
Beberapa menit kemudian...
Terlihat Sebastian yang sedang berjalan keluar dari dalam ruangan ganti dan juga sudah rapi dengan kemeja biru mudanya dan style rambutnya,pintu tersebut kembali tertutup setelah Sebastian kembali menutupnya dengan menekan tombol yang sama seperti tadi.
Ia juga tidak lupa membawa pistol yang telah ia simpan diruang ganti,melalui kamar mandinya tadi,karena kamar mandi dan ruangan gantinya memang saling terhubung tapi ternyata Jennifer juga tidak mampu melihatnya.
Tombol yang berada diantara dinding hitam tersebut,bahkan warnanya juga ikut berwarna hitam dan sama persis,jadi pantasan saja tadi Jennifer tidak mampu mendapatkan ruang ganti.
Kemudian ia menatap sebentar kearah wajah terlelapnya Jennifer, wajahnya jadi tersenyum lucu,saat ia melihat gaya tidurnya Jennifer telah berubah sekarang.
Bayangkan saja,kalau tadi dirinya tidur seranjang dengan Jennifer,dan dengan handuk kecilnya itu.Ntahlah,diri sendiri juga tidak tahu dengan apa yang akan terjadi setelahnya...
Lalu dengan langkah tegasnya,Sebastian langsung berjalan keluar dari dalam kamarnya,setelah ia sudah memakai jam tangannya kembali dan juga membawa HP pribadinya,sambil menatap sekilas kearah jam tangannya yang baru saja menunjukkan jam 4 sore.
Untung saja,sekarang Kedua orang tuanya dan adiknya tidak berada diruang tamu,dipintu utama ataupun dihalaman rumah.Jadi,ia tidak perlu mendapatkan banyak pertanyaan atau ejekan dari mereka.
Ia ingin kedanau yang biasa ia pergi itu saja,untuk menghilangkan rasa lelahnya dan perasaan atau mungkin lebih tepatnya pikiran gil*nya saat ini.Lagi pula,jika ia berada dikamarnya ini,ia juga tidak akan bisa tidur juga.
Dan karena mobil pribadi miliknya dipakai oleh Billy,ia terpaksa memakai mobil yang lainnya saja,yang kunci mobilnya ada pada satpamnya.
***
Beberapa jam kemudian...
Setelah ia duduk santai didanau tersebut dengan gitar dan menyanyikan beberapa lagu seperti biasanya selama hampir 3 jam,Sebastian langsung mendapatkan telepon dari Billy.
Billypun langsung melaporkan pada Tuan Mudanya,kalau dirinya dan yang lainnya telah mendapatkan markas terbaiknya Geng Eagle Black.Dan ia hanya menunggu perintah selanjutnya dari Tuan Mudanya,untuk memastikan keputusan Tuan Mudanya tersebut.
Apakah telah yakin atau belum,mana tahu saja Tuan Mudanya hanya asal perintah saja,karena hari ini baru menjadi pengantin baru...
"Tuan Muda,kami telah menemukan markas terbaiknya mereka..." lapor Billy melalui sambungan telepon,dari seberang sana.
"Aku akan kesana..." jawab Sebastian dengan singkat,nada serius dan wajah tegasnya,sambil berdiri dari duduknya, setelah ia sudah mematikan telepon mereka secara sebelah pihak.
"Baik,Tuan muda..." seperti biasanya,Tuan mudanya memang selalu memperlakukan dirinya seperti itu,lagi-lagi ia hanya mampu mendengkus kesal saja.
Sebastianpun langsung pergi dari danau tersebut, dengan langkah tegasnya,sambil menatap sekilas jam tangannya yang telah menunjukkan hampir jam 7 malam.Ia baru sadar,kalau ternyata ia sudah duduk hampir 3 jam disana.
Dan sebenarnya telepon dari Billy tadipun mampu membuat lamunan indahnya tentang setiap jengkal lekukan-lekukan menggoda miliknya Jennifer tadi yang telah menghantuinya sedari ia keluar rumah tadipun,langsung mulai berterbangan pergi karena pikirannya kembali fokus pada apa yang telah dilaporkan oleh Billy barusan.
