
Putri tidak tahu malunya itu memang mampu membuatnya kesal dan pusing 7 keliling,padahal dirinya sudah banyak kali mencarikan dan menyarankan pria-pria baik,tampan dan menurutnya yang mampu melindungi putri nakalnya itu.
Tapi lihatlah, Jennifer malah jual mahal,dan jual murah pada Sebastian,ia jadi tidak habis pikir dengan tingkah tidak tahu malunya Jennifer itu.
Apakah semua tingkahnya Jennifer benar-benar nurun dari dirinya,sepertinya ia tidak ingin mempercayainya.
"Bukankah Dad dan Mom sudah berjanji,kalau kalian tidak akan memarahiku setelah ini..." ucap Jennifer dengan kepala yang masih tertunduk bersalah dan juga tidak berdaya,ia bahkan tidak berani,walau untuk menatap kearah wajah marah kedua orang tuanya saja.
Terdengar helaan napas berat dari hembusan napasnya kedua orang tuanya Jennifer,setelah mereka ber 3 sama-sama terdiam untuk beberapa menit lamanya.
"Apa kamu sudah kerumah sakit untuk memeriksa isi kepalamu,nak? Mana tahu saja,kepalamu memang benar-benar sedang bermasalah sekarang?" tanya Mommy dengan nada kesalnya,setelah ia sudah selesai menetralkan semua rasa emosinya
'Rumah sakit apanya? Kenapa Mommyku malah menjadi sama seperti Sebastian saja,yang selalu mengatakan diriku bermasalah...' batin Jennifer dengan perasaan kesalnya,ia bahkan tidak berani,walau hanya untuk menjawab saja karena takut Mommynya akan emosian lagi.
"Apa kamu tidak takut kalau ide menjijikkanmu itu,tidak akan berhasil? Bagaimana kalau Sebastian malah membuatmu malu,dengan mencari bukti dan meninggalkan kamu begitu saja.Atau mungkin saja,akan membuat nama baikmu tercemar..." tanya Mommy dengan nada dan perasaan khawatirnya,ia tidak mau mengambil resiko,hanya karena ide gil*nya dari Jennifer itu.
"Mom,kenapa Mommy mengatakan seperti ideku itu sudah sangat buruk saja.Dan Sebastian tidak mungkin akan setega itu padaku..." jawab Jennifer dengan nada kesalnya dan nada yakin diakhir kalimatnya,tanpa berani untuk menatap kearah Mommynya yang mungkin saja sudah semakin kesal.
Ia sendiri bahkan juga bingung,idenya itu buruk atau tidak,yang ia tahu hanya ingin menaklukkan Sebastian saja,sebelum wanita lain yang duluan berhasil melakukannya.
"Tentu saja,itu sangat buruk,bahkan sangat-sangat buruk. Sayang,lihatlah putri sulungmu ini,yang begitu percaya diri ini...Aku rasa,aku tidak pernah mengajarkan hal seperti itu padanya. Buat apa juga kita melemparnya ke Australia,jika putrimu ini ternyata hanya bisa berpikir hal-hal nakal saja..." ucap Mommy dengan nada dan wajah kesalnya yang mungkin saja sudah tidak terbendung lagi.
Sedangkan Daddy,ia ntah sudah menghela napas panjang dalam diam untuk keberapa kalinya sedari tadi. Sebagian hatinya ia setuju dengan ide gil*nya Jennifer,tapi sebagiannya lagi ia juga khawatir dengan hasil akhirnya nanti.
"Mom,apa salahnya kita mencobanya? Aku hanya memerlukan dukungan dan kerja sama dari kalian saja,sisanya biar aku yang akan mengatasinya. Bukankah, Sebastian juga termasuk menantu idamannya Mommy?" ucap Jennifer dengan nada dan wajah memelasnya dan posisi kepala yang tetap sama sambil melirik kearah Dad dan Momnya,ia masih berusaha untuk mendapatkan izin dan dukungan dari kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu bisa menjadi seb*d*h ini,hanya karena seorang pria...Kamu hanya menghabiskan uang Daddymu saja,dengan bersekolah tinggi dan bagus di Australia sana.Sepertinya sekarang aku harus melemparmu kepulau yang terdampar saja, supaya pikiranmu bisa jernih kembali..." ucap Mommy dengan wajah yang semakin kesal,ingin sekali ia membongkar isi kepalanya Jennifer dan memeriksanya,mana tahu saja ada salah satu syaraf yang sedang terjepit disana.
