Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 54


__ADS_3

Ya,ia lupa kalau orang-orang luar memang sangat jarang bisa bertemu langsung dengan dirinya,karena ia selalu mengutus Billy untuk melakukan hampir semua tugas pertemuannya,kecuali beberapa pertemuan yang menurutnya penting.


"Tapi Tuan Muda,posisi Ayahnya Nona Rebeeca lumayan tinggi,karena Ayahnya seorang pengusaha terkaya no 15 dan juga seorang yang memiliki hubungan baik dengan beberapa organisasi-organisasi profesi wartawan.Tuan Muda,aku hanya takut kalau akan ada banyak wartawan yang akan berkerumunan didepan perusahaan nanti" ucap Sekretaris tersebut dengan wajah takutnya dan juga panjang lebar,sambil sedikit menundukkan kepalanya dan juga mengintip punggung Tuan Mudanya yang tidak bergerak sedikitpun.


Ia takut kalau Tuan Mudanya akan memarahinya tapi ia juga mengkhawatirkan tentang apa yang akan wanita itu lakukan nanti,hingga membuat dirinya menjadi serba salah harus melakukan apa saat ini.


Sedangkan Sebastian,ia menghela napas dengan pelan untuk menahan rasa kesalnya karena perkataan panjang lebar Sekretarisnya barusan.


Itulah perbedaan antara Sekretaris pria itu sama Billy , walaupun masih memiliki setengah kecerdasan yang sama dengan Billy,tapi Sekretaris tersebut lebih takut menghadapi resiko,beda dengan Billy yang tidak takut pada ancaman apapun.


Padahal,dengan peringkat kekayaannya yang sudah mencapai angka ke 2 ,dan ditambah lagi dengan kecerdasan luar biasa yang ia miliki itu,siapa yang mampu mengancamnya,apa lagi hanya ancaman kecil seperti itu saja.


"Persilakan dia masuk..." perintah Sebastian dengan singkat dan nada tegasnya,sambil menghela napas pelan yang ntah sudah keberapa kalinya.


Jari-jarinya dan kepalanya sudah lelah karena terus menanda tangani dan memeriksa dokumen-dokumen yang seperti tidak ada habis-habisnya itu,jadi iapun tidak mau menambahkan rasa lelahnya dengan berdebat sama Sekretaris tersebut lagi.


"Baik,Tuan Muda" jawab Sekretaris tersebut dengan cepat dan menghela napas lega,ia segera sedikit menunduk hormat dan langsung berjalan keluar dari sana untuk membawa wanita yang bernama Rebeeca itu keruangan Tuan Mudanya.


Ia harus membuat wanita yang bernama Rebeeca itu mendapatkan lampiasan kekesalan atau tatapan tajam dari Tuan Mudanya,dan ia harap, dengan hal itu Rebeeca tidak akan berani memaksa seperti ini lagi.


Sedangkan Sebastian,iapun kembali melanjutkan perkerjaannya dengan wajah herannya yang ditujukan untuk Rebeeca.


Beberapa menit kemudian...


"Tok tok tok..." kembali terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk..." jawab Sebastian dengan nada tegasnya,tanpa menghentikan perkerjaannya.


"Ceklek..." terlihat Sekretaris tersebut yang masuk bersama seorang wanita cantik yang berjalan dibelakangnya.


"Tuan Muda,ini Nona Rebeeca" ucap Sekretaris tersebut dengan nada pelannya,sambil menunduk hormat kearah punggung Tuan Mudanya.


Sedangkan Rebeeca,ia sibuk menelisik punggung lebarnya Presdir yang terlihat sangat kekar.Pria yang selalu membuat dirinya merasa penasaran selama beberapa bulan ini,dan sangat ingin ia temui dengan cara apapun akan ia lakukan.


Sekarang ia sudah berhasil melihat sosok pria yang selalu ia dambakan karena karena kekayaan yang telah dimilikinya,dan selalu ia bayangkan bagaimana wajah tampannya karena sangat sulit untuk ia temui.


"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat,sambil menanda tangani dokumen yang baru saja selesai ia periksa.


Lalu iapun berbalik badan dengan kursi miliknya,dan dengan terpaksa meninggalkan beberapa dokumen yang masih belum ia periksa lagi.


