
Gina membuka laci meja kerjanya mencari seperangkat alat tulis yang ia simpan di sana. Ini hari keduanya bekerja. Ia belum banyak tahu harus mengerjakan apa. Jadilah ia hanya membuka file-file di laptopnya untuk memeriksa berkas. Papanya juga belum memberitahu apa yang harus ia kerjakan. Ia benar-benar tidak tahu menahu dengan bidang pekerjaan ini. Menjabat sebagai kepala bagian produksi adalah hal yang sangat baru baginya. Sangat berbeda dengan saat berada di Font.
Gina membuka tempat pensil berwarna merah hati diatas meja kerjanya.
"Ahh, aku tahu kenapa ruangan ini tidak nyaman. Sepertinya aku harus mengubah beberapa hal di sini. Sofa, meja, gorden, tanaman di sudut sana dan skin laptop ini. Pegawai sebelumnya pasti sangat tidak trendy. Kenapa semua yang ada disini terlalu biasa saja. Satu-satunya yang menarik hanya tempat pensil ini." Peluk Gina pada tempat pensil kesayangannya.
"Warnamu maroon, bunga-bungamu sakura yang kecil dan imut. Sangat menggemaskan."
Begitulah Gina jika menyukai sesuatu. Ia akan sangat kekanak-kanakan. Sebagai penyuka warna maroon ia biasa melengkapi kebutuhannya dengan warna itu. Baju dilemarinya didominasi warna maroon. Furnitur dikamarnya dipenuhi warna maroon. Baginya warna maroon itu lambang kebahagiaan, semangat dan cinta. Ia merasa warna maroon memberinya tiga elemen itu sekaligus.
Sedang asyik membayangkan jika ruangannya direnovasi, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Ya, ada apa?" Jawabnya dingin ingin menunjukkan bahwa ia tidak ingin dihubungi.
"Nona, datanglah ke ruanganku." Suara Surya.
"Wah, sekarang kau memerintahku?"
"Ada sesuatu yang penting yang harus saya sampaikan."
"Kalau begitu, sampaikan saja sekarang. Aku sedang malas kemana-mana." Gina cuek.
"Jika Anda ingin cepat bisa merebut posisi saya, Anda harus datang sekarang."
"Begitu?" Gina membulatkan matanya merasa Surya seperti mengancamnya.
"Baiklah, aku datang." Akhirnya Gina menyangnggupi karena penasaran.
Pria itu.. Baru saja menempati posisinya dan sekarang sudah sesombong ini. Memanggilku ke ruangannya? Berani-beraninya dia memerintahku. Apa dia mulai lupa diri. Apa dia sudah lupa aku ini siapa? Aku adalah putri tunggal orang yang mengangkatnya menjadi presdir. Seharusnya dia tahu diri akan hal ini. Lihat saja, aku akan memberinya pelajaran sudah membuatku benar-benar seperti bawahannya. Omel Gina dalam hati selama perjalanan menuju ke ruangan Surya.
Gina mengetuk pintu ruangan Surya, paling tidak ia masih menjaga kesopanannya karena ia ingat bahwa kelakuan baiknya akan dinilai plus oleh Pak Rangga. Kalau Surya mengadu tentang tingkahnya yang semau sendiri, bisa saja Pak Rangga akan semakin yakin pada keputusannya memilih Surya sebagai pemimpin R-Company.
Surya mempersilakannya masuk dan dengan pandangan sinis Gina mendekati meja presdir baru itu.
"Jadi, kenapa menyuruhku ke sini? Mau memberikan kursi itu secepat ini?"
"Silakan duduk, Nona. Seseorang juga akan datang." Ujar Surya tenang dan seperti tidak mendengar kalimat awal Gina.
"Siapa?" Tanya Gina heran. Dan tepat saat itu seseorang benar-benar mengetuk pintu. Surya mempersilakannya juga.
Tampak seorang gadis berperawakan seperti dirinya masuk dengan menggunakan kemeja warna light grey dan celana panjang warna gelap segradasi. Sangat sederhana tapi penampilan gadis ini cukup manis. Wajahnya bersih, rambutya lurus sebahu dengan poni lempar yang menutupi sebagian dahinya.
Surya meletakkan pulpen di tempatnya dan beranjak dari duduknya. Ia tahu Gina penasaran pada gadis ini. Ekspresi Gina memandang dari ujung kepala hingga ujung kaki membuat Surya tahu bahwa sepertinya Gina sedang menilai penampilan gadis itu. Surya tahu Gina biasa melakukan itu pada setiap orang apalagi orang yang baru ia kenal. Karena bagi Gina, penampilan itu sangat penting. Sehingga ia juga sering menilai orang lain dari penampilannya.
__ADS_1
"Silakan duduk." Ajak Surya yang mendahului mereka dan duduk di sofa single di paling ujung. Gina mengambil duduk di dekat ia berdiri. Dan gadis yang sempat menyapa Gina sesaat setelah ia masuk tadi sekarang duduk di seberang Gina.
"Jadi, kenapa memanggilku kemari? Dan siapa dia?" Gina memandang gadis itu lagi. Ada ID card yang menempel di saku kemeja gadis itu tapi Gina tidak bisa membacanya dengan jelas. Tapi ia mengenali ID card itu milik R-Company. Ia pasti adalah salah satu pegawai juga disini.
"Dia adalah asisten pribadi Anda."
"Benarkah? Aku punya asisten pribadi?" Gina tersenyum lebar.
"Kau atau Papa yang ingin aku punya asisten pribadi?" Selidik Gina sambil memicingkan mata.
