Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 100


__ADS_3

"Aku ingin keluar sarapan sebentar,bersama sahabat-sahabatku..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah santainya,sambil memakaikan lipstiknya yang sudah hampir selesai itu.


Tapi tanpa Sebastian ketahui,kalau istrinya sedang tersenyum senang didalam hatinya saat ini,karena sekarang misinya selama 3 hari,sudah mulai terlihat hasilnya.


"Cih...Lagi?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,setelah ia selesai berdecih kesal. Lihatlah,bahkan Jennifer berbicara tanpa melihatnya lagi,istrinya benar-benar tidak seperti biasanya dan mulai berubah.


Padahal biasanya ia yang akan keluar rumah duluan dari pada Jennifer,pada saat sekitar jam 6 pagi seperti ini.


'Dan sebentar katanya...' lanjut Sebastian didalam hatinya,sambil menetralkan rasa kesalnya,karena bukan sebentar seperti yang katanya Jennifer barusan,istrinya itu akan selalu pulang saat selesai makan siang bersama sahabat-sahabatnya tersebut.


"Iya.Aku bosan terus berada dirumah,dan seperti patung hidup yang tidak diinginkan saja.Lebih baik,aku membahagiakan diriku sendiri dengan cara lain bukan..." jawab Jennifer dengan nada menyindirnya,tapi wajahnya tetap terlihat santai saja sedari tadi.


"Cih..." Sebastian kembali berdecih kesal,saat ia mendengar sindiran dari istrinya barusan.


"Sebenarnya ada apa denganmu,hm? Bukankah, kamu telah mengambil semua perhatian dan rasa sayang keluargaku untukku,sedari hari itu? Kenapa sekarang kamu malah bersikap seperti wanita yang paling tersakiti saja,didunia ini..." tanya Sebastian dengan nada dan wajah malasnya, karena memang benar begitu adanya,bahkan perhatian dari keluarganya untuknya,semakin lama semakin berkurang.


'Kenapa saat ini,aku malah terlihat seperti wanita yang sedang merajuk saja...' lanjut Sebastian didalam hatinya,ia bahkan merasa geli sendiri pada dirinya sendiri yang pertama kalinya mengatakan semua itu.


Padahal biasanya ia belum pernah mempermasalahkan hal-hal yang menurutnya hanya masalah kecil itu,dan semua itu karena rasa kesalnya terhadap Jennifer yang selama 4 hari ia pendam itu.


"Kalau begitu,aku harus sangat berterima kasih padamu dan sangat bersyukur dengan itu semua... Tapi sedari awal,aku tidak meminta semua itu, Honey... Aku hanya meminta rasa perhatian dan sayang dari suamiku saja,tapi sepertinya,suamiku tidak akan melakukan semua itu padaku..." jawab Jennifer dengan menahan rasa kesalnya,karena Sebastian malah menuduhnya telah mengambil rasa perhatian dan sayang keluarganya tersebut, padahal kedua mertua dan adik iparnya menyayanginya tanpa ia sogok sama sekali.


Ya,kecuali Ayah yang tidak berpihak pada siapapun dalam hal ini.Mereka bahkan tidak mengerti,siapa diantara mereka yang sedang diperhatikan dan disayangi oleh Ayah selain Ibu,karena Ayah tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya pada siapapun selama ini,selain pada istrinya saja.


"Jadi,buat apa juga aku patung hidup yang tidak terlihat disrumah ini..." lanjut Jennifer dengan nada santainya,sebelum Sebastian sempat menyelanya.


Setelah lipstiknya sudah selesai ia poles dengan cetakan yang sudah sempurna dibibirnya, Jenniferpun segera berdiri dari duduknya,lalu mengambil tas kecilnya,dan berniat ingin langsung berjalan keluar.


"Bersama sahabat-sahabat atau sahabat,hm?" tanya Sebastian dengan nada menyindirnya,sambil berusaha menahan segala rasa kesalnya.


Padahal ia masih ingin berdebat banyak dengan istri anehnya itu,tapi Jennifer terlihat sangat bersemangat ingin keluar,untuk sarapan bersama ke 3 sahabatnya.


