Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 38


__ADS_3

"Jadi kalau begitu,apakah Sebastian harus mencintaimu juga,sayang?" tanya Erik dengan kening yang mengernyit heran sama jawabannya Elisa barusan,sambil menatap Elisa yang langsung menatap kesal kearahnya..


Karena ia jadi bertanya-tanya didalam hatinya,apakah sang kekasih sedang menaruh hati sama sahabatnya Sebastian saat ini.Walaupun ia tahu,kalau itu hanya sekedar tatapan kagum kekasihnya saja,tapi tetap saja ia merasakan cemburu.


"Aku rasa,memang harus begitu" jawab Elvan dengan wajah yang tersenyum menggoda sambil meminum kopi buatannya tadi,ia sengaja ingin memanasin Erik,hingga mampu membuat Erik langsung mendengkus kesal kearahnya


"Apakah kamu juga menginginkan hal itu terjadi,sayang?" tanya Elisa dengan nada lembutnya,sambil menahan rasa kesalnya karena sikap Erik yang suka sekali cemburuan.


"Tentu saja tidak,sayang" jawab Erik dengan cepat,sambil memeluk Elisa dari samping dengan sayang dan wajah kesal yang sudah mengurang.


"Aku mengira,kalau tadi kamu sedang menginginkannya juga" ucap Elisa dengan wajah yang tersenyum lucu,sambil mengelus-elus tangannya Erik yang sedang berada dipinggulnya.


Berbeda dengan mereka berdua yang asyik dengan saling menatap mereka,Elvan malah terus menatap lurus kedepan dengan sisi gelas kopi yang masih ia pegang dan juga masih berada diantara bibir tipisnya,sambil menahan senyumnya saat ia melihat siapa yang sedang berdiri disekitar mereka ber 3 saat ini.


"Itu tidak akan pernah terjadi,sayang.Kalaupun itu sampai terjadi,aku pasti akan membunuh Sebastian dengan tanganku sendiri saat itu juga.Apa kamu mengerti,sayang?" tanya Erik dengan wajah yang dipenuhi rasa percaya diri,sambil memperagakan gerakan menebas leher kearah Elisa.


"Iya,aku mengerti.Tapi,tetap saja aku meragukanmu" jawab Elisa dengan nada lambatnya tapi tatapannya tadi sudah beralih kesampingnya.


"Sayang,kenapa kamu malah tidak mem per ca yai ku?" tanya Erik dengan wajah herannya sambil mengikuti arah pandangnya Elisa,karena Elisa malah sibuk menatap khawatir kearah samping mereka.Iapun langsung memperlambatkan nada bicaranya,saat ia sudah berhasil mengetahui apa penyebab dari wajah khawatir kekasihnya.


"Apa kamu yakin,kalau kamu bisa membunuhku dengan tanganmu sendiri?" tanya Sebastian yang ternyata sudah berdiri disekitar meja bar tersebut sedari 5 menit yang lalu,sambil bersedekap dada dan menampilkan wajah tegasnya.


"Tentu saja,aku tidak yakin,bro.Kamu benar sayang,kamu memang harus meragukanku,sayang" jawab Erik dengan wajah yang tersenyum cenges-ngesan,sambil mengalihkan tatapannya dari Sebastian ke wajah diamnya Elisa sebentar.


'Bahkan untuk menghindari 1 serangannya saja,aku tidak mampu.Bagaimana caranya,aku bisa membunuhnya.Bisa-bisa,aku duluan yang akan terkapar dengan wajah yang sudah dipenuhi luka semua ' lanjut Erik dengan panjang lebar didalam hatinya,sambil menatap kearah wajah tegasnya Sebastian kembali,masih dengan wajah yang tersenyum cenges-ngesannya tadi.


"Cih..." Sebastian hanya berdecih,saat ia melihat sikap sombongnya Erik yang langsung menghilang karena melihat dirinya tadi.


Kemudian ia langsung berjalan kearah dalam mejanya bar untuk mengambil sedikit wine untuk dirinya sendiri.Lalu dengan membawa wine miliknya,ia berjalan kearah luar meja bar tersebut dan duduk tepat dihadapannya Elvan yang sudah mulai menurunkan gelas kopinya dengan perlahan-lahan.


Sedangkan Elvan,Erik dan Elisa,mereka ber 3 hanya terus memerhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Sebastian.Dan mereka ber 3 langsung menatap penasaran dan juga khawatir,karena tidak biasanya Sebastian meminum wine disore hari seperti ini.Lebih tepatnya sangat jarang,karena Sebastian hanya sekali-kali minum dimalam hari,itupun hanya sedikit saja.


