Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bqb. 112


__ADS_3

15 menit kemudian...


"Kapan istriku akan mulai memimpin perusahaanmu,Dad?" tanya Sebastian dengan singkat dan nada seriusnya, setelah ia sudah terdiam selama 15 menit lamanya,karena sibuk menetralkan rasa kesalnya dan juga rasa pusingnya tersebut.


"3 hari lagi..." jawab Daddy dengan singkat juga, sambil tersenyum kecil saat ia mendengar kata istri yang keluar dari mulutnya Sebastian barusan, tapi Sebastian tidak bisa melihatnya,karena jarak mereka yang terlalu jauh itu.


"Apa kamu sudah berubah pikiran,nak?" lanjut Daddy,ia bertanya dengan ekspresi wajah yang masih saja penuh harap.


"Dad,aku hanya bertanya..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,karena Daddy kembali membahas hal yang tadi.


Lagi pula ia bertanya,hanya karena ingin tahu kapan Jennifer akan keluar rumah saja,jadi ia bisa berjaga-jaga lebih awal.


Sedangkan Daddy,ia hanya mampu menghela napas pelan saja,saat lagi-lagi ia harus mendengar jawaban yang mengecewakan dari menantunya itu.


"Bagaimana dengan Brennan,Dad?" lanjut Sebastian yang langsung dengan apa yang baru saja ia pikirkan,ia bertanya dengan nada seriusnya.


Lagi pula,ia tidak mau berdebat tentang Jennifer lagi.Karena hal tersebut,hanya akan membuatnya menjadi semakin pusing saja.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang dia,dia dan yang lainnya sudah berada ditempat yang tepat sekarang..." jawab Daddy dengan nada seriusnya juga, ternyata menantunya masih mengingat dan memikirkan tentang yang satu itu.


Ia masih ingat dengan ekspresi wajah marah menantunya pada hari itu,saat mengatakan tentang adik sepupunya itu,dan berniat ingin langsung membunuh mereka.Hingga iapun memilih untuk mengambil alih,karena hal tersebut memang harus ia yang mengurusnya.


Ya,walaupun ia dulu memang lebih kejam dari Sebastian.Tapi sedari istrinya selalu menasehatinya untuk mengurangi perkerjaan yang kejam tersebut,iapun berusaha untuk menguranginya,tapi tetap saja hasilnya masih akan terlihat kejam juga.


"Benarkah?" tanya Sebastian dengan nada tidak percayanya.


Sedari awal ia memang sudah merasa ragu dengan tindakan yang akan diambil oleh Daddy,karena yang mereka ingin hancurkan itu adalah saudara sepupunya Daddy,jadi mana tahu saja Daddy menjadi ragu-ragu untuk membunuh mereka.


"Apakah sekarang kamu sedang meragukan kemampuanku,hm? Usiaku memang sedikit sudah berumur,tapi kemampuanku dulu masih belum berkurang sedikitpun..." tanya Daddy dengan nada kesalnya,wajah tenangnya tadipun juga langsung berubah menjadi kesal.


"Ya,aku tidak mengatakan seperti itu,karena aku sangat yakin tentang kemampuanmu itu.Tapi sebenarnya,aku hanya meragukan ketegasanmu saja,Dad... Dan hanya saja,aku merasa penasaran dengan tempat yang tepat,yang telah Daddy maksudkan tadi?" jawab Sebastian dan sekalian bertanya dengan nada santainya.


Sepertinya sekarang ia mendapatkan cara baru untuk sedikit mengurangkan rasa kesalnya,yaitu membuat sang Daddy merasa kesal.


"Cih..." Daddy langsung berdecih kesal,saat ia mendengar perkataannya Sebastian tersebut.


"Aku telah mengurung mereka dimarkasku yang ada ditengah-tengah hutan sana,dan markas tersebut bukan hanya dikelilingi oleh orang-orang terlatihku saja,tapi juga dikelilingi oleh hampir semuanya binatang buas.Dan aku rasa,kamu masih bisa mengingat jelas tentang markas yang itu,bukan? " lanjut Daddy dan juga bertanya,iapun memilih untuk memberitahu Sebastian tentang apa yang telah ia lakukan pada keluarga yang suka bersandiwara dan tamak dengan harta itu.


Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas malasnya,saat ia mendengar jawabannya Daddy tersebut.Ia mengira,kalau mereka semua sudah tinggal nama sekarang.Ternyata masih hidup, hanya saja mereka memang berada ditempat yang tepat,karena mereka tidak akan pernah berhasil,jika mereka berniat ingin kabur dari sana.


"Kenapa kamu terdengar tidak menyukai tindakan yang telah aku lakukan itu,hm? Bukankah, itu tempat yang tepat untuk mereka yang telah berani bermain-main dengan kita?" tanya Daddy dengan nada kesalnya lagi,saat ia mendengar sekilas helaan napas malasnya Sebastian tersebut.


"Iya,iya,itu memang tempat yang tepat untuk mereka..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,karena ia sudah lelah dan tidak mau berdebat sama Daddy lagi.


Ya,walaupun tempat yang dikatakan oleh Daddy itu memang benar adanya.Karena ia pernah kesana satu kali,bersama pamannya Jennifer.Dan tempat itu memang terlihat sangat menyeramkan,karena dipenuhi oleh binatang buas disekitarnya.

__ADS_1


Jika orang yang sedang dikurung didalam sana itu orang yang lemah mental,ia rasa mereka pasti akan sakit-sakitan dan mati terlebih dahulu,karena tidak mampu menahan rasa takut mereka yang berlebihan itu.


Dan ia juga tersenyum tipis,saat ia mendengar nada kesal dan kata "Kita" dari mulutnya Daddy barusan itu.


"Lagi pula,orang-orang seperti itu memang harus diberi pelajaran terlebih dahulu sebelum mereka akan menemui yang diatas nanti..." ucap Daddy dengan nada santainya,sambil berdiri dari duduknya.


Karena sekarang ia sedang berada didalam kantornya,dan sekarang sudah jam 5 sore,sudah waktunya ia pulang untuk melihat istrinya yang masih terlihat sangat cantik dimatanya itu.


"Ya,ternyata Daddy masih kejam dan hebat seperti dulu..." puji Sebastian dengan perasaan terpaksa dibalik nada santainya,walaupun memang ia akui kalau perkataannya Daddy itu memang ada benarnya juga.


Karena bagi mereka,mau musuh mereka lambat atau cepat mati,yang terpenting para musuh mereka akan merasakan penderitaan terlebih dahulu.


"Sekarang,kamu sedang memujiku atau mengejekku,hm?" tanya Daddy dengan nada santainya,ia sama sekali tidak tersinggung,karena mereka berdua memang sama-sama memiliki kekejaman yang hampir sama.


"Terserah,Daddy mau pilih yang mana..." jawab Sebastian dengan nada malasnya lagi,sambil memutar kedua bola matanya dengan malas, walaupun Daddy tidak bisa melihatnya.


Sedangkan Daddy,ia langsung mendengkus kesal saat ia mendengar jawaban dari Sebastian tersebut.


"Baiklah,Dad...Kalau begitu,pembicaraan kita sampai disini dulu..." lanjut Sebastian dengan cepat,lalu ia langsung mematikan telepon mereka secara sebelah pihak tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Dan juga tanpa menunggu jawaban dari Daddy terlebih dahulu,karena jika ia tidak melakukan itu,sudah dipastikan kalau perdebatan mereka tidak akan ada selesainya.


Dan perbuatan tidak sopannya tersebutpun, lagi-lagi mampu membuat Daddy langsung mendengkus kesal yang ntah sudah keberapa kalinya sore ini.


"Dasar menantu kurang *jar,kenapa putriku itu bisa sampai mencintai pria yang seperti itu..." gumam Daddy dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menyimpan HPnya dan memakai Jas kerjanya kembali dengan gerakan kesalnya.


"Cih...Seperti tidak ada pria yang lain saja..." lanjut Daddy dengan menggerutu kesal,karena rasa kesalnya tersebut.


