Tahta Surya

Tahta Surya
Sportif


__ADS_3

"Aku menyukaimu. Kau tidak perlu kaget apalagi terbebani dengan perasaanku karena aku akan memberimu waktu untuk merasakan perasaanku padamu." Surya tercengang dengan ungkapan cinta Gina yang sangat tiba-tiba. Ia tidak percaya Gina mengatakan hal yang tidak disangkanya sama sekali.


"Ehemm..." Kerongkongan Surya seperti kering untuk mengatakan apapun.


"Nona... Anda tahu saya seperti ini."


"Tentu saja aku tahu itu. Tapi kenyataannya aku memang menyukaimu. Kalau kau berfikir ini mudah bagiku, kau salah. Aku sudah mencoba untuk tidak menyukaimu dan ternyata itu cukup sulit jadi inilah yang terjadi sekarang." Gina menjelaskan dengan sangat jujur tentang apa yang terjadi padanya selama ini.


"Aku tidak peduli walau kau sudah bersama Siska. Aku hanya akan mencintaimu dengan caraku. Aku berjanji tidak akan mengganggu hubunganmu dengannya. Aku akan mencintaimu dengan sportif." Gina tersenyum kepada Surya yang masih bingung kepadanya saat ini. Ingin sekali ia tahu apa yang sedang pria itu fikirkan tentangnya.


"Ayo kita makan. Aku sangat lapar." Akhirnya Gina berdiri dari duduknya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Surya yang belum beranjak dari bangku panjang itu. Ia sengaja membiarkan Surya tidak memberi ungkapan lain lagi. Gina benar-benar tidak ingin kalau Surya menolaknya apalagi dalam waktu secepat ini sebelum Gina melakukan usaha lain untuk menarik hatinya.


Gina sengaja meninggalkan Surya karena ia merasa seperti sudah tidak bisa bertahan lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat juga. Dadanya sepertinya akan meledak kalau ia berada disana lebih lama. Sambil berjalan semakin menjauh Gina meraba wajahnya yang terasa hangat seakan sedang mengalami demam. Senyumnya terus mengembang mengingat baru saja ia mengungkapkan perasaannya kepada Surya. Sebuah keputusan yang bukan tiba-tiba tapi Gina sudah mempertimbangkan hal itu.


🌸🌸🌸


Malam ini hari sudah larut tapi Surya belum juga memasuki kamar. Gina masih berbaring dan belum bisa memejamkan mata. Tiba-tiba ia merasa bimbang. Apakah keputusannya mengungkapkan perasaan kepada Surya sudah benar atau malah sebaliknya dan membuat Surya jadi enggan bersamanya. Perlahan ada rasa sesal menyelinap dalam hatinya.


Gina hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama saat menyukai Faris. Kali ini ia ingin mengacaukan hati Surya dengan menunjukkan padanya bahwa selain Siska, ada wanita lain yang juga menyukainya. Ia hanya perlu sebaik mungkin dan selembut mungkin mendekati hati Surya tanpa ia merasa berusaha merebutnya dari Siska. Ya, itulah yang sudah mantap akan Gina lakukan.


Akhirnya, lewat tengah malam Surya memasuki kamar. Perlahan dan sangat hati-hati ia membuka pintu. Tidak ingin membuat suara yang terlalu berisik sehingga bisa membangunkan Gina.


"Darimana saja?" Suara Gina mengagetkannya. Surya yang hendak memasuki kamar mandi lalu berhenti.


"Hei, kau habis berolah raga?" Tanya Gina yang melihat baju Surya basah pada beberapa bagian. Gina sudah duduk bersandar kepala tempat tidur sekarang. Memandangnya penuh heran dengan apa yang Surya lakukan.


"Iya Nona. Saya terlalu kenyang setelah makan sehingga saya ingin sedikit berkeringat dulu sebelum tidur." Jawab Surya lalu ia memasuki kamar mandi.


"Apakah dia sedang berdiet? Hanya sepotong ayam bakar dan kentang goreng." Gumam Gina mengingat-ingat porsi makan malam Surya tadi.


"Bukankah aku yang seharusnya berolah raga tadi." Gina ingat apa saja dan sebanyak apa yang sudah ia masukkan ke dalam perutnya saat makan.


Surya menarik nafas berat. Ia menatap cermin di dalam kamar mandi dan melihat wajahnya sendiri. Siska yang sangat mencintainya dan selalu takut kehilangannya dan juga Gina yang baru saja menyatakan cinta padanya. Seharusnya ia merasa sangat tersanjung dicintai oleh dua wanita cantik seperti mereka. Tapi itu justru membuatnya merasa kacau. Ia tidak mungkin berjalan dengan keduanya namun ia juga tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka.


