Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 128


__ADS_3

"Sekarang,aku akan menjemput wanitaku.Dan kamu...Ingat,lakukan tugasmu yang selanjutnya dengan baik,supaya pria angkuh itu berhasil terjebak disini selama mungkin.Jadi,pernikahan kami tidak akan terganggu nantinya..." peringat pria tersebut dengan nada dan wajah seriusnya,sambil berdiri dari duduknya.


"Kamu tenang saja,aku pasti akan melakukan tugasku dengan sangat baik..." jawab wanita tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum yakin,sambil memerhatikan pria tersebut yang juga terlihat begitu bersemangat.


"Baiklah.Kalau begitu,aku akan berangkat terlebih dahulu...Bye bye..." ucap pria tersebut dengan nada senangnya,lalu ia segera berjalan pergi dari sana, setelah ia sudah selesai sedikit melambaikan tangannya kearah wanita tersebut yang langsung membalasnya dengan disertai senyuman lebar diwajahnya itu.


'Jennifer...Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi, dan kamu akan segera menjadi milikku sepenuhnya dan untuk selamanya.Aku sangat yakin,kalau nanti kamu telah menjadi milikku sepenuhnya,pria angkuh itu pasti tidak akan menginginkan kamu lagi.Dan kamu,tidak akan memiliki satupun alasan untuk menolakku lagi...' lanjut pria tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum semangat,ternyata pria tersebut adalah Irfan.


Irfan terus saja menampilkan ekspresi wajah senyum senangnya yang telah dipenuhi kelicikan, tanpa menghentikan langkah kakinya yang sedang menuju kearah mobilnya sana,karena sekarang ia akan pergi ketempat dimana Jennifer berada saat ini.


Sedangkan wanita yang tadi itu,ekspresi wajahnya tidak jauh berbeda dengan Irfan.Lihatlah,wanita tersebut terus tersenyum bahagia karena sedang memikirkan tentang akan betapa bahagianya dirinya jika ia telah berhasil bersama dengan Sebastian nantinya.


"Cepat atau lambat,aku pasti akan berhasil menaklukkan hatimu,sayang...Lagi pula,mau atau tidak mau,kamu pasti akan tetap terjatuh kedalam pelukanku pada malam ini..." gumam wanita tersebut dengan nada semangat dan wajah yang tersenyum licik,ternyata wanita tersebut adalah Rebeeca.


Dan ternyata mereka berdua telah berkerja sama untuk mendapatkan keinginan mereka masing-masing,sedari 1 bulan yang lalu.Dan merekalah dalang dari semua masalah yang telah terjadi disini,hingga membuat Sebastian harus bergegas datang kesini sekarang.


Karena saat ini mereka sedang berada dikota B,dan Irfan baru saja ingin menuju ketempat dimana Jennifer sedang duduk merenung tentang berbagai hal dikejauhan sana, sementara Rebeeca akan menunggu kedatangannya Sebastian dengan senang hati disini.


"Ya,tentu saja harus dengan bantuan dari bungkusan kecil ini..." lanjut Rebeeca sambil mengelus-elus pelan bungkusan kecil yang berisi bubuk dan berwarna putih itu,senyum liciknya tadi bahkan semakin lebar dan disertai seringaian licik diwajahnya itu.


"Dan kamu wanita jal*ng,aku pasti akan memberimu sedikit pelajaran padamu,jika Irfan sudah berhasil membawamu pergi dari sisinya priaku nanti.Dan hal itu,akan segera terjadi sebentar lagi.Selamat menikmati harimu,wanita jal*ng..." lanjut Rebeeca lagi,dengan wajah yang tersenyum puas dan juga tetap terlihat licik,saat ia memikirkan tentang Irfan yang pasti akan segera melangsungkan pernikahan paksa tersebut,jika Jennifer sudah berada didalam genggamannya Irfan nanti.


Setelah puas bergumam senang,Rebeeca segera ikut berdiri dari duduknya dan juga berjalan pergi dari sana,dengan ekspresi wajah yang terus saja tersenyum bahagia.


Sebentar lagi,ia pasti akan berusaha sebisa mungkin untuk menjebak Sebastian.Setelah rencana yang sejak lama telah berada didalam benaknya saat ini itu telah berhasil nanti,ia akan pastikan kalau Sebastian tidak akan mampu menolaknya lagi.


***


Disebuah danau yang suasana tempatnya sangat teduh dan nyaman,sangat cocok dijadikan tempat untuk penghilang lelah dan apapun itu, walaupun hanya dengan duduk bersantai disana saja.Karena danau tersebut,memang memiliki permandangan yang indah,bukit dan gunung dari jarak jauh.


Dan juga banyaknya perpohonan yang ada disekitarnya,yang mampu membuat udara disana tidak begitu panas,sejuk dan juga selalu segar untuk dihirup.Apa lagi, dihari sore menjelang malam seperti saat ini.


Terlihat Jennifer yang sedang duduk menyandar dikursi kayu panjang yang ada didanau tersebut, dengan ditemani oleh puluhan anak buahnya Sebastian.Kegiatan baru yang telah Jennifer lakukan selama 2 minggu ini,tanpa sepengetahuannya Sebastian sama sekali.