"Sayang,kenapa kamu malah diam saja.Lihatlah putrimu ini,aku sampai bingung mau berkata apa lagi..." lanjut Mommy dengan wajah kesal dan juga frustasi,sambil memijit pangkal hidungnya karena ia merasa semakin pusing saja.
"Sayang,kenapa kamu malah tetap diam juga? Apa yang sedang kamu pikirkan,hm?..." tanya Mommy lagi,dengan nada kesalnya,sedikit tinggi dan wajah herannya sambil menolehkan pelan kepalanya kearah wajah suaminya yang hanya diam saja,dan terlihat sedang berpikir keras,walaupun elusan tangan suaminya pada punggungnya tidak berhenti.
"Jangan katakan,kalau kamu juga mulai tidak waras seperti putri nakalmu itu..." lanjut Mommy lagi,dengan tatapan semakin kesal kearah suaminya,sambil berdiri dari duduknya dan bersedekap dada.
Daddynya Jennifer yang tadi masih sibuk menatap istrinya dengan wajah khawatir dan sambil berpikir itupun langsung menatap tenang sebentar kearah Jennifer,lalu beralih kearah istrinya yang masih bersedekap dengan wajah kesalnya.
"Bagaimana kalau kita mencobanya dulu,sayang?" Daddy tidak menjawab,ia malah balik bertanya pada Mommy yang langsung menatap kesal dan juga tidak percaya kearahnya,sambil berdiri dari duduknya.
"Apakah kamu sedang stres karena terlalu banyak perkerjaan belakangan ini,hm? Atau kamu telah disogok sama Jennifer? " tanya Mommy balik,dengan nada menyindir dan wajah yang sekesal-kesalnya,ternyata suaminya benar-benar ikut-ikutan tidak waras.
"Sayang,duduk dulu..." ucap Daddy dengan suara lembutnya dan mengabaikan pertanyaan kesal istrinya itu,sambil mendudukkan istrinya dengan gerakan pelan.
__ADS_1
"Nanti akan aku katakan padamu, alasanku mendukung idenya Jennifer,sayang.Sekarang kamu hanya perlu ikut mendukung saja...Bagaimana?" tanya Daddy dengan wajah yang tersenyum tenang setelah ia selesai menghela napas panjang dengan berat,sambil kembali mengelus-elus pelan punggung istrinya.
Mommy yang tadi kembali kesal dan juga emosi,sekarang sudah berusaha mengontrol semua rasa kesal dan emosinya saat ia mendengar helaan napas berat suaminya barusan,sambil menelisik wajah tersenyum tenang suaminya selama beberapa detik lamanya,dan beralih sebentar kearah wajah senangnya Jennifer.
Sedangkan Jennifer,ia yang tadi masih menundukkan kepalanya itupun sudah langsung mengangkat kepalanya kembali saat ia mendengar dukungan dari Daddynya tadi.Ia tersenyum senang dengan harap-harap cemas,sambil menunggu jawaban Mommynya.
Ia juga tidak perduli dengan apa aĺasannya Daddy,sampai ingin mendukungnya.
"Baiklah..." jawab Mommy akhirnya,dengan nada ragu-ragunya dan wajah khawatirnya,sambil menghela napas dengan pelan dan juga panjang.
"Benaran,Mom?" tanya Jennifer dengan wajah tidak percayanya,sambil berdiri dari duduknya dengan cepat.
"Mommy...Aku sangat menyayangi Mommy, cup, cup..." panggil Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang saat ia melihat anggukan pelan dari Mommynya,sambil berjalan mendekat dan mengecup Mommy untuk beberapa kali,duduk dan juga memeluk Mommy dengan sayang.
"Apakah kamu yakin,kalau nanti idemu itu akan berhasil?" tanya Mommy dengan perasaan khawatir dibalik wajah malasnya karena melihat tingkah nekadnya Jennifer,sambil mengelus pelan lengannya Jennifer yang sedang memeluknya dari samping.
"Tentu saja,aku harus yakin Mom.Apa lagi,aku sudah mendapatkan dukungan dari kalian,jadi aku sudah yakin seyakin-yakinnya..." jawab Jennifer dengan wajah yakinnya,tapi perasaannya timbul sedikit keraguan,apakah Sebastian akan mencintainya nanti...
