Tahta Surya

Tahta Surya
Terpaut


__ADS_3

Surya masih menangkup kedua sisi wajah Gina dengan kedua tangannya saat perlahan ia membuat jarak dari wanita di depannya itu. Surya melihat Gina masih memejamkan mata sehingga ia bisa dengan leluasa memandang wajah cantiknya dan menunggu reaksi apa yang akan di tunjukkan oleh Gina. Jantungnya masih terasa berdebar hebat walau ia telah mengakhiri tindakan melewati batasan yang ia tentukan sendiri itu.


Sedangkan Gina, perlahan ia mulai membuka matanya ketika merasakan desah nafas Surya semakin menjauh. Yang pertama ia lihat saat matanya terbuka perlahan adalah tatapan mata kecoklatan Surya yang begitu dalam memandangnya. Tubuhnya yang bergetar ketika sentuhan itu Surya berikan membuatnya merasa seolah demam. Ia yakin wajahnya sekarang terlihat merona karena efek dari aliran darah yang sepertinya berkumpul diwajahnya.


Melihat Gina mulai membuka mata, Surya lalu melepas kedua tangan di wajah Gina. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia benar-benar kehilangan kendalinya sehingga semua terjadi begitu saja.


Untuk beberapa saat tidak ada tindakan apapun dari mereka berdua. Surya dan Gina hanya diam mematung dan saling memandang. Seolah hanya hati dan hati yang berbicara saat ini. Sampai akhirnya Surya mulai membuka suaranya.


"Maafkan saya, Nona." Ujarnya dengan suara rendah.


Gina mengerutkan kening mendengar kalimat Surya. Sebuah kata maaf. Entah untuk apa, tapi Gina jadi berfikir sepertinya Surya merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan. Atau mungkin, Surya menganggap itu adalah sebuah kesalahan sehingga ia harus meminta maaf. Gina masih diam menerka dengan fikirannya sendiri.


"Saya... tidak bisa mengendalikan diri. Saya sudah berusaha untuk tidak melakukan apapun kepada Anda tapi setiap kali bertemu, saya seperti sulit untuk menghentikan fikiran dan tindakan saya, Nona." Jelas Surya yang kemudian membuat Gina mengerti kenapa ia harus meminta maaf padanya.


"Jadi, selama ini kau memang menghindariku?" Tebak Gina. Surya memalingkan wajah ke tempat lain untuk menghindari tatapan mata Gina secara langsung. Dari situ Gina tahu bahwa jawabannya pastilah 'iya'. Sedikit banyak Gina mulai mengenal Surya bahkan gestur tubuh yang Surya tunjukkan. Seperti saat ini ketika Surya seolah enggan menjawab dan memalingkan wajahnya, itu pastilah karena Surya ingin mengiyakan tapi ia juga tidak ingin mengakuinya.


"Bahkan kau pergi sejauh ini juga agar tidak bertemu denganku?" Akhirnya kali ini Surya mengangguk untuk memberikan jawaban. Ia tidak akan bisa menghindari Gina lagi dengan setiap perkataannya. Ia juga enggan berbohong karena ia takut selanjutnya ia akan menutupi kebohongannya dengan kebohongan-kebohongan lain.


Gina tersenyum memandang wajah polos Surya saat menjawab pertanyaannya dengan anggukan tadi. Seorang pria yang cerdas, giat bekerja, selalu berusaha sebaik mungkin untuk sesuatu yang diharapkannya, piawai saat berhadapan dengan siapapun dari berbagai kalangan dan juga banyak lagi kepribadian Surya yang menakjubkan, tapi ketika ia merasa melakukan kesalahan kepada Gina, tiba-tiba Surya menjadi seseorang yang naif. Seolah ia telah melakukan kesalahan besar hingga ia sangat menyesalinya.


"Kenapa?" Tanya Gina untuk memastikan anggapan dari fikirannya kepada Surya.


"Saya ingin menjaga batas diantara kita, Nona."


"Batas apa? Kita sedang berpacaran, kenapa harus ada batas yang harus kau ciptakan?"


"Karena itu memang prinsip yang selalu saya pegang."


"Apa? Prinsip?" Gina membelalakkan matanya mendengar alasan Surya yang berhubungan dengan sebuah prinsip.


