
"Iya.Kakak tidak perlu khawatir,aku baik-baik saja. Kakak,apa kamu memiliki pistol yang lainnya lagi?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah seriusnya,saat ia melihat Billy yang sedang mengeluarkan pistolnya tersebut.
"Biar aku saja yang mengurus mereka,kamu hanya perlu bersembunyi saja...Ayo,kita harus cepat ketempat yang aman sekarang juga..." jawab Billy dengan nada cepatnya,sambil memerhatikan orang-orangnya yang sudah bersiap-siap akan menembak dan juga orang-orang yang ada didalam beberapa mobil tersebut sudah keluar dan malah mulai membidik mereka.
"Tapi kakak,aku sama sekali tidak takut sama mereka.Kakak,cepat biarkan aku membantu kalian. Jika tidak,kali ini aku tidak akan menurut..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,sambil bersedekap dada dengan posisi jongkoknya tersebut dan juga dengan telapak tangannya yang sedang terjulur kearah Billy.
Dan tentunya,setelah mereka berdua sudah berhasil bersembunyi dibalik bebatuan yang ada disana.Tadinya Billy ingin segera membawa Jennifer kemobil mereka,tapi sepertinya mereka berdua tidak akan berhasil berlari sampai ataupun sempat masuk kedalam mobil mereka itu.
Sedangkan Billy,ia langsung menghela napas berat dengan panjang.Memangnya, sejak kapan Jennifer akan menuruti perkataannya.Yang ada,hanya ia yang menuruti perkataannya Jennifer.
Sebenarnya ia tidak begitu suka melihat Jennifer memegang pistol dengan keadaan dalam bahaya seperti ini,tapi sepertinya jika Jennifer tidak memegang pistol, pasti akan lebih bahaya bagi Jennifer.
"Baiklah.Kalau begitu,kamu harus lebih berhati-hati.Karena kali ini,musuh kita sangat banyak..." ucap Billy akhirnya setelah ia sudah berpikir selama beberapa detik,sambil mengeluarkan pistolnya yang satunya lagi,dan memberikannya pada Jennifer yang langsung mengambilnya dengan senyum senangnya.
Tapi memang benar apa yang dikatakan oleh Billy barusan,mereka memang sangat banyak. Lihatlah,kelompok musuh mereka bahkan hampir seratusan orang.Sedangkan dipihak mereka sendiri,hanya sekitar lima puluhan saja.
"Kakak,siapa mereka? Apakah mereka salah satu dari musuh-musuhnya Daddy?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya yang telah bercampur bingung,sambil ikut membidik musuh-musuh tersebut,sama seperti yang sedang Billy lakukan saat ini.
"Iya,bisa juga dikatakan begitu.Kamu lihat baik-baik,siapa pria brengsek yang ada diantara mereka semua itu?" tanya Billy dengan nada kesalnya, tapi ekspresi wajahnya terlihat begitu khawatir saat ia melihat begitu banyaknya musuh yang ada dibelah pihak Irfan sana.
"Bukankah itu Irfan,kak?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah herannya karena ia sudah lama tidak melihat irfan muncul dihadapannya dan menganggunya seperti sebelum-sebelumnya, sambil terus memerhatikan pria yang sedang berdiri diantara mereka semua,yang terlihat seperti ketuanya kelompok tersebut.
Ia juga harus menahan rasa pusing yang ada dikepalanya yang memang sedari pagi tadi ia rasakan itu,ia bahkan mulai merasa khawatir saat ia baru melihat jelas kelompok mereka yang ternyata memang lebih banyak dari pada milik suaminya tersebut.
"Aku tahu,kalian ada disana.Asisten bod*h,cepat serahkan wanitaku sekarang juga.Jika tidak,kalian semua akan kubunuh satu persatu.." sebelum Billy sempat menjawab pertanyaannya Jennifer,Irfan yang sudah tidak sabaran itu,langsung bersuara keras untuk memperingati Billy,dengan pistol yang sudah ada digenggamaannya sedari ia berada didalam mobilnya tadi.
Perjalanannya dari kota B ketempat ini tadi hanya memakan waktu 2 jam saja,tapi rasa sabarnya untuk bisa segera membawa Jennifer hidup bersamanya sudah tidak bisa ia tahan lagi,karena memang sudah sedari dulu ia menginginkan hal tersebut.