Surya ingat bagaimana saat Gina patah hati karena cintanya kepada Faris bertepuk sebelah tangan. Ia meminum obat tidur hingga over dosis karena ingin mengakhiri hidupnya. Lalu bagaimana kalau sekarang ia juga mematahkan hatinya sekali lagi? Bagaimana kalau Gina melakukannya lagi? Tapi ia juga tidak bisa menerima pernyataan Gina dengan hati terbuka karena Surya pun telah memiliki Siska yang juga mencintainya. Mereka sudah menjalin hubungan cukup lama dan tidak mudah juga bagi mereka untuk berakhir begitu saja hanya karena kehadiran orang ketiga. Surya menyalakan kran shower dan mengguyur kepalanya yang berdenyut-denyut memikirkan masalah asmara yang sedang menimpanya.


🌸🌸🌸


Gina dan Surya memasuki lobi R-Company. Hampir semua mata mengarah kepada mereka. Foto yang tersebar kemarin pastilah menjadi trending topic sampai saat ini. Pasti ada banyak mulut membicarakan tentang mereka yang seolah sedang terlibat pada skandal cinta segitiga. Sebenarnya Gina merasa tidak nyaman dengan hal seperti itu tapi ia harus berusaha tidak terpengaruh dan tetap terlihat tangguh seperti biasanya.


"Maafkan saya, Nona." Bisik Surya kepada Gina yang berjalan disampingnya.


"Untuk?"


"Anda pasti merasa tidak nyaman dengan suasana seperti ini." Jawab Surya tepat seperti bisa membaca fikiran Gina.


"Kau tahu aku sangat hebat. Jadi, hal ini tidak mempengaruhiku sama sekali."


"Baguslah, Nona." Surya tersenyum melihat bagaimana Gina selalu bersikap seperti itu dalam banyak kesempatan, termasuk kali ini.


"Kau tidak perlu khawatir tentang diriku. Khawatirkan saja dirimu sendiri. Ketika melihat bagaimana aku sehebat ini, aku tidak bisa menjamim hatimu tetap baik-baik saja." Gina berbisik lalu tersenyum lebar dengan rasa percaya diri yang tinggi. Seperti seorang Gina yang sejak dulu ia kenal. Surya membalas senyum Gina kecut sebagai tanggapan atas kalimat yang ia ucapkan. Gina sangat lucu dengan kepercayaan dirinya itu. Lagi-lagi Surya tidak habis fikir bisa mengenal orang semacam ini.


Mereka pun memasuki lift dan berbaur dengan pegawai lain yang juga menggunakannya untuk naik ke lantai atas. Tidak ada perbincangan apapun lagi karena mereka tidak ingin pegawai yang sudah menggosipkan mereka sejak kemarin bertambah lagi memiliki bahan baru untuk mereka obrolkan.


Saat tiba di lantai ruangannya berada, Surya berjalan mendekati meja Siska dan seperti biasa ia menyapanya seolah atasan kepada bawahan.


"Pagi Pak..." Balas Siska dengan senyumnya yang pagi ini terlihat berbeda.


"Siska, ke ruanganku sebentar." Ujar Surya sebelum ia membuka pintu ruangannya.

__ADS_1


"Baik, Pak." Jawab Siska hormat.


"Ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Surya kepada Siska yang sekarang sudah ada di dalam ruangannya memberi kesempatan kekasihnya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan. Surya tidak mau selama bekerja, Siska terbebani sesuatu dalam fikirannya dan membuatnya tidak bisa bekerja dengan tenang.


Siska yang semula menundukkan kepalanya sekarang mulai memandang Surya lurus.


"Bisakah kita bicara seusai jam kerja saja? Ditempat lain." Tegas Siska yang sepertinya banyak yang ingin ia bicarakan sehingga meminta waktu dan tempat selain di kantor yang akan dibatasi waktu dan pembicaraan. Ya mereka tidak akan bisa berbicara banyak kalau harus di tempat kerja.


"Baiklah." Jawab Surya sambil menyunggingkan senyum. Setelah itu Siska pamit untuk menuju ke mejanya lagi di depan ruangan Surya.


Akhirnya Surya mengalami juga hal yang merepotkan seperti ini. Berurusan dengan para wanita di sekelilingnya. Dan baru saja ia mulai menyalakan laptop, sebuah pesan masuk.


Hanna : Ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Kapan kau bisa?


Satu lagi wanita yang ada didekatnya dan meminta waktunya. Hanna. Apa yang ingin dia bicarakan, sepertinya Surya juga sudah bisa menebak.


"Hanna..." Panggil Gina di balik mejanya. Hanna meletakkan ponsel yang baru saja dipegangnya ke atas meja.


"Iya Nona." Sahut Hanna.


"Menurutmu, apa aku terlihat terlalu agresif?" Lanjut Gina setelah menceritakan pada Hanna bahwa telah menyatakan perasaannya kepada Surya.


