Tahta Surya

Tahta Surya
Cinta Buta


__ADS_3

Bu Marina duduk di bangku panjang di halaman belakang rumah siang ini. Saat ia menyadari kedatangan seseorang, ia mengalihkan pandangannya pada orang yang sekarang duduk disampingnya.


"Kau yakin sekarang?" Tanya Pak Rangga. Bu Marina tidak menjawab dan hanya menarik nafas berat dengan kembali memandang jauh, sejauh kemana fikiran yang membawanya saat ini.


"Gina bahkan belum ingin pulang ke rumah sekarang. Ia masih ingin berada di rumah Surya. Aku yakin dia pasti sedang merencanakan sesuatu." Lanjut Pak Rangga dan Bu Marina masih belum ingin mengatakan apapun.


"Merencanakan hal yang sama sekali tidak ingin kita mengetahuinya. Tapi aku cukup mengenalnya tentang ini. Jika ia menyukai seseorang, dia tidak akan berhenti begitu saja. Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cintanya atau sampai ia mendapatkan gantinya." Bu Marina masih hanya mendengarkan setiap kalimat suaminya itu.


"Fakta bahwa Surya berpacaran dengan Siska saat ini pasti tidak berpengaruh apapun padanya."


"Papa sengaja melakukannya, bukan?" Tanya Bu Marina begitu Pak Rangga mengakhiri kalimatnya.


"Meletakkan foto-foto itu seolah menyembunyikannya dan menjadikannya petunjuk padahal Papa ingin aku menemukannya." Tebak Bu Marina karena jika suaminya ingin merahasiakan sesuatu pasti akan menyimpannya dengan benar dan merahasiakannya dengan rapat. Bukan malah meletakkan sesuatu sepenting itu sembarangan.


"Ingin menunjukkan padaku bahwa Gina sudah memilih caranya sendiri menyelesaikan ini. Aku yakin sekarang ia menjadi serakah dan tidak ingin kehilangan salah satunya. Dia ingin mendapatkan keduanya, R-Company sekaligus Surya agar tetap ada disisinya apapun yang terjadi. Itulah Gina. Ketika ia memiliki ambisi maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya." Bu Marina memandang langit cerah siang ini. Awan berarak ke arah angin membawanya. Langit biru tempat awan-awan itu menggantung terlihat sangat kontras dengan gumpalan awan yang serupa kapas-kapas berterbangan.


Pak Rangga tidak mengucapkan apapun pada Bu Marina karena semua yang dikatakannya benar. Memang itulah yang telah ia lakukan untuk menunjukkan kepada istrinya. Membuatnya tahu secara langsung lewat petunjuk yang sengaja ia umpankan, bukan hanya dengan memberitahunya saja.


🌸🌸🌸


Siska masuk ke dalam ruangan Surya sambil membawa sebuah file case berisi berkas.


"Berkas sudah saya kerjakan dan membutuhkan tanda tangan Anda, Pak." Ujar Siska dalam bahasa formal. Ia tidak pernah sekalipun berbicara santai saat berada di R-Company.


Itu adalah kesepakatan mereka berdua sejak awal menjalin hubungan. Sehingga berkat itu, tidak ada yang tahu tentang hubungan asmara mereka, termasuk Pak Rangga. Hingga salah seorang mata-mata Pak Rangga yang ia tugaskan untuk mengawasi Gina dan Surya mengirimkan sebuah foto kepadanya saat berlibur ke luar negeri menggantikan mereka dengan kapal pesiar waktu itu. Dari situ Pak Rangga mengetahui bahwa Surya dan Siska sebenarnya memiliki hubungan lebih dari hanya sebatas teman kerja. Pak Rangga hampir tidak percaya. Untuk pertama kalinya Surya berbohong padanya. Berbohong tentang statusnya yang ia katakan tidak memiliki kekasih seperti yang ia katakan saat Pak Rangga bertanya kepadanya sebelum dirinya dan Gina melangsungkan pernikahan.


Surya memandang foto-foto dirinya bersama Siska di atas meja di suatu pagi di ruang kerja Pak Rangga di rumahnya. Ia tahu sangatlah mudah bagi Pak Rangga untuk bisa mendapatkan foto semacam itu. Dan, ia merasa kurang rapi dalam menyembunyikan rahasianya.


"Jadi, kenapa harus merahasiakannya?" Tanya Pak Rangga santai di balik meja di ruang kerjanya.


"Dan juga, kenapa kau tidak jujur dari awal tentang Siska?" Tambah Pak Rangga.


"Saya hanya tidak ingin ada yang tahu hubungan saya dengan teman kerja saya, Pa." Jawab Surya tanpa ragu.