Terlihat seorang wanita cantik yang sedang berdiri disampingnya Sekretaris tersebut dengan dress yang lumayan pendek,tapi masih lebih cantik Jennifer dimatanya.Dan seperti biasa yang Billy katakan,kalau wanita tersebut selalu berpakaian seksi dan menggoda.Tapi apapun yang ada didirinya wanita tersebut,tidak ada satu halpun yang berhasil menarik perhatiannya.

__ADS_1


Ntah kenapa tiba-tiba saja ia jadi memikirkan wanita menyebalkan itu dan berharap kalau Jennifer yang berada dihadapannya saat ini.Sedari tadi pagi hingga 3 jam yang lalu,Jennifer terus saja mengiriminya chat,ntah sudah ada berapa puluh chat manis yang dikirim oleh Jennifer dan masuk kedalam HPnya tapi kenapa malah wanita penggoda ini yang berada dihadapannya saat ini.


"Silakan duduk,Nona Rebeeca..." ucap Sekretaris tersebut dengan sopan dan mempersilakan Rebeeca,tapi malah mampu membuat dirinya menjadi kesal karena Rebeeca malah sibuk terpaku dengan wajah tampan Tuan Mudanya.


"Nona Rebeeca..." panggil Sekretaris tersebut lagi,dengan nada kesalnya,tapi ternyata panggilannya malah kembali diabaikan.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menahan perasaan kesalnya sambil menatap tajam kearah Sekretaris tersebut,dan mengabaikan tatapan mendambanya Rebeeca yang terlihat tidak ingin berkedip.


Inilah salah satu tatapan yang paling tidak ia sukai,hampir semua wanita yang ia temui secara tidak sengaja,selalu bertingkah seperti itu dan suka menyembunyikan sikap aslinya dihadapannya.


Ya,kecuali Jennifer yang selalu terang-terangan menampilkan rasa kesal,mengeluh,marah,dan memperlihatkan jelas apa maksud dia dihadapannya.


"Ehm ehm ehm..." dehem Sekretaris tersebut dengan cepat dan nada tingginya saat ia mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Mudanya.


"Ma Maaf,tadi aku sedang memikirkan tentang kerja sama kita,hingga tidak mendengarkan suaramu" ucap Rebeeca dengan nada gugupnya sambil menatap malu kearah Sebastian yang sudah berdiri dari duduknya setelah rasa kagetnya sudah mengurang.


"Oh,tidak masalah Nona.Kalau begitu,sekarang silakan duduk dulu,Nona" ucap Sekretaris tersebut dengan menahan rasa kesalnya,sambil kembali mempersilakan Rebeeca untuk duduk.


"Baik,terima kasih" ucap Rebeeca dengan nada lembutnya,sambil berjalan kearah sofa sana dengan langkah menggodanya.


'Dasar wanita penggoda...' batin Sekretaris tersebut dengan perasaan kesalnya,saat ia melihat Rebeeca melangkah dengan melenggak-lenggokkan pinggul seksinya,ditambah lagi dengan dressnya yang terlalu pendek dan bagian atasnya yang terlalu terbuka hingga hanya menutupi sedikit bagian put*ng kedua gunung kembarnya saja.


"Aku sangat senang,karena akhirnya aku bisa juga bertemu denganmu,Tuan.Perkenalkan,aku Rebeeca..." ucap Rebeeca dengan nada senangnya,sambil mengulurkan tangannya kearah Sebastian yang hanya diam saja dan sama sekali tidak berniat ingin menyambut uluran tangannya tersebut.


"Maaf,Nona...Tapi Tuan Muda kami alergi sama tangannya wanita" ucap Sekretaris tersebut dengan menahan tawa,karena itulah yang diajarin oleh Tuan Billy padanya saat 1 minggu yang lalu.


"Oh,baiklah.Tidak apa-apa,aku bisa mengerti tentang alergi yang semacam itu" ucap Rebeeca dengan terpaksa menahan rasa kesalnya sambil ikut menyilangkan kakinya supaya terlihat lebih menggoda,karena ia harus bisa menaklukkan pria tampan yang hampir sempurna ini,dan ia harus dapat memilikinya.