"Mmm... sebagai seorang istri, dengan mengesampingkan semua hal yang terjadi sebelumnya, Anda boleh melakukan itu. Tapi..." Hanna menggantungkan kalimatnya seperti ragu-ragu untuk melanjutkan. Gina mengangkat alisnya bingung dengan sikap Hanna dan berharap ia mengatakan semua yang ingin ia katakan.


"Anda tahu Pak Surya memiliki kekasih dan kemungkinan terburuknya adalah Pak Surya tetap tidak bisa berpaling kepada Anda."


"Aku akan membuatnya berpaling padaku."


"Tapi, Anda tidak bisa begitu saja melakukannya. Ada hati wanita lain yang harus Anda jaga." Kali ini kalimat Hanna terdengar meninggi. Terlihat sekali Hanna tidak setuju dengan perilaku atasannya itu. Gina memandang Hanna lurus.


"Maafkan saya, Nona. Saya hanya... hanya... melihat itu dari sudut pandang objektif saya."


Gina mengenal Marco yang playboy sehingga pasti tidak mudah juga bagi Hanna untuk bertahan dengannya sampai saat ini. Ia pasti sering mendapati Marco berjalan dengan wanita lain dan tentu saja itu menyakitinya. Sehingga ketika Hanna melihat Gina yang mencoba merebut Surya dari Siska, ia bisa merasakan apa yang akan Siska rasakan setelahnya.


"Hanna, tapi, apa kau tahu ini tidak adil untukku?" Gina berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati Hanna di mejanya. Hanna melihat Gina yang semakin dekat kepadanya sekarang.


"Aku menyukai Surya bahkan sebelum aku akhirnya tahu dia memiliki kekasih. Dan siapa saja tidak bisa dengan mudah berhenti setelah terlanjur memulainya. Memulai perasaan sukaku pada Surya." Jelas Gina.


Mendengar itu Hanna menyadari bahwa memang Gina tidak sepenuhnya bersalah. Semua yang Gina ucapkan padanya memang benar. Rasanya akan sangat tidak adil jika sekarang menyuruh Gina untuk tiba-tiba berhenti menyukai Surya dan merelakannya dengan Siska begitu saja. Apalagi dilihat dari sifat Gina yang tidak mudah menyerah dan berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan, tentu saja itu bukan perkara yang mudah untuknya.


"Aku sudah terlanjur menyukai Surya dan sebagai hukuman untuknya yang telah berbohong mengaku tidak memiliki kekasih waktu itu, aku akan mengejar cintanya. Berusaha menarik perhatiannya dan akan membuatnya mempertimbangkan kembali perasaan sukaku padanya." Hanna tidak berkata apa-apa lagi mendengar penuturan Gina dan merasa itulah yang ingin Gina lakukan untuk meluapkan kekecewaannya kepada Surya yang ternyata telah memiliki kekasih yang dirahasiakannya.


🌸🌸🌸


Gina sedang membereskan meja saat ponselnya berbunyi. Dari Surya. Melihat jam segini ia menelepon, Gina tahu akan apa yang akan dikatakan oleh Surya seperti biasanya.


"Tidak usah mengantarku dengan sopir. Aku akan naik taksi saja." Gina langsung membuka suara bahkan sebelum Surya mengatakan maksudnya sudah menghubungi kali ini.


"Maaf, Nona. Saya memiliki urusan malam ini."


"Pergilah dan tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa melakukannya sendiri."


"Tapi, akan lebih baik kalau sopir yang akan mengantarkan Anda."


"Aku akan pulang bersama Hanna. Apa bersama asisten pribadiku juga masih kurang baik?"


"Oh baiklah kalau Anda ingin begitu." Gina lalu memasukkan ponsel ke dalam saku tasnya setelah pembicaraan mereka usai. Hanna memandang Gina yang tadi ia dengar ingin pulang bersamanya.


"Apa kau keberatan kalau aku pulang bersamamu?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Nona" Kalimat Hanna dengan senyum mengembang menunjukkan kepada Gina bahwa ia akan dengan senang hati mengantarnya pulang.


Gina duduk di samping Hanna dengan pandangan keluar mobil yang berjalan menyusuri jalanan kota. Matahari sudah tidak nampak dan hanya menyisakan semburat kemerahan dilangit petang. Gina berfikir mungkin Surya tidak bisa pulang cepat karena sedang pergi bersama Siska. Fikiran itu memenuhi otaknya sejak tadi. Rasa cemburu yang menelusup ke dalam hatinya seperti ratusan cubitan yang ia dapatkan sehingga terasa nyeri sekali.


"Nona, kita makan malam dulu?" Suara Hanna memecah kesunyian sejak Gina diam melamun seperti itu. Sebenarnya Hanna merasa tidak nyaman melihat Gina yang biasa cerewet berubah menjadi pendiam begitu.


