
"Saya juga sudah sering mengingkari janji dengan tidak akan menemui Anda lagi. Tapi nyatanya kita masih saja sering bertemu di beberapa kesempatan."
"Benar, itu sangat menggangguku. Aku ingin kau benar-benar tidak pernah lagi muncul di hadapanku."
"Maafkan saya, Nona. Sebenarnya saya sangat menyesal pernah mengatakan janji itu. Seharusnya saya tidak pernah berjanji apapun agar saya bisa tetap melakukan segala hal kepada Anda."
"Hei, apa maksudmu?"
"Agar saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan kepada Anda."
Gina memalingkan wajahnya karena merasa hatinya mulai terancam. Tatapan mata Surya membuatnya berdebar. Tapi kemudian ia sadar bahwa tidak seharusnya ia merasa seperti itu. Ia merasa harus membenci Surya karena telah menolaknya dan segera menghapus perasaanya secepat mungkin.
"Kau tidak berfikir aku adalah mainan yang bisa kapanpun kau ajak bermain dan ketika kau bosan kau akan membuangku, bukan?"
"Saya tahu Anda akan berfikir begitu. Tapi saya juga tidak yakin Anda akan percaya jika saya mengatakan bahwa itu tidaklah benar. Saya memiliki kesalahan yang sangat besar kepada Anda dan saya tidak bisa memaksa Anda untuk bisa memaafkan saya dalam waktu dekat sehingga saya tidak akan bisa melakukan apapun kepada Anda selain menunggu Anda merasa jauh lebih baik daripada saat ini." Gina merasa ada yang mencubit hatinya ketika kali ini Surya mengatakannya dengan suara berat dan tatapan mata kelam seperti itu. Gina memang masih sangat menyukai Surya, tapi ia tidak akan menunjukkan itu. Ia akan tetap pada sikap dinginnya dan membangun jarak dengan Surya.
"Aku harus mengantarmu kemana?" Akhirnya Gina membuka suara karena sejak tadi Surya tidak mengatakan ia harus turun dimana. Rumahnya yang waktu itu juga mungkin sudah terjual sekarang karena waktu itu Gina melihat tertulis rumah dijual di pagarnya.
"Setelah jalan di depan, Anda bisa berbelok ke kanan. Nanti akan saya beri tahu harus berhenti di mana." Ujar Surya dan Gina hanya menyimaknya tanpa memberi tanggapan apapun.
Setelah Gina membelokkan mobilnya di sebuah jalan yang diinstruksikan oleh Surya, ia lalu memberitahu Gina agar menepi di sebuah persimpangan jalan. Gina melihat sekeliling dan tidak menemuakan rumah di sebelah situ. Hanya ada sebuah tanah lapang di sisi kanan dan sebuah taman komplek. Gina merasa sepertinya Surya merahasiakan rumahnya dimana sekarang. Tapi ia sudah tidak peduli. Ia merasa itu bukan urusannya lagi. Ia berusaha untuk tidak tertarik dengan semua yang ada pada Surya.
"Terima kasih, Nona." Ujar Surya dengan senyum khas dirinya. Gina hanya mengangguk tanpa bersuara.
Setelah Surya benar-benar turun dari mobil, Gina lalu menancap gas kembali tanpa mengucapkan salam apapun padanya. Tapi ketika mobilnya melaju, Gina mencuri pandang dari spion mobilnya dan melihat Surya berjalan ke arah yang berlawanan dengan laju mobil yang ia kemudikan. Entah di mana Surya tinggal sekarang, dia pasti memiliki alasan kenapa harus turun di tempat itu, bukan di depan rumahnya dan terlihat seperti tidak ingin Gina tahu itu. Bagaimanapun juga saat ini Gina sedang menahan diri, ia tetap tidak bisa begitu saja mengabaikan Surya yang masih selalu berhasil menyita perhatiannya, termasuk dimana tempatnya tinggal sekarang.
🌸🌸🌸
Hanna membawa berkas yang sudah ia terima dari Feby dan memberikan kepada Gina untuk ia periksa kembali dan mendapatkan tanda tangan persetujuannya. Hanna meletakkan berkas itu di atas meja Gina yang masih menekuni ponselnya. Hanna sedikit heran dengan tingkah Gina seperti itu.
"Nona, ini berkas yang Feby berikan tadi."
"Ya, letakkan di situ." Jawab Gina masih melihat pada ponselnya.
"Nona, akan ada pertemuan pengusaha malam ini. Saya akan menjemput Anda nanti."
"Iya. Kali ini dimana acara itu diadakan." Akhirnya Gina meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan memandang Hanna yang berdiri di depannya.