Walaupun ia merasa tidak percaya tentang alergi tersebut,tapi ia harus tetap terlihat seperti wanita lembut dan juga wanita yang tidak suka mempermasalahkan masalah-masalah kecil.


Sedangkan Sebastian,ia hanya sibuk menatap kebawah dengan posisi kaki menyilang dan punggung yang sedikit bersandar kebelakang, sambil menatap HP miliknya untuk mengecek chat-chat dari Jennifer yang mungkin saja sudah ada chat yang baru saja masuk saat ini.Padahal chat tersebut sudah akan terlihat tanpa perlu ia membukanya,dan hanya perlu ia nyalakan saja.


Tapi walaupun begitu,pendengarannya tetap terpasang dengan baik,dan ia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang apa yang barusan sedang dikatakan oleh Sekretaris tersebut.


"Aku ingin bertanya,bagaimana caranya aku memanggilmu,Tuan? Bolehkah aku memanggil namamu saja,Tuan" tanya Rebeeca dengan suara lembutnya,sambil menatap penasaran kearah layar HP yang sedang ditatap oleh Presdir tampan tersebut saat ini.


"Nona,Nona bisa tetap memanggil Tuan Muda dengan panggilan Tuan saja.Karena hanya keluarga saja yang boleh memanggil Tuan Muda dengan namanya " lagi-lagi Sekretaris tersebut yang harus menjawabnya dengan nada sopannya,saat ia melihat Tuan Mudanya yang masih tetap dengan diamnya.Apa lagi,ia bisa menebak benar tentang modusnya Rebeeca tersebut.


"Oh,sayang sekali kalau begitu.Tapi bukankah kita bisa berteman dulu,Tuan.Mana tahu saja,kita cocok untuk hal yang lainnya,mungkin juga akan cocok untuk semua hal" ucap Rebeeca dengan berusaha mempertahankan suara lembutnya.


"Nona,Tuan Muda kami tidak akan mau menerima teman wanita selain Ibunya saja.Nona ,aku sarankan,sebaiknya Nona sudah boleh mulai membicarakan apa maksud dari kedatangan Nona kesini..." jawab Sekretaris tersebut yang sudah mulai tidak bisa menahan rasa kesalnya,karena Rebeeca malah sengaja berbasa basi dengan beberapa modusnya itu.

__ADS_1


"Tuan,bisakah kita berbicara berdua saja.Aku tidak suka kalau ada orang lain yang menganggu pembicaraan kita,dan aku rasa Sekretarismu ini terlalu banyak ikut campur dan juga sangat tidak sopan pada tamu..." ucap Rebeeca dengan nada manja yang bercampur kesal,sambil menatap kesal kearah Sekretaris tersebut yang terlihat tetap tenang saja,lalu ia kembali menatap lembut kearah Sebastian.


Sebastian yang memang sudah tidak bersemangat karena belum ada satupun chat baru dari Jennifer itupun,langsung menatap tajam kearah Rebecca sambil menahan rasa kesalnya setelah ia sudah melirik sekilas kearah jam yang ternyata sudah hampir jam 12 siang,dan sudah waktunya ia akan makan siang saat ini.


"Nona,apa yang pria ini katakan,semuanya termasuk jawabanku juga.Dan aku rasa dia sama sekali tidak menganggu,karena dia adalah keluargaku.Dia juga akan bersikap sopan kalau orang yang ia hadapi juga bersikap sopan.Apa kamu sudah mengerti,Nona" jawab Sebastian dengan nada tegas dan menyindirnya dan juga wajah seriusnya,sambil melirik sekilas kearah Dressnya Rebeeca yang seperti kekurangan bahan saja.


Berbeda dengan Sekretaris tersebut yang langsung tersenyum kecil dengan hati yang sangat bahagia saat ia mendengar kata "Keluargaku" dari Tuan Mudanya,Rebeeca malah marasa sangat malu dengan sindiran Presdir tampan tersebut,tapi ia tetap berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan serapat mungkin.


"A aku mengerti,Tuan " jawab Rebeeca dengan nada gugupnya,sambil sedikit menundukkan kepalanya,karena saat ini Sebastian sedang memberinya tatapan tajam yang terlihat menakutkan dimatanya


"Katakan saja langsung apa maumu, sampai kamu memaksa untuk bisa bertemu denganku?" tanya Sebastian dengan menatap tajam kearah Rebeeca yang masih duduk dengan wajah malunya yang tetap saja terlihat olehnya.


