Tahta Surya

Tahta Surya
Nomor Baru


__ADS_3

Gina duduk di samping Surya dengan wajah muram dan pandangan lurus ke depan serta ponsel yang masih ada dalam genggamannya. Sejak Surya menginjak gas meninggalkan pelataran basement hotel, Gina belum membuka suaranya sama sekali. Ia hanya sempat mengatakan kepada Surya agar mencari Hanna kemana dia pergi. Tapi Surya sendiri pun tidak tahu kemana perginya Hanna. Setahu Surya, Hanna adalah orang yang sangat tenang dan jarang menunjukkan sikap kasarnya seperti tadi. Jadi, jika Hanna sampai mengebut memakai mobil dan tidak menghiraukan sekeliling, itu pastilah karena ia sedang sangat kesal.


"Kita akan pergi kemana lagi, Nona?" Tanya Surya setelah hampir setengah mereka berkendara mengelilingi kota.


"Entahlah... aku takut Hanna kenapa-kenapa." Gina masih meletakkan ponsel ditelinga dan mencoba menghubungi Hanna yang tidak juga mengangkat teleponnya sehingga membuat Gina panik.


"Kau tahu tempat yang mungkin Hanna datangi disaat seperti ini?" Tanya Gina yang sekarang memandang Surya.


"Saya tidak tahu, Nona. Saya tidak pernah tahu Hanna memiliki tempat favorit. Setahu saya, Hanna adalah orang yang selalu sibuk dan lansung pulang setelah semua kesibukannya usai."


"Kau ini temannya, kenapa tidak tahu tentang Hanna dengan baik." Omel Gina dan membuat Surya mengerjapkan matanya heran. Tiba-tiba Gina marah kepadanya hanya karena ia tidak tahu kemana Hanna pergi. Gina tidak tahu bahwa sebenarnya Surya pun khawatir terhadap Hanna dan ingin segera bisa menemukan keberadaannya.


"Bagaimana kalau Hanna melakukan hal bodoh dan mencelakai dirinya sendiri?" Keluh Gina masih dengan wajah penuh khawatirnya.


"Tenang Nona, Hanna bukan orang semacam itu. Mungkin saat ini dia hanya sedang butuh waktu untuk menyendiri. Entah apa yang sedang terjadi antara Hanna dan Pak Marco, saya yakin Hanna sedang mencari ketenangannya sendiri sekarang." Surya berusaha membuat Gina tenang dengan sedikit membujuk.


"Semoga saja begitu." Ujar Gina dengan suara pelan masih memikirkan Hanna.


"Hari sudah larut malam, bagaimana kalau sekarang saya antar Anda pulang saja. Biar saya yang akan mencari Hanna."


"Kau mau mencarinya kemana?"


"Kemana saja, Nona. Saya juga akan meminta bantuan untuk itu."


"Siapa? Polisi?" Tebak Gina.


"Polisi hanya bisa menangani setelah 2 x 24 jam seseorang hilang tanpa kabar, Nona. Tapi Hanna pergi baru beberapa saat yang lalu sehingga saya yakin polisi juga tidak akan bisa melakukan apapun jika kita meminta bantuannya."


Mendengar itu, Gina ingat satu hal yang biasa Surya lakukan. Jangankan Hanna yang masih ada di dalam kota, Pak Indrawan yang ada di luar negeri saja Surya bisa menemukannya. Mengingat itu Gina sedikit tenang jadinya.


"Baiklah... ku serahkan hal ini padamu. Segera kabari aku jika kau bisa menemukam Hanna."


"Baik Nona." Jawab Surya sambil memutar setir mobilnya untuk berpindah jalur dan menuju ke rumah Gina.


Mobil Gina terparkir di depan sebuah warung kaki lima. Hanna sedang duduk menghadapi segelas teh hangat. Seorang wanita paruh baya datang mendekatinya membawa sepiring nasi goreng.


"Sudah lama sekali kau tidak datang ke sini. Apa kau ada tugas ke luar kota?" Hanna tersenyum memandang wanita itu sambil menerima piring berisi nasi goreng disertai telur dadar di atasnya.


