Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 119


__ADS_3

Sedangkan Jennifer dan yang lainnya,mereka semua terus saja sibuk membahas tentang penyediaan bahan-bahan pembangunan,dan lain sebagainya.


Waktu terus berjalan,detik demi detik,menit demi menit,hingga tanpa Sebastian sadari kalau 2 jam yang terasa bosan baginya tadi itu,saat ini sudah terlewati dengan begitu cepat karena ia lebih banyak menikmati permandangan indah tersebut dari pada ikut membahas tentang proyek besar tersebut.


Hingga pembahasan mereka semuapun mendapatkan akhir yang bagus, sempurna,dan juga mampu mendapatkan kepercayaan dari beberapa pengusaha yang tadinya masih merasa kurang yakin dan ragu padanya,tapi tentunya itu semua berkat kecerdasannya Jennifer yang lebih banyak terlibat didalamnya.


Dan hal tersebutpun, mampu membuat Daddy dan Mommy yang masih setia berada dibalik ruangan sana langsung tersenyum puas bahagia karena merasa semakin bangga dan juga senang.


Begitu juga dengan beberapa pengusaha tadi yang sempat meragukan kemampuannya Jennifer itupun juga ikut tersenyum senang,sekarang mereka semua mengakui dan baru menyadari kalau pepatah "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" itu memang benar adanya. Karena telah terbukti jelas dengan kedua Daddy dan putri yang ada dihadapan mereka ini,mereka berdua memang memiliki kecerdasan dan aura kharisma yang hampir sama.


"Tuan Sebastian...Apakah anda ada pertanyaan untuk saya,hm?" tanya Jennifer dengan perasaan kesal dibalik nada dan wajah santainya,karena ia memang sudah menyadari kalau tatapan anehnya Sebastian itu,sedari tadi lebih banyak tertuju kearahnya,dan hal itupun berhasil membuatnya merasa sedikit risih.


Karena dirinya yang sedang mode serius sekarang karena mereka semua sedang meeting saat ini,dan suaminya itu malah seperti tidak punya waktu yang lain saja.Padahal biasanya,dihari-hari biasanya suaminya itu bahkan untuk melirik kearahnya saja sangat jarang.


"Aku?" tanya Sebastian yang suaranya baru saja terdengar setelah 2 jam berlalu,sambil menatap santai kearah Jennifer dan juga melirik sekilas satu persatu kearah semuanya yang terlihat tidak mempermasalahkan apapun tentangnya,kecuali Irfan yang sedari tadi masih sibuk menahan rasa kesalnya tersebut karena tingkah menyebalkan Sebastian itu.


"Iya.Memangnya siapa lagi yang harus aku tanyakan,selain kamu?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan ekspresi wajahnya yang memang terlihat jelas kalau dirinya sedang menahan rasa kesalnya,tapi hal tersebut malah terlihat sangat menggemaskan dimatanya Sebastian saat ini.


Karena ia merasa sangat kesal,Jennifer bahkan bertanya sambil menyangga tubuhnya diatas meja panjang tersebut dengan kedua tangannya.Dan tatapan tajam,tegas yang tertuju kearah Sebastian.


Hingga permandangan indah disekitar dada empuknya Jenniferpun menjadi sedikit terlihat,dan hal tersebutpun mampu mambuat darahnya Sebastian langsung mendidih karena bukan hanya dirinya saja yang ada disana,tapi masih banyak yang lainnya,dan semuanya adalah pria.


Apa lagi,posisi mereka berdua yang duduk berhadapan itu,demgan posisi duduknya Jennifer yang sedang duduk diujung sana dan dengan Sebastian yang juga duduk dibagian ujung sana.


'****...Wanita ini benar-benar...' Sebastianpun langsung mengumpat kesal didalam hatinya, sambil berdiri dan berjalan kearah Jennifer yang langsung menjadi bingung,tapi tidak berniat untuk mengubah posisinya tersebut.


"Jika kalian semua masih juga ingin melihat,aku akan mengeluarkan semua bola mata kalian secara paksa sekarang juga..." Sebastian juga langsung memperingati semuanya dengan nada dan wajah tegasnya yang bercampur marah,sambil membuka Jas kerjanya dengan gerakan cepat,tanpa menghentikan langkah kakinya itu.