"Ternyata dia memang tidak akan pernah mencintaiku,dan aku yang telah berharap terlalu banyak padanya... Lihatlah,bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan diriku.Apakah aku sudah makan,apakah aku baik-baik saja,apakah aku tidak merasa lelah dengan perkerjaanku diperusahaan besar itu,apakah aku masih marah atau yang lainnya. Nyatanya,perkerjaannya lebih penting dari pada diriku..." gumam Jennifer dengan nada pelannya dan tatapan hampanya,sambil menghela napas berkali-kali sedari tadi,untuk mengurangi segala rasa kecewanya tersebut.


Bagaimana rasa kecewanya tidak semakin lama semakin bertambah,Sebeastian bahkan sama sekali tidak pernha bertanya apapun padanya. Walaupun mereka memang sulit untuk bisa berbicara banyak selama 1 bulan ini,tapi setidaknya Sebastian akan memanfaatkan disetiap mereka sempat bertemu,walaupun hanya denga waktu sebentar itu saja.

__ADS_1


Tapi nyatanya Sebastian tidak pernah berniat ingin memanfaatkan waktu-waktu sebentar itu,walau hanya untuk menatapnya saja.Padahal ia sudah mulai berharap lagi,hanya saja ia berpura-pura cuek.Tapi saat ia melihat Sebastian yang malah lebih cuek dari pada dirinya,harapannya yang tinggal seujung kuku jari kelingkingnya tadi itupun langsung sirna begitu saja.


"Ya,aku rasa,keputusanku sudah benar..." gumam Jennifer lagi,dengan perasaan ragu dibalik nada santainya itu.


Dan sekarang ia akan mengambil sebuah keputusan yang menurutnya adalah yang paling terbaik untuk dirinya dan juga untuk Sebastian, karena mereka berdua tidak mungkin akan terus menjalani hidup yang seperti itu bukan.


Walaupun hatinya merasa sangat tidak rela,tapi mau bagaimana lagi,karena sama sekali tidak terlihat kalau Sebastian akan mencintainya.


Dan ia merasa sudah cukup,ia telah bertahan selama hampir 2 bulan penuh.Tapi nyatanya hubungan mereka yang telah ia paksakan hari itu tidak menemukan perubahan sedikitpun.Yang ada, malah dirinya yang semakin lama semakin terpuruk.


Maka dari itu,ia harus mulai memikirkan dirinya sendiri,ia bahkan belum memberitahu apapun pada kedua orang tuanya,karena ia tidak ingin kalau kedua orang tuanya merasa khawatir,dan sampai ikut campur,dan juga memaksa Sebastian untuk mencintainya.


Setelah hampir 2 jam lamanya ia berada disana, dengan tatapan hampanya tersebut,iapun mulai mengalihkan tatapan hampanya tersebut kearah tepi jalan sana saat ia mendengar suara mobil yang sedang mendekat kearahnya saat ini.


Ditepi jalan sana,sebuah mobil yang sangat dikenali oleh Jennifer,terlihat baru saja sampai.Tapi Jennifer hanya menatap sebentar saja,dan kembali menatap lurus kedepan sana lagi.


Sedangkan ditepi jalan sana,Billy yang baru saja sampai dan turun dari mobilnya itu,ia hanya mampu menghela napas berat dengan panjang saja.Apa lagi, saat ia melihat tatapan mata Nona Mudanya yang hampa dan terlihat masih memerhatikan sudut danau yang ada disana.


"Ternyata kalian berdua bisa sekompak ini juga,tapi kenapa kalian tidak bisa saling mengalah atau apapun itu.Ntahlah,bagaimana caranya aku membantu mereka..." gumam Billy dengan nada pelannya dan wajah yang bingung,saat ia melihat tempat membuang galau kedua majikannya yang sama itu.


"Nona Muda..." panggil Billy dengan nada pelannya sambil memerhatikan ekspresi wajah tenang dan tatapan hampa Nona Mudanya itu.


"Hm..." jawab Jennifer dengan singkat dan nada pelannya,tanpa mengalihkan tatapan lurus kedepannya itu sedikitpun.


Lagi-lagi Billy kembali menghela napas berat dengan panjang,ia sangat tidak menyukai sikap pendiamnya Jennifer selama beberapa minggu ini.


"Dring dring dring..." baru saja Billy ingin kembali bertanya,tapi suara panggilan di HPnya itu mampu membuat dirinya harus mengangkatnya terlebih dahulu.Apa lagi,saat ia melihat kalau nama Tuan Mudanya lah yang tertera dilayar HPnya saat ini.


"Hallo...Tuan Muda,ada apa?" jawab Billy dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah herannya,karena jika tidak ada hal yang penting, Tuan Mudanya tidak akan meneleponnya disaat sedang sibuk seperti ini.


Lihatlah,posisi dan tatapan hampanya Jennifer tersebut bahkan tidak terpengaruh sedikitpun, padahal ia tahu kalau yang saat ini sedang menelepon Billy itu suaminya.