"Tidak bu, saya sedang memiliki banyak pekerjaan."


"Begitu ya." Istri dari pemilik warung nasi goreng kaki lima langganan Hanna itu tersenyum mengerti.


"Silakan..." Wanita itu mempersilakan Hanna untuk memakan nasi gorengnya.


Sebenarnya pergi ke warung ini bukanlah tujuan awal Gina. Ia hanya ingin pergi begitu saja meninggalkan Marco dan menghidari pertengkaran mereka.


Gina memasuki basement parkir hotel setelah menurunkan Gina di depan lobi. Tapi saat ia memarkir mobilnya, mobil Marco memasuki basement dan Hanna tahu itu adalah mobil suaminya. Hanna tampak senang melihat itu. Tapi begitu mobil Marco melintasi mobil Gina yang sedang ia kemudikan, seketika Hanna terperanjat. Ada seorang wanita di dalamnya. Entah siapa wanita itu, tapi Hanna tidak pernah mengenalnya sebagai salah satu teman atau kerabat Marco. Hanna masih berada di dalam mobil untuk menunggu Marco keluar dari dalam mobilnya. Tapi beberapa saat Hanna menunggu, Marco belum juga melintasinya. Hanna menjadi penasaran dan perlahan kaluar dari mobil lalu mengintip Marco di dalam mobilnya.


Hanna terkejut pada apa yang ia lihat. Dari tempatnya berdiri saat ini, dibalik mobil di sebelah mobilnya, ia melihat Marco dan wanita itu berada sangat dekat. Tanpa berfikir panjang, Hanna segera berjalan mendekati mobil Marco. Setelah berada dekat, Hanna menggebrak kap mobil Marco dan membuat dua orang yang sedang mengobrol sangat dekat itu terlihat sangat kaget lalu bersamaan memandang ke arahnya. Melihat yang ada di depan mobilnya adalah Hanna, Marco bergegas turun.


"Kau, ada disini?" Marco terlihat sangat canggung mendekati Hanna yang tidak memandangnya sedikitpun tapi malah memandang wanita yang ada di dalam mobilnya.


"Siapa dia?" Tanya Hanna dengan nada suara menahan amarah.

__ADS_1


"Dia... dia temanku. Dia sedang ada urusan juga di sini jadi aku memberinya tumpangan."


"Benarkah?" Hanna tidak percaya.


"Kau, keluarlah dari mobil suamiku." Hanna memanggil wanita berpakaian ketat itu untuk keluar. Dengan ragu-ragu wanita itu mulai membuka pintu.


"Hanna, dengarkan aku..." Marco membujuk Hanna.


"Diam, aku tidak mau bicara denganmu." Wanita itu keluar dari dalam mobil dan berdiri disamping pintunya.


"Kau siapa?" Tanya Hanna dengan pandangan yang dingin membuat wanita itu tidak bergeming sehingga tidak bisa berkata apapun.


"Kau siapa?" Ulang Hanna dengan suara lebih keras membuat wanita itu terjingkat kaget bercampur takut.


"Hanna..." Marco mulai membentaknya. Tapi Hanna tidak peduli dan malah mendekati wanita itu.


"Sudah ku katakan dia adalah temanku. Kau tidak dengar?" Ujar Marco melihat Hanna berjalan semakin dekat dengan wanita itu.


"Jadi, kau suka yang seperti ini?" Hanna menoleh kepada Surya setelah melihat wanita itu sangat dekat dan memandangnya dari atas ke bawah. Wanita yang memakai baju span ketat dan sepatu high heel itu jelas sekali merasa risi dipandang seperti itu oleh Hanna.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku agar aku berpenampilan seperti itu juga? Kenapa kau lebih suka orang lain yang memakainya? Apa agar kau juga bisa menikmatinya?"


"Hanna, kau sudah kelewatan."


