Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 58


__ADS_3

"Apa yang telah terjadi pada jari-jarimu?" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya,sambil menelisik plester yang ada dijari telunjuknya Jennifer dan juga menghentikan makannya.


Jenniferpun langsung ikut menghentikan makannya,saat ia mendengar pertanyaan dari Sebastian barusan.


"Mana? Yang ini?" tanya Jennifer balik,dengan wajah malunya,sambil sedikit mengangkat jari-jari terlukanya kearah Sebastian.


"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jari terlukanya Jennifer.


"Ini hanya luka kecil saja,bukan masalah bagiku..." jawab Jennifer dengan nada seriusnya,sambil melanjutkan makannya dan berusaha menormalkan perasaan malunya karena kecerobohannya tersebut.


Walaupun kecerobohan tersebut memang sudah biasa,dan sering juga terjadi pada Ibu rumah tangga yang lainnya atau pada siapapun.Tapi tetap saja ia merasa malu,kalau sampai Sebastian tahu kecerobohannya tersebut.


"Apakah jari-jarimu terluka saat sedang belajar memasak tadi?" tanya Sebastian dengan nada pelannya,ia sudah bisa menebak dengan benar karena ia memang selalu melihat Ibu dan adiknya yang kadang-kadang juga akan terluka,jika sedang mengerjakan perkerjaan dapur.


Lagi pula,ia juga memikirkan tentang Jennifer yang sedang belajar memasak,hanya saja ia tidak tahu kalau Jennifer baru saja belajar memasak untuk pertama kalinya.


"Dari mana kamu bisa tahu?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya yang bercampur rasa malunya,sambil menghentikan makannya,kenapa Sebastian bisa tahu kalau jari-jarinya terluka karena urusan dapur.


"Ya,karena aku cukup sering melihat jari-jarinya Ibu dan Stella terluka saat mereka selesai melakukan perkerjaan dapur.Jadi,luka kecilmu itu sangat mudah untuk bisa aku tebak" jawab Sebastian dengan jujur,sambil melanjutkan makannya.


"Pantasan saja,kamu bisa tahu...Lagi pula,aku baru melakukannya untuk pertama kalinya,tadi aku juga terburu-buru karena takut kalau aku akan terlambat mengantar makan siang untukmu" ucap Jennifer dengan nada santainya tanpa ditanya lagi,sambil meminum pelan air putih miliknya.


Dan perkataannya Jennifer barusanpun mampu membuat Sebastian menghentikan gerakan tangannya walaupun hanya untuk beberapa saat saja,tapi ia tersenyum senang didalam hatinya saat ia mendengar kalau Jennifer melakukan itu semua hanya demi dirinya saja.


"Aku mengatakan semua ini,bukan karena ingin menarik perhatianmu ya...Aku hanya sedang ingin belajar menjadi istri yang baik saja,untukmu" lanjut Jennifer lagi,dengan jujur dan wajah malunya, sambil terus menyendok makan siangnya kembali dan juga melirik wajahnya Sebastian yang masih tetap tidak berekspresi apa-apa,tanpa ia tahu kalau Sebastian terus saja tersenyum senang didalam hatinya.


'B*d*h.Lagi pula jika aku memang memilihmu,kamu tidak bisa memasakpun,itu tidak masalah buatku' batin Sebastian tanpa sadar.


"Lain kali,berhati-hatilah..." pesan Sebastian dengan nada seriusnya,tanpa menghentikan makannya.


"Baik,Honey..." jawab Jennifer dengan nada senang dan wajah bahagianya,karena untuk pertama kalinya ia mendapatkan perhatian dari pria pujaan hatinya itu.


Sedangkan Sebastian,ia hanya terus tersenyum didalam hatinya saja,dan terus mempertahankan wajah datarnya.


Setelah beberapa menit berlalu,Sebastian dan Jenniferpun selesai makan juga,setelah melewati makan siang berserta obrolan ringan yang pembicaranya lebih banyak Jennifer dari pada Sebastian yang hanya banyak mendengar saja.


Beberapa menit kemudian...


"Apa kamu tidak berniat ingin pulang,hm...?" tanya Sebastian dengan nada pelannya,sambil bersedekap dada dihadapannya Jennifer yang sedang duduk manis sambil menatap HP dikursi kerjanya.