"Itulah kenapa saya ingin kita menikah saja agar saya tidak selalu berusaha menahan diri dari hal-hal yang bisa melanggar prinsip saya sendiri." Seketika Gina lalu tertawa mendengar bagaimana Surya menjelaskan tentang prinsip yang ia punya. Gina semakin merasa bahwa Surya adalah pria yang unik.


"Baiklah, anggap saja yang baru saja terjadi sudah termasuk melanggar prinsipmu. Tapi kita ada di jaman sekarang, jaman dimana semua hal tidak lagi sama dengan jaman ketika kakek dan nenek kita masih muda. Ketika pacaran dianggap tabu dan berciuman itu dila..." Surya lalu membungkam mulut Gina dan membuat wanita itu diam seketika sambil mengerjapkan matanya berkali-kali memandang Surya. Surya memberi isyarat agar Gina tidak melanjutkan ceramahnya semakin jauh. Tapi bukan itu sebenarnya yang membuat perhatian Gina semakin terfokus pada Surya melainkan wajahnya yang memerah saat Gina mengatakan kalimat terakhir yang dilarang olehnya. Itu membuat Gina tersenyum melihat tingkah Surya.


"Anda boleh menganggap saya kolot dan kampungan. Tapi itulah saya. Saya adalah pemuda desa yang terjebak dengan kehidupan hingar bingar kota besar sehingga agar tidak terseret pada arus yang tidak ingin saya ikuti, saya harus berusaha keras untuk melawan arus itu." Jelas Surya.


"Selama ini semuanya memang baik-baik saja dan saya pun bisa mengatasinya dengan baik tanpa saya terusik sedikitpun dengan kehidupan yang tidak ingin saya ikuti. Tapi ketika dekat dengan Anda, saya selalu hampir kehilangan kendali. Rasa kepedulian saya kepada Anda perlahan menjadi rasa kepemilikan. Dan saat perasaan itu saya rasakan, saya seperti kesulitan untuk menghindarinya. Terlebih ketika saya tahu Anda memiliki perasaan yang sama kepada saya, itu semakin membuat saya kesulitan mengendalikan diri."


"Kalau begitu biarkan itu terlepas dari kendalimu." Kalimat Gina membuat Surya mengerjapkan matanya berkali-kali. Seperti sebuah lampu hijau yang bisa mengantarnya pada sebuah kecelakaan lalu lintas. Sebuah pemberian kesempatan yang Surya anggap sebagai bahaya terhadap kelestarian prinsip yang ia pegang erat selama ini. Perlahan ada sebuah perasan dilema menyelinap di dadanya.


"Ayo kita menikah." Kali ini Surya terperanjat ketika dengan sangat tenang Gina mengucapkan kalimat itu.


🌸🌸🌸


Gina dengan gaun berwarna putih bersih berdiri bersebelahan dengan pria berkulit sawo matang itu tampak menoleh kepadanya dengan senyum bahagia. Sebuah buket bunga ditangannya telah siap ia lempar dari atas pelaminan. Pernikahan kedua mereka terlihat lebih meriah karena kedua mempelai sangat kooperatif dalam setiap setiap sesi acara. Semua itu sangat berbanding terbalik dengan proses pernikahan Gina dan Surya sebelumnya, ketika cinta belum ada dihati Gina dan penolakan akan pernikahan ada dikepalanya.


"1... 2... 3..." Gina melempar buket bunga itu kepada para tamu undangan yang diantaranya tidak ketinggalan Lita dan juga Feby. Para lajang yang sudah bersiap di depan pelaminan menunggu buket itu jatuh sudah bersiap untuk menangkapnya. Ternyata bunga itu jatuh tepat mengenai seseorang dan dibuat kaget dengan itu. Gadis itu memungutnya.


"Buket?" Gumamnya melihat buket di tangannya. Menyadari arti dari ritual lempar buket itu memiliki mitos barang siapa yang mendapatkannya maka akan segera mendapatkan jodoh, gadis itu lalu melemparnya kembali ke kerumunan para lajang yang sedari tadi sangat antusias ingin memperebutkannya.

__ADS_1


"Kenapa kau lempar kembali?" Tanya Sunday sambil menusap pipi Cena yang sedang berada di dalam gendongan Faris.


"Aku belum ingin menikah dalam waktu dekat ini. Masa SMA-ku sedang sangat indah-indahnya." Ujar Friday santai.