"Cih..." Billy langsung berdecih kesal,saat ia mendengar peringatan dari Irfan tersebut,ia baru menyadari kalau ternyata ia dan Jennifer telah diawasin oleh Irfan selama mereka berdua berada didanau tersebut.
Sekarang ia baru menyadari kebod*hannya karena ia telah mengabaikan perintah Tuan Mudanya tersebut,ia bahkan terus merutuki dirinya sendiri sedari tadi.Padahal ia sudah sangat berhati-hati, dan ia berpikir kalau tidak akan ada masalah,kalau mereka hanya berada didanau saja
"Ini kunci mobilnya,cepat ambil.Jika kita sampai kalah nanti,kamu harus segera bersembunyi dan segera masuk kedalam mobil,saat kamu memiliki kesempatan nanti.Setelah itu,segera pergi dari sini secepat mungkin..." ucap Billy dengan nada dan wajah seriusnya,sambil mengulurkan kunci mobil kearah Jennifer yang mau tidak mau harus segera mengambilnya.
"Jangan membantah lagi,Jennifer Amora Naava. Bukankah tadi,kamu sudah berjanji kalau kali ini kamu akan menuruti kata-kataku..." lanjut Billy dengan nada dan wajah tegasnya,tanpa mengalihkan tatapan fokusnya tersebut.
"Tapi sebelum itu,kamu harus menelepon Tuan Muda sekarang juga,sebelum jarak suamimu dengan kita akan semakin jauh dari kita.." lanjut Billy lagi,saat ia baru mengingat Tuan Mudanya, sambil melirik sekilas kearah Jennifer,dan juga jam tangannya yang sudah jam 6 sore lewat 20 menit, ternyata Tuan Mudanya telah berangkat sedari 20 menit yang lalu.
"Apa maksudmu,kak?" tanya Jennifer dengan nada bingungnya tapi tetap waspada,sambil melirik kearah Billy yang sudah kembali fokus kedepan sana.
__ADS_1
"Sore ini,suamimu akan berangkat kekota B untuk menyelesaikan masalah yang ada disana.Sekarang, suamimu itu pasti sudah berangkat sedari 20 menit yang lalu.Jadi kamu harus segera meneleponnya sekarang,supaya ia akan berbalik arah dan membantu kita disini..." jawab Billy dengan panjang lebar dan nada cepatnya,setelah ia sudah selesai menghela napas berat karena ia bisa menebak kalau Jennifer pasti akan kembali merasa kecewa.
"Baiklah.Jika kalian memang ingin mati disini,aku akan segera mengabulkannya.Sekarang,aku akan hitung sampai 3.Jika kalian masih tidak ingin menyerahkan wanitaku juga,aku akan membunuh kalian semua tanpa sisa..." Irfan kembali memperingati Billy dan yang lainnya,dengan nada serius dan wajah kesalnya yang telah bercampur marah.
Sedangkan Jennifer,ia masih sibuk memikirkan tentang perkataannya Billy tersebut,sambil mengeluarkan HPnya dengan gerakan pelannya.
'Ternyata dia memang tidak pernah memperdulikanku,selama ini...' batin Jennifer dengan perasaan kecewa dibalik wajah termenungnya itu,sambil terus memegang HPnya tanpa berniat ingin mengotak-atikkannya sedikitpun.
Awalnya ia berpikir,kalau perhatian-perhatian kecil yang tidak seberapa dari Sebastian sedari ia pulang kesini hari itu.Perhatian-perhatian tersebut yang ia kira benih-benih cintanya Sebastian untuknya yang mungkin saja baru mekar itu,bahkan hanya sedikit ujung jari kecilnya saja,ternyata semua itu benar- benar hanya sebatas hubungan suami istri saja.
Tapi sekarang ia malah merasa semakin yakin,kalau keputusannya untuk meninggalkan Sebastian tersebut memang sudah benar dan yang terbaik untuk mereka berdua.
"Jennifer,kamu jangan berpikir yang bukan-bukan. Sekarang cepat telepon Sebastian,karena aku tidak yakin kalau kita akan berhasil mengalahkan mereka..." panggil Billy dengan nada kesalnya saat ia melihat Jennifer yang malah sibuk merenung, tanpa berniat ingin menelepon Sebastian sedikitpun.