Apa lagi,saat ia mengingat kembali tentang Sebastian yang telah mengeluarkan syarat tidak ingin disentuh tadi malam,tapi ia juga bingung karena saat dic**m,Sebastian bahkan tidak pernah menolaknya,ia jadi berpikir kalau Sebastian sangat munafik.
Tapi walaupun begitu,ia tetap nekad ingin mencobanya,supaya ia bisa mengikat Sebastian lebih kuat lagi.Dan melihat,apakah kedekatan mereka sehari-hari nanti akan membuat Sebastian mencintainya nanti...
Lebih tepatnya ia kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena masih merasa tidak percaya,apakah benar sikap-sikap nakalnya Jennifer sekarang itu,diturunkan dari dirinya.
Sedangkan Daddy,ia langsung tersenyum kecil saat ia melihat gelengan kepala istrinya itu...
'Kamu ini,seakan- akan tidak pernah nakal seperti ini saja...' batin Daddy dengan wajah tersenyumnya, saat ia mengingat kembali masa-masa istrinya suka menjebaknya dan menggodanya dulu.
"Tapi tunggu dulu...Kamu harus berjanji sama Mommy,jika ide gil*mu itu tidak berhasil dan berakhir mengecewakan,kamu jangan sampai menjadi hilang akal ya...Boleh saja kamu patah hati,tapi jangan sampai mentalmu ikut terganggu.Apa kamu mengerti maksudnya Mommy,hm?" lanjut Mommy lagi,kali ini ia bertanya dengan wajah seriusnya,sambil menolehkan kepalanya kearah wajahnya Jennifer.
"Mom,jangan pernah meragukanku.Apa lagi, meragukan kemampuanku dan juga kewarasanku. Mommy,tenang saja,aku hanya menyukai sedikit tantangan dan mencoba untuk mendapatkan cinta dari seorang pria dingin.Tapi jika Sebastian memang bukan jodohku,mau bagaimana lagi... Jika saat itu tiba,aku pasti akan mendengarkan apapun katanya Mommy..." jawab Jennifer dengan wajah yakinnya,dan nada tidak rela di 2 kalimat terakhirnya,sambil memeluk sayang Mommy dengan lebih erat.
"Ya,kamu sudah berhasil membuat Mommy menjadi sedikit tenang..." ucap Mommy dengan wajah malasnya.
'Ragu apanya lagi,kamu memang sudah tidak waras sejak bertemu Sebastian.Dan satu lagu,dingin...Ya,pria dingin memang menyebalkan...' lanjut Mommy didalam hatinya,sambil menatap malas kearah wajah tersenyum manis suaminya.
"Dan itu juga berhasil membuat aku merasa senang,Mom...Mom,Dad,aku sudah memerintahkan Billy untuk menyiapkannya apa yang kita perlukan nanti malam.Jadi,besok Mom dan Dad hanya tinggal melakukan apa yang tadi sudah aku katakan saja.Tapi sekarang aku hanya mengkhawatirkan 1 orang saja,Mom,Dad..." ucap Jennifer dengan nada semangatnya dan panjang lebar.
"Siapa?" tanya Daddy dan Mommy secara serentak,sambil menatap penasaran kearah Jennifer
"Sylvia orangnya,Mom,Dad..." jawab Jennifer dengan nada malasnya,karena mulutnya Sylvia sangat sulit untuk dikunci,jika disuruh menyimpan rahasia.
__ADS_1
"Ternyata Sylvia...Kamu tenang saja,adikmu itu mudah untuk dikelabui..." jawab Mommy dengan wajah yang tersenyum serius.
"Iya.Lagi pula,kita hanya perlu berakting dengan baik dan nyata saja..." timpal Daddy dengan wajah yang tersenyum santainya.
"Terima kasih,Mom,Dad.Kalau begitu,aku sudah bisa tenang sekarang..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum bahagia,karena disaat-saat seperti apapun,Mommy dan Daddynya pasti selalu saja ada untuknya.
Akhirnya mereka ber 3 pun melanjutkan obrolan mereka yang tegang itu menjadi obrolan ringan,dan juga bercanda tawa hingga makan siang tiba,setelah Mommy sudah membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Dan dengan Daddy yang hanya menyela beberapa kali,sambil memikirkan apa yang telah ia lakukan tadi.Apakah keputusannya ini akan berakhir baik,atau buruk.