"Kata orang, menikah muda itu menyenangkan." Goda Faris sambil tersenyum kepada adik iparnya itu.


"Kalau begitu kenapa Kakak tidak melakukannya dulu?"


"Bagaimana aku bisa menikah muda kalau kakakmu saja selalu jual mahal setiap ku dekati." Mendengar itu, Sunday menjulurkan lidahnya mengejek Faris.


"Kasihan sekali kau, Kak." Ejek Friday juga. Faris memanyunkan bibirnya karena merasa mendapat serangan dari kedua bersaudara itu.


Perlahan seseorang berjalan mendekati mereka bertiga dengan langkah lemah. Ia menekuk wajahnya yang cemberut. Mereka tahu kenapa Lita seperti itu. Tidak ada buket bunga ditangannya. Itu artinya ia beranggapan bahwa jodohnya belum akan segera datang.


"Kenapa kau tidak menyimpannya saja untukku tadi." Lita berbicara kepada Friday yang sudah ada di depannya.


"Aku terlalu syok untuk menerima buket itu. Jadi, secara reflek aku langsung membuangnya. Aku takut jika setelah ini aku akan dinikahkan oleh bapakku, Kak." Ujar Friday dengan mimik muka khawatir.


"Aku tidak bisa mendapatkannya. Aku benar-benar harus bersiap menjadi perawan tua." Lita terlihat sangat sedih. Melihat itu, Sunday menahan tawanya. Sementara Faris tidak peduli dan asyik bermain-main dengan putri kecil yang mewarisi hampir semua kemiripan wajah darinya itu.


Hanna dengan perutnya yang semakin membuncit ikut merasakan kebahagiaan yang Gina rasakan. Akhirnya atasannya telah menemukan kembali cintanya yang pernah pergi. Tidak, sebenarnya Surya tidak pernah pergi. Ia hanya berusaha menghindar karena membutuhkan waktu untuknya bisa lebih berani memilih cintanya daripada tanggung jawabnya  terhadap hubungan yang telah ia jalani lebih dulu.


Gina melihat Hanna berdiri di salah satu sudut gedung dan tersenyum padanya. Seseorang yang selalu mendukung Gina entah dalam urusan pekerjaan atau urusan pribadi. Yang selalu siap siaga untuknya itu beberapa hari yang lalu mengatakan akan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai asisten pribadinya ketika menjelang waktu persalinannya.


"Benarkah? Kau akan mengundurkan diri?" Gina membelalakkan matanya  mendengar penuturan Hanna terkait rencananya.


"Tapi kenapa?" Wajah Gina mendadak diliputi mendung tebal mengingat sebentar lagi pegawai yang selalu bersamanya harus berhenti bekerja untuknya.


"Saya tidak mungkin bisa lagi membagi waktu saya, Nona. Saya harus mengurus bayi dan menjadi asisten pribadi yang keduanya akan menghabiskan seluruh waktu saya. Sehingga saya harus merelakan salah satunya yaitu pekerjaan saya." Jelas Hanna.


"Sejujurnya, saya sangat senang bekerja di sini terutama saat menjadi asisten Anda. Saya merasa bukan sedang bekerja dengan seorang atasan tapi lebih kepada dengan seorang teman. Terima kasih telah menjadikan saya pegawai Anda, Nona."


"Sebenarnya bukan aku yang memilihmu untuk menjadi asisten pribadi tapi Surya." Suara Gina masih lemah karena menahan kesedihan.


"Oh iya, Anda benar. Seharusnya aku berterima kasih kepadanya." Hanna tertawa kecil menyadari itu.


"Tapi tetap saja, saya berterima kasih telah menerima saya menjadi asisten pribadi dengan tangan terbuka. Anda adalah atasan terbaik yang pernah saya punya."


"Tentu saja, karena seumur hidupmu kau hanya bekerja di R-Company, belum pernah di tempat lain." Kali ini Hanna tertawa lagi karena ternyata Gina mengetahui hal itu.


"Jadi, apa rencanamu setelah keluar dari R-Company?"


"Saya sedang mengajukan lisensi untuk berwaralaba dengan R-Company."


"Benarkah?" Gina membelalakkan kedua bola matanya mendengar hal itu. Hanna mengangguk sambil tersenyum.


