
Sedangkan sang dokter yang sedang berada diseberang sana,ia hanya mampu mendengkus kesal dan juga menghela napas berat dengan panjang.
Yang benar saja,Tuan Mudanya menyuruhnya untuk menempuh waktu perjalanan 1 jam itu, hanya dengan 15 menit saja,memangnya dirinya robot atau mungkin memiliki sayap untuk terbang.
Tapi walaupun tidak akan mungkin baginya untuk menempuh waktu yang disebutkan oleh Tuan Mudanya,mau tidak mau ia terpaksa bergegas berlari keluar dari rumah sakit besar tersebut dengan wajah kesalnya,dengan membawa alat-alat dokter miliknya yang ia anggap penting saja.
Ia bahkan meninggalkan sejumlah pasien yang belum sempat ia periksa,dan juga para perawat yang langsung menjadi kebingungan disana.
***
Dikediamannya Rendra...
Jennifer dan yang lainnya hanya mampu menggeleng-geleng tidak percaya,saat mereka melihat Sebastian yang terlihat begitu khawatir,perubahannya memang terlihat berbeda 180 derajat dari pada yang sebelum-sebelumnya.
"Apakah masih sakit?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil memerhatikan wajahnya Jennifer yang terlihat sedang menahan sakit.
"Sudah tidak begitu,sekarang hanya terasa sedikit ngilu saja..." jawab Jennifer dengan nada pelannya,sambil terus memerhatikan wajah khawatirnya Sebastian.
"Ayah,Ibu...Jika dokter bod*h itu sampai nanti, katakan padanya untuk langsung keatas..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya, sambil mengendong Jennifer dan segera membawanya kekamar mereka,tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya lagi.
Saat ini ia sedang merasa kesal dengan sang dokter yang tadi pagi telah berani mengatakan kalau Jennifer sudah baik-baik saja,tapi apa yang sedang terjadi sekarang.Belum pulang sampai 1 hari,Jennifer malah sudah merasakan sakit ngilu dipinggangnya.
"Hah!" Ayah dan Ibu hanya mampu berdiri dengan wajah bengong mereka yang telah bercampur khawatir tersebut,saat mendengar apa yang dikatakan oleh Sebastian barusan.
"Dokter bod*h? Memangnya sejak kapan kakak memiliki dokter yang bod*h,Bu,Yah?" tanya Stella dengan nada dan wajah bingungnya, sambil terus menatap punggung kakaknya yang mulai menjauh dari pandangannya,begitu juga dengan Ayah dan Ibu.
"Ntahlah..." jawab Ibu dengan nada dan wajah malasnya,sambil kembali duduk disofa dan menghela napas pelan dengan panjang,untuk menetralkan rasa khawatirnya tersebut.
Akhirnya Stellapun ikut duduk bersama Ibu, untuk sekalian menunggu kedatangan sang dokter tersebut dan mengabaikan sikapnya Sebastian tersebut,begitu juga dengan Ayah yang ikut-ikutan merasa khawatir dengan keadaannya Jennifer.
Didalam kamarnya Sebastian dan juga Jennifer...
"Aku baik-baik saja...Hanya sedikit ngilu-ngilu saja,Honey..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,setelah dirinya sudah dibaringkan diatas kasur oleh Sebastian.
"Ssst... Honey,kamu beristirahat saja dulu,jangan banyak bergerak ya..." peringat Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum khawatir,sambil memegang tangannya Jennifer, sambil mengisyaratkan tanda diam kearah Jennifer.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu menghela napas pelan saja.Ternyata suaminya juga memiliki sisi lain yang seperti ini juga,walaupun agak menyebalkan,tapi juga terasa menyenangkan dan hal tersebut cukup membuatnya merasa bahagia.
25 menit kemudian... Jennifer bahkan harus menahan senyumnya,saat ia melihat ekspresi wajahnya Sebastian yang telrihat semakin lama semakin khawatir dan juga tidak sabaran menunggu kedatangannya sang dokter.
"Dimana dokter bod*h itu? Kenapa sampai sekarang belum sampai-sampai juga?" tanya Sebastian yang ntah kepada siapa,sambil mendengkus kesal dan juga menatap jam tangannya.
