Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 143


__ADS_3

Jennifer terus saja menampilkan wajah kesalnya selama Sebastian menyuapinya,padahal tanpa Sebastian tahu,kalau Jennifer mulai bersorak senang setelah rasa kesal aslinya sudah mereda disendok ke 3 tersebut.


'Sebegitunyakah kamu tidak suka padaku? Sebegitu cepatnyakah kamu melupakan diriku? Nak,Daddy memang meminta bantuan padamu. Tapi bukan seperti ini juga,hasil yang Daddy inginkan...' batin Sebastian dengan perasaan kacaunya dan gerutuan kesalnya tersebut,sambil terus menyuapi dan memerhatikan wajah memberengut kesalnya Jennifer tersebut.


Dan disini,hanya Sebastian saja yang mengingat tentang bayinya mereka.Karena terlalu senang dengan tersadarnya Jennifer,yang lainnya malah lupa tentang kabar baik tersebut.Tadinya Sebastian berniat ingin mengatakannya,tapi melihat Jennifer yang telah melupakan dirinya, hingga membuatnya menjadi serba salah dan memilih untuk diam terlebih dahulu.


'Sekarang,apa yang harus aku lakukan? Supaya Jennifer mengingat diriku kembali,dan ingin memaafkan diriku...' batin Sebastian lagi,ia bahkan tidak mengerti dalam mujuk-memujuk,dan hal tersebut mampu membuat dirinya menjadi terlihat semakin bod*h karena kekurangannya tersebut.


25 menit kemudian...


"Tante...Apa keponakanmu ini tidak memiliki perkerjaan yang lain,selain terus berada dirumah sakit?" tanya Jennifer yang sedari tadi hanya terus menampilkan wajah memberengut kesalnya saja, dengan nada tinggi dan wajah kesalnya.


"Byuurrr..." belum sempat Ibu menjawab,Sebastian yang baru selesai makan siang dan sedang meminum air putih itupun langsung menyemburkan minumannya kesamping,karena merasa kaget dengan pertanyaannya Jennifer tersebut.


"Apa maksudmu?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,sambil mengelap bibir basahnya,lalu menatap bingung kearah Jennifer.


"Maksudku?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang pura-pura bingung,sambil menahan tawanya,begitu juga dengan yang lainnya.


"Iya.Apa maksudmu dengan mengatakan keponakan tadi? Memangnya siapa yang kamu sebut dengan keponakan tadi?" Sebastianpun langsung mengulangi pertanyaannya secara detail lagi,sambil berdiri dari duduknya dan berjalan pelan kearah Jennifer.


"Bukankah,kamu adalah keponakannya Tante sama paman?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang ia buat sebingung mungkin.


Sebastianpun langsung menghentikan langkah pelannya tepat dihadapannya Jennifer,lalu menatap kesal kearah Ayah,Ibu dan Stella satu persatu.


Jika saja mereka bukan keluarganya,ia pasti sudah mengeluarkan pistol kesayangannya saat ini juga, tapi sayangnya ia harus menahan semuanya sekarang ataupun nanti.


Sedangkan yang ditatap kesal,mereka hanya menanggapinya dengan santai saja,tanpa merasa bersalah sedikitpun.Apa lagi saat ia melihat isyarat dari Ibu yang menandakan kalau kebohongan tersebut karena Jennifer yang sedang lupa ingatan, hingga membuat Sebastian hanya mampu menghela napas kesal pelannya saja.


"Iya.Benar,aku keponakannya mereka.Apakah kamu mempertanyakan perkerjaanku tadi,hm?" ucap Sebastian dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah yang berusaha tetap tenang, setelah ia sudah selesai mengendalikan rasa kesalnya tersebut.


"Iya.Apakah Tuan tidak punya perkerjaan yang lain? Jika ada,Tuan bisa pergi berkerja saja...Aku sudah bisa sendiri,sekarang.Jadi,tidak perlu merepotkan Tuan lagi..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah sesantai mungkin dan juga terlihat serius,ia bahkan menunjukkan secara terang-terangan rasa tidak nyamannya yang disengajakan tersebut.

__ADS_1


"Tidak.Kamu tenang saja,Nona.Aku sama sekali tidak punya perkerjaan...Apa tanteku tidak mengatakan padamu,kalau aku seorang pengangguran,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah santainya,sambil melirik kesal sekilas kearah Ibu.