"Tapi, bagaimana dengan Siska saat kau malah menikahi gadis lain dan membiarkannya tetap menjadi pacar rahasiamu? Kalian masih berhubungan hingga saat ini, bukan?" Tanya Pak Rangga tanpa ragu juga.


"Pernikahan saya dan Nona Gina tidak untuk selamanya. Dan dia pun memahami itu." Jelas Surya.


"Bagus, semoga ini tidak mempengaruhi hubungamu dengan Siska." Pak Rangga melepas kaca mata di wajahnya dan meletakkannya di atas meja lalu berdiri untuk mendekat pada Surya.


"Sebenarnya aku agak kecewa saat tahu kau berbohong tentang Siska."


"Maafkan saya, Pa. Saya hanya perlu sedikit merahasiakan itu dari siapapun. Saya tidak memiliki maksud lain." Kalimat Surya menjelaskan.


"Saya sudah berjanji kepada Anda untuk membuat Nona Gina berada di R-Company sehingga saya harus melakukan itu karena satu-satunya syarat yang Anda ajukan adalah pernikahan kami yang bisa membuat Nona Gina patuh dengan bimbingan saya sebagai atasannya untuk sementara waktu melalui asisten pribadinya."


"Surya, bagaimana seandainya Gina benar-benar jatuh cinta padamu?"


Surya tidak tahu harus menjawab apa karena hal itu sama sekali tidak ada dalam fikirannya. Sehingga yang bisa ia lakukan hanya tertawa menanggapi pertanyaan Pak Rangga. Melihat Surya malah menertawakannya, Pak Rangga tersenyum.


Surya menutup pintu dan berjalan menuju ruang tengah saat Gina menuruni tangga. Surya melihat Gina dengan sepatu hak tinggi seperti biasanya sedang perlahan menapaki anak tangga satu per satu. Kembali terngiang pertanyaan Pak Rangga padanya.


Mana mungkin wanita seperti Nona Gina menyukaiku. Dia telah menolakku setengah mati. Jadi, hal yang mustahil keajaiban itu bisa terjadi. Pikir Surya.


Itu adalah saat dimana Surya harus lebih berhati-hati dengan tindakannya. Ia tidak ingin sesuatu hal yang tidak diingkan terjadi dan membuat Pak Rangga kecewa lagi padanya. Ia sangat menghormati ayah mertuanya sehingga ia harus membuat Gina segera menguasai segala yang berhubungan dengan R-Company dan mengembalikan semua seperti seharusnya.


"Terima kasih." Ujar Surya menerima file itu sambil menyunggingkan senyum. Siska membalas senyumnya semanis mungkin.

__ADS_1


Surya membuka file case yang baru saja diantar oleh Siska dan menemukan secarik kertas bertuliskan tulisan tangannya.


Hari ini matahari terasa hangat. Sehangat cintamu untukku.


Itulah isi note dari Siska. Surya tersenyum membacanya. Kekasihnya itu memang suka memberinya note berisi ungkapan-ungkapan romantis. Surya mengumpulkannya di laci mejanya yang paling bawah, di dalam sebuah agenda bersampul coklat tua dari kulit sintetis.


Seperti itulah bagaimana mereka saling mengungkapkan cinta. Secara diam-diam dan tidak ingin ada yang tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka.


Siska kembali ke mejanya sendiri sambil tersenyum. Bisa memandang wajah Surya setiap hari cukup membuatnya bahagia. Ia sangat menyukai Surya.


Saat pertama bertemu dengannya, ia melihat seorang pria cupu yang juga lugu. Saat itu adalah tahun pertamanya berada di R-Company sebagai sekretaris Pak Rangga. Dan melihat kedatangan Surya sebagai asisten pribadi Pak Rangga, Siska menjadi sering bertemu dengannya. Mulai itulah Siska menaruh perhatian kepada Surya. Melihat bagaimana cara Surya bekerja dengan rajin, patuh, setia dan cekatan menangani segala urusan Pak Rangga membuat Siska semakin kagum. Dan yang terpenting lagi, sikap lembut Surya membuat hatinya benar-benar luluh kepadanya.


Pendekatan Siska terbilang tidak mudah. Surya yang pada dasarnya pendiam dan sangat menjaga jarak dengannya sulit untuk Siska dekati. Ia harus sering mengajaknya mengobrol dan juga membawakannya makanan untuk bisa menarik perhatian Surya. Surya juga orang yang tidak mudah diajak bicara dan itu membuat Siska harus selalu mencari bahan pembicaraan untuk bisa menahan Surya dekat dengannya. Karena ketika Pak Rangga berada di ruangannya dan Surya sedang tidak memiliki tugas penting, ia akan sering menghabiskan waktu di pos security atau di pantry untuk mengobrol atau bermain catur dengan security atau OB di sana.


Setelah pendekatannya itu akhirnya Siska memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Surya.