Kemudian ia berdiri dari duduknya dengan wajah kesal yang telah berubah menjadi marah,karena waktu 15 menit yang telah ia berikan pada sang dokter tadi,telah berlalu 10 menit yang lalu.
"Honey,bersabarlah,mungkin dokter akan sampai sebentar lagi... " ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum malas,untuk menenangkan Sebastian yang sedang menampilkan ekspresi marahnya tersebut.
"Sweety... Lihatlah,waktu yang telah aku berikan padanya tadi telah berlalu,dan dia masih juga belum terlihat sampai sekarang..." ucap Sebastian drngan nada pelannya karena sibuk menahan rasa marahnya tersebut,sambil berniat ingin keluar dari kamar mereka,dan memeriksa apakah sang dokter sudah sampai dirumahnya atau belum.
"Honey... Duduklah dan bersabar sebentar lagi..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesal marahnya,sambil menahan tangannya Sebastian yang baru saja ingin melangkah pergi.
__ADS_1
Ia merasa kesal dengan tingkah berlebihannya Sebastian tersebut,padahal sakit ngilu diperutnya sudah tidak begitu terasa lagi.Lagi pula,sang dokter pasti akan datang,mungkin saja jalanan sedang macet sekarang.
Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas berat dengan panjang,iapun segera menetralkan rasa marahnya dan perasaan khawatirnya tersebut,dan juga menampilkan wajah tenangnya kembali.
Kemudian iapun duduk kembali,lalu megenggam sayang tangannya Jennifer,hingga berhasil membuat Jennifer langsung tersenyum senang.
"Bagaimana pinggangmu,Sweety? Apakah sudah membaik sekarang?" tanya Sebastian dengan nada pelan dan wajah yang tersenyum paksanya, sambil membelai sayang rambutnya Jennifer.
Bagaimanapun juga,ia tidak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya tersebut,saat ia melihat Jennifer yang menurutnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Sudah membaik,tidak sesakit yang tadi lagi,Honey..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum bahagianya,sambil terus memerhatikan Sebastian,ntah sudah berapa kali Sebastian terus bertanya hal yang sama padanya sedari tadi.
"Baguslah.Tapi aku masih merasa khawatir, Swetty,sebelum dokter bod*h itu datang memeriksamu... " ucap Sebastian dengan nada serius dan wajah khawatirnya.
"Kamu tunggu disini dulu,ya... Aku akan keluar sebentar saja... " lanjut Sebastian yang sedari tadi memang belum bisa tenang,sebelum ia melihat wajahnya sang dokter tersebut.
"Ceklek..." baru saja Jennifer ingin mencegahnya,terdengar suara pintu yang langsung terbuka tanpa minta izin terlebih dahulu.
Akhirnya sang dokter yang ditunggu-ditunggu oleh Sebastian tadipun,sampai juga diambang pintu kamarnya mereka saat ini.
"Apakah kamu ingin mati,hah?! Bukankah tadi aku mengatakan padamu,hanya dalam 15 menit?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,sambil mempertahankan nada rendahnya, supaya Jennifer tidak merasa kaget saat mendengar suara marahnya tersebut.
"Ma maafkan aku,Tuan Muda.Diperjalanan tadi,aku mengalami kemacetan yang ............" belum sempat sang dokter selesaimemberi pembelaan buat dirinya sendiri,Tuan Mudanya telah langsung menyelanya dengan cepat.
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, darimu.Sekarang,cepat periksa istriku..." sela Sebastian dengan perintah tegasnya tersebut, sambil menatap tajam kearah sang dokter yang langsung mengerjakan perintahnya tersebut.
"Tadi pinggangku terasa agak sakit ngilu begitu, tapi sekarang sudah berkurang,Dok.Apakah janinku tidak apa-apa?..." Jennifer yang merasa kasihan terhadap sang dokter tersebut,iapun segera memberitahu apa keluhannya tadi.
