Tahta Surya

Tahta Surya
Tiupan


__ADS_3

Gina meregangkan tubuhnya setelah beranjak dari tempat tidur. Jam dinding di kamarnya menunjukkan sudah pukul 9 pagi. Gina melihat ke arah sofa kamarnya tempat Surya tidur sudah kosong. Seperti biasa Surya sudah tidak ada di dalam kamar dan Gina yakin Surya pasti sudah keluar rumah. Entah untuk berolah raga atau pergi ke suatu tempat. 'Manusia Robot' seperti dia memang sangat disiplin. Pola hidupnya sangat teratur. Bangun pagi, berolah raga lalu melakukan aktifitas yang Gina yakin itu sudah Surya agendakan beberapa hari sebelumnya. Surya seperti selalu punya acara yang ia kerjakan setiap hari libur. Tidak ada hari memanjakan diri apalagi bermalas-malasan baginya.


Seperti minggu pagi kali ini Gina menuruni tangga dan mendapati rumah dalam keadaan sepi. Tapi ia bisa melihat di atas meja makan ada sepiring bubur ayam. Gina menghampirinya. Dari jarak dekat ia bisa melihat uap panas masih mengepul dari atas piring berisi bubur ayam itu. Gina melihat sekeliling ingin menanyakan adakah pemilik bubur ayam disekitar situ.


"Hello... anybody home?" Gaya bicara Gina menirukan adegan di dalam film-film horor. Tidak ada sahutan tapi terdengar langkah kaki dari arah dapur yang mendekat ke arahnya. Gina menoleh lalu muncul Surya dengan piring di tangannya yang juga mengepulkan uap panas. Gina mengerutkan kening.


"Anda sudah bangun, Nona. Tepat sekali." Dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Kau pikir aku bisa sampai di sini masih dengan tidur? Aku bukan tipe orang yang bisa berjalan kemana-mana saat tidur." Jawab Gina ketus.


"Iya Nona." Surya masih menanggapi dengan senyum juga dan meletakkan piring panas itu di atas meja. Setelah itu ia melepas pelapis tangan anti panas yang ia pakai dan meletakkan di sisinya duduk.


"Mari kita sarapan, Nona."


"Kau dapat dari mana?"


"Dari... oh, saya membelinya saat jogging tadi."


"Kenapa membeli dua?"


"Karena saya tahu Anda pasti sudah bangun."


"Sok tahu sekali." Gumam Gina sambil duduk juga di depan sepiring bubur ayam dengan aroma menggoda di depannya.


"Karena Anda biasa bangun jam segini saat hari libur."


"Oh ya? Kau tahu itu?" Surya mengangguk sambil menyendokkan bubur ayam ke dalam mulutnya. Gina juga mencicipi bubur di depannya.


"Aww..." Gina merasakan bubur yang menyentuh bibirnya terasa masih panas.


"Kenapa Nona?" Surya panik dan mengambilkan air minum.


"Buburnya masih panas sekali. Bibirku rasanya terbakar." Keluh Gina sambil memegang bibirnya.


"Kemarikan Nona." Surya meraih bubur milik Gina dan membawa ke dekatnya. Perlahan Surya meniup di atas bubur Gina berusaha mengurangi uap panas yang ada di dalamnya.


Gina memperhatikan Surya yang serius meniup bubur miliknya. Surya yang sedang meniup terlihat lucu. Ia yang memanyun-manyunkan bibirnya saat meniup membuat Gina teringat pada apa yang dilakukan Surya saat meniup kepalanya yang benjol waktu itu. Entah kenapa pemandangan seperti itu terasa menenangkan untuknya. Padahal bukan dirinya yang mendapat perlakuan tiup dari Surya melainkan buburnya, tapi kenapa itu membuat hatinya senang. Melihat itu tanpa sadar Gina melengkungkan senyumnya.


"Sudah, Nona." Surya menyodorkan kembali bubur Gina yang sudah tidak sepanas sebelumnya.


