Tahta Surya

Tahta Surya
Jambret


__ADS_3

Gina memarkir motor Ayu di tempat parkir tepat di depan pasar. Ayu turun dari motor maticnya dan membawa tas belanja milik Ibu Surya sambil mengibas-ngibaskan bagian bawah celananya yang terkena rumput di tepi jalan selama perjalanannya menuju ke pasar.


"Mbak Gina sudah berapa lama bisa mengendarai motor?" Tanya Ayu yang melihat Gina mengedarkan pandangan di sekitarnya.


"Entahlah, yang jelas sudah lama."


"Mbak Gina sangat menguasai medan walaupun belum mengenal jalan di sini." Puji Ayu yang saat dibonceng oleh Gina melewati jalan desa yang rusak parah tapi Gina tetap bisa melaluinya dengan sangat baik.


"Jiwa pembalapku muncul secara tiba-tiba saat lewat sana tadi." Ujar Gina santai saat berjalan memasuki pasar.


"Benarkah?" Ayu tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Gina. Tapi Gina tidak peduli dan memeriksa ponselnya untuk melihat daftar belanjaan yang dikatakan oleh ibu mertuanya tadi sebelum berangkat.


Ibu Surya terlihat sangat senang saat tadi pagi Gina menawarkan diri untuk berbelanja ke pasar. Sehingga Gina menanyakan apa saja yang harus dia beli dipasar dan menulisnya di catatan ponsel.


"Ayu, kita harus membeli cabe, bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, teh, kopi..."


"Ke sana, mbak." Belum selesai Gina membacakan daftar belanjaannya, Ayu sudah menarik tangan Gina menuju salah satu sudut pasar.


Pasar tradisional itu masih belum berlantai ubin, sehingga para pendatang harus sedikit berhati-hati saat berjalan jika tidak ingin terjatuh karena licin oleh air dari para penjual ikan di sepanjang jalan menuju toko yang dituju Ayu.


Gina menutup hidungnya dengan jari telunjuk untuk mengurangi bau yang menurutnya sangat mengganggu. Ayu yang melihat itu menahan tawa. Ia tahu orang seperti Gina pasti tidak pernah ke pasar tradisional seperti ini.


"Bulek, lombok setengah kilo, bawang putih sekilo, bawang abang sekilo, tomat setengah kilo..." Ayu lancar sekali mengutarakan pesanannya. Dan dengan cekatan penjual sayuran itu melayaninya. Pasar masih agak sepi karena masih pagi jadi mereka tidak perlu mengantri saat membeli. Gina berdiri dibelakang Ayu membuka ponsel sambil memeriksa apalagi yang ada di daftar belanjaan. Tapi saat ia serius membaca daftar belanja, tiba-tiba seseorang menyahut ponselnya.


Gina gelagapan dan reflek menoleh pada seorang pria yang berlari menjauhinya.


"Jambret...." Teriak Gina dan detik selanjutnya ia pun turut berlari mengejar pria yang membawa ponselnya. Ayu yang mendengar kata Gina langsung berbalik badan dan melihat Gina sudah berlari menjauhinya. Ayu panik. Orang-orang di sekitar memperhatikan itu tapi karena pasar masih sepi sehingga pengunjung masih jarang dan penjambret itu berlari dengan sangat leluasa.


Gina memasang matanya sangat tajam agar tidak kehilangan jejak si perampas ponselnya. Hatinya menyumpahi jika sampai tertangkap, pria itu akan 'dihabisinya'. Gina berusaha berlari dengan cepat walaupun harus menghindari pengunjung pasar. Yang ia lakukan hanya tidak ingin penjambret itu bahagia mendapatkan ponselnya. Dan karena kegigihan Gina serta dirinya yang terbiasa berolah raga, akhirnya saat keluar dari gerbang pasar, jaket bagian belakang penjambret itu berhasil ditarik oleh Gina. Terjatuhlah pria itu karena keseimbangannya terganggu. Tidak ingin penjambret itu lari lagi, Gina segera menempatkan lututnya di perut penjambret dengan sedikit menekan sehingga si penjambret meringis kesakitan.


