
"Tidak masalah,Nona.Seharusnya kami yang harus berterima kasih pada Nona dan Tuan Naava,karena kalian telah memberi kami kesempatan untuk bisa ikut didalam proyek yang sebesar ini..." jawab pengusaha tersebut dengan nada dan ekspresi tulus diwajahnya,begitu juga dengan yang lainnya yang sedikit menundukkan kepala mereka, pertanda kalau mereka juga sepemikiran dengannya.
"Benar Nona,kami semua benar-benar sangat berterima kasih atas kesempatan yang telah Tuan Naava berikan pada kami..." timpal yang satunya lagi,karena mereka semua sangat tahu kalau Daddynya Jennifer sangat pemilih dan juga penilai dalam berkerja sama dengan siapapun didalam perusahaannya itu.
"Kalian terlalu berlebihan...Daddyku memilih kalian, pasti karena kalian ber 3 memang sangat pantas untuk diajak berkerja sama.Tidak seperti yang lainnya..." ucap Jennifer dengan jujur tapi bernada menyindir diakhir kalimatnya,yang memang sengaja ditujukan untuk suaminya tersebut.
Tapi perkataan jujurnya tersebut juga bukan tanpa alasan,karena Daddynya mamang selalu memilih partner kerja yang berdisplin,bersikap baik,dan memiliki keuangan yang tidak akan terganggu selama mereka berkerjasama.Dan satu lagi yang paling utama,karena mereka ber 3 tidak pernah memiliki kasus kejahatan apapun sama sekali.
Ya,kecuali Irfan...Tapi ia sendiri juga tidak mengerti, kenapa Daddynya malah juga menyetujui kerjasama dengan Irfan.
Sedangkan Sebastian,ia hanya tetap fokus memerhatikan mereka semua sambil memikirkan tentang Irfan tadi, tanpa berniat ingin menanggapi sindiran dari istrinya itu.
"Nona bisa saja,tapi kami tetap akan ucapkan terima kasih atas pujian yang telah Nona berikan untuk kami barusan.Nona,kalau begitu,kami akan pergi terlebih dahulu..." ucap salah satu pengusaha tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum ramah,sambil mengulurkan tangannya kearah Jennifer dan juga melirik sekilas kearah Tuan Sebastian yang sedang memerhatikan mereka.
Mereka ber 3 sangat mengerti tentang sindiran yang telah diberikan oleh Jennifer untuk Sebastian. Maka dari itu, mereka berpikir untuk menghindari dengan cara segera pergi dari sana, lebih cepat,lebih bagus bagi mereka ber 3.
Mereka tidak tahu,dan juga tidak berniat ingin mencari tahu dengan apa yang telah menjadi masalahnya suami istri itu yang menurut mereka kalau sepasang suami istri tersebut sedang bertengkar saat ini.
Mereka bahkan merasa takut,walaupun hanya sekedar untuk mengajak Tuan Sebastian mengobrol basa basi saja.
"Baiklah.Maaf,karena saya tidak bisa mengantar kalian sampai kedepan..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya tapi masih terlihat sangat sopan dimatanya mereka ber 3, sambil membalas uluran tangannya pengusaha tersebut.
"Tidak apa-apa,Nona.Itu bukan masalah,bagi kami..." ucap pengusaha tersebut dengan jujur,karena pelayanannya Jennifer untuk mereka hari ini,sudah sangat cukup sopan untuk mereka ber 3.
Karena jika itu Tuan Naava sendiri,biasanya mereka tidak akan bisa bicara terlalu bertele-tele ataupun hanya berbasa basi seperti ini.Walaupun ekspresi wajah mereka berdua sama-sama terlihat tegas, tapi setidaknya putrinya ini masih mampu mengucapkan kata terima kasih dan juga kata maaf pada mereka.Jadi dengan kedua hal tersebut saja,hari ini mereka ber 3 sudah merasa sangat beruntung.
Setelah selesai berbicara,mereka ber 3 pun segera bersalaman dengan Jennifer satu persatu,lalu menunduk hormat kearah Jennifer dan juga sekaligus kearah Sebastian,hingga mereka akhirnya menghela napas lega tanpa menghentikan langkah kaki mereka yang sedang menuju keluar perusahaan itu.