"Oh, ehh, iya... sudah ya." Gina menjadi salah tingkah karena Surya tiba-tiba memandang ke arahnya.


"Sudah tidak sepanas tadi. Tapi baiknya sebelum memakannya, Anda harus sedikit meniupnya terlebih dulu." Gina hanya menanggapi dengan anggukan. Suaranya masih terasa tercekat oleh kegugupannya tadi.


"Oh iya, Papa senang kita berhasil membuat Tuan Adskhan menandatangani kontak kerja dengan R-Company."


"Kita?" Gina membulatkan matanya mencoba memahami kata 'kita' yang Surya lontarkan.

__ADS_1


"Ya Nona, saya dan Anda."


"Aku tidak melakukan apapun."


"Tapi Anda bersama saya menjamu Tuan Adskhan dan istrinya. Kita sudah bekerja sama dengan baik untuk membuat mereka nyaman selama berada di sini."


"Apakah itu sangat berarti?" Gina memandang Surya.


"Tentu saja Nona, ibarat suatu negara, Ibu negara memiliki peran sangat penting dalam kinerja kepala negara memimpin negaranya."


"Benarkah? Apakah seserius itu?" Gina mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Benar, Nona." Jawab Surya sambil tersenyum melihat wajah Gina dengan tatapan sepolos itu. Ia benar-benar seperti seorang anak yang baru saja mendapat pengetahuan baru.


"Itulah sebabnya saya meminta Anda untuk menemani saya selama melakukan pertemuan-pertemuan dengan Tuan Adskhan." Jelas Surya.


"Oh, baguslah kalau begitu." Gina menyendokkan buburnya lagi.


"Terima kasih, Nona."


"Terima kasih untuk apa?" Gina sedikit tertawa tapi masih menikmati buburnya.


"Karena sudah membantu saya menjamu Tuan Adskhan."


"Hei, jangan buru-buru berterima kasih padaku. Aku melakukan itu untuk R-Company. Bukan untukmu."


"Iya saya tahu, Nona. Semakin banyak Anda belajar tentang bagaimana cara berbisnis semakin cepat Anda menggantikan saya."


"Seharusnya kau mulai khawatir aku akan cepat pandai dan segera menumbangkan tahtamu."


"Saya tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Nona. Pada saatnya nanti R-Company pasti akan kembali kepada pemilik yang sebenarnya."


"Tentu saja. Jadi kau jangan berharap banyak untuk berlama-lama memilikinya. Ibarat sebuah hubungan percintaan semakin kamu mencintainya semakin kamu akan posesif dan semakin sakit saat suatu hari kamu kehilangan cintamu."


"Iya Nona, saya tahu." Surya masih dengan senyumnya lembut. Ucapan Gina yang sedikit pedas sepertinya tidak mempengaruhi sama sekali. Surya masih tempak tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Itulah yang selalu Gina herankan dan menyimpulkan kalau Surya adalah robot.


Bagaimana bisa seorang manusia tidak tersinggung perasaanya saat manusia lain seolah dengan sengaja ingin melukai perasaannya. Kalau bukan robot yang tidak memiliki perasaan, pastilah orang itu tidak memiliki akal yang sehat. Sedangkan Gina melihat Surya cukup waras untuk menjalankan bisnis Papanya selama ini dengan sangat baik.


"Papa hanya mengatakan itu saat menghubungimu?" Lanjut Gina.


"Iya Nona." Jawab Surya dengan masih melanjukan makan.


"Oh iya, Papa mengatakan mungkin akan menambah satu cruise lagi."


"Wah, bagus sekali. Semakin Papa lama disana, semakin baik untuk kita."


"Iya Nona."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, aku semakin yakin kalau sepertinya aku hanyalah anak pungut." Gumam Gina.


"Kenapa Anda berfikir begitu, Nona?" Surya mengerutkan kening.


"Bagaimana bisa Papa lebih suka menghubungimu dari pada aku putrinya." Wajah Gina cemberut.


