
Kembali kesaat sekarang...
Seperti sebelumnya,semuanya masih setia dengan diam mereka,belum ada yang berani berbicara karena Tuan rumah masih belum buka suara,hingga akhirnya...
"Tuan,Nyonya,maaf,kalau aku tidak sopan...Tapi bisakah Tuan dan Nyonya langsung bicara saja,apa maksud dari kalian,sampai harus menjemput kami datang kesini?" tanya Ibu dengan nada tidak sabarannya dan wajah penasaran yang sedang menahan rasa kesalnya, karena sudah 10 menit mereka semua saling diam.
Padahal masakan makan siangnya dirumah mereka tadi masih belum selesai,lalu mereka tiba-tiba saja dijemput paksa,tapi sekarang mereka malah didiamin seperti ini.Dan rasa penasarannya itu sudah ia tahan,sedari perjalanan mereka dari rumah tadi.
Ia juga belum sempat berbicara sepatah katapun sama putra tampannya itu,karena waktunya disini tadi,hanya dihiasi oleh obrolan ringannya Jennifer dan Mommynya saja.Dan lihatlah,suaminya dan Daddynya Jennifer bahkan saling menatap dengan tatapan tenang mereka.Ia bertanya-tanya,apakah mereka berdua sedang telepati sekarang...
"Pertama-tama,bukankah aku sudah mengatakannya sedari tadi, jangan terlalu formal sama kami,panggil saja nama kami..." jawab Daddy dengan nada santainya tapi terdengar memaksa ,tanpa mengalihkan tatapannya dari Ayahnya Sebastian.
"Biar aku ulangi lagi,namaku Syntia dan suamiku bernama Arka...Mana tahu saja,kamu sudah lupa..." timpal Mommy dengan wajah yang tersenyum tulus.
"Baiklah.Kalau kalian memaksa,kali ini aku akan memanggilnya seperti yang kalian mau saja..." jawab Ibu dengan wajah yang tersenyum segan, karena dirinya memang jarang sekali berteman dengan Ibu-Ibu dari kalangan orang kaya akibat dari dirinya yang memang tidak begitu suka keluar rumah,walaupun dirinya telah menjadi Ibu dari seorang pria yang sangat kaya sekarang.
Dan perkataannya barusanpun, langsung ditanggapi dengan senyuman senangnya Mommy yang disertai dengan anggukan pelan.
"Dan kami menjemput kalian untuk,,,lebih tepatnya kami mengundang kalian untuk membicarakan tentang pernikahan anak kita..." ucap Daddy,ia melanjutkan perkataannya yang belum selesai tadi karena ditimpali oleh istrinya.
Ia berbicara dengan nada tegasnya,sambil mengalihkan tatapan tenangnya kearah Ibunya Sebastian yang langsung merasa kaget.
"Apa? Pernikahan anak kita?" tanya Ibu dengan wajah kagetnya,sambil menatap kearah wajah datarnya Sebastian sebentar,lalu kearah wajah malunya Jennifer,dan kembali kewajah tenang dan senyumnya kedua orang tuanya Jennifer.
"Iya.Kami harap,kamu dan suamimu tidak akan keberatan dengan pernikahan anak kita yang tiba-tiba ini..." ucap Mommy dengan nada dan wajah yang tersenyum serius karena ia memang masih belum mengatakan apapun tentang Sebastian dan Jennifer pada Ibunya Sebastian, pada saat mereka sibuk memasak tadi.
Ia berharap didalam hatinya kalau kedua orang tuanya Sebastian tidak akan sulit untuk diajak bicara.
Sedangkan Ayah yang memang sudah tahu,hanya tetap setia dengan wajah tenangnya saja,dan juga dengan Stella yang langsung tersenyum senang, karena memang itu yang ia inginkan sedari dulu.
"Maksudmu,putraku Sebastian dan putrimu Jennifer?" tanya Mommy dengan wajah tidak percayanya,ia ingin memastikan apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Benar.Dan kami harap kalian juga tidak akan keberatan,karena kami akan langsung melaksanakan pernikahan mereka pada besok pagi,karena Sebastian telah melakukan hal yang tidak wajar sama putriku Jennifer..." jawab Mommy dengan panjang lebar,sambil menelisik wajah kedua orang tuanya Sebastian yang berbeda ekspresi itu.