"Mana ponselku." Pria itu tampak enggan memberikan ponselnya. Gina menekankan lututnya lebih dalam, pria itu mengaduh lalu perlahan ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku untuk mengambil sesuatu. Tangan kanannya telah dikunci oleh Gina dan ia tidak dapat berkutik. Pria itu mengulurkan tangan memberikan ponsel Gina. Gina menyahutnya kasar. Setelah itu Gina menarik krah bagian depan bajunya dan memaksanya untuk bangun. Penjambret itu tidak bisa berdiri tegak karena merasakan nyeri pada perutnya. Semua orang berkerumun melihat aksi Gina. Sebagian besar terkagum, sebagian lainnya merasa ngeri.


"Dimana kantor keamanannya?" Tanya Gina pada semua orang yang mengerubutinya.


"Disebelah sana, Mbak." Ujar seorang Bapak sambil menunjuk ke arah selatan pasar. Gina melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjuk oleh Bapak itu.


"Mbak... Mbak Gina..." Suara Ayu dari pintu masuk pasar dan menghampiri Gina.


"Mbak Gina tidak apa-apa?" Tanya Ayu dengan nafas tersengal pertanda ia juga habis berlari.


"Tidak apa-apa." Jawab Gina sambil masih memegang erat krah baju penjambret. Tapi kali ini Gina mencengkram bagian krah belakangnya. Karena dengan sekali banting penjambret itu sudah tak berdaya, Gina tidak jadi menghajarnya dengan tindakan lebih lanjut.


"Aku mau membawanya ke kantor keamanan."


"Ayo, mbak."


🌸🌸🌸


Ibu Surya menyiram bunga-bunga di depan rumah. Bapak Surya duduk di teras sambil berbincang dengan Surya.


"Kapan kau kembali?"


"Setelah Bapak benar-benar sembuh."


"Bapak tidak apa-apa. Kau tidak usah khawatir."


"Lagipula aku kangen sama Bapak dan Ibu, jadi aku akan dirumah beberapa hari."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu. Sekarang kau bukan hanya pegawai. Oleh mertuamu, kau diberi tanggung jawab untuk menggantikannya. Jangan kau buat main-main."


"Tidak, Bapak. Aku selalu memantaunya dari sini." Surya mengangkat ponsel pintarnya.


"Tapi kalau kau tidak ada di sana bagaimana anak buahmu bisa bekerja dengan benar."

__ADS_1


"Aku menempatkan orang kepercayaanku di sana, Bapak."


"Baguslah kalau begitu."


"Bapak jangan kerja di sawah lagi. Aku membayar semua buruh tani itu agar Bapak tidak usah bekerja lagi. Sekarang Bapak sudah pensiun jadi Bapak tinggal mengawasi mereka saja."


"Pensiun?" Bapaknya tertawa.


"Memangnya aku pegawai negeri."


"Aku membeli semua sawah dan kebun di sini agar Bapak dan Ibu tenang dengan apa yang Bapak dan Ibu punya sekarang karena itu semua milik Bapak dan Ibu. Bukan malah agar Bapak dan Ibu bekerja lebih keras dari sebelumnya."


"Tidak, itu semua tetap adalah milikmu. Bapak dan Ibu tidak berhak memilikinya."


"Semua milikku adalah milik Bapak dan Ibu. Jadi apa bedanya." Surya menjelaskan.


"Kau ini tetap saja keras kepala. Kalau begitu terserah Bapak mau melakukan apa saja dengan sawah dan kebun itu. Kau katakan itu adalah milik kami, bukan."


"Karena Bapak dan Ibu adalah bosnya, silakan perintahkan para buruh saja untuk mengerjakan semuanya. Bapak dan Ibu tidak usah mengerjakan sendiri."


"Itu sudah pasti. Mana kuat kami menggarap sawah dan kebun yang sebegitu luasnya. Kau beli banyak sekali. Kami pasti butuh bantuan para buruh tani. Tapi apa Bapak bisa membiarkan rumput tumbuh, burung memakan padi, atau tikus menyelinap memakan tanaman? Bapak tidak akan bisa."


"Bapak tidak usah mengatasi itu semua, suruh saja Joko atau Aryo. Aku sudah mengatakan kepada mereka untuk selalu membantu Bapak kapanpun Bapak butuhkan."


"Ya sudah terserah kau saja, Sur. Kau memang mau Bapak mati menganggur ya." Surya tersenyum mendengar keluhan Bapaknya.


"Aku ingin Bapak sehat selalu, bahagia selalu, jadi Bapak ke sawah hanya untuk menengok saja. Jangan bekerja lagi."