"Surya... ini." Siska menyodorkan sebuah kotak kepadanya saat Surya usai mengantar Pak Rangga makan siang di depan mejanya.


Surya menerima kotak itu.


"Terima kasih, Siska." Jawab Surya sambil tersenyum.


"Aku harap kau menyukainya." Kalimat Siska lagi.


"Tentu saja. Kue-kue yang kau bawakan untukku rasanya selalu enak."


"Baguslah."


"Sama seperti kau menyukai kue-kue yang ku bawakan, aku berharap kau juga bisa menyukaiku lebih dari ini." Ucapan Siska membuat Surya memandangnya lekat. Mencoba menafsirkan perkataan Siska padanya saat itu.


"Jangan khawatir, aku bisa menunggu. Aku pandai dalam hal ini." Siska tahu mungkin Surya masih bingung mendengar ungkapan cinta darinya yang sangat tiba-tiba. Tapi Siska tidak bisa menahannya lagi. Ia berfikir mungkin Surya adalah tipe pria pendiam dan tidak suka memulai lebih dulu sehingga Siska berinisiatif untuk memulainya saja.


Dan beberapa hari kemudian saat Siska menanyakannya kembali, Surya pun akhirnya memberikan jawabannya.


"Aku harap kau tidak kecewa dengan jadwal pekerjaanku yang cukup padat. Aku mungkin tidak bisa setiap saat ada untukmu. Aku juga tidak bisa selalu berada didekatmu. Kita mungkin akan menjalani hubungan yang tidak sama dengan pasangan lain." Itulah kalimat Surya saat Siska menanyakan tentang bagaimana Surya menanggapi perasaanya.


"Apa itu... berarti... mulai sekarang kita pacaran?" Tanya Siska terbata karena takut salah mengerti atas kalimat panjang Surya.


"Sepertinya itu sebutan yang lebih singkat dari ucapanku tadi."


Mendengar itu, Siska mengerti dan tersenyum senang mendengarnya. Cintanya terbalas, sehingga ia tidak memiliki alasan untuk tidak bahagia hari itu. Sejak saat itu mereka pun menjadi pasangan kekasih. Tapi tentu saja Surya ingin mereka merahasiakan itu karena merasa tidak nyaman jika diketahui oleh pegawai lain tentang hubungan mereka. Ia khawatir akan ada banyak yang ingin tahu, ada yang mungkin turut campur dan terlebih hubungan yang ada di satu tempat lebih rentan terhadap rumor dan bisa menjadi bahan gosip bagi para sesama pegawai. Maka, Surya menginginkan itu agar mereka bisa terus menjalani hubungan dengan tenang.


Dan saat ini Gina sedang berada di ruangannya bersama Hanna yang masih membantu Gina menghitung jumlah bahan yang mereka butuhkan untuk kebutuhan produksi berbagai produk. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ponsel Gina. Dari Surya. Ia akan melakukan tinjauan di cabang R-Store yang baru dan masih dalam tahap pembangunan sehingga siang ini tidak akan makan bersama Gina.


"Hanna, ayo kita makan siang bersama setelah menyelesaikan file ini."


"Baik, Nona." Jawab Hanna.


Siang ini Gina mengajak Hanna ke sebuah restoran yang menyediakan berbagai menu olahan kopi. Tempat ini terlihat lengang karena memang pada jam ini tidak banyak pengunjung. Tempat seperti ini akan ramai pada malam hari selepas jam kerja usai karena akan dipenuhi oleh orang-orang yang ingin mengisi waktu mereka bersantai sepulang dari bekerja.


"Hanna..." Kalimat pembuka Gina dan membuat Hanna meletakkan cangkir capucinonya setelah meminumnya sedikit.


"Iya, Nona."


"Sejak kapan kau mengenal Surya?"


"Maaf, Nona?" Hanna mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan Gina.

__ADS_1


"Surya mengatakan padaku kau adalah juniornya di kampus."


"Oh, iya benar, Nona." Jawab Hanna agak gugup karena tidak menyangka Gina akan menanyakan itu padanya. Hal yang tidak pernah Hanna ceritakan kepada Gina selama ini.


"Ku rasa kalian cukup dekat."


"Maaf, tapi kami tidak dekat seperti itu, Nona." Nada suara Hanna khawatir jika Gina salah faham terhadap kedekatannya dengan Surya.


"Pak Surya adalah asisten dosen sebuah mata kuliah di kampus, itu awal bagaimana aku mengenalnya. Aku sering berkonsultasi dengannya dan akhinya kami menjadi akrab. Sudah, sampai disitu saja dan kemudian Pak Surya lulus. Lalu kami bertemu kembali di sebuah job fair yang diadakan di kampus. Saat itu saya sedang menunggu waktu wisuda dan bertemu Pak Surya di salah satu stand. Itu adalah stand milik R-Company. Pak Surya mengatakan ia sudah berada di sana dan memberi saya brosur tentang R-Company."