"Akhirnya,putraku satu-satunya akan menikah juga...Tapi tunggu dulu,tunggu dulu...Kamu mengatakan apa tadi? Sebastian telah melakukan hal yang tidak wajar pada Jennifer? Apa maksudmu yang sebenarnya?" jawab Ibu dengan wajah yang tersenyum senang sambil menatap senang kearah wajah datarnya Sebastian.
Tapi hanya sebentar saja,karena ia langsung menampilkan ekspresi bingung diwajahnya saat ia baru menyadari kalimat dari Mommynya Jennifer yang malah terdengar membingungkan itu.Iapun segera kembali mengalihkan tatapan bingungnya kearah Mommynya Jennifer....
"Ehm ehm...Tadi pagi kami menemukan,kalau putra kalian seranjang bersama Jennifer dikamar tamu.Dan aku rasa,tidak perlu aku perjelaskan lagi,kamu pasti sudah bisa langsung mengerti apa maksudku ini..." jawab Mommy dengan nada dan wajah kesal yang dibuat-buat.
Ia bahkan harus menahan rasa malunya dan sama sekali tidak berniat ingin menceritakan secara detail tentang hal memalukan itu,walaupun hal tersebut akhirnya hanya sebuah karangan darinya saja.
"Apa? Seranjang?" tanya Ibu dengan wajah tidak percayanya sambil menatap kesal kearah Sebastian yang wajah datarnya masih tidak berubah sedikitpun.
__ADS_1
"Seranjang?" begitu juga dengan Stella yang juga ikut merasa tidak percaya dan bergumam pelan,karena setahu dirinya, kakaknya itu sangat anti wanita.
Tapi apa yang sedang ia dengar sekarang,,,kenapa malah terdengar bukan seperti kakaknya saja...
"Kalau kalian tidak percaya,kalian boleh langsung bertanya,pada pelakunya saja..." jawab Mommy dengan nada kesalnya,sambil menunjuk kearah Sebastian,dengan ekor matanya.
Sedangkan Ibu dan Stella,mereka berduapun langsung menatap kesal kearah Sebastian yang langsung membalas tatapan mereka dengan tatapan kesalnya juga.
"Jangan menatapku seperti itu,aku bahkan sama sekali tidak ingat dengan apa yang telah aku lakukan tadi malam..." jawab Sebastian dengan nada kesalnya,sambil mengalihkan tatapan kesalnya lurus kedepan kembali.
Apa lagi,saat ia mendengar kata "Pelaku" pada perkataan Mommynya Jennifer barusan.Siapa yang tidak akan merasa kesal,hanya dalam semalam saja,status bersihnya mampu berubah menjadi tersangka,berkat Jennifer.
"Kalau begitu,mohon maafkan kami karena kami tidak mengajari putraku dengan baik,hingga Sebastian sampai membuat hal yang tidak pantas pada putri kalian..." ucap Ibu akhirnya,dengan wajah malunya karena perbuatannya Sebastian tersebut,sambil menatap kearah Mommynya Jennifer dan juga melirik sekilas kearah wajah tenang suaminya, setelah ia terdiam untuk beberapa detik tadi.
'Kenapa suamiku masih bisa setenang ini,walaupun sudah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Mommynya Jennifer tadi...' lanjut Ibu didalam hatinya,dengan perasaan heran dan bingungnya.
Tapi walaupun ia merasa sangat kesal,malu dan juga bingung,sejujurnya ia merasa sangat senang dengan kabar baik ini.Apa lagi,ia sudah bercengkraman bersama Jennifer dan Mommynya didapur tadi.
Dan ia bisa menilai dengan cepat,kalau Jennifer tidak seperti wanita kaya yang lainnya,yang sombong dan suka milih-milih perkerjaan.
"Tidak masalah,tapi yang terpenting,kami ingin mereka segera menikah.Dan,pernikahan mereka harus segera dilaksanakan pada besok pagi. Bagaimana menurut kalian?" ucap Mommy dengan nada dan wajah yang tersenyum seriusnya.
"Baiklah.Tidak masalah,terserah pada kalian saja,kami akan ikut saja..." jawab Ibu dengan nada lambatnya dan wajah yang tersenyum malu,saat ia melihat kalau sama sekali tidak ada ekspresi marah diwajahnya mereka.