Lalu Sebastianpun langsung mengarahkan mobilnya tersebut kearah lokasi yang telah disebutkan oleh Billy tadi,ia juga menyetir sendiri sedari tadi tanpa pengawal satupun...
30 menit kemudian...
Sebastian yang baru saja sampai ditujuanpun langsung turun dari mobil,dan berjalan kearah serombongan anak buahnya.
Dan keningnya Langsung mengernyit heran kearah punggungnya Billy yang terlihat sedang berdiri diantara semak-semak tinggi tersebut,dengan tatapan yang fokus kearah lurus kedepan sana.
Sedangkan yang lainnya,mereka semua segera menunduk hormat kearah Sebastian,kecuali Billy yang masih belum menyadari kedatangan Tuan Muda mereka.
__ADS_1
"Apa lagi yang sedang kalian tunggu,hah?" tanya Sebastian setelah ia sudah berada dibelakangnya Billy,dengan nada dan wajah tegasnya,sambil bersedekap dada.
Dan nada tegas yang tiba-tiba terdengar tersebut, mampu membuat Billy langsung terlonjak kaget, berbalik badan,dan juga mengelus-elus cepat dadanya karena rasa kagetnya itu,pistol miliknya bahkan langsung terjatuh begitu saja.
"Tu tuan Muda..." panggil Billy dengan sisa kagetnya,sambil menahan rasa kesalnya dan menunduk hormat kearah Tuan Mudanya.
Apa lagi,saat ia melihat kalau ternyata Tuan Mudanyalah yang barusan telah mengejutkannya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Sebastian dengan nada tegasmya,tanpa mengalihkan tatapan tegasnya dari wajah kagetnya Billy.
"Aku? Aku dan yang lainnya sedang menunggumu, Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada bingungnya,saat ia mendengar Tuan Mudanya yang baru sampai itu malah bertanya.
"Sedari tadi?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menelisik apa yang sedang diperhatikan oleh Billy tadi.
Jarak mereka hanya sekitar 50 kaki tapi mereka terlindungi oleh semak-semak yang tinggi tersebut. Dan dikejauhan sana terlihat gabungan dari beberapa ruko lantai 3 yang tidak begitu terusus tapi didalamnya berisi begitu banyak narkoba dan senjata-senjata ilegalnya mereka.
Dan juga sekelompok pria-pria berpakaian rapi,ada juga yang berpakaian biasa,tapi wajah mereka hampir semuanya berwajah sangar-sangar, mungkin itulah salah satu ciri-ciri anggota geng mereka.
Berbeda dengan pasukan miliknya Sebastian yang lebih banyak terlihar tampan tenang tapi memiliki tatapan yang tajam semua,sama seperti Tuan Muda mereka.
Mereka semua bahkan tidak menyadari kalau mereka sedang diperhatikan saat ini,mereka terlihat begitu santai berjalan mondar-mandir dan mengobrol dan juga makan-makan.
"Iya,Tuan Muda..." jawab Billy dengan wajah yang semakin bingung,sambil terus menelisik wajah kesal Tuan Mudanya.
"Apakah kamu baru mengikutiku,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya.
"Tapi bukankah Tuan Muda sendiri yang menyuruh kami,untuk menunggu?" tanya Billy balik,sambil menahan kesal dan berpikir keras tentang jawaban dari Tuan Mudanya,melalui telepon tadi.
"Bukankah tadi Tuan Muda mengatakan,kalau Tuan Muda akan kesini.Jadi......." belum sempat Billy menyelesaikan kalimat pembelaannya,Tuan Mudanya sudah lebih dulu menyelanya.
"Apakah aku ada mengatakan tunggu dikalimatku tadi,hm?" sela Sebastian dengan nada yang semakin kesal,saat ia langsung bisa mengerti apa maksudnya Billy yang belum sempat dikatakan sampai habis tersebut.
"Tidak,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat, sambil menahan segala rasa kesalnya.
Bukankah jawaban singkat Tuan Mudanya tersebut bisa diartikan seperti itu juga,makanya ia mengira kalau Tuan mudanya menyuruh mereka semua,untuk menunggunya.