"Tidak..." jawab Jennifer dengan singkat dan wajah seriusnya,karena ia terus saja fokus menatap layar HPnya yang sedang menampilkan isi video yang telah Billy kirimkan padanya tadi.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat ia melihat Jennifer yang langsung tersenyum-senyum sendiri karena isi video tersebut.Apa lagi,saat ia mengingat kembali tingkahnya Jennifer yang seperti sedang berebut kursi dengannya tadi.


Karena tadi setelah mereka selesai makan siang,dan Jennifer juga yang sudah selesai membersihkan meja tersebut,Jenniferpun langsung buru-buru duduk dikursi kerjanya,sebelum ia sempat berdiri dari duduknya tadi.

__ADS_1


"Jennifer Amora Naava..." panggil Sebastian dengan nada kesalnya,tanpa menurunkan sedekap dadanya.


"Hm..." jawab Jennifer dengan wajah tidak bersalahnya,bahkan kedua matanya masih saja tetap fokus pada layar HPnya.


"Jika kamu memang belum ingin pulang,lebih baik kamu pergi istirahat saja didalam ruang pribadiku.Apa kamu tidak bisa melihat,kalau aku harus berkerja?..." ucap Sebastian dengan nada pasrahnya dan wajah kesalnya,ia malas berdebat dengan Jennifer karena sisa perkerjaannya tadi masih banyak,dan ia sangat tahu kalau Jennifer juga pasti menyukai tawarannya barusan.


"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan barusan?" tanya Jennifer dengan wajah tidak percayanya,sambil mengalihkan tatapannya dari layar HP kewajah kesalnya Sebastian.


"Iya,anggap saja sebagai niat baikku atas makan siangmu tadi..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah malasnya,sambil memutarkan pelan kursi kerjanya kearah ruang pribadinya.


"Kamu ini menyebalkan sekali..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya sambil menyimpan HPnya,karena ia berharap kalau Sebastian memang sedang perhatian sama dirinya atau mungkin saja sudah mulai mencintainya.


Tapi walaupun begitu,ia tetap merasa senang,karena Sebastian tidak sampai mengusirnya.Dan ia bisa perlahan-lahan mengenal lebih dalam sikapnya atau apapun tentang Sebastian dengan sesering mungkin ia berada disisinya Sebastian,bahkan ia harus melupakan tugasnya di Perusahaan Daddynya untuk sementara waktu.


"Sekarang kamu tinggal pilih,aku akan membawamu keluar dari sini dengan paksa atau kamu ingin beristirahat diruangan pribadiku saja?" tanya Sebastian dengan nada seriusnya sambil memangkukan pelan dagunya keatas pundaknya Jennifer,hingga mampu membuat tubuhnya Jennifer langsung merinding aneh karena wajah mereka yang hampir merapat dan juga napasnya Sebastian yang berhembus jelas disekitar wajahnya.


"Dan aku tidak perlu menjawabnya..." jawab Jennifer dengan wajah memerahnya karena merasa malu dengan jarak dekat wajah mereka tersebut,lalu iapun segera berdiri dari duduknya dan langsung berjalan pergi kearah ruang pribadinya Sebastian dengan langkah cepatnya.


"Ternyata kamu bisa malu juga..." gumam Sebastian dengan wajah tersenyum lucunya saat ia melihat sekilas wajah malunya Jennifer tadi,sambil menatap pintu ruangan pribadinya yang telah dibuka oleh Jennifer dan juga sudah tertutup kembali.


Karena kejadian siang tadi dengan Rebeeca dan juga makan siang bersama Jennifer,perkerjaannya menjadi menumpuk,dan sekarang sudah jam 2 siang.Tapi walaupun begitu,ia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kedatangannya Jennifer,kecuali dengan kedatangan Rebeeca tadi.


"Wanita ini,ternyata menyenangkan juga..." gumam Sebastian lagi,dengan nada pelannya dan wajah yang tersenyum senang,sambil memutarkan kursi kerjanya kembali dan duduk disana untuk kembali melanjutkan perkerjaan tertundanya tadi.


Sebastian yang tadi sibuk melanjutkan perkerjaannya,sekarang sudah menyelesaikannya dalam waktu 3 jam lamanya,dan perkerjaannya tadi sudah selesai sepenuhnya.