"Kalau begitu buatkan kami cucu biar kami bisa bermain ke rumahmu mendatangi cucu lalu kita menginap dan bermain dengannya. Sesekali juga pulanglah bawa anakmu biar anakmu nanti tahu kampung ayahnya." Surya yang sedang meminum kopinya jadi tersedak mendengar penuturan Bapaknya.


"Uhukk... Uhuukk..." Surya terbatuk-batuk. Ibunya yang sedang menyiangi rumput disekitar bunga-bunganya menghampiri Surya.


"Kau kenapa, Sur?" Ibunya mencuci tangan di saping teras rumah.


"Kalian membicarakan apa? Ku lihat kalian serius sekali." Ibunya duduk di samping Bapaknya.


"Bayangkan Bu, ada anak-anak yang berlarian di rumah ini minta ku gendong, lalu ku ajak jalan-jalan mengelilingi kampung memakai motor, sambil memanggilku 'Mbah Kakung'. Pasti senang sekali, Bu."


"Tentu saja, Pak. Lalu mereka juga senang saat kumasakkan makanan lalu ku suapi. Duh, senangnya." Ibu Surya juga mendukung imaginasi suaminya.


"Apalagi ayahnya tampan, ibunya juga sangat cantik, aku yakin cucu-cucu kita nanti akan lucu-lucu dan menggemaskan." Ibu Surya semakin bersemangat membayangkan. Surya tersenyum kecut.


Surya malah membayangkan bagaimana jika orang tuanya tahu pernikahan macam apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Pastilah mereka akan sedih. Karena pernikahan ini cepat atau lambat pasti berakhir. Sebuah pernikahan atas perjanjian bukanlah sesuatu yang akan bertahan lama apalagi menghasilkan katurunan. Ia dan Gina tidak akan pernah memiliki anak karena mereka menikah hanya sebagai sebuah syarat berpindahnya kepemilikan perusahaan Papa Gina. Tanpa sadar Surya menghela nafas berat.


"Baiklah Bapak, Ibu... semoga setelah ini."


"Iya, kami sangat menantikan itu." Jawab Bapaknya penuh harap.


🌸🌸🌸


Gina keluar dari ruang keamanan dan ketertiban pasar. Penjambret itu sudah dibawa oleh polisi untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut di kantor polisi. Gina juga sudah dimintai keterangan dan siap dipanggil kembali oleh pihak berwajib jika dibutuhkan untuk kepentingan penyidikan. Ayu berjalan di sampingnya Gina.


"Dasar jambret kurang ajar. Bisa-bisanya sepagi ini dia sudah bangun."


"Sepertinya dia penjambret yang takut rejekinya dipatok ayam, Mbak."


"Iya, kau benar." Gina tertawa mendengar penuturan Ayu.


"Mbak Gina tidak apa-apa?" Ayu masih mengkhawatirkannya.


"Tidak." Jawab Gina sambil melihat jam ditangannya.


"Tapi perutku jadi lapar setelah mengejar jambret sialan itu."

__ADS_1


"Bagaimana tidak lapar, Mbak Gina berlari cepat sekali. Settt, sett, sett... aku tidak bisa mengikutimu, Mbak."


"Tentu saja aku harus mengejarnya dan mendapatkan ponselku lagi. Aku baru memilikinya dua bulan ini. Mana mungkin aku bisa merelakan begitu saja dijambret olehnya." Gerutu Gina sambil mengikuti Ayu menuju warung soto yang sejak kemarin sudah sangat ingin Gina tahu.


Dua mangkuk soto sudah kosong. Gina mengakui kalau soto itu enak sekali. Walaupun hanya dijual disebuah warung kaki lima tapi tidak bisa ia pungkiri rasa soto itu tidak jauh berbeda dengan makanan yang ia makan di restoran-restoran ternama yang ia kunjungi.


Gina merogoh kunci motornya sambil berjalan ke tempat parkir. Seorang juru parkir menuntun motornya setelah Gina menombol alarm dari kunci yang ia pegang untuk menunjukkan motor mana yang adalah miliknya. Setelah itu mereka meninggalkan pasar dan meluncur menuju jalan pulang.


