Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 145


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Sepasang manusia yang sibuk diterpa dengan beberapa masalah dalam beberapa hari kebelakangan ini,mereka masih sibuk menyelami mimpi mereka tanpa ada yang berani menganggu mereka sedikitpun.


Karena sudah terlalu lama terlelap,Jenniferpun mulai membuka kedua mata terpejamnya tersebut secara perlahan-lahan,tapi tangannya malah terasa berat saat ia ingin menggerakkannya.


"Apa ini? Kenapa terasa begitu berat?" tanya Jennifer pada dirinya sendiri, dengan bergumam pelan,sambil mencoba untuk menggerakkan tangannya dan juga mengercap-ngercapkan pelan kedua matanya karena kesadarannya yang masih belum sepenuhnya terbangun.


Tangan sebelahnya yang tidak tertindih itupun mulai meraba apa yang sedang menindih tangannya yang satu lagi itu,hingga kedua matanya terbuka sempurna dan melihat kalau ternyata ada sebuah tangan yang sedang mengenggam tangannya tersebut.


Iapun langsung menjadi kaget tapi ia masih mampu mengontrolnya,dan mengalihkan pandangannya kesamping wajahnya secara perlahan-lahan,karena kali ini ia baru menyadari kalau bukan hanya tangannya yang terasa berat tapi pundaknya juga terasa agak berat.


Kedua bola matanya langsung membulat sempurna dengan ekspresi kagetnya,saat ia melihat siapa yang sedang menindih dan memeluknya saat ini.


Tapi kemudian wajah kagetnya tersebut mulai mengurang secara perlahan-lahan,sambil membalikkan tubuhnya,supaya ia bisa berhadapan dengan wajah terlelap suaminya itu.


'Ternyata kamu tetap saja terlihat tampan, walaupun kamu dalam keadaan tidur seperti ini...' batin Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,sambil terus memerhatikan setiap jengkal wajah tampannya Sebastian.


'Dan bulu-bulu pendekmu ini,sangat menggemaskan dan keren...' lanjut Jennifer dengan wajah yang terus saja tersenyum senang,sambil mengitari semua bulu pendek yang ada diseluruh wajah tampan suaminya itu dengan jari telunjuknya.


'Sekhawatir itukah kamu terhadapku? Sampai kamu tidak sempat mencukur bulu-bulu pendekmu ini,hm?' batin Jennifer lagi,ia masih merasa tidak percaya dengan cerita yang telah diceritakan oleh Ibu dan Stella padanya tadi siang.


'Apakah disini,sudah ada cinta untukku,hm?' batin Jennifer lagi,sambil menghentikan gerakan jarinya, lalu ia menekan pelan tepat didada kekarnya Sebastian yang masi berbalut kemeja putih tersebut.


'Cih... Mungkin saja,itu semua hanya sekedar karena sebatas suami istri saja...' batin Jennifer lagi,dengan nada dan wajah kesalnya,sambil memindahkan jarinya hingga kedagunya Sebastian dan terus berputar-putar disekitar dagunya Sebastian.


Hatinya kembali merasakan kesal saat ia mengingat kembali perkataan-perkataan menyebalkan Sebastian pada hari sebelum-sebelumnya,ia bahkan tidak menyadari kalau ternyata Sebastian sudah terbangun sedari tadi karena terganggu dengan pergerakan jari lentiknya itu,dan sekarang sedang memerhatikan wajah kesalnya Jennifer tersebut tanpa ada yang terlewati.


'Inilah salah satu hal yang tidak pernah mampu aku lupakan...' batin Jennifer lagi,jari lentiknya mulai mengelus-elus pelan bibir tebalnya Sebastian yang sangat ia sukai itu.


Kedua matanya terus saja fokus terhadap bibir tebalnya Sebastian,dan memerhatikannya dengan wajah yang terus tersenyum senang.


"Apakah kamu berniat ingin mencobanya?" tanya Sebastian secara tiba-tiba dengan nada pelan dan wajah yang tersenyum menggoda,hingga mampu membuat Jennifer langsung sedikit terlonjak kaget.


