Tahta Surya

Tahta Surya
Bersembunyi


__ADS_3

Suara Marco yang sedang mengucapkan ijab qobul terdengar sampai keluar gedung. Gina bisa mendengar itu. Ia diam bersandar tembok di depan gedung yang di depannya terdapat taman yang didominasi dengan bunga cemitian yang berbentuk-bentuk. Saat itu, Surya ada di dalam mobil dan melihat Gina. Ia sengaja tetap berada di dalam mobilnya dan hanya bisa memandang Gina dari tempatnya sekarang.


Ia tidak ingin merusak suasana hati Gina hari ini dengan muncul di hadapannya dan mengingkari janji yang telah ia buat sendiri. Setelah beberapa lama ia tepati, ia akan berusaha tetap seperti itu hingga saat ini. Sampai akhirnya acara akad nikah pun usai dan Gina kembali masuk ke dalam gedung. Surya mulai membuka pintu mobil dan turun dari dalamnya. Ia tahu pasti akan bertemu Gina di tempat ini. Tapi dia sudah berencana akan berusaha menghindar sebisa mungkin. Bagaiamanapun juga Surya tidak bisa melewatkan pesta pernikahan Hanna.


Surya mulai berjalan mendekati gedung dan membuka pintu lain dari gedung itu. Matanya tetap waspada agar ia tetap selalu bisa mengontrol jaraknya dari dimana Gina berada. Seperti sekarang, Surya berada diantara kerumunan tamu undangan yang baru saja datang sementara Gina sedang berada di depan meja-meja hidangan.


Dari tempatnya berdiri sekarang, Surya bisa melihat Gina mengambil nasi kucing dan aneka sate-satean untuk diletakkan ke dalam piringnya. Surya tersenyum melihat Gina memakan sate telur puyuh, sate kerang dan lauk khas angkringan lainnya. Ternyata Gina masih sama. Masih sangat suka makan. Dia juga sepertinya menyukai angkringan itu. Kemudian Surya lebih bisa sedikit leluasa lagi memperhatikan ketika teman-temannya datang dan mengobrol dengannya. Surya merasa tidak bisa mengalihkan pandangan dari Gina yang tersenyum bahkan tertawa seperti itu. Ada rasa lega dihatinya melihat Gina yang mungkin saja sudah bisa melupakannya karena itu adalah harapan terbesarnya saat ini.


"Pak Surya?" Sapa seorang pria yang adalah temannya dari perserikatan pengusaha dan beberapa kali berjumpa di acara yang sama.


"Pak, Michele. Apa kabar?" Sapa Surya sambil menjabat tangannya. Dari pria itu Surya bisa lebih leluasa diam-diam menatap Gina dari tempatnya karena sedikit terhalang oleh tubuh pria itu.


Tapi Surya harus mencari tempat lain untuk bersembunyi ketika temannya itu meminta diri untuk pamit. Tamu undangan mulai berkurang sedikit demi sedikit. Surya merasa keberadaannya mulai semakin mudah diketahui oleh Gina. Ia lalu berjalan memasuki ruangan di belakang gedung. Itu adalah ruangan tempat makanan untuk hidangan di simpan.


Seorang pramusaji melihatnya datang dan menundukkan kepala menyapanya. Surya memintanya untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang keberadaannya di sana. Pramusaji itu mengangguk. Di dalam ruangan itu Surya melihat bagaimana stok hidangan di simpan dan juga dipersiapkan dengan baik. Tapi kemudian ia membuka pintu sedikit untuk melihat apakah Gina masih ada di sana atau sudah pulang. Dan yang berhasil Surya lihat adalah Gina yang sedang duduk di salah satu kursi sendirian. Ingin sekali Surya menghampiri Gina dan mengajaknya berbincang seperti dulu. Hanya saja ia merasa harus tetap selalu konsisten dengan janjinya sehingga harus tetap membiarkan Gina merasa kesepian ditempat seramai ini.


Entah apa yang sedang difikirkannya tapi melihat itu membuat Surya menarik nafas berat berkali-kali. Hatinya begitu gelisah melihat sorot mata suram Gina seperti itu. Dan ia merasa akhirnya bisa keluar dari tempat persembunyiannya setelah yakin Gina pergi dari tempat itu.


"Kenapa datang terlambat?" Tanya Hanna kepada Surya. Marco ada di sudut lain gedung menemui beberapa pegawai kelas atas perusahaannya yang juga hadir.


"Secara teknis aku tidak datang terlambat. Hanya saja aku menunda menghampirimu." Jawabnya. Hanna mengangkat kedua alisnya mendengar penuturan Surya.


"Aku sudah datang sejak tadi. Tapi, aku harus menepati janjiku." Hanna akhirnya tahu apa yang membuat Surya sengaja terlambat menemuinya.


"Aku sangat berharap dia baik-baik saja." Seperti ada sesuatu dari nada bicara Surya yang Hanna menangkapnya sebagai Gina yang sedang ia bicarakan. Hanna hanya membalasnya dengan tersenyum.