"Saya."
"Benarkah? Apa kau benar-benar ingin aku mengambil posisimu? Ya Tuhan, aku terharu sampai ingin meneteskan air mata." Ucap Gina sarkas.
"Anda tidak tahu sama sekali tentang R-Company jadi Hanna akan membantu Anda dalam bekerja."
"Apakah ini seperti ketika Papa memiliki dirimu?"
"Bisa dikatakan begitu. Tapi ini akan terlihat seperti kebalikannya diawal. Dan selanjutnya akan menjadi seperti bagaimana Anda berkembang."
"Maksudmu?"
"Ya, diawal Hanna akan memandu Anda dalam bekerja, membantu jika Anda mengalami kesulitan dan mengevalusi pekerjaan Anda. Tapi jika Anda telah menguasainya, maka Hanna akan menjadi seperti aku dan Anda adalah Pak Surya."
"Jadi kau tidak percaya pada kemampuanku terhadap R-Company?"
"Oke baiklah..." Gina mengubah letak duduknya.
"Aku mengerti." Gina sekarang memandang Hanna.
"Hanna, kau siap menjadi asistenku?"
"Siap Nona." Jawab Hanna dengan senyumnya sopan.
"Kau yakin menjadi asistenku? Apa Surya juga sudah memberitahumu aku orang yang seperti apa?" Gina menanyakan itu karena ia tau Surya faham sifat-sifatnya. Bertahun-tahun menjadi asisten Pak Rangga, Surya sering terlibat beberapa hal dengan Gina. Walaupun mereka tidak akrab tapi Surya sering membantunya juga saat Gina membutuhkan.
"Sudah Nona."
"Bagus. Kalau begitu, ayo ajari aku sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin menempati ruangan ini dan mengubah cat dindingnya menjadi warna fucia." Gina mengangkat tubuh dari duduknya dan bersiap untuk keluar.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Ajak Gina saat Hanna tidak segera beranjak dari duduknya.
"Oh iya, baik Nona." Hanna berdiri dan berpamitan kepada Surya.
__ADS_1
Sampai di ruangan Gina, Hanna pun mengikuti.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Sebagai kepala bagian produksi, Anda harus bertanggung jawab atas segala hal yang berhubungan dengan proses produksi. Mulai dari bahan mentah hingga menjadi barang yang siap dipasarkan."
"Aku belum mempunyai bayangan sama sekali tentang hal ini."
"Ini adalah berkas yang bisa Anda lihat. Semua daftar barang produksi kita ada di sini. Anda bisa mempelajarinya dulu. Mulai dari bahan hingga detailnya." Hanna menyodorkan setumpuk filecase berisi berkas ke atas meja Gina. File case itu tadinya ada di rak sudut ruangan. Gina tidak tahu jika semua itu adalah file pekerjaannya.
"Baiklah... Tapi sebentar lagi jam istirahat. Jadi kita lanjutkan setelah makan siang."
"Baik Nona. Nona ingin makan siang di mana?"
"Mengingat pekerjaanku masih banyak, jadi untuk menghemat waktu dan energi, kita makan di dekat kantor. Aku pernah ke restoran di seberang R-Company. Disana ada banyak pilihan menu makan siang."
"Baik. Mari Nona." Hanna mempersilakan Gina untuk keluar bersamanya.
"Anda ingin menaiki mobil atau berjalan kaki?"
"Itu terlalu dekat jika menggunakan mobil. Aku mau berjalan kaki saja. Lagipula sepagian aku hanya duduk di ruanganku dan itu membuat kakiku kaku. Ayo kita berjalan kaki saja." Ajak Gina mulai mengakrabkan diri pada asistennya.
Sebenarnya Gina bukan tipe orang yang sombong atau menjaga jarak dengan orang lain. Tapi ia memang suka memilih-milih teman. Ia bukan orang yang mudah bergaul, tapi ketika memiliki teman ia akan menjadi cepat akrab. Entahlah, Gina memiliki sifat yang rumit dan itulah yang membuatnya tidak memiliki banyak teman, terutama teman wanita.
Jam makan siang restoran ini selalu dipadati oleh pegwai. Karena Hanna pegawai R-Company, tentu saja ia sudah pernah makan di sini dan bisa terbilang sering.
Gina dan Hanna sudah menempati meja kosong sehingga sebentar kemudian seorang pelayan menghampiri mereka. Setelah memilih menu, mereka memesannya pada pelayan yang segera menyiapkan pesanan mereka.
"Berapa lama kau bekerja di R-Company?" Tanya Gina.
"Saya bekerja sejak 3 tahun yang lalu."
"Sebelumnya, kau ada di bagian apa?"
"Saya dulu sebagai asisten manager produksi."
"Oh, pantas saja kau sangat cakap dalam bidang ini."
"Terima kasih, Nona."
Baru saja Gina menyuapkan makanan untuk pertama kalinya, terdengar keributan di meja sebelahnya.
Awalnya Gina tidak peduli tapi semakin didengar, semakin mengusiknya. Seorang wanita mendatangi sepasang pria dan wanita. Dan dari keributan itu Gina tahu wanita itu sedang melabrak pacarnya yang tertangkap basah berselingkuh.
__ADS_1
Adu mulut tak terhindarkan dan membuat Gina tidak tahan. Ditambah pria itu hendak melayangkan tangannya saat Gina melihat ke arah mereka. Reflek secepat kilat Gina menangkap lengan pria itu. Pria itu memandang Gina geram.
"Gina..." Wanita yang melabrak pacarnya itu memandang Gina tak percaya.