Lagi pula,mereka semua sangat ramah,dan Jennifer juga terlihat seperti wanita yang baik,terlebih menurutnya Jennifer cocok untuk putra datarnya itu.Dan ia juga tidak mampu membela putranya sedikitpun,karena Sebastian yang salah kali ini.
Sedangkan Jennifer,sedari tadi ia hanya mampu menampilkan wajah malunya saja,mulutnya tidak lagi berisik seperti didapur tadi.
Apa lagi,saat ia mendengar tentang seranjang atau perbuatan tidak pantas tersebut.Didalam hatinya ia jadi merasa bersalah karena tuduhan palsunya tersebut yang sengaja ia jebakkan pada Sebastian.
"Tapi kemana kita akan mencari seorang pendeta, dalam pernikahan mendadak ini?" tanya Ibu dengan pikiran lugunya,ia lupa kalau hanya untuk mencari seorang pendeta saja,hal tersebut termasuk salah satu hal yang sangat mudah untuk dilakukan oleh Daddynya Jennifer.
"Itu bukan masalah bagi kami,kalian tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu...Tapi bagaimana menurutmu,Tuan Hendra?" jawab Daddynya Jennifer dan sekalian bertanya pada Ayahnya Sebastian,dengan nada santainya,karena sedari tadi mereka sama sekali,masih belum mendengar suara Ayahnya Sebastian.
"Aku juga tidak akan merasa keberatan...Karena memang hal itu juga yang sedang kami harapkan sedari dulu,hanya saja kami tidak menyangka akan secepat ini..." jawab Ayah dengan wajah yang tersenyum santainya,sambil melirik sekilas kearah wajah kesalnya Sebastian yang langsung mendengkus kesal.
Sedangkan yang lainnya,kecuali Daddy dan Sebastian,mereka semua yang awalnya menampilkan wajah khawatir mereka karena takut kalau Ayah akan melarang atau berniat ingin berdebat.
Tapi kemudian mereka langsung tersenyum lega,saat mereka mendengar kalau tidak ada kata penolakan sedikitpun pada kalimat santainya Ayah barusan.
'Sepertinya,aku harus terbiasa menjadi orang bod*h saja...' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,sepertinya tidak ada gunanya juga ia menolak lagi,karena tidak ada satupun orang yang ada disana,yang memihak padanya ataupun memikirkan perasaannya sedikitpun.
Dirinya bahkan seperti bayangan semu saja,bagi mereka semua.Dan yang lebih parahnya lagi, bawahannya pun telah dibuat tidak berkutik sama Daddynya Jennifer.
__ADS_1
"Kalau begitu,apa kalian tidak akan keberatan,kalau kalian harus tinggal disini untuk 1 hari lagi, menjelang besok pagi? Atau beberapa lagi,juga boleh..." tanya Daddy dengan nada memaksa dan wajah seriusnya.
"Baiklah,kami tidak akan keberatan sama sekali..." jawab Ayah dengan nada santainya,sedangkan Ibu,ia hanya mampu mengangguk-nganggukkan pelan kepalanya dan sekali-kali menatap heran kearah suaminya tersebut.
'Ternyata Ayahnya Sebastian,mudah diajak bicara juga,tidak seperti orang lain yang banyak maunya dan banyak protesnya...' batin Daddy dengan tersenyum senang dihatinya,ternyata Ayahnya tidak keras kepala seperti putranya Sebastian. Hanya saja, cara mereka bicara sama,singkat dan jelas,dan tidak suka berbelit-belit.
"Baiklah.Kalau begitu,sekarang kita akan mulai langsung membicarakan tentang hari bagus untuk hari resepsi pernikahan putra dan putri kita saja...Bagaimana?" tanya Daddy lagi,dengan nada dan wajah seriusnya kembali.
"Baiklah.Tapi aku harap,kalian juga tidak akan keberatan bukan? Kalau biaya dari semua acara resepsi pernikahan nanti,kami yang akan bertanggung jawab sepenuhnya.Bagaimana?" kali ini gantian Ayah yang bertanya,dengan nada dan wajah seriusnya dan juga tegas.
Akan memalukan bukan,jika pernikahan putranya,mereka tidak mengeluarkan biaya sedikitpun.Lagi pula Sebastian sekarang,sudah mampu membiayai berapa banyakpun,bahkan masih mampu untuk puluhan pernikahan lagi,kalau saja Sebastian menginginkannya.