"Akhirnya..." gumam Sebastian dengan menghela napas lega,sambil merenggangkan tubuhnya kebelakang dengan gerakan pelannya,setelah ia sudah selesai menatap sebentar kearah jam tangannya yang sudah jam 5 sore.


"Apa yang sedang dilakukan wanita itu didalam sana,sampai sekarang masih belum keluar juga..." tanya Sebastian pada dirinya sendiri dengan wajah penasarannya,sambil meraih HPnya untuk membuka dan melihat CCTV yang ada didalam ruangan pribadinya melalui HPnya.


"Dasar...Apa wanita ini tidak takut,kalau aku akan berbuat yang tidak-tidak padanya?" gumam Sebastian lagi,dengan nada herannya,untung saja CCTV didalam ruangan pribadinya itu hanya ia atur untuk HPnya saja,jadi hanya ia saja yang bisa melihatnya.


"Baiklah,aku akan memberinya sedikit pelajaran karena telah berani tidur disembarangan tempat..." gumam Sebastian lagi,dengan wajah tersenyum kesalnya sambil berdiri dan berjalan kearah ruang pribadinya,karena ia melihat Jennifer yang ternyata sedang terlelap begitu saja dan paha mulusnya yang terlihat jelas.


Ia berpikir,apakah Jennifer tidak takut akan dalam bahaya kalau saja terlelap ditempat lain dengan keadaan yang seperti itu.


"Ceklek..." Sebastian membuka pintu tersebut dengan perlahan,dan menutupnya kembali setelah ia sudah berada didalam.


Sebastian kembali menggeleng-gelengkan pelan kepalanya,saat ia melihat Jennifer yang terlelap tanpa selimut dan posisi yang terlentang tadi sudah berubah menjadi menyamping.


Untung saja dressnya Jennifer sebatas dibawah lutut,jadi paha mulusnya hanya sedikit terlihat saja.Iapun mendekat dengan langkah pelannya,dan duduk tepat dihadapan wajahnya Jennifer yang nasih terlelap pulas.


"Wanita ini memang cantik,tapi ceroboh dan menyebalkan sekali...Mungkin kalau seperti ini,baru tidak akan menyebalkan..." gumam Sebastian dengan nada pelannya sambil menelisik wajah terlelapnya Jennifer yang terlihat sangat manis dan ia juga menyingkirkan beberapa helai rambutnya Jennifer yang telah menutupi matanya Jennifer.


Tapi tiba-tiba saja...

__ADS_1


'Ya,Tuhan...Apa yang sedang kamu lakukan,hm?' batin Sebastian dengan wajah kagetnya,saat tiba-tiba saja tangannya malah ditarik pelan dan dipeluk oleh Jennifer dengan kedua mata yang ternyata masih terlelap pulas.


Walaupun tarikannya pelan,tapi sudah mampu membuat wajah nereka berdua hampir tidak berjarak.


"Honey..." panggil Jennifer dengan nada pelannya,hingga mampu membuat Sebastian langsung mengernyit heran karena kedua matanya Jennifer masih terlelap dengan damai.


'Honey...? Apakah Jennifer sedang bermimpi sekarang?' batin Sebastian dengan wajah herannya,sambil terus menelisik wajah terlelapnya Jennifer yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya disana.


Tapi wajah herannya perlahan-lahan mulai tersenyum bahagia tanpa ia sadari,saat ia kembali mendengar lanjutan perkataannya Jennifer lagi.


"Apakah kamu tahu,kalau aku sangat mencintaimu? Dan aku harap,kamu juga akan mencintaiku juga..." ucap Jennifer dengan nada tenangnya dan wajah tersenyumnya,sambil memeluk erat lengan kekarnya Sebastian hingga jarak wajah mereka hanya tersisa 1 cm saja.


"Tidak,kamu tidak boleh mencintai wanita lain,kamu harus mencintai aku saja.Apa kamu mengerti sekarang..." lanjut Jennifer lagi, dengan wajah kesalnya,hingga bibir lembutnya berbentur dengan bibir tebalnya Sebastian,dan ia juga masih belum terbangun dari mimpi tidak menyenangkan itu.