"Boleh juga. Kita makan apa?" Jawab Gina yang wajahnya berubah sumringah mendengar ajakan Hanna. Hanna merasa lucu dengan perubahan drastis sikap Gina.


"Aku tahu tempat makan seafood enak di sekitar sini, Nona."


"Oh ya? Aku selalu lewat sini tapi tidak tahu."


"Ini baru dibuka beberapa saat lalu, Nona."


"Kau sudah pernah datang ke sana?"


"Iya Nona. Dan kepiting asam manisnya sangat luar biasa." Hanna bercerita dengan antusias.


"Tapi secara pribadi aku lebih suka gado-gado seafood-nya."


"Apa itu? Kau yakin seafood bisa dibuat gado-gado?" Tanya Gina penasaran.


"Itu hanya nama saja, Nona. Sebenarnya itu hanya bermacam kerang, udang, kepiting yang dimasak dengan bumbu asam manis, saus padang, saus tiram, saus lada hitam dan ada beberapa saus lagi saya lupa."


"Wah... itu sangat menggiurkan. Ayo kita ke sana." Gina terlihat bersemangat sekali. Dan memang kalau soal makanan, Gina selalu sangat antusias membicarakannya.


Setibanya di halaman parkir Gina melihat sebuah pagar dengan gerbang berbentuk pendopo. Setelah turun dari mobil, ia dan Hanna segera memasuki restoran yang berkonsep unik itu. Gina melihat ada banyak gazebo yang di sebuah taman yang sangat lapang. Lampu hias tidak hanya bergelantungan di atas Gina berdiri tapi juga di beberapa tempat yang memberi cahaya temaram. Seorang pramusaji mengantarkan Gina dan Hanna ke sebuah gazebo kosong di dekat gerbang masuk sambil meletakkan air putih di meja lesehan.


"Konsepnya unik." Ujar Gina saat sudah duduk bersimpuh di gazebo dengan cahaya lampu sedang itu.


"Benar, Nona. Berdua saja atau beramai-ramai sangat bisa di tempat ini." Jelas Hanna sambil melihat sekeliling yang beberapa gazebo telah ditempati oleh pengunjung. Tepat saat itu Hanna melihat pemandangan yang tidak terduga.


"Lain kali ayo kita datang ke sini lagi beramai-ramai. Aku akan mengajak Surya dan kau ajak juga Bayu." Celetuk Gina yang membuat Hanna memandangnya lurus. Gina lalu menyadari sesuatu.


"Oh iya, pacarmu pasti akan cemburu kalau kau bersama Bayu." Gina memanyunkan bibirnya karena rencananya itu tidak akan terjadi.


"Tapi kalau untuk bersama Marco juga aku tidak yakin bisa." Hanna hanya tersenyum menanggapi kalimat Gina yang selalu sejujur itu kalau berhubungan dengan pacarnya.


"Nona, bisakah aku bertukar tempat?"


"Kenapa?" Tanya Gina heran tiba-tiba Hanna memintanya untuk bertukar posisi duduk.


"Saya terlalu silau melihat lampu itu." Hanna menunjuk lampu yang menempel di didinding.


"Sepertinya terlalu lama di depan laptop membuat mata saya sedikit sensitif dengan cahaya, Nona."


"Baiklah." Gina lalu menggeser tubuhnya untuk bertukar tempat dengan Hanna.


Tak lama kemudian pesanannya mereka datang. Dua orang pramusaji datang dengan senampan besar seafood saus lada hitam dan minuman yang mereka pesan tadi. Salah seorang pramusaji menyajikan makanan dan minuman di atas meja dan juga semua peralatan makan untuk seafood yang tidak cukup kalau hanya menggunakan sendok dan garpu itu.


"Aku rasa aku akan mabuk seafood setelah ini." Ujar Gina dengan mata berbinar memandang makanan yang tersaji di depannya. Kedua pramusaji sudah meninggalkan mereka sekarang.


"Selamat makan, Nona." Hanna sambil mengambil udang dengan tangannya.


Memang seafood disajikan untuk makan dengan menggunakan tangan sehingga akan terasa lebih nikmat dan lebih mudah makannya karena harus mengupas seafood-seafood itu sebelum memasukkan ke dalam mulut.


Gina dan Hanna makan dengan sesekali mengobrol. Mereka benar-benar layaknya teman saat di luar jam kerja begini. Sangat akrab dengan obrolan santai dan sedikit candaan. Sampai saat seseorang melewati mereka. Tepat saat itu Gina mencium aroma yang sangat akrab dengannya. Gina membalikkan badan dan melihat dua orang yang berjalan menuju gerbang.


"Surya..." Gumam Gina yang yakin bahwa itu Surya dan Siska yang berjalan semakin menjauhi tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2