"Kau yang kelewatan. Aku sudah bersabar dengan semua yang kau lakukan. Aku berusaha bersabar dengan apa pun yang kau perbuat. Sampai akhirnya aku memberimu banyak sekali kesempatan dan percaya bahwa kau bisa berubah. Tapi apa? Ternyata kau tidak berubah sedikitpun. Dibelakangku ternyata kau masih orang yang sama." Hanna benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan kemarahannya.


Ia sudah berkali-kali mengetahui perbuatan Marco yang sering bergonta ganti wanita tapi Marco selalu meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangnya lagi. Hingga akhirnya Marco melamarnya dan salah satu syarat Hanna akan menerima lamarannya adalah Marco berjanji untuk menjadikannya sebagai wanita satu-satunya dalam hidupnya. Tapi melihat apa yang baru saja Marco lakukan, Hanna merasa penghianatan Marco sudah sangat keterlaluan dengan mengabaikan janjinya seperti itu. Hanna benar-benar merasa sangat disakiti.


"Hanna, dengarkan aku..." Marco berusaha mencegah saat melihat Hanna beranjak dari tempat itu.


Hanna meminum teh hangatnya sebelum mulai menyuapkan nasi goreng. Setelah meluapkan amarahnya tadi, tiba-tiba ditengah berkendara ia merasa lapar. Tepat sekali ia sedang berada dikawasan dekat nasi goreng langganannya setelah berkendara tanpa arah selama hampir satu jam. Hanna lalu mulai makan dan mencoba sejenak melupakan masalahnya. Meskipun matanya yang berkaca-kaca sudah menjanjikan untuk menangis, tapi ia menengadahkan wajahnya berusaha agar air matanya jangan sampai jatuh. Hanna benar-benar harus bertahan. Hatinya sudah sering tersakiti sehingga ia berusaha untuk menahannya kali ini. Ia benar-benar sangat ingin menjadi lebih kuat sekarang karena ia sudah memilih Marco sehingga ini adalah konsekuensi yang harus ia terima.


Surya menghentikan mobilnya di depan pintu pagar rumah Gina. Surya menatap sekitar rumah yang selalu sepi itu. Tapi kemudian menyadari ada mobil yang berhenti di depan pagar, security di rumah Gina keluar dari dalam pos untuk memeriksa siapa yang datang selarut ini. Tapi ketika ia mengenali itu adalah mobil Surya, security itu menganggukkan kepala sambil tersenyum menyapanya sambil membukakan pintu pagar.


"Terima kasih." Ucap Gina sambil membuka pintu mobil yang Surya hentikan di teras rumahnya.


"Oh iya, pastikan kau segera menemukan Hanna."


"Iya, Nona." Jawab Surya dan Gina pun turun dari dalam mobil. Tapi baru Gina akan menutup pintu, ia membukanya kembali.


"Ku tunggu kabar darimu secepatnya." Ujar Gina sekali lagi.


"Saya usahakan, Nona." Jawab Surya sambil tersenyum melihat tingkah Gina yang sangat mengkhawatirkan Hanna seperti itu.


Gina segera masuk tanpa menunggu Surya pergi lebih dulu. Ia sengaja melakukan hal itu karena agar ia tidak terlihat masih menaruh perhatian kepada Surya. Tapi malah Surya yang menunggu Gina hingga masuk baru kemudian memundurkan mobilnya untuk keluar dari halaman rumah.


Setelah membuka pintu, Gina segera memasuki rumah. Tapi ia begitu kaget saat melihat sosok yang berdiri di samping pintu penghubung dengan ruang tengah.


"Ya Tuhan..." Gina hampir melompat karena kaget dengan kehadiran sosok itu didalam keremangan.


"Kau baru pulang?" Tanya Pak Rangga yang kemudian menyalakan lampu untuk memberi mereka penerangan.


"Iya." Jawab Gina sambil berjalan masuk.

__ADS_1


"Mobilmu kemana? Kenapa kau pergi bersama Surya?" Tanya Pak Rangga to the point. Gina serta merta menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapi Papanya itu.


"Mobilku mogok. Aku meninggalkannya di sana." Gina berbohong agar tidak ada lebih banyak pertanyaan lagi yang ditanyakan Pak Rangga kepadanya.


