
Tapi walaupun begitu,hatinya tetap tersenyum senang karena sikap berani dan juga gerakan cepatnya Sebastian barusan.
"Berani sekali kamu menghalangiku..." ucap Irfan dengan wajah yang sudah terlihat semakin emosi,sambil berniat ingin menarik kemeja depannya Sebastian.
"Tuan,tolong jaga sikap anda" sebelum Sebastian sempat menepis tangannya Irfan,tiba-tiba saja datang seorang pria tegap yang langsung menarik tubuhnya Irfan dan mendorongnya kebelakang dengan kuat,agak menjauh dari tempatnya Jennifer dan Sebastian berdiri.
"Buk" terdengar suara terduduknya bokongnya Irfan ke lantai karena dorongan kuat dari pria tegap tersebut,Irfanpun segera berdiri dari terduduknya dengan wajah emosinya sambil menahan rasa sakit dibokongnya barusan.
"Kamu..." ucap Irfan dengan wajah yang sedikit takut,saat ia sudah melihat dengan jelas siapa pria tersebut yang ternyata adalah salah satu anak buahnya keluarga Naava yang lumayan jago bela diri,dan pria itu juga yang selalu di utus untuk memukulnya.
"Pergilah dari sini,sebelum aku membuatmu sampai tidak bisa berjalan dengan baik nanti" ucap jennifer dengan nada tegasnya,sambil menatap kesal ke arah Irfan yang sudah mulai ketakutan karena anak buahnya tersebut sudah mulai melangkah mendekat ke arah Irfan.
"Ingat,urusan kita belum selesai..." peringat Irfan dengan nada emosinya yang bercampur rasa kesal sambil menunjuk ke arah Sebastian,karena ia tidak bisa melampiaskan rasa emosinya pada Sebastian.
Lalu iapun segera berjalan pergi dari sana dengan wajah marahnya dan langkah lebarnya dan juga membawa dendamnya untuk Sebastian,setelah ia sudah selesai memperingati Sebastian.
Beberapa detik kemudian...
Setelah sebastian selesai menatap punggungnya Irfan yang sudah menghilang dari pandangannya,Sebastianpun langsung menatap pria yang telah membantunya tadi dan Jennifer secara bersamaan.
"Siapa pria ini?" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya sambil menatap secara bergantian ke arah wajah tenangnya Jennifer dan pria tersebut yang sedang berdiri dengan kepala yang sedikit menunduk ke arah Jennifer.
"Dia anak buahku,Hubby" jawab Jennifer dengan nada manjanya,ia memang sengaja ingin menggoda Sebastian.Sepertinya menggoda Sebastian sudah menjadi hobi barunya saat ini,karena rasanya memang sangat menyenangkan menurutnya.
"Dasar wanita ini.." ucap Sebastian dengan nada kesalnya saat ia mendengar nada manja dan panggilan sayang dari Jennifer untuknya barusan.Karena terlalu sibuk memikirkan kedatangan pria tersebut yang secara tiba-tiba itu,ia sampai lupa dan baru teringat dengan posisi mereka yang sedari tadi masih bertahan sampai saat ini.
'Pantasan saja wanita ini begitu tenang tadi.Anak orang kaya memang berbeda...' lanjut Sebastian di dalam hatinya sambil melirik sekilas ke arah pria tersebut yang masih saja menunduk hormat pada Jennifer,ia juga melirik sekilas ke arah beberapa pria tegap yang berpakaian rapi seperti pria tersebut dan sedang berdiri di kejauhan sana.
Lalu ia kembali merasakan kesal,saat ia kembali teringat sesuatu...
"Sebegitu nyamannya kah kamu berada di pelukanku,hm? Sampai kamu terus saja memelukku seperti ini?" tanya Sebastian dengan wajah datar yang sedang berusaha menahan rasa kesalnya,sambil terus menatap pucuk kepalanya Jennifer.
"Apakah kamu sangat ingin mengetahui jawabannya,hm?" tanya Jennifer balik dengan wajah yang tersenyum menggoda yang terlihat manis,sambil sedikit mendongakkan kepalanya,hingga wajah mereka berduapun saling berhadapan.
