Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 92


__ADS_3

Hingga beberapa menit kemudian...


"Dor dor dor dor dor......." terdengar suara tembakan yang berturut-turut dari kedua pistolnya Sebastian hingga 15 tembakan,lalu disusul dengan suara tembakan dari yang lainnya.


Sekitar 30 penjaga yang sedang berjaga-jaga diluar ruko tadipun langsung tergeletak tidak bernyawa diatas tanah sana,para musuh bahkan tidak sempat melakukan apa-apa,walaupun hanya untuk mengeluarkan senjata mereka saja.


Dan karena suara tembakan tersebut memang terdengar sangat kuat,apa lagi dengan suara tembakan yang berturut-tutut,hal tersebutpun mampu membuat teman-temannya mereka yang sibuk berada didalam ruko itu,segera berhamburan keluar dengan senjata ditangan mereka masing-masing.


Akhirnya mereka semuapun saling menembak dan saling melindungi, dengan Sebastian yang ikut terus menembak dan posisinya yang terus mendekat kearah ruko tersebut,menembak sambil mengisi ulang peluru yang baru saja dilempar oleh Billy tadi.


Pasukannya Sebastian bahkan tidak terluka sedikitpun,karena tembakan tepat dan cepat Tuan Muda mereka.


30 menit berlalu...


Setelah pasukan musuh yang berhamburan keluar tadi sudah mereka habisin satu persatu,mereka semuapun langsung berjalan masuk kedalam ruko tersebut,dengan langkah waspada mereka.


Sedangkan Sebastian,ia menghentikan langkahnya tepat dihalamannya ruko tersebut,lalu ia memperhatikan setiap mayat yang telah tergeletak disekitarnya saat ini,dan kemudian ia memilih untuk membiarkan Billy dan yang lainnya saja yang masuk kedalam.


Karena ia melihat,kalau telah ada sekitar 100 mayat yang sedang tergeletak disekitarnya saat ini,itu berarti hanya tersisa sekitar 20 orang saja yang ada didalam sana.Dan sekitar 30 bawahannya mengikuti langkahnya untuk menunggu diluar saja.


Lagi pula ia sangat yakin,kalau Billy dan yang lainnya pasti akan mampu mengatasi sisa yang ada didalam ruko tersebut,lalu iapun melangkah santai keteras ruko tersebut dan duduk santai diatas kursi kayu yang memang sudah ada disana.


Setelah 20 menit berlalu,selama itu juga Sebastian masih setia duduk santai disana,ia juga mengabaikan suara tembakan-tembakan yang berasal dari dalam ruko tersebut, dan sekali-kali memerhatikan disekitar tempat tersebut yang terlihat seperti berada didalam hutan.


Jaraknya dari jalan lumayan jauh,sekitar 50 meter,tapi disekitarnya banyak ditumbuhi pohon tinggi dan tumbuh-tumbuhan liar lainnya.


Sebastian yang tadinya masih setia menunggu itu sudah mulai bosanpun,berniat ingin masuk kedalam.Tapi baru saja ia ingin mengangkat bok*ngnya,terlihat Billy yang baru saja berjalan keluar dari sana,dengan yang lainnya itupun mampu menghentikan niatnya barusan.


"Cepat berlutut..." perintah Billy dengan nada tinggi dan wajah tegasnya,saat ia dan yang lainnya sudah berada dihadapan Tuan Mudanya,dengan ketuanya geng tersebut yang telah ia buat beberapa lebam diwajah dan yang lainnya.


Billy langsung mendengkus kesal,saat ia melihat wajah berani,dan ketua tersebut bahkan tidak berniat ingin menurutinya.Sepertinya,ketua geng tersebut akan mendapatkan sesuatu dari Tuan Muda mereka.


Hingga...


"Buk..." terdengar suara pelan dari hentakan kuat kedua lututnya sang ketuanya geng tersebut yang terjatuh paksa ketanah,akibat dari penekanan paksa dari tangannya Billy,dan juga sebelah lutut yang langsung ditendang kuat oleh Billy barusan.


"Tuan Muda,dialah ketua dari Geng Eagle black..." ucap Billy dengan nada tegasnya,sambil memegang erat pundaknya pria yang sekitar berumur 40 tahun itu.