"Apa kamu baik-baik saja,bro?" tanya Elvan dengan wajah seriusnya,dan langsung diangguki pelan oleh Erik dan Elisa secara bersamaan,saat mereka ber 3 melihat Sebastian yang sudah duduk dengan baik dihadapan mereka.


Sebastian tidak langsung menjawab,ia langsung menatap satu persatu ke 3 sahabatnya dengan tatapan santainya.Lalu ia kembali menatap kearah gelas winenya,dan mengangkatnya dengan pelan,sambil menghela napas pelan.


"Aku baik-baik saja" jawab Sebastian dengan nada pelannya,sambil menyesap winenya.


"Ayo lah,bro...Apa kamu tidak menganggap kami sebagai sahabatmu lagi?" tanya Erik dengan nada kesalnya,ia sudah tidak tahan dengan mode diamnya Sebastian yang sudah selama seminggu ini.


"Iya,kami bahkan harus diam saja seperti orang bod*h yang sedang menguntitmu" timpal Elisa yang juga ikut-ikutan merasakan apa yang dirasakan oleh Erik.


"Apa kamu memerlukan ini? Mana tahu saja,bisa untuk mengurangkan beban berat dipundakmu" tanya Elvan dengan nada santainya,sambil menyodorkan sebungkus rokok miliknya yang sudah terhisap 2 batang itu kehadapannya Sebastian.


"Aku tidak memerlukannya,kamu simpan saja" jawab Sebastian dengan jujur dan nada kesalnya sambil mendorong pelan rokok tersebut dengan jari telunjuknya,karena ia memang tidak pandai merokok,atau lebih tepatnya tidak pernah merokok.

__ADS_1


"Baiklah" ucap Elvan dengan wajah yang tersenyum kesal,Sebastian memang pria yang sulit untuk dipengaruhi.


"Dan aku tidak memiliki beban berat dipundakku,aku hanya memiliki sedikit beban dikepalaku saja" lanjut Sebastian lagi,sambil mengangkat gelas miliknya yang hanya berisi sedikit wine itu saja.


Bahkan ia sedikit memutar-mutarkannya dihadapan ke 3 sahabatnya,karena wine miliknya memang hanya sedikit saja,mungkin hanya cukup menyesap untuk 3 kali saja.


"Ya,ya,kami tahu.Tapi apakah kamu tidak bisa sedikit menjelaskannya untuk kami.Mana tahu saja,kami bisa membantumu" ucap Erik dengan wajah malasnya,saat ia melihat Sebastian yang seolah-olah sedang mengatakan kalau dirinya sedang baik-baik saja.


"Kalian? Yang benar saja..." tanya Sebastian dengan wajah yang tersenyum lucu, ia rasa jika ke 3 sahabatnya ditemukan sama Pak tua yang berstatus mafia tersebut,mungkin saja ke 3 sahabatnya akan pingsan ditempat atau mungkin akan melarikan diri terlebih dahulu.


"Iya,kami pasti akan membantumu semampu kami.Bukankah begitu,teman-teman?" jawab Erik dan bertanya pada Elisa dan Elvan,mereka berduapun langsung menjawabnya dengan anggukan kepala dengan pelan dan secara bersamaan.


"Jadi,sekarang kamu hanya perlu memberitahu kami,tentang masalahmu...Bagaimana?" tanya Erik lagi,dengan wajah seriusnya.


Lagi-lagi Sebastian kembali tersenyum lucu,sambil menatap kearah ke 3 sahabatnya.Sebenarnya walaupun ke 3 sahabatnya tidak mampu membantunya sekalipun,tapi ia tetap merasa senang dan juga bahagia karena memiliki ke 3 sahabatnya itu.


Dan saat ini,yang lebih membuatnya menjadi semakin senang lagi,karena ke 3 sahabatnya sudah kembali ke mode santai mereka.Dan hal itu mampu menghibur dirinya,juga sedikit mengusir bayang-bayangan dan kalimat-kalimat mutiaranya Jennifer dari dalam kepalanya.Walaupun ia tahu,kalau hal tersebut hanya berhasil untuk sesaat saja.


"Sudahlah,lupakan saja.Coba kalian katakan...Apa aku terlihat sedang memiliki masalah?" tanya Sebastian dengan nada sombongnya,sambil menyesap sisa winenya tadi.