Hingga berhasil membuat sang dokter sedikit terbantu,terbukti dengan ekspresi wajah bingungnya yang mulai mengurang karena pernyataannya tersebut.Sang dokter bahkan juga langsung menghela napas lega,ternyata Nona Mudanya telah mengetahui tentang kehamilannya tersebut.
"Baiklah.Nona Muda...Kalau begitu maaf ya,aku akan memeriksamu kembali..." ucap sang dokter dengan bertujuan untuk meminta izin,sambil melirik kearah Tuan Mudanya yang ternyata masih menatap tajam kearahnya.
"Iya,tidak apa-apa.Silakan saja,Dok..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum ramah,sambil melirik kesal kearah Sebastian,supaya tidak akan bertingkah berlebihan lagi,dan lirikan kesalnya tersebutpun berhasil membuat Sebastian tidak berbuat ulah lagi.
Sang dokterpun segera memeriksa tekanan tensi,detakan jantungnya sijanin dan lain sebagainya,setelah ia mendapatkan izin dari Nona Mudanya sendiri.
"Tuan Muda,Nona Muda, semuanya... Bukan,maksudku kehamilannya Nona Muda sedang rentan disaat sedang hamil muda seperti ini......." lagi-lagi belum sempat sang dokter selesai bicara,Tuan Mudanya kembali menyelanya dengan cepat.
Padahal ia telah mengubah cara bicaranya tersebut,tapi tetap saja,Tuan Mudanya tetap memarahinya juga.
"Apa kamu bilang? Apa kamu sedang mendoakan yang buruk terhadap istri dan anak kami barusan,hah?" sela Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,sambil memcengkram kerah kemejanya sang dokter.
"Sebastian Sachdev Rendra..." panggil Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia melihat Sebastian yang telah mengabaikan peringatannya tadi.
Sebastian yang melihat wajah kesalnya Jennifer tersebut,iapun segera melepaskan cengkramannya tersebut,dengan ekspresi wajah pasrahnya.
"Dok,katakanlah..." perintah Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya,setelah ia sudah selesai menghela napas pelan.
"Nona Muda,untuk sekarang janinnya baik-baik saja.Hanya saja,apakah aku boleh bertanya, Nona Muda?" jawab sang dokter dengan nada hati-hatinya,sambil menetral deru napasnya yang tadinya kembali akan terasa tercekik seperti yang sebelumnya.
__ADS_1
"Silakan,Dok... " jawab Jennifer dengan nada dan wajah penasarannya.
"Apakah sepulang dari rumah sakit tadi, Nona Muda ada melakukan perkerjaan-perkerjaan yang berat,seperti mengangkat barang yang berat,atau semacamnya? Atau Nona muda mungkin ada meminum alkohol atau minuman yang bersoda?" tanya sang dokter dengan tebakannya tersebut,karena hanya itu yang saat ini terlintas dibenaknya,jika ia menilai dari pemeriksaannya tadi.
Walaupun tidak akan mungkin bagi Nona Mudanya melakukan perkerjaan-perkerjaan yang berat atau hal-hal yang telah ia sebutkan barusan,tapi nyatanya hanya tebakan itu juga yang mampu ia pertanyakan.
"Tidak..." jawab Jennifer dengan singkat, nada dan wajah bingungnya,sambil melirik sekilas kearah Sebastian yang sedang mendengkus kesal.
"Ehmmm..." sang dokter malah kebingungan, karena sibuk memikirkan tentang pertanyaan yang ada dibenaknya saat ini dan yang harus dipertanyakan atau tidak,tapi ia juga takut akan kehilangan nyawanya saat ini juga.
"Cepat katakan atau kamu tidak akan bisa berbicara sebentar lagi..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah yang dibuat setenang mungkin,sambil menahan rasa kesal dan marahnya tersebut.
"I itu,apakah Tuan Muda dan Nona Muda baru saja melakukan hubungan badan?" tanya sang dokter dengan nada hati-hatinya,sambil menunduk takut.
"I itu..." Jennifer sampai kebingungan mau menjawab apa,karena saat ini ia hanya mampu menampilkan ekspresi wajah malunya saja.