"Di hotel pertemuan sebelumnya, Nona."
"Hotel itu lagi." Keluh Gina yang seperti tidak begitu suka dengan tempat yang akan ia datangi nanti malam.
"Hotel itu adalah milik Pak Hartono, salah satu peserta perserikatan pengusaha jadi, beliau yang selalu mensponsori."
__ADS_1
"Dia yang mensponsori atau dia mencari keuntungan dari acara ini?" Gumam Gina.
"Bukankah dia juga mendapatkan bayaran untuk setiap pertemuan yang diadakan di hotelnya."
"Benar Nona, tapi beliau mengatakan memberi harga khusus untuk acara ini."
"Benar-benar tidak ada yang gratis di zaman sekarang ini. Semua orang ingin mengambil keuntungan mereka sendiri-sendiri." Hanna tersenyum mengomentari ucapan kritis Gina.
Malam ini Gina sedang bersiap di dalam kamarnya. Ia memakai terusan warna midnight blue dibawah lutut dengan belahan belakang. Tidak lupa stileto putih dikakinya yang membuat penampilannya terlihat manis ditambah dengan clutch bag warna senada dengan sepatunya. Gina memastikan di depan cermin penampilannya yang sempurna. Rambut panjang sepunggungnya tergerai lepas bergelombang. Tidak sia-sia ia membayar mahal untuk perawatan yang ia lakukan karena penampilannya selalu memukau siapapun yang melihatnya walau hanya dengan riasan yang sederhana.
Sampai di lantai bawah, Pak Rangga baru saja memasuki pintu dan bertemu dengan Gina.
"Kau mau pergi?" Tanya Papanya melihat penampilan rapi Gina.
"Ada pertemuan pengusaha."
"Bagus. Sepertinya Hanna juga baru saja datang." Tebak Pak Rangga yang melihat sebuah mobil masuk saat dirinya akan membuka pintu tadi.
"Baiklah, aku pergi." Pak Rangga mengangguk kepala untuk mempersilakan putrinya yang berpamitan pergi.
Malam ini Hanna berkendara dengan santai mengendarai mobil Gina yang sepulang bekerja ia bawa pulang karena setelahnya harus kembali menjemput karena harus pergi memenuhi acara pertemuan pengusaha. Laju mobil yang santai dengan di temani lagu-lagu yang mengalun pada perangkat audio membuat Hanna terbawa suasana dan menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti musik yang terdengar. Gina tersenyum lucu melihat itu.
"Sepertinya kau sangat senang sebentar lagi bisa bersama suamimu." Sindir Gina yang ditanggapi dengan tawa kecil oleh Hanna.
"Lihatlah itu. Wajahmu sangat ceria sejak tadi." Tunjuk Gina pada wajah Hanna yang memang berseri-seri.
"Maaf, karena sudah mengganggu penglihatan Anda." Hanna tersenyum lebar kali ini.
"Bagus kalau kau menyadarinya." Bukannya kecewa dengan ucapan Gina, Hanna malah terkekeh mendengarnya.
Gina memang seperti itu. Dia senang sekali mengerjai Hanna dengan komentar-komentarnya yang hanya berisi candaan. Dan Hanna sangat memahami itu sehingga ia tidak pernah merasa tersinggung ataupun sakit hati pada candaan Gina yang seperti sangat serius begitu.
Hanna menghentikan mobil dan menurunkan Gina di depan pintu lobi hotel. Sedangkan dirinya sendiri kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat parkir. Gina segera menuju bar hotel yang ada di lantai paling atas. Setelah keluar dari dalam lift, Gina berjalan ke sebuah pintu bar. Di depan pintu ada dua orang penjaga yang berbadan besar. Melihat Gina datang, salah satu dari mereka lalu membukakan pintu. Dan begitu pintu terbuka, Gina melihat suasana bar yang didominasi warna coklat keemasan itu lebih hangat dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang tapi nyaman.
Beberapa kali datang dalam acara ini, Gina mulai mengenal anggota pertemuan pengusaha yang terdiri dari hampir seluruh pengusaha di kota ini. Apalagi latar belakang Gina yang adalah putri dari Pak Rangga, pengusaha sukses dengan banyak cabang usahanya tersebar di seluruh negeri, Gina cepat sekali menjadi anggota yang dikenal oleh seluruh anggota perkumpulan. Ditambah lagi dengan wajah menawannya bak model terkenal sebagai brand ambassador dalam perusahaannya serta fotonya terpampang di setiap R-Store membuat siapapun bisa mengenali wajahnya hanya dengan sekali bertemu saja.