Atau mungkin saja,dirinya tidak fokus akibat dirinya yang berada diposisi lelah yang bertingkat tinggi,karena hari ini ia harus mengerjakan banyak hal,termasuk perkerjaan kantor.
Lagi pula,bukankah tadi Sebastian bisa mengatakan padanya dengan jelas,supaya dirinya tidak salah mengartikannya.
"Jadi,apakah itu artinya aku menyuruh kalian untuk menungguku,hm?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya kembali sambil menetralkan rasa kesalnya,tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Tidak,Tuan Muda..." jawab Billy yang sudah malas berdebat dengan Tuan Muda egoisnya itu,lagi-lagi ia harus mengalah.
Apa lagi,sekarang sudah semakin malam,bisa-bisa ia akan pulang disubuh atau pagi harinya nanti,jika ia memaksa untuk berdebat dengan Tuan Mudanya tersebut.
"Kamu ini,seperti baru pertama mengikutiku saja...Apakah kamu belum makan,hm?" tanya Sebastian dengan nada santainya,karena biasanya kalau Billy belum makan dan sedang melakukan perkerjaannya,pasti tidak fokus.
Walau sebenarnya bukan Billy saja,semua orang pasti begitu juga bukan,termasuk dirinya.Padahal ia tahu, kalau orang-orang seperti Billy dan anak buahnya yang lainnya,walau belum makanpun, pasti akan tetap berusaha semampu mereka untuk bisa terus fokus,berkat sikap arrogant dan egois Tuan Mudanya mereka itu.
__ADS_1
"Sudah,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada malasnya,sambil memutar bola matanya dengan malas,tapi kepalanya tetap sedikit menunduk seperti tadi.
Ntah dirinya yang tidak fokus atau Tuan Mudanya sendiri yang tidak fokus,,,padahal dirinya masih mampu membunuh orang,jika Tuan Mudanya menginginkan hal tersebut terjadi.
"Tapi kenapa kamu malah...Sudahlah,sekarang bukan waktunya kita,untuk membahas hal yang tidak penting ini..." ucap Sebastian akhirnya, sepertinya ia baru menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak membuang waktu emasnya disana.
Tapi sebenarnya,ia sengaja ingin lebih banyak waktu bersama Billy ataupun diluar rumah,jadi ia tidak perlu makan bersama Jennifer.Ia akan pulang setelah nanti Jennifer sudah tertidur saja,dari pada ia harus berdebat atau digoda oleh Jennifer lagi. Lebih baik,ia berdebat dengan Billy saja bukan...
"Berapa banyak orang-orang mereka?" tanya Sebastian yang langsung keintinya,setelah ia terdiam selama beberapa menit,sambil mengalihkan tatapan seriusnya kearah ruko tersebut.
"Orang-orang mereka sebanyak sekitar 120 orang, Tuan Muda.Sepertinya,ketua mereka juga berada didalam sana.Dan markas ini jugalah yang memiliki anak buah yang terbanyak,dari yang lainnya,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada dan wajah yang ikut-ikutan serius dan juga panjang lebar,karena sepertinya sekarang mereka akan mulai beraksi.
"Milik kita?" tanya Sebastian lagi,sambil mengalihkan tatapan menelisiknya kesemua bawahannya yang ada disekitarnya saat ini.
"Kita hanya ada sekitar 70 orang,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada ragu-ragunya dan juga merasa khawatir.
"Tadi,aku sudah memanggil yang lainnya.Sekarang mereka sudah dalam perjalanan,Tuan Muda..." lanjut Billy dengan cepat,sebelum Tuan Mudanya sempat bertanya kesal lagi.
Karena memang benar begitu adanya...Tadinya ia tidak menyangka kalau musuh mereka sebanyak itu,tapi saat mereka semua sampai disana tadi, setelah sekitar 20 menit berlalu,para musuh mereka tiba-tiba saja malah sibuk mulai berdatangan ntah dari mana.
"Jadi sebenarnya,kamu ini sedang menungguku atau menunggu mereka?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya dan juga kesal.
"Tentu saja,aku menunggu Tuan Muda.Dan jika saja,tadi Tuan muda memerintahkan kami untuk memulai sebelum Tuan muda sampai disini,kami juga pasti akan melakukannya tadi..." jawab Billy dengan jujur dan nada menyindirnya.Rasa kesalnya yang sudah mengurang tadipun,kembali seperti semula lagi.