"Ka kamu sudah bangun?" tanya Jennifer balik, dengan nada gugupnya,sekarang ia merasa malu karena ketahuan sibuk menyentuh brewokan yang telah ia protes tadi.


"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat,dan wajah tersenyum menggoda yang tidak mengurang sedikitpun,tatapannya bahkan terus fokus kearah wajah malunya Jennifer.


"Apakah kamu berniat ingin mencobanya,hm? Jika iya,aku juga tidak akan merasa keberatan sama sekali..." lanjut Sebastian,ia kembali mengulangi pertanyaan menggodanya tadi.


"Men mencoba apanya? Dasar pria aneh,tidak waras... Dan ini,apa yang sedang kamu lakukan diatas ranjangku? Kenapa kamu malah memelukku seperti ini?" tanya Jennifer balik,dengan nada gugupnya,sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya Sebastian,ia juga berusaha menyembunyikan perasaan malunya dibalik wajah kesalnya tersebut.


"Cepat singkirkan tanganmu dari tubuhku..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah yang dibuat setegas mungkin,tapi nyatanya malah terdengar kaku dipendengarannya Sebastian,dan bahkan pelukannya semakin erat saja.


"Jawab dulu pertanyaanku tadi,baru akan aku lepaskan..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum santai tapi juga tetap menggoda,sambil terus mengeratkan pelukannya tersebut tapi tidak sampai membuat Jennifer terasa sesak.

__ADS_1


"Dasar pria tidak waras...Jawab apanya? Aku bahkan sama sekali tidak mengerti,apa maksud dari pertanyaanmu tadi.Cepat lepaskan aku...Jika tidak,aku akan berteriak sekarang juga..." ucap Jennifer yang berpura-pura tidak mengerti,sambil terus mencoba memberontak didalam pelukannya Sebastian tapi nyatanya tenaganya memang tidak pernah akan bisa melewati tenaga besarnya Sebastian.


Lihatlah,bahkan sebelah tangannya Jennifer yang berada didalam genggaman tangannya Sebastian tadi itupun,Sebastian tidak ingin melepaskannya, hingga hanya menyisakan sebelah tangannya yang satunya saja.Dan tentu saja,tenaganya semakin berkurang untuk bisa melawan tenaga besarnya Sebastian tersebut.


"Silakan saja...Jika kamu ingin berteriak,silakan..." ucap Sebastian dengan nada santainya dan wajah tidak bersalahnya,sambil mendekatkan pelan bibirnya kebibirnya Jennifer.


Memangnya siapa yang akan berani menganggunya disaat-saat seperti ini,kecuali orang yang lebih berkuasa dari pada dirinya.


"Ka kamu ma mau apa?" tanya Jennifer dengan suara tercekatnya,sambil menahan dada kekarnya Sebastian,tapi sia-sia saja karena dada kekarnya Sebastian tetap maju hingga saat ini dada mereka tidak memiliki jarak sama sekali.


"Jika kamu berani macam-macam,aku akan ehmmmm......" belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimat penolakannya,Sebastian sudah langsung menerkam bibirnya dengan rakus,tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Sebastian terus m*l*m*t*nya tanpa ampun tapi juga terasa begitu lembut,hingga berhasil membuat Jennifer langsung terlena begitu saja, dan ikut memejamkan kedua matanya sama seperti yang dilakukan oleh Sebastian.


15 menit telah berlalu,tapi c**m*n mereka masih berlanjut hingga suhu tubuh mereka semakin lama semakin panas.


Tapi kemudian Sebastian teringat dengan kondisi kesehatannya Jennifer yang baru saja sadarkan diri,hingga membuat dirinya langsung menghentikan c**m*n dhasyatnya tersebut.


Sebastianpun mulai menjauhkan bibirnya dari bibirnya Jennifer dengan perlahan-lahan dan membuka kedua mata terpejamnya,hingga memperlihatkan Jennifer yang masih masih memejamkan kedua matanya dengan napas yang sedikit terengah-engah.


"Apakah masih kurang,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum menggoda saat ia melihat Jennifer yang tidak berniat ingin membuka kedua matanya,sambil mengendurkan pelukan mereka.