'Tentu saja sangat nyaman,dan aku ingin menjadikan pelukan kita ini sebagai kenangan dan semangat untukku menyelesaikan kuliahku di Australia nanti' batin Jennifer dengan tersenyum senang di dalam hatinya karena berhasil memeluk Sebastian dalam waktu yang lama seperti ini.Lumayan,bisa ia jadikan penyemangatnya untuk 1 tahun ke depan saat ia akan kembali melanjutkan kuliahnya di Australia nanti.
"Aku tidak membutuhkan jawabanmu,aku hanya ingin kamu segera menjauh dariku,atau aku akan......" ucap Sebastian dengan nada tegasnya sambil terus menatap wajah senyum manisnya Jennifer yang berada tepat didepan wajahnya,tapi ia menjeda di akhir kalimatnya.Ia ingin segera terlepas dari pelukannya Jennifer tapi ia bingung harus mengancam dengan cara apa.
Apa lagi saat ia memikirkan kalau Jennifer adalah putri dari orang yang terkaya dan seasia,hingga membuat dirinya menjadi semakin bingung karena mungkin saja tidak akan ada ancaman yag mempan untuk Jennifer.Dan yang lebih parahnya lagi, detakan jantungnya sudah semakin tidak terkontrol karena pelukan tersebut dan posisi wajah mereka yang hampir tidak berjarak saat ini
"Atau apa?" tanya Jennifer dengan wajah yang tersenyum lucu,saat ia melihat wajah tegasnya Sebastian yang sudah berubah menjadi kebingungan.
__ADS_1
'Ya Tuhan...Kalau terus seperti ini,bisa-bisa jantungku akan langsung meloncat keluar dari tempatnya tanpa aba-aba lagi' batin Sebastian dengan wajah yang semakin bingung,sambil berusaha mengontrol detakan jantungnya.
"Nona,apa kamu tidak di ajari oleh orang tua? Kalau kita tidak boleh sembarangan memeluk orang,apa lagi kalau yang sedang di peluk itu adalah seorang pria" ucap Sebastian yang sudah habis akal,dan mengabaikan pertanyaannya Jennifer barusan.
Dan cara terakhirnya Sebastian barusan yang asal itupun langsung berhasil,terlihat dari wajahnya Jennifer yang sudah mulai menjadi kesal.
"Tentu saja kedua orang tuaku selalu mengajariku tentang hal itu,tapi pria yang aku peluk saat ini kan kekasihku" jawab Jennifer dengan wajah kesalnya ,sambil menahan rasa malunya saat ia mendengar teguran dari Sebastian barusan karena ia jadi teringat sama nasihat-nasihat baik yang di berikan oleh Daddynya sebelum-sebelumnya.
Lalu iapun segera melepaskan pelukannya secara perlahan-lahan dengan perasaan tidak relanya.
'Dasar,pria tidak peka' gerutu Jennifer di dalam hatinya dengan wajah kesalnya.
"Pelukanmu sangat payah dan kaku" ucap Jennifer dengan nada kesal yang sudah bercampur ejekan,sambil berjalan kebelakangnya Sebastian dan duduk di kursi bar tersebut.
'Kekasih apanya,,,Wanita ini benar-benar sudah tidak waras' gerutu Sebastian di dalam hatinya,sambil menghela napas pelan dan mengusap-usap pelan dadanya,dan hanya anak buahnya Jennifer saja yang bisa melihatnya karena Jennifer duduk memunggung ke arah Sebastian.
"Bisa tolong ambilkan aku sedikit wine?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya yang tertuju untuk Sebastian,sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya.
"Baik Nona" jawab karyawan yang sedari tadi hanya sibuk menonton adegan-adegan mereka,ia menjawab dengan cepat dan langsung bergerak cepat juga untuk mengambil pesanannya Nona tersebut.
"Nona Muda..." panggil anak buah yang tadi,dengan wajah khawatirnya karena takut akan di marahi oleh Tuannya.
Dulu ketika Nona Mudanya berumur 18 tahun,ia pernah 1 kali mencoba untuk meminum wine sebanyak 2 gelas karena nerasa sangat kesal sama pengaturan dan pengawalan dari Daddynya yang super ketat hari itu, hingga mengakibatkan dirinya menjadi mabuk dan bicaranyapun melantur dan tidak mengenal siapa saja yang sedang ia ajak bicara saat itu,dan termasuk Daddynya sendiri.