'Kenapa malam ini,Tuan Muda sensi sekali? Jarang-jarang,Tuan Muda seperti ini...' lanjut Billy didalam hatinya,saat ia melihat Tuan mudanya yang lebih suka merasa kesal dan juga cerewet malam ini,tidak seperti biasanya yang lebih suka perkerjaannya cepat selesai dan bisa selalu bisa menahan rasa kesalnya.
Padahal tanpa ia tahu,kalau saat ini Tuan Mudanya sedang berusaha mengusir bayang-bayangan indah yang selalu saja ingin melintas dipikiran tenangnya itu sedari tadi.Makanya,sikap Tuan Mudanya menjadi aneh dan menyebalkan seperti ini.
"Apa kamu tidak mempercayai orang-orang kita?" tanya Sebastian dengan nada kesal yang bercampur perasaan malas,ia juga mengabaikan sindiran dari Billy barusan.
Semua bawahannya selalu bisa diandalkan,mau musuh mereka banyak ataupun licik,walaupun kadang-kadang memang akan ada beberapa bawahannya yang akan gugur disetiap dalam penyerangan mereka tersebut.
"Bukan begitu ,Tuan Muda.Aku hanya berjaga-jaga saja..." jawab Billy dengan nada dan wajah seriusnya,karena ia hanya ingin mengurangi korban yang akan jatuh nanti.Terlebih lagi,Tuan Mudanya belum memerintahkannya untuk memulai tadi.
Sedangkan yang lainnya,mereka semua hanya mampu tetap berdiri dengan kepala menunduk hormat mereka saja.Mereka tidak berani menyela,ataupun bergosip,bahkan untuk mengangkat kepala saja,mereka tidak berani.
Seperti biasanya,mereka hanya akan menunggu perintah dari 2 orang yang sama-sama memiliki kekuasaan yang harus mereka patuhi itu. Sisanya, mereka hanya akan menutup kedua telinga dan mata mereka saja.Lagi pula,hal tersebut sudah biasa terjadi diantara mereka berdua,hanya saja kali ini,durasinya lebih lama dari yang sebelumnya.
"Tidak perlu menunggu mereka lagi,kalau perlu kamu telepon mereka dan suruh mereka kembali kemarkas mereka...Apa sekarang kamu sudah mengerti, hm?"perintah Sebastian dengan nada tegas dan tatapan tajamnya,sambil mengeluarkan pistolnya dan juga mengambil pistol salah satu milik anak buahnya.
"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada dan wajah senang,semangatnya walaupun rasa kesalnya masih tersisa,sambil memberi isyarat tangan kearah semua bawahannya,supaya mereka semua segera mengikuti langkah mereka dan bersiap-siap untuk menyerang musuh.
Dan mereka semua yang memang sudah mengerti itupun,langsung mengikuti perintah dari Billy yang tanpa suaranya Billy tersebut,dengan Billy yang segera mengambil pistolnya yang terjatuh dan belum sempat ia ambil tadi.
Billy merasakan senang dan semangat karena ia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan bawahan mereka lagi,karena sekarang sudah ada Tuan Mudanya yang telah turun tangan. Paling-paling,bawahannya mereka hanya akan ada beberapa orang yang terluka ringan saja.
Sedangkan Sebastian,ia langsung berjalan penuh waspada kearah ruko tersebut,dengan tatapan, langkah waspadanya dan kedua pistol yang berada dikedua tangannya,yang sudah siap-siap untuk ditembakkan ,ia terus melangkah hingga hampir melewati akhir pembatasan semak-semak tinggi tersebut.
Kemudian Sebastian,dengan tatapan tajamnya,ia mulai menelisik disetiap sudut,sisi dan situasi yang ada diluar ruko tersebut selama 10 menit,dan diikuti oleh Billy dan yang lainnya.
__ADS_1
Lalu perlahan-lahan,ia mulai mengangkat pistolnya,dan membidik para musuh yang sedang berjaga-jaga diluar ruko tersebut,begitu juga dengan yang lainnya.