Keluar dari kawasan pasar dan rumah warga untuk menuju kampung Surya, Gina dan Ayu menyusuri jalan yang di kiri dan kananya adalah sawah serta aliran sungai irigasi dengan air yang sangat jernih. Kalau bukan karena terburu-buru pastilah ia mengajak Ayu berhenti di sebuah jembatan penghubung yang disana ada tangga untuk turun. Entah tangga itu untuk apa tapi sungai itu cukup menggodanya untuk sekadar merasakan airnya yang dingin. Sedang asyik menikmati air perjalananya yang menyenangkan, tiga buah motor yang masing-masing berisi dua orang berboncengan mendekatinya dan kemudian menghadang jalannya. Gina sedikit keteteran karena kelakuan para pengendara itu dan membuatnya mau tidak mau harus mengerem secara mendadak.


Seorang pria dari 6 pria disana yang berbadan besar dengan rambut gondrong ikal dan wajah bengis mendekati Gina dan Ayu. Ayu yang sebelumnya berteriak kaget karena Gina menghentikan motornya tiba-tiba kini terlihat kaget melihat orang tak dikenal menghampiri mereka.


"Mbak, siapa dia?" Tanya Ayu takut.


"Mana ku tahu? Aku bukan orang sini. Bagaimana aku bisa kenal? Apa dia pacarmu?" Mereka masih berbalas bisik-bisik di atas motor.


"Dia bukan tipeku sama sekali, mbak. Lihat saja rambutnya yang gondrong itu. Aku yakin mungkin rambut itu banyak sekali ketombenya." Belum sempat Gina menjawab lagi, pria itu sudah ada di depan mereka dan berbicara dengan nada keras.


"Hehh, kalian." Jalanan itu sepi sehingga suaranya seperti menggema di seluruh penjuru jalan.


Ayu sempat terjingkat mendengar suara pria itu. Tapi Gina tampak biasa saja memandangnya. Dan itu membuat pria bertato dibahu itu merasa semakin tertantang untuk menjadi lebih galak.


"Turun kalian." Bentak pria itu lagi.


"Ada perlu apa?"


"Masih berani bertanya? Kalian perempuan-perempuan kurang ajar."


"Sebentar." Telapak tangan Gina mengisyaratkan agar pria itu berhenti meneriakinya.


"Apa kita saling kenal?" Tanya Gina.


"Tidak usah banyak bicara. Turun kalian."


"Kau mau mengambil motor ini?"


"Turun." Sekarang pria itu menarik lengan Gina hingga Gina hampir jatuh dari atas motor. Ayu berteriak karena takut dan khawatir Gina dipukul.


"Kau yang sudah membuat teman kami masuk penjara." Dari situ akhirnya Gina tahu siapa para pria itu. Mereka adalah teman penjambret di pasar tadi.


"Dia kan orangnya?" Tanya pria itu pada salah satu temannya yang menganggukan kepala mengiyakan.


"Katamu dia menangkap sendiri Gogon?"


"Iya, Bos." Jawab temannya di atas motor itu.


"Perempuan kurus ini bisa menangkap Gogon? Gogon yang goblok atau perempuan ini yang sakti?" Diakhir kalimatnya pria itu tertawa terbahak. Gina sudah hampir meledak dengan ejekan pria itu.


"Sekarang, kau harus bertanggung jawab atas penangkapan teman kami."


"Kenapa? Mau menghajarku? Kau yakin kau ini pria? Kau tidak malu pada tatomu kalau kau memukul perempuan?"


"Aku tidak yakin kau adalah perempuan. Kau pasti pria yang berdandan seperti perempuan. Aku melihatmu menjatuhkan Gogon hanya dengan satu kali tarikan, membantingnya dan menindihnya sampai dia tidak bergerak." Ujar pria di atas motor yang ternyata ada di tempat kejadian saat Gina menangkap penjambret itu.


"Jadi, kau pikir aku adalah waria?" Gina masih dengan nada tenang.


"Kalau bukan waria lalu kau apa? Wanita jadi-jadian?" Imbuh pria gondrong di depannya.


"Wah, kalian benar-benar sangat menyinggung perasaanku. Kalian tahu, aku gampang marah jika itu menuju pada perasaan."


"Wanita marah paling hanya bisa mengomel." Pria itu malah tertawa diikuti teman-temannya yang lain tertawa.


"Kau tahu bukan bagaimana teman kalian ku banting hanya dengan satu tangan saja? Aku bisa memperlakukan kalian dengan cara yang sama. Jadi lebih baik kalian menyingkir dan biarkan kami pergi. Aku mengatakan ini karena demi kebaikan kalian sendiri."

__ADS_1


"Banyak bicara kau." Pria itu melayangkan pukulan ke wajah Gina.


__ADS_2