Sementara itu Gina mengendarai mobilnya menuju rumah. Hampir seharian Gina berada di pesta pernikahan Hanna dan itu membuatnya merasa lelah sehingga ingin segera pulang dan beristirahat.


"Dia benar-benar tidak datang." Gumam Gina yang masih melarikan mobil dijalan menuju rumahnya.


Gina berfikir tidak adanya Surya disana membuatnya yakin bahwa pria itu benar-benar sudah menghilang.


"Siska mana?" Tanya Hanna karena melihat Surya yang datang seorang diri tanpanya.


"Dia tidak bisa datang karena memiliki kesibukan lain." Jawab Surya.


"Oh, baiklah." Hanna menanggapi.


"Terima kasih sudah menyiapkan hidangan yang menakjubkan untukku. Semua tamu terlihat menikmati hidangan dari tim kateringmu." Puji Hanna sebagai kliennya kali ini.


"Apalagi Nona Gina. Ku lihat dia tidak bisa pindah dari meja angkringan. Dia sangat menyukai masakan angkringanmu."


"Bukan aku yang memasaknya tapi tim dapurku." Surya meralat.

__ADS_1


"Ya, maksudku kau sebagai bosnya." Hanna memperjelas maksudnya.


"Aku tahu, saat memutuskan untuk meninggalkan R-Company karena kau sudah jadi bos untuk bisnis kulinermu yang ada di mana-mana itu." Mendengar kata-kata Hanna, Surya tersenyum sambil memalingkan muka.


"Warung angkringanmu tersebar dimana-mana dan semua berkembang pesat. Belum lagi usaha kateringmu yang padat jadwal dan sudah terkenal dimana-mana hingga ke luar kota. Aku sampai resah karena baru kemarin pegawaimu datang dari luar kota karena membantu cabang di sana yang disewa oleh seorang Walikota" Goda Hanna.


"Kau cukup pandai membuka usaha seperti ini. Kau punya banyak kenalan dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Dari kalangan pengusaha, pejabat dan dari banyak lapisan masyarakat lainnya. Kenapa kau tidak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif saja? Aku yakin pasti akan banyak orang yang mendukungmu." Surya tersenyum lebar mendengar penuturan Hanna yang semakin melebar kemana-mana.


"Sudah, jangan lanjutkan. Kau ini bisa saja." Jawab Surya menghentikan Hanna dari bicara yang semakin melantur nantinya.


"Kau masih merasa bersalah kepada Nona Gina?" Tanya Hanna yang penasaran kenapa dia masih menghindari atasannya itu.


Surya tidak langsung menjawab tapi dia terlihat seperti salah tingkah dan tidak tahu harus menjawab apa. Hanna jadi menyesal menanyakan itu padanya karena itu membuat Surya seolah merasa tidak nyaman.


"Ya, aku orang yang seharusnya selalu melindunginya, mendukungnya dan melihat kebahagiaannya. Tapi nyatanya aku orang yang melakukan sebaliknya. Aku adalah orang sudah membuatnya menangis."


"Apa kau menyesali keputusanmu meninggalkan Nona Gina?"


"Tidak. Karena dia bukan pilihan untukku. Aku sudah memiliki Siska sehingga dia tidak akan pernah menjadi salah satu pilihan itu."


"Kau memang pria sejati yang setia." Cibir Hanna sambil tertawa kecil.


"Tapi, apa memang tidak ada sedikitpun perasaanmu untuknya?" Kali ini Hanna menatap Surya serius, tidak ada raut muka bercanda lagi darinya.


Lagi-lagi Surya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Hanna. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain beberapa saat sebelum ia menjawab pertanyaan temannya itu.


"Aku tahu ini juga pasti berat untukmu. Tapi aku memikirkan satu hal."


"Apa?" Tanya Surya menatap Hanna.


"Skandal itu, aku tahu kau sengaja melakukannya." Surya tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Hanna cukup mengenal Surya dan tahu dari gerakannya, bahwa apa yang dikatakannya pastilah benar.


"Kau tidak mungkin seceroboh itu dan membuat orang bisa tahu apa yang seharusnya tidak mereka tahu. Kau juga cukup mengenal Pak Rangga dan semua hal yang bisa dilakukannya, tapi kau tidak menghindar dan membuatnya seperti kau tidak sengaja melakukannya tapi beliau bisa mengaksesmu." Surya menyimak semua spekulasi Hanna terhadapnya.


"Ya, kau benar." Jawab Surya tegas.


"Sebenarnya aku takut jika semua hal yang Pak Rangga pinjamkan padaku membuatku lupa diri. R-Company yang begitu besar dan Nona Gina yang tidak ada pria manapun bisa menolaknya akan membuatku serakah untuk memiliki itu semua. Aku takut menjadi seorang penghianat seperti yang kau takutkan. Aku takut berubah menjadi orang lain. Jadi, aku harus membuat itu segera berakhir."