"Tenang saja,aku hanya ingin minum sedikit saja" jawab Jennifer dengan nada kesalnya saat ia tahu apa yang di pikirkan oleh anak buahnya tersebut,tanpa menatap ke belakang.
"Baik Nona Muda" jawab anak buah tersebut dengan wajah khawatir yang sudah mulai mengurang.
Sedangkan Sebastian,ia masih terus sibuk menghela napas lega dan mengatur detakan jantungnya yang sudah tidak menentu tersebut,bahkan ia mengabaikan ejekannya Jennifer tadi.
Setelah ia sudah mampu mengendalikan detakan jantungnya menjadi semula kembali,tanpa sadar iapun segera berbalik badan dan ikut duduk di sampingnya Jennifer,tempat duduk awalnya tadi yang hanya berjarak 2 langkah saja sama tempatnya berdiri tadi.
"Ini minumannya,Nona " ucap Karyawan tersebut dengan nada sopannya sambil meletakkan setengah gelas wine di hadapan Jennifer.Lalu ia segera menyingkir dari hadapannya sepasang manusia tersebut.Walaupun ia juga ikut terpesona sama wajah cantiknya Nona Muda tersebut,tapi ia sadar diri.Dan dari penilaiannya tadi,ia langsung ambil kesimpulan kalau Nona Muda tersebut adalah miliknya asisten majikannya ini.
Setelah terdiam beberapa menit,Sebastianpun mulai bersuara untuk mencoba memulai pembicaraan mereka yang tiba-tiba saja terasa agak canggung bagi dirinya.
"Aku mengira,kalau seorang Tuan putri tidak akan berani menyentuh minuman yang seperti ini.Ternyata aku salah tentang hal itu.." ucap Sebastian dengan nada herannya yang bercampur sedikit tidak percaya,karena setahu dirinya setiap wanita yang berasal dari kalangan orang kaya,sangat jarang menyentuh minuman tersebut.
Dan mungkin saja, itu hanya yang setahu dirinya saja atau mungkin dirinya yang masih belum pergi ke banyak tempat.
Ia berbicara sambil menatap lucu ke arah Jennifer yang sedang menyesap wine dengan wajah kesalnya,tapi ntah kenapa terlihat sangat menggemaskan hingga mampu membuat dirinya menahan senyum di dalam hatinya.
__ADS_1
"Tuan......" belum sempat ucapan kalimat peringatan dari anak buah tersebut selesai,Nona Mudanya sudah menyelanya dengan cepat.
"Apakah sekarang kamu sedang menganggap remeh diriku atau kau sedang menantangku saat ini?" tanya Jennifer dengan wajah yang semakin kesal,saat ia mendengar perkataannya Sebastian barusan yang terdengar seperti sedang mengejeknya.
Sedangkan Sebastian,ia hanya diam saja dengan wajah bingungnya,sambil melirik sekilas ke arah wajah khawatirnya karyawan tersebut,lalu ia beralih menatap wajah kesalnya Jennifer yang malah sudah menjadi semakin kesal.
Padahal ia hanya merasa heran dan hanya sekedar bertanya saja,tapi mungkin saja wanita yang ada di sampingnya ini sedang dalam suasana hati yang tidak baik atau kesal.Makanya,Jennifer menjadi sangat sensi begitu,tanpa ia tahu kalau Jennifer sedang kesal karena tidak bisa memeluk dirinya lebih lama lagi.
'Kali ini,tubuhku ini pasti benar-benar akan berjalan tanpa kepala' batin anak buah tersebut dengan wajah pasrah yang bercampur dengan perasaan khawatir,saat ia memikirkan Nona Mudanya yang sangat menyukai dengan yang namanya tantangan ,dan mampu mengundang bahaya untuk dirinya.
"Baiklah...Aku akan memperlihatkan padamu sekarang juga,tentang sekuat mana seorang Tuan putri mampu meminum minuman seperti ini" lanjut Jennifer dengan nada sombongnya,sambil menatap kesal ke arah Sebastian.
'Apa yang sedang ingin di lakukan oleh wanita menyebalkan ini' batin Sebastian,sambil terus menatap bingung ke arah Jennifer.