"Hah!" Jennifer langsung membuka kedua matanya saat ia mendengar suaranya Sebastian tersebut,tapi kemudian,wajah bingungnya langsung menjadi malu kembali karena ternyata ia sedang ditatap menggoda oleh Sebastian.


"Apakah kamu masih menginginkannya,hm?" Sebastian kembali menggoda Jennifer,sambil menahan tawanya karena wajah malunya Jennifer tersebut.


"Benarkah?" goda Sebastian lagi.


"Dasar tidak waras..." Jennifer hanya mampu mengumpat kesal saja,sambil duduk disandaran ranjangnya tersebut,karena saat ini rasa malunya sudah menumpuk dan tidak mampu ia sembunyikan dengan baik.


"Apa kamu tidak takut akan dipenjara,karena telah berani menodaiku barusan? Apakah kamu tidak tahu? Aku bisa saja langsung memenjarakan kamu, sekarang juga..." tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya sambil bersedekap dada,untuk mengurangi rasa malunya tersebut.


"Kamu yakin,akan tega memenjarakan pria yang setampan ini,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang tetap tersenyum menggoda, sambil berdiri dari ranjang pasien tersebut.


Lalu ia juga merapikan kemejanya,sambil memerhatikan wajah memberengut kesalnya Jennifer yang sama sekali tidak berkurang.


"Dasar... Jika saja kamu bukan keponakannya Tante dan Paman... Aku pasti tidak akan berpikir 2 kali lagi,untuk memanggil polisi sekarang juga..." Jennifer sudah kehabisan kata-kata untuk menutup mulut tidak tahu malunya Sebastian tersebut.


"Baiklah,baiklah,aku tidak akan menggodamu lagi... Tapi jujur, aku tidak mampu melupakan apa yang baru saja kita lakukan tadi.Apa lagi aku bisa melihat dengan jelas,kalau kamu juga begitu men*km*t* adegan mesra kita tadi... Bukankah yang aku katakan benar,hm?" ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum senang, tapi tatapan menggodanya masih saja terlihat.


Walaupun ia harus menahan bawahnya yang telah terbangun tadi supaya tertidur kembali,tapi setidaknya,ia sudah berhasil sedikit melepaskan rasa rindunya terhadap Jennifer selama beberapa hari ini.


"Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin kesal saja,sambil melemparkan bantal miliknya tersebut kearah Sebastian yang langsung berhasil menangkapnya.


"Oke,oke,maaf,maaf,kali ini aku benar-benar tidak akan menggodamu lagi. Aku serius..." ucap Sebastian dengan nada seriusnya,sambil berlindung dibalik bantal yang berhasil ia tangkap tersebut,dan juga mengintip Jennifer yang berniat melemparkan bantal kearahnya lagi.

__ADS_1


"Dasar tidak waras...Dasar menyebalkan..." umpat Jennifer dengan nada dan wajah yang sekesal-kesalnya,sambil meletakkan bantal yang hanya tersisa satu itu disampingnya,ia juga melirik kesal kearah Sebastian yang masih sibuk bersembunyi dibalik bantal tersebut dan juga terus memohon ampun padanya.


"Baiklah.Sekarang aku akan segera menyediakan air hangat untuk kamu,kamu bersabar sebentar ya..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang terus tersenyum senang,sambil berjalan kearah kamar mandi,sebelum ia kembali mendapatkan penolakan dari Jennifer.


"Dasar mesum..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya saat ia melihat Sebastian yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi tersebut, sambil menyentuh bibirnya yang masih bengkak karena l*m*t*nnya Sebastian yang tanpa ampun tadi.


"Tapi,kenapa tiba-tiba saja ia menghentikannya? Tidak seperti biasanya..." gumam Jennifer lagi,dengan nada dan wajah herannya.


Karena biasanya Sebastian akan langsung menerkamnya habis-habisan seperti hari-hari sebelumnya,tapi tadi Sebastian sendiri yang menghentikannya tanpa ia tahu apa penyebabnya.