"Sedikit..." jawab Erik,Elisa dan Elvan secara bersamaan,sambil terus menelisik wajah tampannya Sebastian yang terlihat lebih segar dari pada saat pulang dari dijemput pria-pria yang tidak mereka kenal tadi.


Ya,memang tidak terlihat seperti sedang ada masalah.Hanya saja,tingkah lakunya Sebastian dalam seminggu ini,terlihat sangat aneh.Dan menurut mereka,itu semua sudah menunjukkan kalau sahabat mereka Sebastian sedang tidak baik-baik saja dan mungkin saja ada masalah saat ini.


"Tapi,,," bantahannya Erikpun langsung dihentikan oleh Sebastian.


"Hanya masalah kecil saja...Dan aku pasti akan bicara,jika sudah saatnya...Sekarang,kita harus berkerja terlebih dahulu" sela Sebastian dengan cepat dan nada seriusnya,sambil berdiri dari duduknya.


Ia tidak mau kalau ia memberitahu ke 3 sahabatnya itu,ke 3 sahabatnya itu pasti akan lebih banyak bertanya lagi dan seperti Ayahnya yang menertawai dirinya hari itu.


"Dan satu lagi,seminggu lagi aku akan keluar dan berhenti dari perkerjaanku ini.Tapi kalian tenang saja,aku pasti akan selalu mengunjungi kalian" lanjut Sebastian dengan wajah tegasnya dan juga serius,lalu ia langsung berjalan pergi dari sana untuk mengecek pergantian shift malam karena sudah jam 6 malam lewat saat ini,dan jam segitu memang sudah waktunya pergantian shift para karyawan.


"What? Keluar? Berhenti?" tanya Erik,Elisa dan Elvan secara bersamaan,dengan wajah kaget mereka saat mereka mendengar lanjutannya Sebastian barusan.Bahkan mereka ber 3 langsung berdiri dari duduk mereka,dan menatap tidak percaya kearah punggung lebarnya Sebastian yang sedang berjalan tegas kearah dapur.


"Bas,apa kamu tidak perlu menjelaskan yang ini terlebih dahulu?" tanya Erik dengan nada kesalnya dan sedikit berteriak,karena jarak mereka yang sudah semakin jauh.Ia juga merasa sangat kesal karena Sebastian yang meninggalkan mereka ber 3 begitu saja,dan tanpa menjelaskan apapun pada mereka.


"Apa Sebastian serius dengan perkataannya tadi?" tanya Erik lagi,sambil menoleh kearah kekasihnya dan juga Elvan.


"Ntahlah...Tapi ekspresi wajahnya memang terlihat sedang serius" jawab Elisa dengan nada pelan dan wajah bingungnya.


"Kita lihat dan tunggu saja,seminggu lagi" jawab Elvan dengan wajah penasarannya.


"Apakah kita perlu memasangakan alat pendeteksi kebohongan pada tubuhnya Sebastian,seperti acara-acara di TV yang selalu kita lihat itu?" tanya Erik dengan wajah yang seperti sedang berpikir,sambil menatap serius kearah Elvan dan kekasihnya yang masih ada dalam pelukannya itu.


"Sepertinya kamu harus mencobanya sendiri terlebih dahulu,sebelum kamu mau mengajak kami" jawab Elisa dengan wajah malasnya,sambil melepaskan pelan pelukan mereka dan berjalan pergi dari sana untuk melanjutkan sisa perkerjaannya tadi.

__ADS_1


Walaupun selera humor kekasihnya itu selalu membuatnya merasa kesal dan juga malas,tapi hal itu tidak pernah mengurangi rasa cintanya sedikitpun terhadap Erik.


"Iya,Elisa benar,kali ini aku mendukung Elisa.Dan kamu tidak perlu menambahkan hal yang tidak benar adanya,karena kami tidak pernah ikut menonton bersamamu.Apa lagi,acara seperti acara-acara yang kamu maksudkan tadi" jawab Elvan dengan wajah malas yang sama seperti Elisa,sambil berjalan pergi dari sana untuk pergi buang air kecil.


"Hei,kenapa kalian malah meninggalkan aku sendirian disini? Bukankah apa yang aku katakan tadi,termasuk ide yang bagus? " tanya Erik dengan nada kesalnya dan sedikit berteriak tapi malah diabaikan begitu saja,sambil menatap secara bergantian ke arah punggungnya Elisa dan Elvan yang sedang berjalan berlawanan itu.