"Kamu,cepat ambilkan aku sebotol wine " panggil Jennifer dengan nada tegasnya pada karyawan yang ternyata masih berada di sekitar dalam meja bar tersebut,hanya saja karyawan tersebut sedang berdiri agak jauh dari sana dan juga kebetulan sedang berbalik badan menghadap ke arah mereka.
Sebastian yang sudah mengerti apa penyebab dari wajah khawatirnya anak buah tersebut,ia langsung menatap tajam ke arah karyawan tersebut yang langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan untuk berjalan menjauh kembali dengan langkah lebarnya dan membawa sebotol wine di tangannya.
"Hei,aku menyuruhmu untuk mengambilkannya untukku.Kenapa kamu malah membawanya pergi lagi?" tanya Jennifer dengan nada yang agak sedikit tinggi dan wajah kesalnya,karena ia melihat- karyawan tersebut yang langsung kembali berbalik arah saat sudah hampir sampai di hadapannya.
"Kenapa kamu malah menyuruhnya pergi?" tanya Jennifer saat ia melihat tatapan tajamnya Sebastian yang sedang tertuju kearah punggungnya karyawan tersebut yang sudah menjauh dari pandangannya.
"Tadi saja kamu sangat manja dan murah senyum...Kenapa sekarang kamu malah menjadi sangat sensi dan mudah kesal.Tadi aku hanya sekedar bertanya saja,kamu juga tidak perlu berlebihan seperti itu" jawab Sebastian dengan nada kesalnya dan juga menyindir,sambil mengambil sisa wine miliknya tadi.
'Jika saja ia bukan wanita tapi pria,aku pasti akan dengan senang hati membayarkan beberapa botol lagi untuknya,supaya ia bisa tidur sampai pagi di sini' lanjut Sebastian lagi di dalam hatinya,sambil berusaha menetralkan rasa kesalnya karena tingkahnya Jennifer yang mudah berubah-ubah dan sok-sok an itu.
Sedangkan anak buah tersebut,ia langsung menghela napas lega saat ia melihat wajah malu Nona Mudanya.
'Sepertinya pria ini mampu menggantikan posisinya Tuan,untuk mengatasi keras kepalanya Nona Muda' batin Anak buah tersebut dengan wajah yang tersenyum senang.
Karena biasanya,hanya kata-kata tegas dari Tuannya saja yang mampu menghentikan keras kepala atau ulah nakal Nona Mudanya ini.Tapi sekarang,dari yang ia lihat sedari awal tadi, hanya dengan kata-kata tegas ataupun kesalnya Sebastian saja,sudah mampu membuat Nona Mudanya mengalah dan tidak mampu berkata banyak.
"Apa kamu memang selalu meminum minuman seperti ini?" tanya Sebastian sambil menatap serius ke arah Jennifer.
"Tidak" jawab Jennifer dengan nada pelannya,sambil melirik ke arah Sebastian.
"Aku hanya pernah minum beberapa kali saja,itupun hanya sedikit saja" lanjut Jennifer lagi saat ia melihat tatapan seriusnya Sebastian yang masih tertuju padanya.
"Tuan,Nona Muda pernah 1 kali mabuk berat karena telah meminum 2 gelas" timpal anak buah tersebut dengan cepat,saat ia mendengar jawaban dari Nona Mudanya yang menurutnya tidak lengkap itu.
Lalu ia segera kembali menundukkan kepalanya sambil menahan tawanya,saat ia melihat tatapan tajam dari Nona Mudanya yang tertuju untuknya.Lagi pula ia sangat menyukai Sebastian sebagai Tuan Mudanya,dan ia juga melihat kalau tadi Tuannya juga terlihat mendukung hubungan Nona Mudanya bersama Sebastian.
__ADS_1
"Dan sekarang kamu masih mau minum sebanyak itu?" tanya Sebastian dengan wajah tidak percayanya sambil terus menelisik wajah malunya Jennifer tanpa menatap ke arah anak buah tersebut,saat barusan ia mendengar perkataannya anak buah tersebut.
"Ternyata semua tentang dirimu,semuanya bermasalah" lanjut Sebastian lagi,sambil menghela napas dengan berat saat ia teringat kembali dengan sebotol wine yang di minta oleh Jennifer tadi.Lalu ia langsung memijit pelan pangkal hidungnya dan sedikit menundukkan kepalanya.