Hanna menatap Surya dengan perasaan iba yang perlahan muncul. Ia bisa merasakan bagaimana sebenarnya Surya tersiksa dengan posisinya saat itu. Walaupun itu adalah sesuatu yang dilakukan berdasarkan kesanggupannya sendiri, tapi tetap saja beban perasaan yang dibawanya pasti membuatnya dilema. Dan saat ini, saat bertemu kembali dengannya, Hanna merasa sedikit lega karena Surya terlihat baik-baik saja. Dengan beban yang tidak terlihat seperti saat kali terakhir bertemu dan berpamitan untuk mengundurkan diri dari R-Company.


"Baiklah, sudah waktunya aku pergi. Kau harus segera beristirahat. Semua tamumu sudah pulang dan aku juga harus pergi." Pamit Surya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh gedung yang sudah tidak ada tamu. Yang ada hanya Marco bersama keluarganya di sudut gedung dan beberapa pramusaji, pegawai Surya dari usaha katering miliknya.


"Semoga kau selalu bahagia." Surya tersenyum tulus memandang Hanna, teman dekatnya selama ini ketika mereka berada di R-Company. Tidak banyak yang tahu, tapi pertemanan mereka memang dekat ketika berada di luar jam kerja.

__ADS_1


"Kau juga. Semoga kau selalu bahagia." Balas Hanna.


"Jangan katakan pada Nona Gina tentang keberadaanku. Kau bisa berjanji?"


"Wah, ini terlalu berat. Dia atasanku. Kalau sampai tahu aku menyimpan rahasiamu, bisa tamat riwayatku." Kelakar Hanna ditanggapi senyum oleh Surya.


"Selama itu menjadi rahasia yang selalu kau jaga, kau akan aman-aman saja."


"Baiklah. Kalau sampai aku ketahuan melindungimu darinya, kau harus berjanji akan merekrutku masuk ke dalam usaha kulinermu yang banyak sekali jumlahnya itu."


"Jangan, aku tidak tahu akan menempatkanmu pada bagian apa."


"Apa saja. Bagian mencicipi masakan juga sudah cukup bagiku asalkan kau memberi gaji tidak jauh berbeda dengan tempat kerjaku sebelumnya." Hanna tertawa setelah mengatakan itu. Surya menepuk jidatnya karena pura-pura merasa keberatan.


🌸🌸🌸


Surya keluar dari warung angkringan yang mulai di datangi oleh pengunjung. Melihat di luar warung banyak karangan bunga ucapan selamat atas pembukaan cabang warung angkringan 'Rejo' miliknya yang baru hari ini dibuka. Surya melihat beberapa karangan bunga itu ada nama Hanna dan Marco, ia pun tersenyum. Sahabatnya itu tidak pernah melewatkan karangan buka setiap pembukaan warung miliknya. Saat bertemu di pesta pernikahannya waktu itu Surya sudah mengundangnya datang tapi Hanna tidak bisa berjanji bisa hadir seperti biasanya.


"Hari itu aku masih cuti."


"Kau mengambil cuti untuk bulan madu?"


"Benar." Jawab Hanna sambil terkekeh.


"Nona Gina pasti akan kerepotan sendirian."


"Aku tahu, tapi dia bahkan menghadiahiku tiket pesawat ke Paris."


"Oh..."


"Aku juga berfikir dia pasti akan kerepotan bekerja sendiri tapi dia meyakinkanku kalau dia sudah bisa menangani R-Company dengan baik. Sekretaris baru juga cukup cekatan. Jadi aku sedikit tenang."


"Baguslah kalau begitu."


Meskipun Hanna meyakinkannya begitu tapi tetap saja ada rasa khawatir di hati Surya. Apakah Gina akan baik-baik saja memimpin R-Company selama dua minggu ke depan, itu adalah kekhawatirannya selama ini. Tapi kemudian Surya berusaha mengalihkan fikirannya dengan mulai berbaur dengan pegawainya untuk melayani para pembeli yang semakin ramai di jam makan siang ini.


"Feby, aku akan makan siang." Ujar Gina saat keluar dari ruangannya.


"Baik, Nona." Ujar sekretarisnya itu sambil berdiri dari duduknya memberi hormat kepada Gina.


Gina keluar mengendarai mobilnya dan bingung akan makan siang apa kali ini. Ia merasa kesepian sejak Hanna pergi berbulan madu beberapa hari yang lalu. Tapi kemudian ia melihat sebuah bapak-bapak yang berjualan kue rangin waktu itu. Gina lalu berhenti di tempat tidak jauh para penjual makanan kaki lima itu berada.


"Saya mau satu kotak, Pak."

__ADS_1


"Baik, Nona." Jawab Bapak yang Gina ingat sebagai penjual kue rangin langganan Surya.


Setelah pesanannya selesai, Gina membayar sejumlah uang dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu membuka kotak itu dan mengambil kuenya sebuah. Gina memakannya dan ingatannya dibawa kembali pada waktu pertama kali memakan kue ini bersama Surya. Kemudian ia berhenti mengunyah dan menarik nafas berat. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Rasa rindunya kepada Surya hinggap lagi dan membuat dadanya seperti ada yang menekan-nekan, sangat berat.


__ADS_2