Ntahlah,ia hanya berusaha membantu putri sulungnya untuk mendapatkan pria yang tepat,terutama ia juga menyukai pria tersebut.
Berbeda dengan mereka ber 3 yang masih sibuk mengobrol,Sebastian malah masih sibuk memeriksa dengan teliti,setiap email yang telah masuk kelaptopnya sedari tadi.
Ia tidak perduli dengan apa yang sedang semua orang lakukan di Mansion tersebut,walaupun pikirannya kadang-kadang suka terbagi 2 tempat,berkat Jennifer.Tapi sampai sekarang ia masih mampu mengontrolnya,dan mengalihkannya keperkerjaannya yang memang selalu sibuk itu.
Setelah emailnya yang telah masuk itu hanya tersisa beberapa saja,iapun menatap kearah jam dindingnya yang ternyata sudah hampir jam 12 siang.Dan sebentar lagi,pasti akan ada yang mengetuk pintu kamarnya untuk memanggilnya makan siang.
Iapun segera menutup laptopnya dan mengambil HPnya,sepertinya ia akan melanjutkan perkerjaannya setelah makan siang nanti saja.
"Hallo,Tuan Muda..." terdengar suara Billy yang sedang menjawab dari seberang sana,saat kontak nama yang sudah Sebastian pencet tadi sudah tersambung.
"Tuan Muda,apa ada yang bermasalah dengan email-email yang telah aku kirimkan tadi?" tanya Billy dengan nada penasarannya,saat ia tidak juga mendengar jawaban dari Tuan Mudanya.
"Bagaimana dengan pesanan yang sudah aku pesan pada minggu lalu itu? Apakah sudah siap? Apa kamu sudah pergi mengambilnya?" tanya Sebastian dengan nada santainya,sambil berdiri dari sofa dan berjalan kearah balkonnya kamar tersebut.
Dan pertanyaan bertubi-tubi yang terdengar tidak sabaran dipendengarannya Billy itupun,mampu membuat Billy langsung tercengang dan diam.
"Apa aku harus mengulangi pertanyaanku,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menatap kearah bawah balkon sana,dimana para pengawal dan para pelayan sedang sibuk mondar-mandir karena sedang sibuk membuat beberapa dekorasi bunga dihalaman samping Mansion tersebut.
Mereka semua juga menyediakan panggangan,dan lain sebagainya.Karena Nona Muda mereka akan berulang tahun malam ini,jadi mereka semuapun mungkin sedang berusaha membuat yang terbaik tanpa menyewa orang-orang khusus satupun karena Nona Muda mereka hanya ingin membuat acara kecil-kecilan saja.
"Ma maafkan aku,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada gugupnya karena baru tersadar dari rasa tercengangnya,berkat sikap aneh Tuan Mudanya yang tidak pernah terjadi selama 1 tahun ini.
"Sudah,Tuan Muda.Pesanannya sudah siap,dan aku juga sudah mengambilnya tadi pagi...Apa sekarang,aku harus mengantarkannya ke Mansion Tuan Besar,Tuan Muda?" lanjut Billy dan bertanya dengan nada bingungnya,karena setahunya ia diperintahkan untuk membawanya pada nanti malam,tapi kenapa sekarang Tuan Mudanya seperti sudah tidak sabaran saja.
"Tidak,nanti malam saja.Ingat,nanti kamu harus......" belum sempat Sebastian menyelesaikan perintahnya,Billy sudah menyelanya dengan cepat.
"Aku masih ingat,Tuan Muda.Aku sudah menulis namaku sendiri disana,saat aku sudah mengambilnya tadi..." sela Billy dengan perasaan kesal dibalik nada tenangnya ,bahkan wajahnya juga terlihat kesal,walaupun ia tahu kalau Tuan Mudanya tidak akan melihatnya, dan itu lebih bagus baginya.
Ia kesal,karena Tuan Mudanya selalu merepotkan dirinya selama beberapa hari ini,ia sudah memiliki begitu banyak perkerjaan berkat Tuan Mudanya yang tidak masuk kekantor.Belum lagi,tentang Nona Mudanya yang tadi pagi telah memberinya perintah dan ancaman-ancaman,dan juga memerintahkannya membeli sesuatu.
__ADS_1