Mereka ber 3 bahkan harus terus berusaha untuk menyembunyikan segala rasa takut mereka tadi dan mencoba untuk tetap bersikap santai dan juga tenang,karena tatapan tajamnya Tuan Sebastian yang terus saja mengelilingi disekitar mereka sedari tadi.
Aldy yang memang sudah sangat paham tentang perkerjaannya itupun,ia segera mengantar beberapa pengusaha tadi hingga kelantai bawah sana,setelah ia juga sudah selesai ikut menunduk hormat kearah Nona Mudanya dan Tuan Mudanya.
Sedangkan Billy,ia juga segera ikut keluar dari ruangan yang mengcekamkan tersebut seperti Aldy barusan,saat ia mendapatkan kode mata dari Tuan Mudanya yang mengatakan kalau dirinya diperintahkan untuk menunggu diluar ruangan saja.Tidak lupa juga,ia kembali menutup pintu ruangan tersebut dengan pelan.
Dan mereka semuapun meninggalkan kedua majikan mereka yang malah sedang saling melempar ekspresi wajah kesal saat ini.
Sedangkan Daddy dan Mommy mereka berdua langsung menyudahi tontonan siaran langsung tersebut,karena mereka tidak mau kalau tubuh mereka malah akan menjadi panas dingin nantinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
"Jika kamu masih ingin berada didalam sini,dan menjadi patung.Silakan saja..." ucap Jennifer setelah 5 menit ia terdiam,dengan terus menatap wajah kesalnya Sebastian,sambil berdiri dari duduknya.
Ntahlah,sebenarnya didalam hatinya masih merasa bingung dengan semua sikapnya Sebastian hari ini.Dan sekarang seharusnya ia yang wajib merasa kesal,tapi kenapa malah Sebastian juga ikut-ikutan merasa kesal terhadapnya.
Ingin sekali ia merasa senang hari ini,karena sikapnya Sebastian yang memang terlihat seperti sedang memberi perhatian terhadapnya itu.Tapi kali ini ia tidak mau sampai terhipnotis lagi, terhadap perhatian tanpa cinta itu.
"Ini,aku sudah tidak memerlukan Jas kebesaranmu ini lagi..." lanjut Jennifer dengan nada kesalnya, sambil meletakkan pelan Jas kerja tersebut kepundak kekarnya Sebastian.
Setelah itu ia berniat ingin berjalan keluar dari sana,tapi sayangnya sebelum ia melangkah jauh, dilangkah keduanya langsung terhenti karena tangan kekarnya Sebastian yang tiba-tiba saja langsung menariknya tanpa izin terlebih dahulu.
"Kamu mau kemana,hm?" tanya Sebastian dengan nada pelan dan wajah kesalnya,sambil menarik dan mengurungi tubuh langsingnya Jennifer kesisi meja tersebut dengan pelan.
Ia bahkan mengabaikan Jas kerjanya yang terjatuh kelantai begitu saja,karena pergerakan tiba-tibanya itu.
"Ten tentu saja keluar dan pergi keruanganku. Memangnya aku harus kemana lagi?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada gugupnya,ia bahkan tidak mampu mengeluarkan suara pekikan kagetnya tersebut,karena langsung tersangkut ditenggorokannya begitu saja.
"Bagus.Setelah kamu sudah melakukan apa yang kamu suka selama beberapa hari ini,lalu kamu mau keruanganmu begitu saja,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menelisik seluruh wajah cantiknya Jennifer yang sedang gugup saat ini.
"A apa maksudmu?" tanya Jennifer yang memang tidak mengerti dengan arah bicaranya Sebastian barusan,ia juga mencoba untuk terlepas dari kurungannya Sebastian tersebut,tapi nyatanya tenaganya tidak cukup kuat untuk bisa terlepas dari kurungan yang kuat itu.
Lihatlah,bahkan tubuhnya Jennifer sudah hampir terbaring diatas meja tersebut,karena dorongan kuatnya itu.