"Jangan jangan, ide pembukaan waralaba yang kau ajukan itu karena kau memiliki rencana ini?" Hanna tidak memberi jawaban apapun dan hanya tersenyum penuh arti.


Hanna masih melihat Gina dengan senyum bahagianya memberi salam kepada para tamu undangan yang memberikan selamat kepadanya. Ia memang telah terlanjur terikat secara batin dengan R-Company sehingga ketika tidak menjadi asisten pribadi dari orang nomer satu di sana karena ia memiliki tanggung jawab baru sebagai ibu, Hanna pun mendaftarkan diri untuk menjadi mitra waralaba R-Company. Itu artinya Hanna tetap bekerja bersama R-Company tapi ia juga masih punya banyak waktu untuk bayinya nanti.

__ADS_1


Sedangkan di sudut lain gedung itu, Bu Marina tampak berwajah dingin berdiri di samping Pak Rangga, suaminya, yang sedang berbincang dengan tamu-tamu. Ia benar-benar telah kalah telak dari anak dan suaminya yang dianggap telah bersekongkol untuk tidak menghiraukannya.


Malam itu saat Surya datang ke rumahnya dengan berpakaian rapi. Mbak Yuyun mengatakan kepada Bu Marina dan Pak Rangga bahwa ada tamu yang sedang menunggu di ruang tamu. Pak Rangga yang sedang menonton TV  memandang Bu Marina yang ada di sebelahnya. Entah siapa tamu yang datang malam ini tapi ini adalah hal yang tidak biasa. Sangat jarang tamu datang ke rumah mereka kalau bukan mereka yang mengundang karena mengadakan jamuan di rumah atau hanya kerabat dekat yang akan datang bertamu untuk sebuah urusan.


"Selamat malam, Pak Rangga, Bu Marina." Sapa Surya setelah berdiri dari duduknya untuk menunjukkan rasa hormat kepada mereka.


Pak Rangga dan Bu Marina merasa heran ternyata tamu itu adalah Surya. Tepat saat itu, Gina pun hadir di belakang kedua orang tuanya sambil melambaikan tangan kepada Surya tanpa suara apapun tapi itu cukup membuat Surya membalasnya dengan senyuman.


Akhirnya empat orang di ruang tamu itu saat ini telah menempati tempat duduk mereka masing-masing. Pak Rangga dan Bu Marina duduk di sebuah sofa panjang sedangkan Gina dan Surya duduk di sofa single masing-masing.


"Jadi, kau benar-benar ingin melamar Gina?" Tanya Pak Rangga dengan suaranya tenang.


"Benar, Pak." Jawab Surya santun seperti biasanya.


"Apakah kalian yakin dengan keputusan itu? Kalian sedang tidak merencanakan sesuatu dengan pernikahan kali ini, bukan?"


"Tidak!!" Jawab Gina dan Surya serempak meski tanpa aba-aba. Setelah melakukan itu, Gina dan Surya lalu saling pandang dan keduanya tersenyum. Melihat itu, Bu Marina yang sejak tadi tidak tahan dengan sikap Gina dan Surya yang saling melirik manja itu semakin muak. Ia memutar bola matanya malas melihat kedua orang yang sedang jatuh cinta itu.


"Jadi, tunggu apa lagi." Ujar Pak Rangga sambil menatap Gina dan Surya bergantian.


Sementara Pak Rangga tersenyum setelah mengatakan itu, Surya dan Gina malah melongo karena kalimat Pak Rangga belum bisa mereka mengerti.


"Papa memberikan restu untuk kami?" Tanya Gina memastikan. Tidak menjawab dengan bibirnya, Pak Rangga hanya menganggukan kepala. Gina tersenyum lebar lalu menoleh kepada Surya yang juga memiliki ekspresi sama dengannya.


"Terima kasih, Pak." Kalimat Surya ia katakan dengan sekilas melirik wajah seram Bu Marina yang Surya tahu sepertinya beliau tidak sependapat dengan suaminya. Surya merasa suatu saat ia harus berbicara dengan Bu Marina secara pribadi tentang hal ini. Yang jelas sekarang jika Bu Marina tidak mengucapkan penolakan lamaran dirinya, Surya menganggap Ibu dari kekasihnya itu turut merestui mereka.