Tadinya pria tersebut sempat melawan,padahal semua bawahannya yang tersisa sudah tidak bernyawa semua,tapi karena hanya seorang diri, akhirnya pria tersebut sangat mudah untuk Billy lumpuhkan.


'Tuan Muda...' batin pria tersebut,dengan kedua mata yang langsung menelisik pria muda yang sedang duduk santai tepat dihadapannnya itu.


Terlihat sangat tampan dan muda,tapi wajahnya datar dengan tatapan tajamnya,bahkan rambutnya masih saja terlihat rapi setelah penyerangan tadi, hingga wajah tampannya terlihat sangat menakutkan dimatanya orang-orang.Hanya saja,ia sama sekali tidak mengenal pria muda tersebut.

__ADS_1


Lalu iapun mengalihkan pelan tatapannya kearah disekitarnya,dimana mayat-mayat anak buahnya yang tergeletak tidak bernyawa.Kemarahannya pun,menjadi semakin bertambah.


Sedangkan Sebastian,tatapan tajamnya yang memang sudah terarah kewajah pria tersebut itupun,masih belum ingin bersuara dan mulai menelisik wajah babak belurnya pria tersebut, sambil mengangkat sebelah kakinya dan menyilangkannya diatas sebelah kakinya lagi.


"Siapa kalian? Dan siapa kamu? Aku bahkan tidak mengenal kalian,Kenapa tiba-tiba saja kalian menyerangku seperti ini,hah?" tanya pria tersebut dengan nada dan wajah marahnya,sambil menatap penuh amarah kearah satu persatu,semua orang yang telah ia anggap sebagai musuh tersebut,lalu tatapan amarahnyapun berakhir pada pria muda yang sedang duduk santai dan juga tenang dihadapannya itu.


"Apa kamu benar-benar tidak mengenalku,Tuan Muda kami?" tanya Billy dengan nada santainya,hingga membuat pria tersebut langsung menatapnya,padahal dirinya sendiri tahu kalau memang tidak akan banyak orang yang mengenal Tuan Mudanya yang jarang tampil dilayar TV ataupun diperkerjaan luarnya itu.


"Tidak,aku tidak mengenalmu..." jawab pria tersebut dengan wajah yang masih terlihat marah setelah ia menatap sekilas kearah Billy, ia juga merasa penasaran dengan penyerangan yang terjadi padanya saat ini,ia merasa kalau dirinya tidak pernah mencari masalah dengan mereka,apa lagi terhadap pria muda tersebut.


'Pria ini benar-benar...Apa dia sama sekali tidak pernah melihat siaran-siaran yang ada diTV?' batin Billy dengan perasaan kesalnya,karena dirinya sering terlihat disiaran manapun atau dikenal dimanapun,berkat dirinya yang telah menjadi wali dari Tuan Mudanya,karena Tuan Mudanya tidak suka disorot kamera manapun.


Sedangkan Sebastian,ia masih tetap dengan tatapan tajamnya dan wajah tenangnya,ia hanya terus menelisik wajahnya pria tersebut yang memiliki beberapa jahitan bekas luka sayatan kecil tapi sedikit panjang diwajah sangarnya itu.


"Apakah kamu juga tidak mengenal Sebastian Sachdev Rendra,hm?" tanya Billy dengan wajah yang berusaha tetap tenang,ia ingin tugasnya ini cepat selesai dan ia bisa pulang untuk tidur.


"Ma maksudmu?" tanya pria tersebut dengan nada takutnya dan wajah bingungnya,saat ia mendengar nama tersebut,sambil menatap secara bergantian kearah pria yang duduk dihadapannya dan pria yang sedang berbicara disampingnya itu.


Nama yang memang selalu ia dengar didunia bawah ataupun didunia luar,ia selalu mendengar kalau pemilik nama ini sangat jarang menerima undangan acara atau pertemuan apapun dari siapapun,dan memang tidak banyak bicara tapi sangat kejam,jika ada yang telah menganggunya.


"Apakah kamu sudah mengingatku,sekarang?" tanya Billy dengan nada kesalnya,dan mengabaikan pertanyaan pria tersebut,wajahnya sudah tidak bisa tenang karena rasa kesalnya itu.