Karena yang ia pikirkan saat ini,Jennifer pasti hanya akan sarapan pagi bersama sahabatnya Elvan saja.Karena selama 4 hari ini,2 hari pertama istrinya memang makan bersama ke 3 sahabatnya,tapi saat hari ke 3 dan ke 4,istrinya malah makan bersama dengan Elvan saja,tanpa kedua sahabatnya.


Selama 4 hari ini,ia bahkan selalu menerima laporan dari Billy,melalui video yang telah direkam oleh anak buahnya yang memang selalu mengawal Jennifer itu.Dan ia bisa melihat dengan jelas divideo-video tersebut,kalau istrinya dan Elvan selalu makan dengan wajah yang tersenyum ceria,senang,dan dipenuhi dengan canda tawa.


"Tentu saja,bersama sahabat-sahabatku..." jawab Jennifer dengan singkat,sambil melirik sekilas kearah Sebastian yang masih duduk dengan posisi yang sama seperti tadi,lalu iapun kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


"Mereka bukan sahabat-sahabatmu,tapi sahabat-sahabatku..." ucap Sebastian dengan asal, karena rasa kesalnya,saat ia mendengar Jennifer yang tidak memberinya jawaban yang detail ataupun benar.Dan saat ini iapun kembali bersikap seperti wanita lagi,karena rasa kesal tersebut...


"Dan asal kamu tahu,aku tidak perduli...


Lagi pula,mereka telah menjadi sahabat-sahabatku juga sekarang.Apa aku harus menyebutnya dengan sahabat-sahabatnya kita,begitu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah santainya,sambil berbalik badan dengan pelan,dan menatap santai kearah Sebastian yang malah kembali mendengkus kesal.


Rasanya ia sangat ingin tertawa saat ini juga,saat ia mellihat wajah kesalnya Sebastian yang pagi ini, ntah sudah keberapa kalinya mendengkus kesal dan juga berdecih kesal.Tapi sayangnya,misinya belum mencapai batas yang maksimal,jadi ia harus menahannya terlebih dahulu.


Dan rasanya saat ini,hal tersebut seperti hiburan baru baginya.Karena tidak biasanya Sebastian merasa dan menampilkan wajah kesalnya sampai seperti sekarang ini,dan hanya karena masalah kecil yang seperti ini saja.


"Kenapa sekarang,kamu malah menjadi semakin tidak tahu malu,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,padahal ia sudah berusaha untuk menetralkan segala rasa kesalnya tadi,tapi nyatanya perasaan kesalnya itu kembali menuntut untuk keluar.


"Biarin saja,yang terpenting diriku selalu diberi perhatian dan rasa sayang yang tulus oleh mereka, tidak seperti yang lainnya..." jawab Jennifer dengan nada menyindirnya,sambil memutar handle pintu kamarnya mereka,lalu ia langsung berjalan keluar tanpa ingin mendengar pertanyaan apa lagi yang akan suaminya lontarkan padanya.


"Apa dia merasa masih single,sekarang..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang semakin kesal saja,sambil menatap tajam kearah pintu kamar mereka yang sudah tertutup kembali setelah istrinya sudah berjalan keluar dan menutupnya.


"Atau,apa sekarang dia sudah berubah haluan dan berniat ingin berselingkuh dariku..." lanjut Sebastian dengan ekspresi wajah yang terlihat sedang berpikir keras,saat ia memikirkan kalimat sederhananya Jennifer tadi "Lebih baik,aku membahagiakan diri dengan cara lain bukan..."


Lalu ia segera menggeleng-gelengkan cepat kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran negatif itu,istrinya tidak mungkin melakukan itu padanya bukan...Ya,ia harus yakin dengan pikiran positifnya saat ini...


Padahal yang ia maksudkan dengan tidak tahu malu tadi,karena Jennifer sudah bersuami tapi malah sibuk sarapan berduaan dengan pria lain, walaupun pria itu adalah salah satu sahabat baiknya.