"I itu,itu karena aku ingin membahas tentang kerja sama proyek Perusahaan kita hari itu,Tuan..." jawab Rebeeca dengan nada gugupnya karena merasa semakin takut dengan tatapan tajamnya Sebastian.


"Bukankah hari itu,kalian sudah membahasnya dengan Billy, Asistenku?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,tanpa mengurangkan tatapan tajamnya kearah wajah gugupnya Rebeeca.


"Ta tapi,masih ada beberapa yang harus kita bahas lagi.Karena pembangunan itu sedang memiliki sedikit masalah saat ini,Tuan" jawab Rebeeca dengan asal,padahal semuanya masih baik-baik saja.


Sedangkan Sebastian,keningnya langsung mengernyit heran,sambil mengalihkan tatapan tajamnya kearah Sekretaris tersebut.


"Tuan Muda,setahu aku semuanya baik-baik saja.Kalaupun ada masalah,kenapa Tuan Vallon Rajaksa tidak mengabari kita terlebih dahulu..." jawab Sekretaris tersebut dengan wajah bingungnya saat ia mendapatkan kembali tatapan tajam Tuan Midanya itu,karena setahunya proyek antar 2 Perusahaan tersebut yang sudah berjalan hampir 4 bulan itu selalu berjalan dengan baik,dan sekarang hasilnya sudah mencapai hampir 90 persen.


"Ayahku tidak mengabari kalian karena Ayahku ingin aku langsung datang kesini untuk menyampaikannya pada kalian" ucap Rebeeca dengan karangannya untuk menjawab rasa bingungnya Sekretaris tersebut,sambil mengeluarkan beberapa dokumen yang sudah ia bawa tadi dan sedikit merubahnya supaya dirinya tidak akan ketahuan oleh Sebastian.


"Benarkah begitu?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya dan tetap dengab tatapan tajamnya,sambil menurunkan kaki menyilangnya tadi.


"Tentu saja benar,Tuan.Jika Tuan tidak percaya,silakan Tuan memeriksanya saja" jawab Rebeeca dengan wajah yang berpura-pura serius,sambil menyodorkan dokumen-dokumen tersebut yang langsung diambil oleh Sekretaris Sebastian.


"Tuan Muda..." panggil Sekretaris tersebut dengan nada khawatirnya saat ia melihat wajah tenang Tuan Mudanya yang mulai berubah menjadi kesal, karena ia takut kalau dirinya akan mendapatkan amukan akibat dari dirinya yang tidak memeriksa pembangunan gedung yang sedang menjadi kerjasama antara Tuan Mudanya dan Ayahnya Rebeeca tersebut.


'Apa saja yang dilakukan oleh Billy?' tanya Sebastian didalam hatinya sambil terus menelisik semua isi dokumen tersebut,dan ia melihat kalau isi dokumen tersebut yang dalam seminggu ini,yang memang terdapat sedikit masalah,dengan bahan bangunan yang sedikit berkurang,dan juga beberapa masalah kecil yang lainnya lagi.


Dan ia ingat betul,kalau dalam seminggu ini Billy masih belum memberinya laporan apapun tentang kerjasama pembangunan tersebut.


Hingga ia melupakan sesuatu kalau dirinya sendirilah yang telah memerintahkan Billy untuk melakukan tugas yang baru tersebut.


Sementara diluar Perusahaan sana...


Terlihat Jennifer dan Billy yang baru saja sampai didepan Perusahaan Tuan Mudanya,dan mereka berduapun langsung keluar dari dalam mobil dengan gaya khas mereka masing-masing.


"Ternyata priaku hebat juga,padahal aku baru saja meninggalkannya selama 1 tahun saja,tapi priaku sudah mampu berhasil dengan waktu yang begitu singkat" gumam Jennifer dengan nada santainya dan kedua mata yang menelisik setiap sudut dan ruangan,sambil berjalan masuk kedalam perusahaan tersebut dengan langkah pelannya dan juga menenteng makan siang yang sudah ia buat tadi dengan sepenuh hatinya untuk Sebastian.

__ADS_1


__ADS_2