Tapi kemudian ia tersenyum senang,setidaknya Sebastian mau memanggilnya dengan sebutan Daddy,dan hal itupun terdengar seperti putra kandungnya sendiri.Karena ia tidak memiliki seorang putrapun,jadi hal sekecil itu saja,sudah mampu membuatnya merasa bahagia.


Setelah ia sudah mengambil tas kerjanya,iapun langsung berjalan keluar dari kantornya tersebut, untuk segera pulang.Rasanya ia sudah sangat merindukan istrinya itu,padahal baru beberapa jam saja mereka tidak bertemu.Karena memang seperti itulah hari-hari yang ia lewati,berkerja dengan sambil memikirkan sang istri.


Daddy juga kembali menampilkan wajah datarnya yang seperti biasanya,saat ia sedang berjalan keluar dari dalam kantornya hingga kemobilnya sana,dengan langkah tegasnya.


***


Sedangkan Sebastian,ia masih setia duduk dibangku yang ada dihalaman luasnya itu,sambil menyandarkan kepalanya kebelakang dan juga memejamkan kedua matanya sambil memijit pelan pangkal hidungnya itu,untuk menenangkan pikiran kacaunya itu.


Ia terus memikirkan tentang mencari solusi yang terbaik untuk masalah yang sedang ia khawatirkan saat ini,belum lagi tentang kekesalannya Jennifer padanya tadi pagi.


Tadinya ia berpikir kalau dengan ia menelepon Daddy,ia akan bisa mendapatkan bantuan atau solusi yang lebih baik.Tapi ternyata putri sama Daddynya sama saja,sama-sama tidak mau mendengarkannya dan juga sama-sama menyebalkan.


Sepertinya sekarang ia hanya mampu mengikuti keinginan mereka berdua saja,dan bersikap lebih waspada lagi,dari pada sebelumnya.


Sebastian segera mengetik sesuatu di HP nya yang berada didalam gengamannya itu,dan mengirimnya kepada Billy.Ia sedang memerintahkan pada Billy untuk lebih waspada pada 2 yang lainnya,karena mereka tidak perlu memikirkan tentang Brennan sekeluarga lagi.

__ADS_1


***


3 hari sudah berlalu,dan hari dimana Jennifer harus mulai berkerja dan akan diresmikan sebagai presdir diperusahaan untuk menggantikan Daddynya itupun telah tiba,dengan begitu cepat.


Terlihat Sebastian yang sedang berdiri diterasnya lantai 2 dirumahnya tersebut,dengan Billy yang hari ini harus setia berada dibelakangnya saat ini dan mungkin disampingnya nanti.


"Apakah semuanya aman?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menelisik Jennifer yang baru saja berjalan keluar dari dalam rumah kearah mobil yang sudah tersedia untuk istrinya dihalaman rumahnya sana.


Memang ia akui,hari ini istrinya terlihat sangat cantik dengan make up tipis dan tataan rambutnya yang sederhana tersebut,walaupun dihari-hari biasanya istrinya memang terlihat cantik juga dimatanya.


Dan ditambah lagi,dengan wajah dan langkah tegasnya itu,hingga mampu membuat aura kepemimpinan istrinya terlihat jelas,bukan hanya dimatanya saja,tapi juga dimatanya semua para bawahannya yang ada dibawah sana.


"Aman,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada tegasnya,sambil menahan rasa kesalnya dan juga menatap kearah punggung Tuan Mudanya yang sedang berdiri tegak dengan kedua tangannya yang sedang bersedekap dada dipinggiran pagarnya teras tersebut.


Karena ia harus berada disini pagi-pagi sekali,dan hanya disuruh mematung saja,sedari 50 menit yang lalu.


Lihatlah,sekarang baru jam 6 lewat 20 menit,dan Nona Mudanya baru saja mau berangkat,tapi dirinya diperintahkan oleh Tuan Mudanya untuk harus berada disini pada jam 5 lewat 30 menit tadi.Sekarang dibenaknya hanya terlintas beberapa kata,yaitu membosankan dan melelahkan.