Tapi ntah kenapa, hatinya semakin merasakan tidak nyaman saat ini,dan saat ia melihat kebersamaan mereka yang terlihat seperti sudah sangat dekat saja,padahal dengan dirinya yang statusnya sebagai suamipun tidak sampai begitu dekat.


"Yang lainnya? Suami? Ntahlah,,," lanjut Sebastian lagi,dengan bertanya pada dirinya sendiri dan juga disertai dengan helaan napas pelan panjangnya, saat ia memikirkan tentang sindiran-sindirannya Jennifer untuknya tadi.


Bukannya ia tidak mau memberi perhatian atau menunjukkan rasa sayangnya terhadap Jennifer, karena ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri juga saat ini, kalau didalam dirinya yang sebenarnya,ia sudah mulai menyayangi Jennifer.Tapi kalau rasa cinta... Ntahlah,,,ia masih dalam proses mencari tahu tentang hal yang menurutnya sangat sulit itu.


Lagi pula,selama 1 tahun ini,ia sudah terbiasa dengan sikap tegas,cuek dan datarnya.Jadi tiba-tiba saja ia disuruh menikah,tentu saja hal tersebut mampu membuat dirinya bingung bagaimana caranya bersikap.Hingga iapun lebih memilih,untuk tetap dengan sikap biasanya tersebut.


Dan satu lagi,ia masih belum bisa memecahkan tentang jebakannya hari itu.Sekarang perasaannya malah mulai bermasalah,dan ia sendiri tidak tahu pasti apa penyebabnya.Apa lagi,saat ia melihat perubahan istrinya itu,walaupun perubahannya masih begitu kecil.


Ia bahkan tidak mengerti,jika nanti ia akan disuruh untuk membujuk dan memanjakan istrinya itu. Ntahlah,,,yang ia tahu sekarang,kalau perasaannya hanya ingin terus merasakan kesal saja,dan sepertinya ia tidak bisa menahan diri lagi,untuk diam,cuek dengan keadaan yang ada disekitarnya, dan tidak mencari tahu apapun tentang mereka berdua.


"Dasar wanita..." gumam Sebastian lagi,dengan nada kesalnya,sambil menghela napas berat dengan panjang sebanyak 2 kali.


Sedari 1 tahun yang lalu,dan sedari ia patah hati hari itu,ia sudah berpikir kalau dirinya tidak ingin mengenal wanita,apa lagi sampai menikahinya.

__ADS_1


Karena ia pikir,kalau wanita bukan hanya mampu membuat para pria menderita akibat patah hati saja,tapi juga akan menderita karena segala macam sikapnya wanita yang memang selalu ingin ia hindari itu.


Dan ternyata hal tersebut sangat sulit untuk ia tekadkan,karena nyatanya selama 1 tahun ini, pikirannya selalu saja dihantui dengan wajah cantiknya dan segala tentang istrinya Jennifer. Semua itu terus saja berputar-putar dikepalanya hingga saat ini,tanpa bisa ia cegah sedikitpun.


Kemudian Sebastian kembali menghela napas pelan dengan panjang,sambil berdiri dari duduknya tadi dan melirik sekilas kearah jam tangannya yang ternyata sudah jam 6 pagi lewat 20 menit.


Lalu iapun langsung berjalan keluar dari kamar mereka,untuk turun sarapan bersama keluarganya dibawah sana,pagi ini ia menjadi tidak berselera untuk sarapan dikantornya.


Sedangkan diruang makan,Ayah,Ibu dan Stella,mereka ber 3 baru saja mau memulai sarapan mereka.


"Hari ini ada angin apa,sampai kakak kembali sarapan dirumah?" tanya Stella dengan nada dan wajah yang berpura-pura heran kearah wajah tampan kakaknya yang masih terlihat kesal itu,saat ia melihat kakaknya yang baru saja berjalan kearah mereka dan langsung duduk diantara mereka tanpa bersuara sedikitpun.


Dan dengan melihat itu saja,ke 3 nya sudah tahu kalau suasana hatinya Sebastian sedang tidak bagus saat ini,dan hal tersebut mampu membuat Stella dan Ibu yang langsung tersenyum puas didalam hati mereka.Kecuali,Ayah yang hanya tetap dengan sikap santai dan biasanya saja.