"Kalian memang menyebalkan..." lanjut Erik dengan nada pelan dan kesalnya,sambil berjalan dengan langkah tidak bersemangatnya kearah tempat yang Elisa pergi tadi.


"Kali ini,bahkan tidak pernah 1 kalipun kamu tidak mendukung kekasihku itu.Seperti kamu pernah berada dipihakku saja.Dasar menyebalkan..." lanjut Erik lagi,dengan wajah kesalnya sepanjang jalannya menuju kearah sang kekasih,dan gerutuan kesal yang ini ditujukan untuk Elvan.


Elvan memang tidak pernah membelanya sekalipun,karena yang dia bela hanya Elisa dan Sebastian saja.Tapi ia tahu,kalau persahabatan mereka semua tulus.


Dikediamannya Rendra...


"Apa keputusanmu?" tanya Ayah dengan wajah penasarannya.


"Ya,seperti kata Ayah hari itu.Aku hanya mengikuti kata hatiku saja" jawab Sebastian dengan nada santainya,ia sengaja ingin sedikit membalas Ayahnya,walaupun ia tahu kalau Ayah pasti juga akan mampu menebaknya.


Sedangkan Ayah,ia langsung tersenyum kecil tanpa menatap kearah Sebastian.Ia hanya tetap santai saja saat ia tahu kalau Sebastian sengaja memberinya jawaban yang seperti itu.


Dan satu lagi,ternyata putranya juga mencintai wanita yang bernama Jennifer itu karena terbukti dengan keputusan apa yang telah diambil oleh putranya itu.Hanya saja,ya seperti katanya hari itu,putranya itu terlalu b*d*h kalau sudah menyangkut tentang percintaan.


"Apakah kamu sudah memikirkannya dengan baik,nak?" tanya Ayah dengan nada santainya ,sambil meminum coklat panas buatannya sedari 10 menit yang lalu.


"Sudah Yah..." jawab Sebastian dengan nada yang masih santai,sambil menyandarkan tubuh lelahnya kebelakang.


Ya,mereka berdua adalah Sebastian dan Ayahnya Sebastian.Sebastian yang baru saja pulang dari kerjanya tadi langsung berjalan kearah ruang tamu,saat ia melihat Ayahnya yang ternyata masih belum tidur dan sedang duduk disana dengan secangkir coklat yang masih mengeluarkan uap panasnya.


Padahal sudah hampir jam 1 dini,dan ia bisa menebak,pasti ada sesuatu yang ingin Ayahnya katakan.


Dan akhirnya sang ayah memulai pembicaraan mereka juga,setelah mereka duduk dalam diam sekitar 5 menit yang lalu.


"Jadi,bagaimana dengan perkerjaanmu?" tanya Ayah dengan wajah penasarannya,karena sudah sedari hari itu ia berpikir,kalau perkerjaannya Sebastian pasti akan terganggu akibat Sebastian mengambil keputusan tersebut.


"Seminggu lagi aku akan berhenti" jawab Sebastian,sambil menolehkan kepalanya kearah Ayah yang terus saja meminum coklat panas yang sudah menjadi hangat itu.


"Baiklah.Itu termasuk cara penyelesaian yang bagus juga.Tapi Ayah harap,kamu tidak berniat ingin mengikuti jejak pria tua itu kan?" tanya Ayah,sambil menatap serius kearah Sebastian.


"Tentu saja,tidak Yah.Ayah ini ada-ada saja" jawab Sebastian dengan jujur dan wajah yang tersenyum lucu,karena ia memang tidak berpikir untuk memasuki dunia hitam tersebut yang sudah dipastikan akan dipenuh banyak mayat dan juga darah.


"Baguslah,kalau begitu" ucap ayah dengan perasaan yang sudah agak tenang dari pada yang sebelum-sebelumnya,setelah ia sudah memastikan apa yang sedang ia khawatirkan sedari seminggu yang lalu,walaupun rasa khawatirnya belum bisa sepenuhnya menghilang.


"Ayah,jadi hanya itu saja yang ingin kamu ketahui?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,saat ia melihat sang Ayah yang malah berdiri dari duduknya.


"Iya,itu sudah beberapa nak" jawab Ayah dengan menahan senyumnya dibalik wajah tenangnya,saat ia melihat wajah kesalnya Sebastian.

__ADS_1


__ADS_2