"A aku memang tidak mengerti,dengan maksudmu barusan.Ke kenapa kamu tidak mengatakannya dengan lebih jelas saja,supaya aku bisa cepat mengerti..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin gugup saja,tapi ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Sebastian tersebut,bahkan tentang yang tadi saja ia masih merasa bingung.
"Baiklah.Kalau begitu,aku akan mengatakannya lebih singkat dan jelas supaya kamu bisa cepat mengerti dengan apa maksud dariku tadi..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya, sambil mengeluarkan pistolnya dengan gerakan cepat.
"A apa yang ingin kamu lakukan?" nada gugupnya Jennifer tadipun langsung berubah menjadi takut, wajah cantik takutnya saat ini bahkan telah menjadi kaget pucat saat ia melihat suaminya yang malah mengeluarkan pistol dihadapannya saat ini.
Jenniferpun langsung memejamkan kedua matanya dan juga menutupnya dengan kedua tangannya, saat ia melihat Sebastian yang terlihat bersiap-siap akan menembak,ia bahkan tidak sempat melihat arah tembaknya Sebastian tersebut karena buru-buru memejamkan kedua matanya itu.
Hingga akhirnya...
"Dor dor dor..." terdengar suara tembakan dari ujung pistolnya Sebastian yang sedang memperlihatkan sedikit asap saat ini,dan suara pistol tersebutpun mampu membuat Billy menjadi kewalahan diluar sana karena harus terus berjaga-jaga diluar ruangan tersebut.
Dan ia juga harus menanggapi semua orang yang langsung heboh karena merasa kaget dan juga takut,termasuk Daddy dan juga Mommy.
__ADS_1
Sedangkan Jennifer,iapun segera membuka kedua matanya dengan perlahan-lahan saat suara tembakan tersebut sudah tidak terdengar lagi.
"Apa kamu sudah gila,hah?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil memerhatikan Sebastian yang sedang melempar pistolnya kearah sofa sana,lalu iapun segera mengalihkan pandangannya kesekitarnya.
Wajah cantiknya langsung menjadi semakin kesal saja,saat ia baru menyadari sesuatu.Tadinya ia mengira kalau Sebastian akan menembak salah satu tangan atau kakinya,tapi lihatlah,ternyata 3 buah camera CCTV yang ada diruangan tersebut yang telah menjadi sasarannya Sebastian tadi.
Sebastianpun langsung mendengkus kesal saat ia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Jennifer sedari tadi,ia tidak mungkin akan sampai segila itu untuk melukai istrinya sendiri bukan...
"Apa kamu benar-benar sudah gila,hah? Kenapa kamu malah merusak CCTVnya?" tanya Jennifer, iapun kembali mengulangi pertanyaan kesalnya tadi dengan menambahkan 1 kalimat kesal lagi,tapi ia juga merasa semakin bingung dengan sikap konyol suaminya yang baru pertama kalinya ia lihat itu.
"Iya,aku memang sudah gila.Dan itu semua, karena kamu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sambil kembali mengurung tubuhnya Jennifer diatas meja tersebut,karena Jennifer kembali berniat ingin terlepas darinya.
Ia bahkan tidak pandai berbicara atau mengungkapkan dengan cara baik,tentang segala rasa kekesalannya terhadap Jennifer selama beberapa hari ini,hingga ia hanya mampu berbicara singkat yang mampu membuat istrinya menjadi semakin bingung saat ini.
"Karena aku apanya,ternyata kamu ini benar-benar sudah gila...Aku hanya memintamu untuk menjelaskan apa sebenarnya maksudmu,berbicara tidak jelas seperti tadi.Tapi kenapa,kamu malah merusakin camera-camera itu?" ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang masih saja kesal, sambil berusaha terus mendorong tubuh kekarnya Sebastian,tapi tetap saja tenaganya tidak cukup kuat untuk itu.