'Ternyata ada juga yang memikirkan perasaanku... Ya,walaupun hal itu sama sekali tidak mampu mengurangi segala rasa kesalku ..' batin Sebastian dengan wajah yang masih saja kesal,saat ia mendengar tentang harga diri dari Ayahnya.
"Baiklah,tidak masalah..." jawab Daddy akhirnya,setelah ia selesai berpikir untuk 30 detik lamanya.
"Baiklah.Sekarang mari,kita tentukan hari bagus untuk Jennifer..." ucap Mommy dengan nada dan wajah yang tersenyum senang.
"Baiklah.Bagaimana kalau dengan hari............" jawab Ibu dengan nada dan wajah tersenyum senangnya juga,akhirnya mereka semuapun membicarakan hari bagus untuk hari resepsi pernikahannya putra dan putri mereka,dan juga yang lain-lainnya.
Mereka bahkan benar-benar mengabaikan Sebastian,hingga obrolan menyenangkan mereka berakhir.
Sedangkan Stella,ia segera mengajak Jennifer yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya yang sebenarnya pada besok pagi,ia membawa Jennifer kesudut sofa sana,untuk mengobrol tentang kejadian tersebut dan juga obrolan ringan lainnya.
Dan meninggalkan Sebastian yang hanya bisa duduk terdiam pasrah saja,ingin pergi dari sanapun ia tidak mampu,sudah pasti Ayahnya akan memarahinya.Iapun berusaha untuk menutupi kedua telinganya dengan tisu,tapi nyatanya tisu tersebut tidak mampu menutup kebisingan tersebut dari pendengarannya
'Kapan penderitaanku akan berakhir,kalau seperti ini ceritanya...' batin Sebastian dengan wajah kesal dan juga malas,sambil menyandarkan kepala pusingnya kebelakang dan memejamkan kedua matanya,setelah ia sudah melirik sekilas kearah Jennifer untuk beberapa detik.
***
Jarum jam terus berputar,hingga hari berganti hari dengan cepat tanpa siapapun yang mampu mencegahnya.
Seperti sekarang ini,paginya sudah tiba,dan Sebastian hanya mampu terus menghela napas yang ntah sudah keberapa puluh kalinya sedari ia bangun tidur tadi,karena dirinya tidak mampu mengundurkan waktu atau berbuat apapun lagi.
"Lihatlah,begitu semangatnya mereka...Bahkan mereka telah menyediakan Jas yang sebagus ini untukku...Sepertinya,nanti aku memang harus berterima kasih pada mereka karena sudah menyiapkan yang terbaik untukku dan keluargaku..." gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah kesalnya,sambil berdiri didepan cermin sebesar dirinya, yang ada didalam kamar tersebut.
Kedua orang tuanya Jennifer bahkan telah menyediakan pakaian-pakaian bagus untuk keluarganya,sedari beberapa hari yang lalu.Dan sekarang,mereka semua sudah berada di Gereja, kecuali Sebastian yang ingin merapikan diri di Mansion saja.
Sebastianpun sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya kekiri dan kekanan,sambil memerhatikan seluruh penampilan barunya saat ini,dan juga Jas mahal yang telah melekat rapi ditubuhnya sedari 10 menit yang lalu.
Sekarang sudah jam 7 pagi lewat 30 menit,dan 30 menit lagi ia harus berada disebuah Gereja,dimana sumpah pernikahannya akan mereka berdua ucapkan disana,karena acara pernikahannya tersebut akan dimulai pada jam 8 pagi ini.
"Yang benar saja...Apakah aku benar-benar akan menikah pagi ini?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri sambil menghela napas pelannya,ia masih merasa tidak percaya,sampai saat ini.
__ADS_1
Kemudian Sebastianpun mengeluarkan cincin yang selalu ia bawa kemana-mana itu,dan iapun menatap secara bergantian,cincin yang masih didalam kotak kecil tersebut yang berada digenggamannya dan cincin yang sedari tadi masih terbungkus rapi diatas meja kaca tersebut,cincin yang telah dipersiapkan oleh Aldy untuknya,atas perintah Daddynya Jennifer.
Lalu setelah ia menatap selama 30 detik lamanya, Sebastianpun akhirnya memilih untuk menyimpan kembali cincin miliknya tersebut kesaku kiri Jasnya,lalu ia juga menyimpan cincin yang telah disediakan oleh Aldy itu kesaku kanan Jasnya.