Apa lagi,saat ia melihat pasukan anak buah yang Irfan bawa kali ini terlihat sangat berbeda,pakaian yang lebih santai dan tato yang ada hampir diseluruh lengan mereka.Dan ia baru mengingat salah satu nama geng terkuat atau musuh diantara semua musuh-musuh mereka.kemampuan mereka hampir sama kuatnya dengannya dan yang lainnya, kecuali,jika Tuan Mudanya ada bersama mereka.
"Baik,kak..." jawab Jennifer dengan nada pelannya dan berusaha menahan segala rasa kecewanya itu, sambil mulai mencari namanya Sebastian yang ia tulis dengan kata Honey dikontak HPnya tersebut.
"Dor dor dor dor dor dor......" tapi belum sempat Jennifer berhasil menekan tombil hijau untuk memanggil Sebastian dilayar HPnya itu,puluhan tembakan terus meluncur bebas diudara karena Irfan telah memerintahkan yang lainnya untuk menembak,begitu juga dengan pihaknya Billy yang langsung membalas setelah mereka mendapatkan izin dari Billy tadi.
Tembakan-tembakan tersebut terus berlanjut dengan saling membalas tanpa henti,hingga mampu membuat gerakan tangannya Jennifer yang ingin memanggil Sebastian tadi itupun langsung terhenti,Jennifer bahkan menyimpan HPnya kembali kedalam tas kecilnya tersebut.
Sedangkan Billy,ia hanya mampu kembali terus merutuki dirinya yang malah mengharapkan Jennifer untuk menelepon Sebastian.Padahal tadinya ia bisa langsung menelepon Sebastian, sekarang ia harus mengeluarkan dan menekan HPnya dengan sedikit kesulitan karena ia harus fokus menembak juga.
(Irfan...)
"Ingat...Kalian jangan sampai menembak wanitaku, kalian hanya boleh menembak mereka saja..." perintah Irfan dengan nada dan wajah tegasnya, sambil ikut menembak dan mencari keberadaannya Jennifer yang belum terlihat dimatanya itu.
"Baik,Tuan..." jawab mereka semua secara serentak,tanpa mengalihkan pandangan ataupun menghentikan tembakan mereka semua.
(Billy...)
"Jennifer...Sebaiknya sekarang kamu kesana,aku akan menjagamu...Setelah kamu berhasil kesana, kamu harus diam-diam dan pelan-pelan bergerak kearah mobilmu dan masuk kedalam mobilmu dengan cepat. Lalu,kamu harus segera pergi dari sini dan pulang kerumah.Dirumah,keamanannya akan lebih terjaga untukmu..." ucap Billy dengan nada cepat dan wajah seriusnya yang telah bercampur tegasnya sambil menunjuk kearah bebatuan yang satunya lagi,karena hanya itu satu-satunya caranya untuk menyelamatkan Jennifer,walaupun ia harus menjadi korban nantinya.
Tanpa banyak kata lagi,Jenniferpun segera berjalan cepat kearah tunjuknya Billy barusan,dengan sedikit membungkuk tentunya. Dan iapun berhasil sampai kebebatuan yang lainnya tersebut,dengan bantuan perlindungannya Billy tersebut.
Tembakan-tembakan mereka semua,masih saja terus terdengar saling membalas tanpa berniat ingin berhenti sedikitpun.Lihatlah,bahkan sudah hampir tiga puluhan anak buahnya Billy dan Irfan yang mulai berjatuhan sedari tadi.
***
__ADS_1
Sedangkan ditempat lainnya,diperjalanannya Sebastian kekota B tersebut,ternyata Sebastian sendiripun sedari tadi terus saja duduk dengan tidak tenang didalam mobilnya yang sedang melaju sedang itu.
Kedua tangannya terus saja mengetuk pelan samping kiri kanannya kursi yang sedang ia duduki saat ini,berusaha untuk mengusir semua perasaan tidak enaknya tersebut,tapi nyatanya perasaan tidak enaknya itu terus saja menganggunya tanpa henti sampai saat ini.
Padahal yang ia tahu kalau Jennifer pasti akan aman berada dirumahnya yang penjagaannya super ketat dan sangat anti terkena penyerangan itu,karena pengawal-pengawal terlatih miliknya paman Hadden telah ia tambahkan puluhan orang kerumahnya sedari 1 bulan yang lalu,untuk melindungi istrinya dari serangan- serangan musuh yang tidak akan mereka duga nantinya.