"Dan satu lagi,aku sama sekali tidak akan merasa keberatan sedikitpun.Jika ingin,kamu juga boleh merepotkan diriku untuk seumur hidupmu.Aku tidak akan pernah mempermasalahkannya sama sekali..." lanjut Sebastian dengan nada serius dan wajah yang tersenyum santai,sambil duduk disampingnya Jennifer,karena hanya kalimat tersebut saja yang terlintas dibenak dangkalnya saat ini.


Sedangkan Jennifer,ia langsung terdiam dengan terus menatap heran kearah Sebastian.Ayah,Ibu dan Stella,mereka hanya terus memerhatikannya dari sofa sana,tapi mereka juga merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sebastian barusan,karena Sebastian memang tidak pernah mengatakan kalimat-kalimat manis seperti itu selama ini.


"Apa kamu tidak mempercayaiku,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan kening yang mengernyit heran,saat ia melihat Jennifer yang malah hanya menatap heran kearahnya saja.


"Hah! Percaya? Kita saja baru kenal,dan aku sendiri bahkan tidak mengerti dengan apa tujuanmu, sampai kamu rela menjagaku berhari-hari seperti ini.Walaupun aku mempercayai kamu pun,tapi aku juga tidak memerlukan semua itu..." jawab Jennifer dengan perasaan gugup dibalik nada dan wajah kesalnya,sambil pura-pura merapikan posisi duduknya tersebut.


"Apakah kamu yakin?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah herannya,sambil terus memerhatikan ekspresi wajahnya Jennifer.


"Yakin.Tentu saja,aku sangat yakin...Dasar pria aneh..." jawab jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil memalingkan wajahnya kesamping.


Ia baru tahu kalau ternyata Sebastian memiliki sisi yang manis seperti ini juga,tapi sayangnya, sekarang ia masih belum bisa menunjukkan rasa bahagianya tersebut.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menghela napas berat dengan panjang saja,sambil menelisik satu persatu wajah santainya Ayah,Ibu dan juga Stella.


"Apakah rasa pusing kamu sudah mengurang,nak?" tanya Ibu dengan nada dan wajah yang benar-benar khawatir,sambil berjalan mendekat kearah Jennifer,sekalian supaya perdebatan mereka tidak akan semakin panas.


"Tadinya sudah mengurang, Tante.Tapi ntah kenapa,pusingnya kembali bertambah karena berbicara banyak dengan pria aneh ini..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil pura-pura memijit pelan pelipisnya.


"Kamu ini...Katanya ingin menjaga Jennifer dengan baik,kenapa sekarang malah membuat kepalanya semakin terasa pusing saja..." Ibupun langsung berpura-pura memarahi Sebastian,dengan nada dan wajah kesalnya tersebut,sambil memijit lembut kepalanya Jennifer.


"Iya.Kakak,lebih baik kamu pulang terlebih dahulu, biar kami yang menjaga kak Jen disini. Supaya kak Jen tidak merasa stress,karena harus terus melihat wajah menyebalkan kakak disini..." timpal Stella yang ikut-ikutan bergabung dengan Ibu.


"Stella...Bukankah kamu masih ada tugas bersama teman-temanmu,disore hari ini? Atau apakah kakak sepupumu ini,perlu mengantarmu dan membayar semua keperluan kuliahmu,hm?" tanya Sebastian yang sedari tadi hanya diam kesal saja,sambil menatap tajam kearah Stella yang mulai mengkhawatirkan tentang keuangannya tersebut.


"Dan Tante...Apakah Tante tidak pulang terlebih dahulu,hm? Aku takut,kalau perabotan rumahnya Tante nanti,akan menghilang satu persatu..." lanjut Sebastian dengan nada yang dipenuhi ancaman, sambil menatap malas kearah Ibu yang masih sibuk memijit kepalanya Jennifer.


"Paman...Aku ini seorang pengangguran,beda dengan paman yang memiliki begitu banyak perkerjaan.Jadi,aku rasa paman tidak perlu ikut-ikutan sepertiku,untuk terus berada dirumah sakit sebesar ini. Atau apakah paman tidak memiliki perkerjaan pada hari ini,hm?" lanjut Sebastian lagi,yamg tertuju untuk Ayah,ia berharap kalau Ayah akan membantunya untuk bisa menyingkirkan 2 wanita beda usia tersebut.

__ADS_1


"Iya.Apa yang kamu katakan memang benar adanya... Pada sore hari ini,paman memang memiliki beberapa perkerjaan..." jawab Ayah yang sedari tadi hanya menyimak saja,tapi perkataannya Sebastian telah berhasil menyadarkannya tentang sesuatu.