"Saya rasa karena ini tentang bisnis jadi Papa menghubungi saya, Nona."


"Memangnya hanya kau yang bekerja di R-Company dan menjamu Tuan Adskhan? Papa bahkan punya banyak alasan untuk menghubungiku sebagai putrinya. Apa komunikasi itu haruslah sesuatu yang berhubungan dengan bisnis saja. Dasar pria matrealistis." Surya menahan tawa melihat Gina mengatai papanya sendiri.


🌸🌸🌸


Gina sedang berada di atas treadmill dan masih melarikan kakinya. Tampak peluh membasahi tubuh. Bahkan wajahnya penuh dengan keringat yang meleleh dari dahinya.


"Ini Nona." Mbak Yuyun mengantarkan segelas air minum di tempat tidak jauh dari Gina berolah raga.


"Nona, kenapa berolah raga jam segini?" Tanya mbak Yuyun sambil mencoba sepeda statis di samping Gina berlari dengan treadmill.


"Aku kekenyangan."


"Habis makan apa, Nona?" Mbak Yuyun yang sudah seperti teman bagi Gina pun mulai mengayuh sepeda statis itu.


"Bubur ayam." Jawab Gina dengan nafas terengah lalu menghentikan olah raganya dan meminum air putih yang di bawa mbak Yuyun tadi.


"Bubur ayamnya enak sekali, Nona. Kalau tidak malu pada Pak Surya, pasti saya menambah lagi." Ujar Mbak Yuyun sambil cekikikan.


Baik sekali dia. Bahkan dia juga membelikan bubur ayam itu untuk mbak Yuyun. Batin Gina sambil membayangkan Surya yang meniup buburnya tadi. Tapi kemudian Gina menggelengkan kepalanya cepat.


Aku tahu. Pasti itu adalah caranya untuk memasukkan jampi-jampi padaku. Dengan tiupannya. Terbukti dia suka sekali meniup dan setelah itu aku akan merasakan hal aneh padanya. Gina mulai beranalisa.


Aku harus benar-benar berhati-hati sekarang.


"Nona... Nona..." Mbak Yuyun menggoyang-goyangkan lengan Gina. Gina menoleh kepada mbak Yuyun yang ada di sebelahnya.


"Nona dehidrasi atau melamun?" Tanya mbak Yuyun yang melihat Gina bengong.


"Segelas coklat dingin sepertinya enak." Mbak Yuyun tahu kode yang disampaikan padanya lalu pamit ke dapur untuk membuatkan. Sedangkan Gina sendiri meninggalkan ruang gym.


Di depan tangga ia melihat Surya berjalan mendekatinya.


"Nona, saya akan keluar. Kalau Anda membutuhkan saya, silakan hubungi saja." Gina mengangguk. Ia tidak banyak bicara karena masih terbawa oleh fikirannya tentang jampi-jampi yang mungkin Surya tiupkan.


Gina memandang Surya yang berjalan menjauhinya menuju pintu. Dilihat dari belakang ternyata Surya memiliki punggung yang tegap dengan pundak yang lebar dan kaki yang panjang. Karena itu ia memiliki cara berjalan dengan langkah yang lebar. Badannya memang cukup bagus jika dilihat dari belakang begini.


Ya Tuhan. Aku benar-benar sudah gila menilainya seperti itu. Gina mengibaskan tangannya mengipas-ngipaskan ke arah wajahnya.


Aku harus bisa menghilangkan mantra-mantra yang Surya tiupkan.

__ADS_1


"Mungkin mbak Yuyun tahu. Dia juga berasal dari kampung." Gina memutar tubuhnya dan berjalan menuju dapur mencari orang yang dimaksud.


"Mbak Yuyun... Mbak Yuyun..." Teriak Gina sambil mendekati mbak Yuyun yang sedang asyik memotong sayuran sambil berjoged mendengarkan musik dangdut dari radionya.


__ADS_2