Beberapa pengusaha yang sempat terpana tadipun,langsung mengalihkan pandangan mereka kearah lain.Berbeda dengan Irfan yang langsung berdecih kesal pelan setelah Sebastian baru saja selesai memakaikan Jennifer Jas kerjanya,hingga dada empuknya Jennifer yang sempat terlihat sedikit menyembul keluar itu langsung tertutup rapat oleh Jas kerjanya itu.


Sedangkan Billy dan Aldy,mereka berdua yang memang sudah sangat paham itupun sudah langsung berbalik badan sedari Nona Muda mereka mulai membungkukkan badan tadi.


"Jika kamu berani melepaskannya,aku akan menc**mmu disini,dan sekarang juga..." ucap Sebastian lagi,dengan nada pelannya dan wajah seriusnya tepat disamping telinganya Jennifer,saat ia melihat kalau Jennifer berniat ingin melepaskan Jas kerjanya tersebut.

__ADS_1


Jennifer yang tadinya merasa bingung dan juga sekaligus risih dengan sikapnya Sebastian itupun, ia hanya mampu memegang erat Jasnya Sebastian sambil menegakkan tubuh membungkuknya tadi dengan ekspresi wajah pasrahnya saja,saat ia mendengar ancaman serius dari suaminya barusan.


Ia bahkan harus menahan sensai-sensasi aneh yang tiba-tiba saja menghampiri tubuhnya,berkat napasnya Sebastian yamg sedang menerpa wajahnya karena jarak mereka yang hampir tidak berjarak itu.


Setelah ia nelihat kalau Jennifer tidak akan membantahnya lagi,iapun segera memundurkan tubuhnya kebelakang hingga merapat kedinding tepat dibalakangnya beberapa pengusaha tersebut.


Lalu iapun segera bersedekap dada dan menyandarkan tubuhnya kedinding tersebut dengan gaya angkuhnya,sambil sibuk menetralkan segala rasa kesalnya dan juga menatap tajam kearah wajah kesalnya Irfan.


Dan tanpq ia tahu,kalau tingkah langkanya itu telah berhasil membuat Daddy dan Mommy langsung tertawa kecil dibalik ruangan sana.


"Kalau begitu...Apakah tadi kamu sedang berharap, kalau aku akan bertanya padamu,hm?" tanya Sebastian balik setelah segala rasa kesalnya tersebut sudah mulai mengurang,ia sengaja kembali membahas tentang pertanyaannya Jennifer tadi karena ingin membalas segala kekesalan yang telah diberikan oleh Jennifer padanya sedari tadi.


"Tidak.Aku sama sekali tidak berharap,jadi pria jangan terlalu percaya diri..." jawab Jennifer dengan jujur, cepat,dan nada kesalnya yang ia tahan-tahan tadipun sudah tidak mampu ia kendalikan.


Karena ia memang sama sekali tidak berharap kalau suami menyebalkannya itu akan bertanya apapun padanya,hanya saja tadinya ia hanya sekedar bertanya saja,untuk menghilangkan rasa kesalnya karena Sebastian terus saja menatap dirinya.


"Nona...Kalau begitu,bukankah nanti Nona harus ikut serta bersama kami,untuk memantau pembangunan dan juga perkembangannya proyek tersebut.Karena kami merasa akan lebih baik,jika Nona bisa ikut bergabung bersama kami nantinya. Bukankah begitu,Tuan,Tuan?" timpal Irfan yang merasa cemburu dan juga kesal dengan perdebatan mereka berdua sedari tadi,sambil mempertahankan ekspresi wajah tenang dan santainya itu.


Tapi belum sempat beberapa pengusaha tersebut menjawabnya,suara tegas dan tingginya Sebastian sudah terlebih dahulu menyela mereka dengan cepat dan juga disertai tatapan tajamnya Sebastian yang terlihat semakin lama semakin tajam saja.


Ia bukannya tidak tahu apa maksudnya Irfan dengan berkata seperti itu,tapi ia tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.