"Lalu, kau pulang bersama Surya? Bagaimana bisa? Apa mungkin mobil sebagus milikmu yang tidak pernah terlambat mendapatkan perawatan bisa tiba-tiba mogok?" Pak Rangga menyelidik.


"Jadi, Papa fikir aku sengaja membuat alasan mobilku mogok agar bisa pulang bersama Surya?" Gina sedikit menyolot mendengar kalimat sindiran begitu.


"Aku tidak mengatakan itu. Kau sendiri yang berfikir begitu." Jawab Pak Rangga sambil menahan tawa karena merasa lucu dengan tanggapan Gina.


"Aku mengantuk. Aku mau tidur."


"Ya, baiklah." Pak Rangga melihat putrinya yang mulai menaiki tangga sambil tersenyum. Ia menduga sampai saat ini mungkin Gina belum sepenuhnya melupakan Surya. Itu menjadi sebuah pertanda sedalam apa perasaan Gina terhadap Surya. Pak Rangga jadi penasaran bagaimana bisa Gina pulang bersama Surya seperti tadi.


"Yos, cari tahu sesuatu untukku." Ujar Pak Rangga kepada seseorang melalui ponselnya.


Gina merasa matanya sangat mengantuk. Setelah meletakkan tas diatas tempat tidur lalu melepas sepatunya, ia segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah seiring fikirannya yang juga ingin ia istirahatkan. Tentang Hanna yang sekarang pergi entah kemana, tentang Surya yang mengatakan merindukannya, kepala Gina seperti menjadi berat memikirkan hal itu. Ia tidak ingin bernasib seperti Hanna yang mendapati Marco masih saja pergi dengan wanita lain. Setelah cintanya ditolak oleh Surya, lalu kemudian pria itu muncul lagi dengan segala sikap manisnya, Gina merasa harus 'pasang kuda-kuda'. Gina tidak mau karena telah mengetahui perasaannya lalu Surya akan dengan leluasa mempermainkan dirinya. Tidak, Gina merasa dirinya terlalu berharga dan juga dirinya terlalu kuat untuk dikalahkan sekali lagi oleh Surya. Dia akan melawan seandainya Surya benar-benar 'menyerang'. Gina mulai mensikapi sikap Surya sebagai sebuah bentuk peringatan 'perang'.


🌸🌸🌸


Gina masih terlelap dalam balutan selimut hangat saat sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya. Gina mengerjapkan mata merasa terganggu oleh suara yang dikeluarkan oleh sebuah panggilan telepon itu. Dalam hati ia mengeluh dengan gangguan dipagi hari yang membuatnya terbangun lebih awal. Tapi walau begitu ia berusaha menatap layar ponsel untuk mengetahui siapa sepagi ini berani menghubunginya. Nomor baru. Gina membuka matanya lebar untuk memastikan nomor itu. Benar-benar nomor baru dan membuat Gina ragu harus menerima panggilan itu atau tidak. Ia sangat tidak suka menerima panggilan dengan menggunakan nomor baru tanpa meberi tahu melalui pesan terlebih dulu siapa pemilik nomor itu.


Membiarkan beberapa saat memanggil tanpa dijawab oleh Gina, panggilan itu berhenti. Setelah itu terlihat dari layar ponselnya ada beberapa pesan masuk. Mungkin karena terlalu lelap tertidur, hingga Gina tidak mendengar notifikasi pesan masuk itu. Gina mulai membukanya. Salah satunya adalah dari Hanna. Gina membelalakkan matanya lebar untuk membaca isi pesannya.


"Maafkan saya, Nona. Mobil Anda masih bersama saya dengan aman. Tapi, biarkan saya meminjam mobil Anda sehari ini. Besok saya pastikan seseorang akan mengantarkan mobil Anda kembali."


"Siapa yang sedang mengkhawatirkan mobil? Aku mengkhawatirkannya setengah mati, dia malah berfikir aku sedang mengkhawatirkan mobilku. Dasar. Awas saja kalau aku bisa menemukannya. Akan ku buat perhitungan dengannya karena sudah membuatku khawatir seperti ini." Gumam Gina sambil masih menatap layar ponsel yang memperlihatkan isi pesan Hanna.