Belum lagi,dengan pertahanan-pertahanan dan tempat persembunyian yang telah ia rancangkan didalam rumah besarnya itu,dan semua itu sudah mampu mencegah para penyerang untuk menyakiti orang-orang yang ia sayangi,walaupun ia terlambat datang sekalipun.
"Sebaiknya,aku menelepon Aldy sekarang..." gumam Sebastian dengan perasaan khawatir dibalik wajah datar tenangnya tersebut,sambil mengeluarkan HPnya untuk menghubungi Aldy.
Apa lagi saat ia memikirkan tentang sikap-sikapnya Billy belakangan ini,terlihat sangat aneh dan mencurigakan menurutnya.
"Hallo..Ada apa,Tuan Muda?" Aldypun langsung mengangkat dan menjawab dengan nada bingungnya,karena Tuan Mudanya memang sangat jarang meneleponnya.
"Apakah 2 karyawan yang hari itu,sudah kalian bereskan?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya,sambil menatap lurus kedepan.
Sedangkan supirnya tersebut,hanya mampu terus menyetir tanpa berani bertanya sama sekali,karena suasana didalam mobil tersebut terasa lebih mencekamkan dari pada yang pada hari itu.
"Sudah,Tuan Muda.Mereka telah membawanya kemarkas,sedari tadi pagi,Tuan Muda..." jawab Aldy dengan cepat.
Tiba-tiba saja,tadi pagi ia diperintahkan untuk segera menangkap diam-diam 2 karyawan baru yang telah dicurigai oleh kedua majikannya sedari hari itu.Dan untung saja,ia telah diberi beberapa pengawal yang sudah terlatih,hingga ia tidak sampai kesulitan saat kedua karyawan tersebut sempat melawan karena ingin ditangkap tadi pagi.
"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Sebastian lagi,tapi sayangnya Aldy tidak mengerti apa maksud dari pertanyaannya barusan.
"Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja,Tuan Muda..." jawab Aldy dengan nada dan wajah bingungnya,karena baru ini kali pertamanya Tuan Mudanya bertanya seperti itu,selama ia berkerja disini.
Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas kesal dengan panjang,ia lupa kalau yang ditanya saat ini bukan Billy.
"Apakah Nona Muda kalian pernah mengeluhkan tentang perkerjaannya,belakangan ini?" Sebastianpun terpaksa mengulangi pertanyaannya dengan lebih jelas lagi.
"Tidak pernah,Tuan Muda.Nona Muda sama sekali tidak pernah mengeluh tentang perkerjaannya, Tuan Muda..." jawab Aldy dengan cepat dan nada hati-hatinya,saat ia mendengar helaan napas kesal Tuan Mudanya barusan.
"Hanya saja..." lanjut Aldy,tapi ia menjeda perkataannya karena takut kalau dirinya akan dimarahin oleh Tuan Mudanya.
Dan ia juga takut kalau nanti ia akan ketahuan karena tidak memberitahu saat ditanya tentang keadaan diperusahaan,nasibnya pasti akan lebih buruk lagi dari pada yang sekarang.
"Hanya apa? Apakah Nona Muda kalian sedang mengeluh tentang yang lainnya?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya tingginya,karena Aldy malah membuatnya merasa penasaran sekaligus khawatir saat ini.
"Bu bukan,Tuan Muda.Hanya saja,Nona Muda sudah tidak masuk kantor selama 2 minggu ini. Tuan Billy mengatakan,kalau Nona Muda sedang tidak enak badan,jadi tidak akan datang kekantor untuk sementara waktu ini..." jawab Aldy dengan cepat dan nada gugupnya,karena merasa takut dengan nada kesal tinggi Tuan Mudanya tersebut.
__ADS_1
Tapi kemudian ia langsung menghela napas lega, saat ia tidak mendengar suara apapun lagi dari seberang sana.Ternyata Tuan Mudanya telah mematikan telepon mereka secara sepihak. Walaupun ia masih merasa bingung sekaligus takut,tapi setidaknya ia tidak mendapatkan amukan apapun dari Tuan Mudanya saat ini.