"Tuan Sebastian...Apa kamu ini tidak terlalu berlebihan,ikut campur dalam proyek ini?" tanya Irfan dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengalihkan tatapan kesalnya kearah Sebastian.


Sedangkan Jennifer,rasa bingungnya tadi saja belum menghilang sempurna tapi sekarang ia harus melihat permandangan panas tersebut. Hingga iapun hanya mampu memerhatikan kedua pria yang sedang sibuk berdebat tersebut,dengan ekspresi wajahnya yang terlihat santai,tapi sebenarnya didalam hatinya terus saja merasa bingung dan juga heran.


"Tuan Irfan,Tuan Irfan...Apakah kamu sudah lupa,tentang sesuatu? Baiklah.Kalau begitu,kamu dengar baik-baik,karena aku akan mengatakannya untuk pertama dan terakhir kalinya padamu sekarang..." tanya Sebastian balik,dengan nada tegas dan wajah tegasnya yang telah menjadi datar kejam saat ini.


"Tuan Irfan,aku rasa,mulai sekarang kamu perlu menyimpannya didalam kepalamu dengan baik, dan supaya kamu juga bisa menyadari kalau kamu sendirilah yang sedang bersikap berlebihan saat ini.Jennifer Amora Naava adalah istriku,dan tidak ada yang boleh melewati batasnya selain aku sendiri.Jika ada siapa yang berani melewati batasnya,dia akan tahu akibatnya pada saat itu juga,karena aku tidak akan memberinya kesempatan kedua untuknya hidup didunia ini lagi..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada serius dan wajah datarnya yang masih sama,bahkan posisi dan tatapan tajamnya yang terarah kearah Irfan itu masih sama,ia juga menekankan kata-kata seriusnya diakhir kalimatnya itu.


Sedangkan Irfan,walaupun ia juga mulai merasa takut dengan peringatan secara tidak langsungnya Sebastian untuknya itu,tapi ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan ekspresi wajah beraninya itu.


"Dan apa kamu juga lupa,kalau akulah pemegang yang tertinggi didalam proyek besar ini...Jadi yang seharusnya tidak boleh terlalu ikut campur dalam proyek ini adalah kamu sendiri..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada angkuhnya,sambil terus menelisik wajah kesalnya Irfan yang menjadi semakin kesal saja.

__ADS_1


Sebastian langsung menyindir Irfan secara terang-terangan,karena memang benar adanya kalau ialah yang telah mengeluarkan paling banyak uang didalam proyek tersebut dan kedua Daddy sendiri,lalu diurut dengan beberapa pengusaha tersebut.Sedangkan Irfan,ialah yang berada ditingkat paling terendah.


'Apa sebenarnya yang telah terjadi pada pria menyebalkan ini? Apakah telah terjadi sesuatu padanya,saat mereka diperjalanan tadi? Atau,,, apakah kepalanya telah terbentur oleh sesuatu tadi?' Jennifer hanya mampu membatin saja,saat ia melihat semua sikap anehnya sebastian sedari tadi,tanpa melepaskan pegangan eratnya pada Jas kerja suaminya yang masih menutupi tubuhnya itu.


Padahal dada empuknya yang tidak sengaja menyembul keluar tadi itu,tidak begitu parah. Ya,walaupun tetap saja masih mampu membuat pria-pria yang melihatnya akan tertegun lama, seperti beberapa pengusaha tadi dan juga termasuk Irfan.


Sedangkan Irfan,ia hanya mampu terus berusaha untuk mengendalikan rasa kesal dan juga emosinya,karena semua yang dikatakan oleh Sebastian barusan itu memang benar adanya.


"Jadi apa gunanya? Jika sedari tadi Nona Jennifer hanya mampu berbicara bijaksana saja,tapi tidak bisa mematuhi salah satu peraturan saja,dalam proyek besar ini..." ucap Irfan dengan nada dan wajah yang masih terlihat kesal,walaupun ia sudah berusaha untuk menyembunyikannya.


"Lagi pula,bukankah memang seharusnya semua pemimpin harus ikut serta dalam setiap proses pembangunan tersebut?..." lanjut Irfan dengan nada kesalnya yang masih belum begitu berkurang,sambil menatap semuanya satu persatu ,hingga berhenti diwajah datarnya Sebastian kembali.