Gina membaca ulang pesan itu dan menangkap sesuatu yang tidak baik dari kalimat yang ditulis oleh Hanna.


Perasaan Gina menjadi tidak enak dan fikirannya sudah menuju pada ekspektasi yang macam-macam sekarang. Tanpa berfikir panjang lagi, Gina lalu menelepon nomor Hanna. Nihil. Nomor Hanna sudah tidak aktif. Diam-diam Gina merasa menyesal telah terlambat mengetahui pesan Hanna. Coba saja ia langsung tahu, mungkin ia bisa segera menghubungi Hanna.


Tapi kemudian ia ingat nomor baru yang baru saja menghubunginya. Mungkin saja itu Hanna. Bisa jadi sekarang baterai ponselnya habis, lalu ia meminjam ponsel seseorang untuk menghubunginya. Dengan semangat dan tidak ingin menyesal untuk yang kedua kali karena telah melewatkan kesempatan bisa menghubungi Hanna, Gina lalu menelepon nomor baru itu.


"Hallo..." Suara Gina setelah mendengar nada ponsel diangkat.


"Anda sudah bangun, Nona?" Jawab Suara dari seberang yang sangat ia kenal. Suara milik Surya. Akhirnya Gina tahu itu adalah nomor pria yang semalam bersamanya. Gina sedikit kecewa karena itu bukan Hanna. Padahal ia sangat berharap itu adalah nomor yang dipakai Hanna sehingga Gina bisa tahu keadaannya bagaimana sekarang.


"Kau fikir aku meneleponmu sambil mengigau?" Jawab Gina ketus dan disambut gelak tawa dari sana. Gina benar-benar ingin menutup teleponnya mendengar suara tawa Surya yang membuat jantungnya terasa kesemutan dan memunculkan perasaan rindu yang hinggap lagi dihatinya.


"Jadi ternyata kau yang menelepon dan membangunkanku?" Nada suara Gina masih tinggi untuk menyamarkan perasaan berdebar di hatinya.


"Maafkan saya, Nona. Ternyata Anda masih belum berubah dan sulit untuk bangun pagi sampai saat ini."


"Hei, jangan campuri urusanku. Sudah, katakan saja apa maumu meneleponku sepagi ini? Apa kau sudah menemukan Hanna? Dimana dia sekarang? Dia juga sempat mengirim pesan padaku semalam saat aku sudah tidur, tapi isi pesannya sangat mengkawatirkan. Aku benar-benar khawatir padanya. Dimana kau menemukannya?" Berondong Gina dengan berbagai kalimat tanya dan membuat Surya tidak tahu harus menjawab apa.


"Hei... Surya... Surya... kau masih disana?" Panggil Gina berkali-kali untuk memastikan Surya masih berada pada sambungan telepon dengannya.


"Iya Nona." Jawab Surya tenang.


"Kau kemana saja? Kau meninggalkan teleponku saat aku masih berbicara. Itu sangat tidak sopan." Omel Gina lancar. Dari tempatnya, Surya hanya tersenyum menanggapi kegalakan Gina yang rasanya sudah lama tidak ia dapatkan. Ia merasa omelan itu terdengar sangat indah, lebih indah dari kidung sebelum tidur manapun.


"Saya tidak kemana-mana, Nona. Saya sedang menyimak semua ucapan Anda." Jawab Surya masih santai.

__ADS_1


"Tapi kenapa kau tidak juga menjawab ucapanku?"


"Saya sedang menikmati suara Anda dan itu membuat saya jadi rindu. Jadi, mari kita segera bertemu." Kalimat Surya kali ini benar-benar membuat Gina tidak bisa berkata-kata lagi. Kalimatnya yang lagi-lagi mengandung rayuan itu membuat Gina membisu merasakan sesuatu yang hangat menjalari dadanya dan kemudian turun menuju perutnya. Ada sesuatu yang sepertinya berterbangan di sana.


__ADS_2