Pria tersebutpun segera mengalihkan pandangannya kearah pria yang sedang bertanya itu,dengan tatapan menyipitnya,sambil berpikir keras.


Dan pria kejam tersebut hanya selalu memerintahkan Asistennya untuk menggantikan posisinya,dan sepertinya ia telah mengingati sesuatu sekarang...


Dan gaya angkuhnya itupun mampu membuat semuanya tersenyum kecil,kecuali pria tersebut dan Sebastian yang langsung mendengkus kesal.


"Apakah kamu,Asistennya pria yang bernama Sebastian Sachdev Rendra itu?" tanya pria tersebut dengan perasaan takut dibalik wajah tidak percayanya saat ia merasa pernah melihat pria disampingnya itu beberapa kali diTV,lalu ia segera mengalihkan pandangannya kearah pria yang sedang duduk dihadapannya itu.


"Pintar.Kalau begitu,sekarang kamu pasti sudah tahu bukan, siapa pria yang ada dihadapanmu ini?" tanya Billy dengan nada santainya kembali.


"A apakah ka kamu,pria yang bernama Sebastian Sachdev Rendra itu?" tanya pria tersebut dengan nada gugupnya karena tiba-tiba saja keberanian dan kemarahannya tadi langsung menghilang begitu saja tanpa sisa sedikitpun,saat ia merasa yakin kalau pria itu benar-benar pemilik dari nama Sebastian Sachdev Rendra itu.


Bahkan tatapan pria muda tersebut lebih tajam dari pada miliknya,dan ia bisa melihat dengan jelas kalau ciri-cirinya pria muda tersebut memang sama dengan apa yang selama ini,yang telah ia dengarkan.


"Ya,seperti yang sedang kamu katakan..." jawab Sebastian yang sedari tadi hanya diam saja,dengan nada tegasnya dan tatapan tajamnya yang tidak berkurang sedikitpun.


"Ta tapi apa kesalahanku,kenapa kamu tiba-tiba saja menyerang kami sampai seperti ini?" tanya pria tersebut dengan nada gugup dan wajah takut yang bercampur bingung.


Memangnya siapa yang berani menganggu Sebastian Sachdev Rendra,ia sendiri saja langsung berpikir untuk menghindari hal tersebut,saat ia mendengar banyak hal hebat dan kejam tentang namanya pria muda yang ada dihadapannya ini.


"Sekarang,katakan padaku...Siapa yang telah mengirimmu,untuk membunuh Jennifer Amora Naava?" tanya Sebastian yang langsung keintinya,sambil berdiri dari duduknya dengan gerakan santainya.

__ADS_1


Inilah salah satu sikap yang paling disukai Billy dan yang lainnya,karena jika sedang berhadapan dengan musuhnya,Tuan Mudanya mereka tidak akan suka berbasa basi sedikitpun.Jika perlu,tidak akan ada kata ampun bagi musuh mereka sedikitpun.


"Jen Jennifer Amora Naava? Apakah wanita yang tidak berhasil kami bunuh tadi siang,Tuan?" tanya pria tersebut dengan nada bingungnya dan takutnya,sambil mencoba untuk mengingat-ngingat nama tersebut,karena pembayarnya sama sekali tidak menyebut kata Naava dibelakang namanya wanita tersebut.


"Kamu masih berani bertanya?" tanya Sebastian dengan nada tingginya,ia mulai merasa kesal karena pria itu tidak segera menjawab keintinya saja.


"I itu...Ka kalau bo boleh tahu,wanita itu siapanya Tuan?" tanya pria tersebut dengan wajah yang semakin takut,bahkan tubuhnya mulai berkeringat dingin saat ini.


Tapi ia merasa penasaran dengan hubungan mereka,kenapa Tuan Sebastian sampai menyerangnya habis-habisan seperti ini. Lihatlah,tidak ada 1 pun anak buahnya yang berhasil selamat dari penyerangan tiba-tiba mereka tadi.


"Wanita itu? Wanita itu istriku...Apa kamu sudah mengerti sekarang,kenapa aku menyerang markasmu ini?" jawab Sebastian dan sekalian bertanya,dengan nada tegas yang bercampur amarah.


Kemudian Sebastian menaikkan sebelah kakinya keatas kursi tersebut,lalu kepalanya sedikit menunduk dan juga menyangga tubuhnya dengan sebelah tangan yang menyiku diatas lututnya, supaya wajah mereka bisa sedikit sejajar.