"Jadi, kau bisa masuk ke R-Company karena relasi?" Potong Gina.


"Tidak Nona, sama sekali tidak. Pak Surya hanya sampai di situ. Selanjutnya saya memasukkan beberapa lamaran ke berbagai perusahan termasuk R-Company. Lalu saya mendapat panggilan di R-Company dan saya diterima. Saya juga mengikuti interview di beberapa tempat dan diantaranya saya juga lolos dalam interview pegawai. Tapi R-Company adalah perusahaan besar, jadi tentu saja diterima sebagai pegawainya adalah sebuah keberuntungan yang besar."


"Aku yakin pasti Surya ada dibalik itu." Gina menyipitkan matanya memandang Hanna.


"Surya sangat dekat dengan Papa jadi pasti mudah baginya untuk menarikmu masuk ke dalam R-Company."


"Kalau memang seperti itu seharusnya saya membayar upeti kepada Pak Surya dari sebagian gaji saya karena telah berbaik hati menerima saya di R-Company melalui jalur relasi." Hanna lalu tertawa kecil menertawakan analisanya sendiri. Ia juga tahu pasti Gina bercanda dengan kalimatnya yang menuduh Surya telah melakukan praktek nepotisme terhadapnya. Gina pun turut tertawa melihat Hanna menyadari gurauannya itu.


"Ngomong-ngomong, apa kau merasa aneh dengan hidupmu akhir-akhir ini?" Hanna mengerutkan kening mendengar itu. Merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan Gina kali ini.


"Kalau kau merasa sering tidak fokus. Kadang kau merasa senang tanpa alasan, sering memikirkan seseorang sampai seperti kau merasa hampir hilang akal, itu sudah pasti tanda-tandanya." Kalimat Gina semakin membuat Hanna merasa aneh.


"Apa itu, Nona? Pertanda apa?"


"Apa kau benar-benar merasakannya?"


"Entahlah, Nona. Sepertinya tidak."


"Syukurlah." Gina menarik nafas lega dan membuat Hanna penasaran apa yang sebenarnya Gina bicarakan.


"Tapi tunggu sebentar. Bukankah itu lebih gawat lagi?" Kalimat Gina yang berputar-putar malah lebih membuat Hanna pusing karena tidak mengerti maksudnya.


"Kalau kau tidak merasakan tanda guna-guna, itu berarti kau benar-benar menyukai Marco." Kali ini Hanna akhirnya faham apa yang dikatakan Gina dari tadi dan menjadi merasa lucu pada kekonyolan cara berfikir atasannya itu.


"Kau benar-benar menyukai Marco?" Tanya Gina kepada Hanna yang ia jawab dengan anggukan dan senyum mengembang.


"Melihat tingkahnya yang seperti itu dan kau menyukainya walau sedang tidak dipengaruhi oleh guna-guna, aku pastikan kau sedang mengidap sindrom cinta buta." Kali ini Hanna tersenyum lebar karena tebakan Gina mendekati benar.


"Sama sepertiku yang juga terjebak cinta buta."


"Anda?" Tanya Hanna heran.


"Aku terjebak cinta buta kepada Surya. Aku masih sangat menyukainya meskipun aku tahu dia memiliki pacar saat ini. Gila, bukan?" Hanna melihat Gina tersenyum kecut saat mengatakannya dan menjadi heran darimana ia tahu tentang itu.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Hai... teman-teman pembaca... Terima kasih telah mendukung penuh novel karyaku. Untuk like, komentar dan favorit yang kalian berikan itu sangat berarti untukku πŸ€—πŸ˜—


Tanpa dukungan dari kalian mungkin aku tidak bisa menulis sampai sejauh ini 🀭


Kalianlah yang selalu mengantarku selangkah demi selangkah untuk terus menulis dan memperbaiki tulisan. Pun untuk novel Tahta Surya ini. Aku harus berusaha keras untuk mempersembahkan yang terbaik untuk kalian. Jadi, jangan salah faham jika aku memiliki ritme update yang lama, cerita yang terkesan berbelit-belit dan berputar-putar, karena itu semua adalah bagian dari usahaku demi mempersembahkan novel yang menyajikan cerita sedetail mungkin.


Kalau kalian bosan menunggu update-ku, boleh lho sambil membaca novelku yang lain, Nona Hari Minggu judulnya. Di novel itu juga ada Gina dan cerita tentang dirinya 😁


Baiklah, sekali lagi terima kasih sudah menjadi pembaca setiaku. Dukungan kalian, kritik serta saran itu sangat membuatku bersemangat πŸ’ͺπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2