'Ternyata istriku ini,mampu bersikap tegas juga.Tidak seperti sebelum-sebelumnya,seperti seorang putri raja yang tidak bisa melakukan apa-apa,selain meminta pembelaan dari Ibu dan Ayah saja...' batin Sebastian dengan tersenyum tipis tanpa ia sadari,sambil terus menatap senang kearah istrinya yang memang terlihat agak berbeda hari ini.


"Apa Rebeeca dan Irfan tidak terlihat sedang merencanakan sesuatu,hm?" tanya Sebastian dengan kening yang mengernyit heran,sambil merubah sedekap tangannya,hingga kedua tangannya sudah berada dikedua saku celananya saat ini.


"Tidak ada,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat.


"Tapi semalam bawahan kita melaporkan,kalau mereka melihat Rebeeca dan Irfan masuk bersama kedalam sebuah club,tapi anehnya Rebeeca dan Irfan keluar dari sana,diwaktu yang berbeda..." lanjut Billy dengan nada seriusnya dan ekspresi heran diwajahnya juga,sama seperti Tuan Mudanya.


"Aku dan yang lainnya menebak,kalau mereka telah berkerja sama untuk menyerang kita.Tapi saat bawahan kita memeriksa kedalam club tersebut, tidak ada yang terlihat mencurigakan diantara mereka berdua.Dan tebakan kami yang kedua,mungkin saja mereka hanya kebetulan sedang berada disana disaat yang bersamaan.Tapi kami masih merasa janggal, dengan waktu masuk mereka yang begitu tepat waktu itu..." lanjut Billy lagi,dengannada bingungnya,sambil berpikir keras.


Padahal ia sudah mencoba berpikir cerdas dari semalam,tapi nyatanya ia tidak bisa menebak pasti apa yang sebenarnya yang telah terjadi diantara mereka berdua.


"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,tanpa mengalihkan pandangannya dari Jennifer yang baru saja masuk kedalam mobil.


"Maaf,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada pasrahnya,sambil memutarkan kedua bola matanya dengan malas.


Padahal saat ia menelepon Tuan Mudanya semalam,belasan kali teleponnya tidak diangkat. Dan saat diangkat,ia malah dimarahi habis-habisan,diperintahkan untuk tidak boleh menganggu,dan teleponnya ditutup secara sebelah pihak,sebelum ia sempat berbicara apapun.


Sedangkan Sebastian,ia sedang sibuk memikirkan tentang Rebeeca dan juga Irfan,akhir-akhir ini mereka berdua tidak memperlihatkan pergerakan-pergerakan apapun sama sekali.Dan tiba-tiba saja,mereka berdua terlihat masuk bersama kedalam sebuah club semalam,hal itu sangat wajib mereka curigakan.


"Perintahkan kepada semuanya,untuk lebih waspada lagi,tingkatkan keamanan dirumah ini dan diperusahaannya Jennifer.Terus pantau mereka dari jauh,dan jangan sampai lengah sedikitpun. Ingat,mereka akan menyerang kita kapanpun mereka mau,dan tanpa kita sadari..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil berjalan keluar dari sana,karena ia melihat kalau mobil yang membawa Jennifer sudah melaju keluar dari halaman rumahnya.


Dan keluarganya yang sedang sibuk mengantar Jennifer keluar rumah tadipun,sudah masuk kembali kedalam rumah.


"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada dan wajah tegasnya juga,sambil mengikuti langkah tegas Tuan Mudanya tersebut.


Akhirnya merekapun mengikuti mobilnya Jennifer dengan melaju sedang,dari jarak jauh,hingga Jennifer sampai diperusahaannya Daddy.

__ADS_1


Tapi ada yang aneh didalam perjalanan mereka tadi,karena sama sekali tidak terlihat kalau ada yang berniat ingin menyerang mereka seperti sebelum-sebelumnya,bahkan tidak ada yang mengikuti mereka ataupun ada yang memerhatikan mereka dari jauh.


Dan hal tersebut,mampu membuat Sebastian dan juga Billy menjadi semakin waspada terhadap dikeadaan sekitar mereka sekarang.


__ADS_2