"Apakah kakak sudah tidak begitu sibuk,hari ini?" tanya Stella lagi,saat ia melihat kakaknya yang hanya diam saja,dan malah sibuk menyiapkan sarapannya sendiri.


Sedangkan Sebastian,ia hanya melirik sekilas kearah Stella.Kemudian lirikan sekilasnya beralih kearah Ibu dan Ayah yang hanya sibuk memakan sarapannya saja,lalu iapun langsung memakan sarapan yang telah selesai ia siapkan barusan.


Ia bahkan sama sekali tidak berniat ingin menjawab pertanyaan dari Stella barusan,karena saat ini ia tidak memiliki mood yang baik saat ini,walaupun hanya sekedar untuk berkata beberapa kalimat saja, kecuali tentang beberapa hal.


"Dasar kakak ini,sangat menyebalkan..." ucap Stella dengan nada dan wajah kesalnya,padahal ia langsung tersenyum senang didalam hatinya,saat ia melihat ekspresi wajah tampan kakaknya yang pagi ini terlihat sangat suka untuk ia lihat.


Beberapa menit kemudian...


"Ibu,kenapa Ibu tidak melarang menantu kesayangan Ibu itu?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah santainya tapi tersimpan sedikit sindiran disana,dan perasaan kesalnya tadi sudah berhasil ia netralkan hingga sedikit mengurang.


Sedangkan Ibu yang sedang sibuk mengemas piring kotor karena mereka semua baru saja selesai sarapan,Ibupun langsung menatap kesal kearah putranya itu.


Lagi pula,ia sudah berpura-pura merasa kesal terhadap Sebastian sedari 4 hari yang lalu,karena sikapnya kadang-kadang memang akan seperti itu,dan juga supaya Sebastian tidak mencurigainya.


Dan rasa kesalnya itu,karena ia sibuk berdebat dengan Sebastian tentang asisten-asisten rumah tangganya yang masih belum mau Sebastian kerjakan,dengan alasan dirinya yang merasa tidak tega terhadap menantu cantiknya,tapi sebenarnya alasan tersebut memang benar adanya dan tulus dari dalam hatinya.


Tapi dalam perdebatan diantara 2 orang berbeda usia itu,tentu saja Ibu yang akan selalu menang setelah berdebat selama 1 jam lamanya kemaren, dan berakhir dengan wajah pura-pura kesalnya Ibu.


"Tidak bagus,jika Ibu terus membiarkan Jennifer sarapan diluar dan bersama pria lain..." lanjut Sebastian dengan cepat,sebelum Ibu sempat menjawab pertanyaan pertamanya tadi,lalu ia segera meminum air putihnya sambil melirik kearah Ibu yang masih saja menatap kesal kearahnya.


"Pria lain apanya? Elvan dan Erik bukan pria lain, mereka itu sahabatnya kamu,dan juga Jennifer.Apa salahnya mereka memerhatikan dan menyayangi menantu kesayanganku itu? Dari pada aku membiarkannya terus berada didalam rumah,dan diabaikan oleh suaminya sendiri,lalu nanti menantu kesayanganku itu pasti akan menjadi tidak waras seperti suaminya itu..." jawab Ibu dengan nada kesalnya dan menyindirnya dan juga panjang lebar,tanpa menghentikan gerakan tangannya yang masih sibuk membersihkan meja makan,kali ini ia benar-benar merasa kesal dengan sikap tidak bersalahnya Sebastian tersebut.

__ADS_1


Ibu berpikir,suami seperti apa itu...Sebastian hanya sibuk dengan perkerjaannya saja,dan menelantarkan istrinya,walaupun masih ada mereka,tapi tetap saja ia tidak menyukai sikap egois putranya itu.


Sedangkan Ayah,sedari misi itu dimulai ia memang sama sekali tidak berniat ingin ikut campur dalam apapun.Jadi iapun langsung saja berdiri dan berjalan kearah ruang tamu untuk membaca koran, dan Sebastian sendiri tidak merasa curiga sedikitpun karena sikap Ayahnya memang selalu seperti itu adanya.


__ADS_2