"Apakah kamu sudah bersama istriku,sekarang?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya,dari seberang sana.


Iya.Aku sudah bersama Nona Muda sekarang,Tuan Muda..." jawab Billy dengan ekspresi heran yang telah bercampur bingung,saat ia menangkap nada khawatir dibalik nada tegas Tuan Mudanya barusan.


"Dimana kalian sekarang?" tanya Sebastian sambil melangkah pelan kearah mobilnya,ia harus memastikan kalau istrinya benar-benar dalam keadaan aman terlebih dahulu,sebelum ia akan berangkat kekota B sekarang.

__ADS_1


"Sedang didalam perjalanan pulang,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan nada tenangnya, karena ia merasa takut kalau dirinya akan ketahuan sedang berbohong oleh Tuan Mudanya.


"Bagus.Selama aku berada dikota B sana,jangan berani-berani mengizinkan istriku keperusahaan atau keluar kemanapun lagi...Apa kamu mengerti" perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang telah bercampur serius.


"Mengerti,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat, dan perasaan yang semakin khawatir dari pada yang tadi.


Sepertinya ia baru menyadari,kalau firasat buruk yang sedang ia rasakan tersebut,pasti juga sedang dirasakan oleh Tuan Mudanya.


Sedangkan Sebastian,setelah selesai memberi perintah dan mendengar jawabannya Billy yang terdengar agak ragu tersebut,ia langsung mematikan telepon mereka secara sepihak.


Ntah kenapa kali ini ia masih berpikir untuk bersabar sampai Billy selesai menjawab,mungkin supaya perasaan khawatirnya bisa menjadi lebih tenang.Tapi berkat nada ragunya Billy barusan, sekarang ia malah menjadi semakin khawatir saja.


Kembali ke Billy...


"Nona Muda...Sebaiknya,kita akan kembali membahas masalah itu dilain waktu saja.Karena sekarang,kita harus segera pulang secepat mungkin..." ucap Billy dengan nada khawatir yang telah bercampur serius,sambil menatap sebentar kearah Nona Mudanya yang baru saja ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Dan ia sangat tahu,apa sesuatu yang sedang ingin dikeluarkan oleh Nona Mudanya itu.Tapi sekarang, bukan waktunya untuk dirinya dan Jennifer berbicara banyak hal.


Setelah selesai menatap sebentar kearah Jennifer, Billy segera mengedarkan pandangannya kesekitarnya dengan waspada,begitu juga dengan yang lainnya karena sepertinya mereka bisa langsung memahami ekspresi wajahnya Billy saat ini.


"Pulang? Bukankah semalam aku sudah mengatakannya pada kakak,kalau aku akan berangkat ke Australia malam ini juga.Kenapa sekarang,kakak malah mengajak aku pulang?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah herannya yang telah bercampur bingung,sambil berdiri dari duduknya dan juga memerhatikan Billy yang terlihat begitu khawatir.


Padahal ia sudah menyediakan banyak kartu didalam tasnya kecilnya yang memang selalu akan ia bawa kemana-mana itu,semua persediaan apapun yang ia inginkan, bisa langsung ia dapatkan dari kartu-kartu tabungannya tersebut.


Jadi,ia tidak perlu sampai harus repot-repot membawa koper kecil ataupun besar untuk ke Australia.Lagi pula,ia sudah memiliki rumah sendiri di Australia sana, rumah yang pernah ia tinggali disaat ia kuliah hari itu.


"Jennifer Amora Naava...Bukankah sudah aku katakan tadi,kalau kita akan kembali membahas masalah itu dilain waktu saja...Ayo,sekarang kita harus segera pulang..." jawab Billy dengan nada dan wajah serius dan tegasnya,sambil menarik pelan tangannya Jennifer.


Perasaannya sudah mulai tidak enak sedari tadi pagi,berkat firasat buruk yang ia rasakan tersebut, dan saat ini perasaannya malah semakin lama semakin tidak enak saja.Apa lagi,saat ia tiba-tiba saja mendapatkan perintah dan peringatan dari Tuan Mudanya tadi.Karena tidak biasanya Tuan Mudanya meneleponnya,jika ia sedang bersama Jennifer.


"Kakak...Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kakak malah tiba-tiba saja,mengajakku pulang seperti ini?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin bingung saja,sambil menahan langkah kakinya Billy dan juga mengikuti arah pandangnya Billy yang masih sibuk menelisik kesekitarnya sedari tadi.


"Apa kamu sudah mengerti,sekarang? Mereka pasti sedang mengincarmu..." jawab Billy dengan nada dan wajah khawatir yang telah bercampur waspada saat ia melihat beberapa mobil yang ntah dari mana datangnya, tiba-tiba saja berhenti ditepi jalan sana tepat disamping mobilnya tadi.


Sedangkan Jennifer,wajah bingungnya tadipun langsung berubah menjadi serius dan juga waspada,sambil memijit pelan kepalanya yang kembali merasakan sedikit pusing.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Billy dengan nada khawatirnya saat ia melihat Jennifer yang kembali merasakan pusing,rasa pusing yang telah ia lihat selama 1 minggu ini.

__ADS_1


__ADS_2