"Apa kamu benar-benar ingin mati,hah? Apa hubungannya dengan sakit yang dialami oleh istriku,hah?" tanya Sebastian yang sudah tidak mampu menahan rasa kesal dan marahnya tersebut,dan kembali mengcengkram kerah kemejanya sang dokter.
"Tu Tuan Muda,dua hal itu saling berhubungan.Karena kehamilannya Nona Muda masih hitungan beberapa minggu saja,jika terus berhubungan intim,pasti akan membahayakan janinnya.Maka dari itu,hubungan badannya tidak boleh dilakukan terlalu sering,takut kalau janinnya tidak kuat menahannya... " ucap sang dokter dengan pengetahuan dokternya dan nada terputus-putusnya karena cengkraman kuat Tuan Mudanya tersebut,sebelum Jennifer sempat bersuara untuk mencegah Sebastian.
Ia bahkan tidak sempat untuk menyusun semua kalimatnya tersebut,sebelum berbicara panjang lebar begitu.
"Uhuk uhuk uhuk..." terdengar suara batuk-batuknya sang dokter,saat Sebastian telah melepaskan cengkramannya tersebut secara perlahan-lahan.
"Honey,apa kamu tidak bisa bersikap lebih tenang lagi?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah sekesal-kesalnya,setelah ia sudah duduk dari berbaringnya tadi,dan melihat sang dokter yang terbatuk-batuk hampir kehabisan napas karena ulah suaminya tersebut.
Tapi ekspresi malunya tetap terlihat diwajah cantiknya itu,karena kalimat panjang lebarnya sang dokter barusan.
Sedangkan Sebastian,ia langsung berjalan mendekati Jennifer dengan ekspresi wajah khawatirnya.
"Sweety,bukankah aku sudah bilang,jangan banyak bergerak.Aku hanya tidak mampu mengendalikan emosiku,Sweety..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya, dan nada bersalah dikalimat terakhirnya saat ia melihat Jennifer yang malah menatap kesal kearahnya.
"Apakah apa yang kamu katakan tadi itu benar? Apa bayi kami baik"baik saja?" tanya Sebastian dengan perasaan khawatir dibalik nada dan wajah tegasnya kearah sang dokter,saat ia teringat kembali dengan apa yang telah dikatakan oleh sang dokter tadi.
"Benar,Tuan Muda.Dan menurut detak jantungnya tadi,bayinya Tuan Muda dan Nona Muda baik-baik saja.Hanya saja,Tuan Muda harus membawa Nona Muda kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut atau USG,supaya bisa tahu hasilnya lebih baik lagi..." jawab sang dokter dengan nada dan wajah seriusnya.
Ia bahkan datang kesini hanya dengan alat sekedarnya saja,jadi iapun hanya mampu mengatakan seadanya saja.
Tapi mau bagaimana lagi,ia harus memperingati Tuan Muda dan Nona Mudanya,karena telah banyak kejadian tentang keguguran akibat berhubungan intim disaat hamil muda seperti ini,yang ia temui selama ini.
Sebastian terlihat sedang mencerna perkataannya sang dokter,dengan Jennifer yang ikut-ikutan merasa khawatir.
"Jadi apakah sama sekali tidak boleh berhubungan badan,selama kehamilan nanti?" tanya Sebastian setelah ia terdiam selama beberapa menit,sambil memerhatikan seragamnya sang dokter.
Sepertinya ia memang harus mempercayai perkataannya sang dokter,karena dilihat dari seragam dan namanya sang dokter,ternyata sang dokter memang dokter kandungan.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu menahan malu sambil melirik kesal kearah Sebastian yang tidak merasa malu sama sekali dan malah fokus memerhatikan sang dokter saja.
"Ehmm,,tidak juga,Tuan Muda.Hanya saja,Tuan Muda perlu menguranginya saja,seperti hanya 1 atau 2 kali saja dalam seminggu.Tapi jika kehamilannya Nona Muda sudah hitungan sekitar 24 minggu keatas,barulah Tuan Muda boleh melakukannya agak sedikit lebih sering..." jawab sang dokter dengan singkat tapi agak detail,sambil menunduk takut.
__ADS_1