'Wanita ini benar-benar...' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,saat ia melihat Jennifer yang terlihat begitu menikm*t* mimpinya


'Dan apa wanita ini sedang menggodaku saat ini?' batin Sebastian dengan wajah yang mulai memerah,karena dada mereka yang sudah merapat,dan ditambah lagi dengan bibirnya Jennifer yang terus bergerak dihadapan bibirnya itu seperti sedang mengirim sinyal perang saja,yang pasti itu bukan perang bahaya ya...


"Sebastian,,, Hhmmm....." Jennifer kembali memanggil namanya Sebastian,tapi kali ini Jennifer tidak mampu menyelesaikan kalimatnya,karena bibirnya sudah diterkam cepat oleh Sebastian yang sudah tidak bisa menahan hawa panas yang sudah menguasai pikirannya saat ini.


Perlahan tapi pasti c**m*n mereka berdua mulai memanas,hingga lidah panjangnya Sebastianpun sudah berhasil masuk lebih dalam dan melahap semua yang ditemuinya,bahkan Jenniferpun langsung membalasnya karena ia masih saja tidak menyadarinya kalau semua itu bukan mimpi.


Setelah bibir mereka berdua saling ******* dengan lembut selama beberapa menit,kesadarannya Jenniferpun mulai terbangun,saat ia dapat merasakan kalau yang ia rasakan saat ini terasa sangat nyata.


Kedua bola matanya Jennifer hanya mampu terbuka dengan selebar-lebarnya,saat ia sudah melihat jelas apa yang ada dihadapan wajahnya dan apa yang sedang dilakukan Sebastian pada bibirnya,bahkan ia bisa merasakan kalau Sebastian begitu men*km*t* bibirnya dengan kedua mata yang terus saja tertutup rapat.


Sebastian yang merasakan kalau sudah tidak ada lagi balasan l*m*t*n dari Jennifer itupun,langsung membuka kedua matanya dengan perlahan,tanpa melepaskan l*m*t*nnya karena bibirnya Jennifer sudah berhenti *******.


Sebastianpun langsung melepaskan l*m*t*nnya dengan cepat dan berdiri dari duduknya tadi,setelah kedua mata mereka saling menatap selama beberapa detik.Begitu juga dengan Jennifer yang juga langsung duduk dari berbaringnya tadi.


"A apa yang baru saja sedang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa berada disini?" tanya Jennifer dengan nada gugupnya dan wajah bingungnya, sambil terus menelisik wajah malunya Sebastian.


'Wanita ini,bagusnya harus aku apakan?' batin Sebastian dengan berusaha menetralkan wajah malunya,sambil menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal dan juga menatap kesal kearah Jennifer yang terlihat sedang amnesia.


Padahal awalnya tadi ia hanya ingin memberi pelajaran saja pada Jennifer,kenapa ia malah tergoda dengan bibir lembutnya Jennifer tadi,dan sekarang ia harus merasa malu dengan apa yang baru saja ia perbuat itu.


"Apa kamu masih belum bangun dari mimpimu,hm...? Lihatlah baik-baik,kamu sedang berada dimana sekarang?" tanya Sebastian balik dengan nada kesal dan wajah tenangnya kembali,dan mengabaikan pertanyaan pertamanya Jennifer tadi.


Jennifer yang masih bingungpun langsung menelisik disetiap sudut ruangan tersebut dengan gerakan pelannya,ia langsung tersenyum cenges-cengesan saat ia sudah mengingat semuanya kembali.


Tadi itu ia hanya merasa ngantuk,karena tadi malam ia masih belum begitu bisa tidur dan tadi pagi ia harus bangun cepat untuk kepasar membeli bahan-bahan masakannya tadi siang.Jadilah,ia terlelap begitu saja.Dirinya yang mempercayai Sebastian, juga salah satu alasan dirinya yang terlelap sangat pulas tadi.


"Tapi apa c**m*n kita tadi itu nyata?" tanya Jennifer dengan nada penasarannya sambil menyembunyikan rasa malunya,untuk memastikan apa yang telah ia rasakan tadi,apakah semua itu nyata atau hanya mimpi saja.


"Bisakah kamu merapikan dressmu dulu? Baru kamu boleh bertanya padaku..." tanya Sebastian balik dengan berusaha untuk tetap tenang,sekalian ingin menghindari pertanyaannya Jennifer barusan.

__ADS_1


__ADS_2