"Tidak juga,karena setiap pemimpin selalu diperbolehkan untuk mengutus wakilnya,jika dia mau..." jawab Sebastian dengan nada santainya sambil menahan senyum saat ia melihat cara bicaranya Irfan yang terdengar lucu ditelinganya,tapi ekspresi wajahnya tetap terlihat datar.


Dan jawabannya Sebastianpun mampu membuat beberapa pengusaha yang lainnya terlihat langsung mengangguk-nganggukan pelan kepala mereka,pertanda mereka juga menyetujui perkataannya Tuan Sebastian barusan.


"Tapi jika kamu memaksa,tidak apa-apa...Aku akan dengan senang hati menggantikan istriku,untuk bergabung bersama kalian.Bagaimana?" lanjut Sebastian dengan nada dan wajah datar yang terlihat sangat serius,sambil melirik sekilas kearah Jennifer yang terlihat langsung menampilkan wajah kagetnya.


Mau apapun alasannya,ia tidak akan membiarkan Irfan memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan istrinya.Tapi ntah kenapa,sekarang perasaannya mulai merasa khawatir,karena Irfan dulu sama sekarang terlihat agak berbeda.Dan selama ini Irfan juga masih belum menunjukkan penyerangan atau pergerakan apapun.


'Dasar...Kenapa pria menyebalkan ini malah menjadi aneh sekarang?' lagi-lagi Jennifer hanya mampu kembali membatin saja.


Sedangkan Irfan yang sedari tadi terus menahan amarahnya itu,ia langsung berdiri dari duduknya dengan gerakan kasarnya,hingga membuat Billy dan Aldy langsung bersikap waspada tapi tidak dengan Sebastian dan Jennifer yang tidak terpengaruh sama sekali.


Dan beberapa pengusaha tadipun hanya mampu menelan air lud*h mereka dengan susah payah, karena sekarang saja mereka harus berdiam diri dan juga menahan napas sebanyak mungkin karena ketegangan yang terjadi sedari tadi diruangan tersebut.


Bagaimana jadinya jika Tuan Muda yang kata kejam selalu melekat pada dirinya itu sampai bergabung bersama mereka nantinya,bisa-bisa semua otot dan organ mereka akan menjadi kaku dalam sekejap karena suasana tegang dan mengcekamkan tersebut.


"Tuan Sebastian,saat ini kamu bisa mengalahkan aku.Tapi ingat,ada saatnya aku akan menang darimu..." ucap Irfan dengan nada dan wajah marahnya,tapi ada terselip beberapa rencana didalam kepalanya saat ini,dan Sebastian sangat sadar akan hal itu.


"Nona Jennifer,sampai jumpa dipertemuan kita yang akan datang lagi..." lanjut Irfan dengan sedikit senyum manis diwajah marahnya itu,sambil sedikit menundukkan kepalanya kearah Jennifer,lalu ia langsung berjalan pergi dari sana tanpa menoleh lagi.


Berbeda dengan jennifer yang hanya menatap malas kearah punggungnya Irfan yang sudah hampir menghilang dari pandangannya itu,tapi Sebastian malah terus menatap serius kearah punggungnya Irfan tapi dengan isi kepala yang terus berpikir keras dengan apa yang akan direncanakan dan dilakukan oleh Irfan selanjutnya lagi nantinya.

__ADS_1


"Ehem ehem ehem...Nona...Kalau begitu, sepertinya kami juga harus segera pergi,karena kami masih ada sedikit urusan diluar sana..." ucap salah satu pengusaha tersebut,sambil berdiri dari duduknya dan langsung diikuti yang lainnya.


"Baiklah.Kalau begitu,saya ucapkan terima kasih pada kalian semua karena telah meluangkan waktu kalian untuk datang kesini dan juga ingin mempercayai saya..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah santainya,setelah ia sudah mengalihkan tatapan malasnya tadi kearah beberapa pengusaha tersebut,iapun langsung mengatakan sedikit basa basi untuk mengurangi suasana yang begitu tegang sedari tadi.


__ADS_2