"Tu Tuan,ma maafkan kesalahanku ini.Aku tidak memeriksanya terlebih dahulu,makanya aku jadi bersikap bod*h seperti ini...Aku mohon,Tuan mau berbaik hati padaku malam ini..." mohon pria tersebut dengan nada gugupnya,wajah takutnya, dan tubuh yang sudah dibasahi keringat dingin.


Karena upah uang yang telah ia dapatkan sangat banyak,ia sampai lupa untuk memeriksa terlebih dahulu siapa identitas targetnya kali ini.


Ia bahkan tidak tahu kalau targetnya adalah putri sulungnya Tuan Arka Septian Naava,ia juga sebenarnya ada mendengar kalau target mereka sedang melangsungkan pernikahan tadi pagi,tapi ia sama sekali tidak menduga kalau pengantin prianya adalah pria muda yang kejam ini.


"Siapa orang itu?" tanya Sebastian,ia mengulangi pertanyaannya tadi dengan singkat dan nada tidak sabarannya,ia juga mengabaikan permohonan maaf dari pria tersebut, sambil mengeluarkan pistolnya dengan santai.


"Di dia..." pria tersebut terlihat ragu-ragu ingin mengatakannya,karena didalam peraturan gengnya,mereka tidak boleh membocorkan identitas sang pembayar,tapi sekarang bahkan nyawanya sendiri sedang terancam.


"Dor..."


"Arrgghh..." terdengar suara tembakan dan disusul dengan suara pekikan sakit dari mulutnya pria tersebut,karena Sebastian yang langsung menembak lengannya pria tersebut,akibat dari bicaranya yang lambat.


Padahal pria tersebut sudah ingin bicara kembali,bahkan diamnya belum sampai 2 detik,tapi nyatanya Sebastian sudah terlanjur merasa kesal.


"Apa aku harus menembak kepalamu juga,hm?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya dan juga menetralkan rasa kesalnya,sambil menekankan ujung pistolnya kekeningnya pria tersebut yang sedang meringis kesakitan.


"Tu Tuan Brennan,Tuan..." jawab pria tersebut yang memang takut mati itu,sambil memegang lengannya yang telah berlumuran darah itu,bahkan darahnya masih terus mengalir.


"Cih...Sudah aku duga...Tunggu saja,aku akan memberimu pelajaran padamu nanti..." ucap Sebastian dengan berdecih kesal,sambil menjauhkan pistolnya dari keningnya pria tersebut,dengan gerakan pelannya.


"Tu Tuan,aku mohon,tolong maafkan kesalahanku ini...Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya..." mohon pria tersebut lagi,dengan tubuh yang mulai gemetaran karena rasa takutnya yang telah berlebihan itu.Apa lagi,ia juga harus menahan rasa sakit dilengannya itu.


Ia masih memiliki banyak tanggung jawab atas anak buahnya yang masih tersisa dibeberapa markasnya,dan juga sepasang putra dan putrinya yang sangat ia sayangi.Bagaimana caranya ia akan menjaga mereka semua,kalau dirinya malah pergi begitu saja.


"Baiklah.Aku akan memaafkanmu,tapi apakah kamu mampu melakukan apa yang akan aku perintahkan?" tanya Sebastian dengan nada seriusnya dan juga wajah tegasnya,setelah ia sudah selesai menghela napas pelan,sambil berdiri dari posisinya tadi.


"Tuan Muda......" Billy yang merasa keberatan dengan keputusan Tuan Mudanya kali ini itupun hanya mampu terdiam kembali,saat ia melihat isyarat tangan Tuan Mudanya yang menandakan kalau dirinya tidak boleh ikut campur.

__ADS_1


'Ini sudah kedua kalinya,Tuan Muda bersikap seperti ini...' batin Billy dengan wajah kesalnya, karena pada 6 bulan yang lalu Tuan Mudanya juga memaafkan salah satu musuh mereka.


Walaupun ia tahu kalau musuh mereka tersebut memang pantas diberi kesempatan untuk hidup juga,karena musuh tersebut hanya dipaksa oleh orang lain atau musuh mereka yang lainnya.


__ADS_2