pasti akan segera menyuruh Byron untuk masuk keperusahaan,belajar dengan sungguh-sungguh, dan mengembangkan perusahaan besar itu dengan baik.Bukankah benar begitu,nak?" timpal Brennan dengan nada semangatnya,dan bertanya pada putra sulungnya itu.


"Benar,Dad..." jawab Byron dengan wajah yang berpura-pura tersenyum ramahnya.


"Benar.Kakak, kakak ipar,lebih baik kita tutup mulut pria asing ini,sebelum ia menyebarkan hal yang memalukan tadi.Jika hal memalukan itu benar-benar tersebar luas,apa kata orang-orang tentang keluarga kita nanti..." timpal Carmilla dengan wajah pura-pura perdulinya,dan langsung dianggukin oleh suaminya dan juga kedua putra-putrinya dengan cepat.


Sebelum kedua orang tuanya Jennifer sempat bersuara,suara tingginya Sebastian sudah lebih dulu mendahului mereka.


"Apa kalian ber 4 sudah selesai bicara,hm?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya dan tatapan tajamnya,sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa tersebut dengan menyilangkan kakinya sedikit tinggi.


Bukan hanya mereka ber 4 saja yang merasa kaget dengan nada tinggi,tegas dan tatapan tajamnya Sebastian itu.Tapi Daddy,Mommy dan juga Jennifer,juga ikut merasa kaget,tapi ekspresi kaget diwajah mereka memiliki arti masing-masing, terutama Daddy yang memang itu yang ingin ia lihat,ia ingin melihat sejauh mana kemampuannya Sebastian dalam melindungi putrinya tersebut.


Setelah wajah keget mereka sudah berangsur-angsur menghilang...


"Kamu,berani-beraninya kamu bersikap kurang ajar dan sok angkuh disini? Apa kamu tidak......" ucapan marahnya Brennanpun tidak mampu ia selesaikan, saat ia melihat tangannya Sebastian yang langsung terangkat keatas ditambah dengan tatapan tajam yang masih sama,dan hal itu menandakan kalau dirinya harus diam.


"Aku hanya bertanya,Tuan Brennan...Apa kamu harus seperti itu untuk menanggapi pertanyaan kecilku tadi?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya sambil menatap tajam kearah Brennan yang langsung berdiri karena rasa kesalnya,tanpa menjauhkan genggamannya Jennifer dari atas pahanya.


"Dari mana kamu bisa mengetahui namaku?" tanya Brennan dengan wajah bingungnya,sambil menelisik wajah tenangnya kakak dan kakak iparnya itu,lalu kembali menelisik wajah tegasnya pria tersebut.


"Aku tidak perlu susah-payah,untuk mengetahui nama-nama orang yang sedang berurusan dengan ku,seperti sekarang ini.Apa lagi,hanya untuk nama-nama orang rendahan seperti kalian.Apa kalian tahu,itu terlalu mudah untukku..." jawab Sebastian dengan ekspresi yang masih sama diwajahnya.


"Kamu....." lagi-lagi,belum sempat Brennan sempat menyelesaikan kalimatnya,Sebastian langsung menyelanya dengan cepat.


"Tuan Brennan,aku belum selesai bicara.Tadi kalian sudah berbicara terlalu banyak,sekarang giliran aku yang akan berbicara,dan kalian harus mendengarnya dengan baik.Dan selagi aku masih ramah,kamu boleh duduk kembali,Tuan Brennan..." sela Sebastian dengan tatapan yang semakin tajam dari yang tadi,hingga mampu membuat Brennan langsung duduk dengan terpaksa, walaupun Brennan masih merasa marah dengan kata rendahan tersebut.

__ADS_1


'Ternyata,pria ini lumayan juga...' batin Daddy dengan tersenyum senang dibalik wajah tenangnya tadi,begitu juga dengan Mommy yang juga ikut sedikit tersenyum didalam hatinya,saat ia melihat sikap tegasnya pria tersebut.


__ADS_2