Dan akhirnya beberapa hari kemudian Surya meminta bertemu calon ibu mertuanya di suatu tempat. Surya dan Bu Marina duduk berhadapan di sebuah restoran mewah. Surya tahu harus bagaimana ia memperlakukan ibu mertua yang tidak menyukainya itu. Sehingg memilih tempat yang berkelas adalah langkah awal Surya melakukan pendekatan kepada Bu Marina.


"Terima kasih Anda bersedia datang." Kalimat pembuka Surya setelah seorang pelayan meletakkan secangkir teh hijau di depan Bu Marina dan kopi didepannya sendiri.


"Jadi, apa yang kau inginkan?"


"Bu, saya sangat menghormati Anda sejak dulu sebagai atasan saya dan juga ketika saya sempat menjadi menantu Anda. Perlu Anda ketahui bahwa saya sangat mencintai Nona Gina dan akan selalu berusaha menjaganya seperti Anda dan Pak Rangga menjaganya. Saya tahu Nona Gina adalah putri Anda satu-satunya sehingga sangat wajar bila Anda menginginkan menantu yang sesuai dengan harapan Anda. Tapi, saya berjanji akan selalu berusaha membahagiakan Nona Gina dan tidak pernah meninggalkannya."


"Janjimu sangat berat. Kau yakin sanggup memenuhi hal itu?" Tanya Bu Marina masih dengan wajah sinis.


"Saya yakin dengan perasaan saya, sehingga saya juga yakin dengan janji saya." Mendengar kesungguhan dari nada bicara Surya, Bu Marina tidak bisa berkata apa-apa lagi selain membiarkan Surya memenuhi janjinya walau dengan hati yang berat.


Saat ini, Bu Marina masih menemani Pak Rangga dalam menyapa para tamu undangan yang datang. Meski hatinya tidak sepenuhnya merestui pernikahan putrinya, tapi ia tidak bisa berbuat banyak ketika suaminya sudah memutuskan untuk merestui hubungan Gina dan Surya.


"Mama terlihat cantik dengan kebaya ini." Puji Pak Rangga sambil berbisik di telinga istrinya itu. Bu Marina memanyunkan bibir karena tahu itu hanyalah gombalan suaminya yang berusaha menghiburnya di tengah suasana yang kurang nyaman untuknya.


"Lihatlah putri kita. Pernahkah kau melihat senyum dan tawa lepasnya seperti itu?" Bu Marina mengalihkan pandangan kepada Gina yang sekarang sudah berbaur dengan teman-temannya.


"Kita terlalu sering memikirkan bagaimana membuat Gina bahagia dengan segala kebutuhannya yang kita penuhi, tapi dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang kita secara utuh. Kita hanya menginginkan dia tidak bertingkah dengan berbagai pengawasan yang kita lakukan melalui orang-orang suruhan kita, tapi kita tidak tahu yang sebenarnya Gina inginkan adalah kehidupan hangat di tengah keluarganya. Dan, Surya bisa memberikan itu. Kau ingat, bagaimana akhirnya Gina jatuh cinta kepada Surya? Surya selalu menjadikan Gina prioritasnya. Itu yang ku lihat dan membuatku yakin bahwa Suryalah orang yang tepat untuk Gina." Penjelasan panjang Pak Rangga disimak dengan baik oleh Bu Marina.


"Jadi, sebagai orang tua, mari kita lihat dari jauh bagaimana mereka akan menapaki kehidupan selanjutnya. Kita tidak harus terlibat secara langsung untuk kehidupan mereka tapi kita mungkin bisa menjadi pengawas, penasehat atau penghibur ketika mereka membutuhkan semua itu." Bu Marina masih diam membisu tanpa mengatakan apapun. Ia hanya memandang Gina yang sedang berbincang dengan teman-temannya yang hadir dalam pesta pernikahan keduanya ini.


Karena merasa ada yang memperhatikan, Gina menoleh kepada Bu Marina lalu menyunggingkan senyum. Benar, senyum itu begitu sempurna. Senyum dengan mata berbinar penuh kebahagiaan. Bu Marina menarik nafas panjang. Perlahan ia mulai menata hatinya untuk bisa menerima keputusan yang diambil putrinya dengan menikahi orang yang tidak disukai olehnya meskipun itu akan membutuhkan waktu yang lama.

__ADS_1


__ADS_2