Walaupun sebenarnya ia merasa agak geli sama panggilan paman tersebut,tapi mau bagaimana lagi,mau tidak mau ia harus berpura-pura tetap santai dan tenang,supaya ide kecil ke 3 wanita beda usia tersebut bisa berjalan dengan lancar.


"Nak,kami harus pulang terlebih dahulu ya...Paman baru teringat kalau paman masih ada sedikit perkerjaan dirumah...Besok kami akan datang lagi, untuk melihatmu..." lanjut Ayah dengan nada dan wajah seriusnya,sambil berjalan mendekat kearah istrinya yang hanya mampu menampilkan wajah kesalnya saja.


"Tapi paman........" belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimat keberatannya tersebut,Ayah sudah langsung menyelanya dengan cepat dan juga wajah seriusnya.


"Kamu tenang saja,nak.Disini sudah ada keponakan tampan kami ini, yang akan menjagamu.Pria ini memang agak aneh,tapi percayalah sama paman,pria aneh ini tidak akan berani melakukan perbuatan-perbuatan yang akan merugikan dirinya sendiri..." sela paman dengan nada dan wajah yang tersenyum seriusnya,sambil merangkul pelan pundaknya Ibu.


Ia baru saja teringat dengan ruangan Labolatoriumnya yang baru saja diisi oleh Sebastian dengan bahan-bahan kimia yang baru,pada 1 hari yang lalu.


Dan selama ini ia memang sangat suka meneliti sesuatu yang ganjil atau yang belum pernah ia uji, dan sudah beberapa hari ini ia tidak masuk keruangan labolatoriumnya tersebut,hingga mampu membuat dirinya terasa begitu merindukan ruangan labolatoriumnya tersebut.


"Tidak apa-apa,nak.Kamu tenang saja,keponakan tante ini tidak akan berani macam-macam.Kalau dia sampai berani macam-macam terhadap kamu, kamu tinggal menelepon Tante atau Stella saja.Oke..." timpal Ibu dengan nada dan wajah tersenyum kesal yang ditujukan untuk Sebastian.


"Iya,kak Jen.Kamu bisa langsung meneleponku,aku pasti akan langsung datang untuk menyelamatkan kamu dari pria aneh ini..." timpal Stella dengan nada dan wajah yang tersenyum santai,sambil mengemas sisa makan siangnya mereka tadi.


"Baiklah,Tante,Paman,Stella.Kalian hati-hati dijalan,ya..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum pasrah.


"Baik,nak... Baik-baik disini,ya... Ingat...Jika badanmu terasa ada yang tidak enak,kamu bisa meminta tolong pada pria aneh ini,atau bisa juga langsung telepon kami,ya..." pesan Ayah dengan nada menyindirnya dan wajah seriusnya,sambil menggerakkan tangannya, dengan isyarat menelepon.


"Iya.Cup... Kamu harus banyak beristirahat ya, jangan suka berpikir yang macam-macam.Kami akan pulang duluan... " timpal Ibu dengan nada dan wajah seriusnya, setelah ia sudah selesai mengecup sayang kepipi sebelahnya Jennifer.


"Baik,Tante,Paman..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah pasrahnya,sambil menatap tidak rela kearah Ayah dan Ibu yang telah melangkah pergi dari hadapannya.


Disetiap ia berdekatan dengan Sebastian,ia pasti selalu akan menjadi salah tingkah.Sekarang ia hanya ditinggal sendiri bersama suaminya yang ia panggil pria aneh itu,ntah ia akan mampu bertahan seberapa lama nantinya.


"Iya.Kakak Jen semangat ya... Kami akan pulang duluan... Bye bye..." timpal Stella dengan nada dan wajah pasrahnya,sambil mengikuti langkah kedua orang tuanya dan juga memberi isyarat tangan berbentuk semangat kepada Jennifer yang hanya mampu tersenyum pasrah saja.


Sebenarnya ia masih mau melanjutkan godaannya terhadap kakaknya itu selama 20 menit kedepan lagi,tapi Stella juga tidak mau kalau sampai tabungannya tiba-tiba saja kosong.Dan Ibu yang tidak mau,kalau Sebastian benar-benar akan membuang separoh perabotan dapur kesayangannya tersebut.

__ADS_1


Akhirnya mereka semuapun meninggalkan Jennifer dan Sebastian berdua didalam ruangan tersebut,tanpa mampu melakukan apapun lagi.


__ADS_2