Kemudian ia langsung tersenyum malu,tanpa menjauhkan jarinya dari bibir bengkaknya tersebut. Rasanya sekarang hatinya mulai merasakan keping-kepingan kebahagiaan,dan juga berbunga-bunga. Karena sepertinya,satu persatu perubahan-perubahan yang Sebastian perlihatkan padanya terasa tidak buruk juga.


Apa lagi,saat ia melihat kalau sedari tadi Sebastian lebih banyak menampilkan wajah yang tersenyum padanya dari pada wajah datarnya tersebut.Wajah tersenyum yang sangat jarang bisa ia lihat,selama ia bersama Sebastian.


"Apakah suamiku telah salah makan obat,atau memang benar-benar telah menjadi tidak waras karena sesuatu yang tidak aku ketahui..." gumam Jennifer dengan nada dan wajah yang heran, sambil menyangga dagunya dan terus menatap heran kearah pintu kamar mandi tersebut.


Lalu iapun melirik sekilas kearah jam dinding sana, ternyata sudah hampir jam 6 sore,pantasan saja Sebastian berantusias ingin menyediakan air hangat untuknya membersihkan diri.


30 menit kemudian...


Jennifer telah selesai membersihkan diri,begitu juga dengan Sebastian yang baru saja selesai membersihkan diri,setelah menemani dan membantu Jennifer membersihkan diri tadi.


"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka dan terlihatlah Sebastian yang baru saja selesai mandi dan sedang berjalan keluar dari sana,dengan celana panjang,kemeja yang sudah terpakai dengan rapi.


Ia juga berjalan santai sambil mengelap rambutnya yang terlihat masih sedikit basah,lalu ia berjalan mendekat atau duduk disamping ranjangnya Jennifer yang sedang duduk bersandar diatas ranjangnya dan sibuk menonton TV.


"Malam ini,kamu mau makan apa?" tanya Sebastian dengan nada pelannya,sambil menatap Jennifer dan juga sibuk mengelap rambutnya yang sudah hampir mau kering.


"Malam ini,,,,terserah kamu saja..." jawab Jennifer dengan nada malasnya sambil berpikir,tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.


Padahal ia hanya berpura-pura fokus ke TV saja,untuk menjauhkan pikiran-pikiran liarnya saat setiap saat ia melihat penampilannya Sebastian yang baru siap mandi.


"Baiklah.Aku akan menelepon temanku untuk membelinya" ucap Sebastian dengan nada santainya,sambil mengambil HPnya yang ia letakkan diatas nakas tadi.


Jenniferpun langsung tertawa didalam hatinya saat ia mendengar Sebastian menyebut kata teman tersebut,lalu tiba-tiba saja dibenaknya terlintas begitu banyak makanan.


"Tunggu..." ucap Jennifer dengan cepat,sebelum Sebastian sempat menekan tombol memanggil dilayar HPnya tersebut.


"Ada apa?" tanya Sebastian dengan nada bingungnya,sambil melemparkan handuk kecilnya kearah sofa sana karena rambut basahnya tadi sudah lumayan kering.


"Bolehkah aku memesan makanan yang ingin aku makan,malam ini?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum serius,sambil mengalihkan tatapannya kearah wajah tampannya Sebastian.


"Tentu saja boleh...Memangnya apa yang ingin kamu makan,malam ini?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum heran,padahal tadinya ia sudah bertanya,tapi Jennifer menjawab terserah,sekarang Jennifer malah sibuk bertanya tentang boleh atau tidak padanya.


"Malam ini,aku ingin memakan Bakso sapi,udang saus tiram,iga bakar,jus mangga, soup tom yum,capcay seafood,dan,,," jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang karena sibuk membayangkan betapa enaknya jika semua makanan yang baru saja ia sebut itu telah masuk kedalam mulutnya nanti,iapun menjeda kalimatnya karena ia merasa masih belum cukup.

__ADS_1


Sedangkan Sebastian,keningnya langsung mengernyit heran dan sekaligus bingung,bahkan semakin lama semakin menukik tajam saat ia mendengar begitu banyak macamnya pesanan atau makanan yang ingin Jennifer pesan.


__ADS_2