"Aku akan menjelaskannya padamu,tapi kamu harus bisa bersabar sebentar lagi.Karena sebelum itu,aku akan memberimu sedikit hukuman terlebih dahulu,supaya kamu tidak akan berpikir untuk mengulangi kesalahanmu untuk kedua kalinya lagi nantinya..." ucap Sebastian dengan nada lembutnya dan wajah yang telah mulai memerah sambil merentangkan pelan kedua tangannya Jennifer tepat dikiri dan juga dikanan wajahnya Jennifer, ternyata tubuhnya sudah mulai panas dingin saat ia mulai mengurung tubuhnya Jennifer tadi.
"Ke kesalahan? Hukuman? Apa yang sedang kamu bicarakan,sebenarnya? Aku sama sekali tidak merasa kalau aku telah melakukan ke... ehhmmmmmmmmm......" belum sempat kalimat pembelaannya Jennifer yang masih bingung itu selesai,tapi malah sudah langsung terhenti duluan dengan bungkaman mulutnya Sebastian yang telah mendarat sempurna dibibir manis dan kenyalnya itu.
Jennifer bahkan tidak sempat dan juga tidak dapat melawan sedikitpun,karena Sebastian langsung menerkamnya dan menc**mnya dengan rakus hingga ia sendiri terbuai dengan belaian-belaian lembut dari suaminya itu.
Sebastian terus memberi istrinya belaian-belaian yang sangat memabukkan,dengan kedua tangan yang tidak tinggal diam,hingga lagi-lagi Sebastian kembali membuat Jennifer mengeluarkan suara-suara merdunya tersebut.
Lihatlah,dalam sekejap mata saja,dada empuknya dan bawahnya Jennifer telah tersingkap lebar,dan kemejanya Sebastian yang juga telah terlempar kelantai begitu saja.Hanya saja,celananya Sebastian masih utuh,dan dressnya Jennifer yang masih utuh tapi hanya dipinggangnya saja.
Sedangkan Billy,berkat kedua majikannya itu,ia hanya mampu terus saja menarik napas dan membuangnya dengan perlahan-lahan untuk menghilangkan panas dingin yang ada hampir diseluruh tubuhnya itu.
"Dasar tidak tahu malu...Apakah mereka berdua tidak punya tempat lain yang lebih bagus lagi,selain didalam ruangan ini..." gumam Billy dengan nada dan wajah kesalnya,sambil terus menekan tombol volume tinggi disamping HPnya,untuk mengurangi pendengarannya tentang suara-suara yang mampu membuat tubuhnya menjadi panas dingin itu.
Tapi nyatanya volume yang ada diHPnya itu sudah maksimal dan tidak bisa ditinggikan lagi,akhirnya headset yang ia pakai itupun terasa sia-sia saja, karena ia masih bisa mendengar jelas suara-suara yang saat ini menurutnya sebagai penderitaan untuknya itu.
Ingin sekali ia langsung pergi dari sana saja,tapi sayangnya ia harus berjaga-jaga diluar pintu ruangan tersebut,takut-takut kalau nanti akan ada yang masuk kedalam ruangan indah tersebut tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Seperti yang terjadi barusan,semua karyawan langsung berdatangan saat mereka mendengar suara tembakan tadi.Untung saja,ia telah mampu mengatasi semua itu dengan wajah datar dan pistolnya itu,termasuk Daddy dan Mommy yang juga ikut datang menghampiri dengan wajah khawatir mereka.
Dan untungnya lagi,Daddy dan Mommy ingin mendengar sarannya untuk membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri,dan tidak mengkhawatirkan suara tembakan tadi lagi.
__ADS_1
Lagi pula,dirinya sendiri sangat yakin kalau Tuan Mudanya tidak akan kerasukan sampai akan membunuh Nona Mudanya.Apa lagi,masalahnya hanya sekecil ujung jari kelingking saja.
"Apa dosaku sama mereka,kenapa penderitaanku seperti tidak ada habisnya sedari hari itu.Mereka benar-benar menyebalkan,sangat menyebalkan..." Billy kembali menggerutu kesal,akhirnya iapun hanya bisa berdiri pasrah saja,sambil terus berusaha mendinginkan tubuh panas dinginnya dengan mengipas-ngipaskan wajah memerahnya dan juga memutar lagu-lagu rock atau apapun diheadsetnya itu.