Kadang Gina menyesal kenapa dulu dia harus menawarkan diri untuk pemotretan di R-Company, karena itu membuatnya jadi banyak dikenal oleh masyarakat sebagai model R-Company. Dia juga sudah menandatangani kontrak selama 2 tahun dan ia tidak mungkin membatalkannya karena tidak ingin Pak Rangga mencelanya karena telah bersikap plin-plan seperti yang pernah ia tuduhkan kepada putrinya itu.
"Aku hampir tidak percaya kau menandatangai kontrak sebagai model R-Company selama 2 tahun. Aku bahkan tidak yakin kau akan bertahan dalam kontrak itu walau hanya 3 bulan." Itulah cibiran Pak Rangga yang membuat Gina merasa harus bertahan dengan 2 tahun kontraknya agar Papanya tidak merendahkannya lagi.
Dan begitu ia memasuki bar, semua orang yang berpapasan dengannya serta merta menyempatkan diri untuk menyapanya, terutama para anggota pria. Mereka akan bersikap manis kepadanya dan berusaha mencari perhatiannya tapi Gina tidak peduli dengan hal itu. Sesekali ia akan duduk bersama anggota lain dan mengobrol tapi kemudian ia lebih banyak duduk bersama Hanna sampai acara berkumpul selesai kalau tidak ada yang mengajaknya mengobrol lagi. Begitulah Gina, ia tidak begitu suka membangung komunikasi dengan banyak orang apalagi dengan mereka yang terlihat sekali mencari perhatiannya entah demi mengembangkan usaha atau demi bisa menikmati wajah cantiknya dari dekat.
Gina mengambil sebuah minuman non alcohol yang dibawa oleh pramusaji yang melintas di depannya. Tapi setelahnya seseorang duduk disampingnya dan tersenyum saat Gina menoleh kepadanya.
__ADS_1
"Kau, kenapa kau ada di sini?" Tanya Gina pada Surya yang sedang menatapnya sekarang.
"Perkenalkan, saya Surya. Saya member baru di sini. Saya baru saja melakukan registrasi dengan bagian administrasi komunitas. Mohon bimbingannya. Anda member lama dan sudah sepatutnya saya meminta petunjuk Anda sebagai senior saya." Gina menautkan kedua alisnya mencoba mencerna kalimat Surya.
"Ya, saya adalah pengusaha kuliner pemilik warung angkringan Rejo yang memiliki cabang di berbagai kota di negara ini. Saya sudah memenuhi syarat untuk bergabung dalam komunitas ini." Gina tersenyum sinis mendengar Surya menarsiskan diri.
"Kau sengaja mengejekku?" Ujar Gina melihat Surya terlihat banyak tersenyum kepadanya.
"Tentu saja tidak, Nona. Saya benar-benar senang kita bisa bersama dalam komunitas ini."
"Kau fikir karena kau sudah lama berada di komunitas ini lalu kau bisa seenaknya mengejekku?"
"Ya Tuhan, harus bagaimana saya menjelaskan bahwa saya benar-benar senang bisa bertemu Anda di sini. Karena ini adalah satu-satunya tempat dimana saya memiliki alasan untuk menemui Anda." Gina menatap lekat-lekat wajah Surya yang menampakkan sebuah keseriusan.
"Sebaiknya kita tidak membicarakan ini lagi. Ini bukan tempat yang tepat. Aku tidak ingin ada keributan di sini." Jawab Gina dengan suara tertahan agar tidak didengarkan oleh member lain.
"Jadi, Anda ingin kita ke tempat lain agar bisa membicarakannya?" Kali ini pertanyaan Surya malah membuat hati Gina kebat-kebit dengan senyumnya yang jahil hingga membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Tapi, semua orang di sini sudah tahu kita adalah mantan sepasang suami istri. Lihat saja mereka juga mencuri-curi pandang melihat kita. Mereka pasti berfikir kita sedang melakukan temu kangen sekarang." Lanjut Surya.
"Temu kangen apa? Fikiranmu tidak masuk akal sama sekali." Cibir Gina.
"Menurut saya cukup masuk akal, Nona. Saya merindukan Anda." Kalimat Surya begitu jelas didengar oleh Gina dan membuatnya terperanjat.
Rasanya tidak percaya jika pria di depannya merindukannya. Itu adalah hal yang tidak masuk akal seperti yang ia katakan baru saja. Gina menjadi bingung entah kenapa akhir-akhir ini Surya seperti selalu memberi kode untuk mendekatinya. Mengatakan hal-hal manis dan membuat jantungnya berdebar dengan kalimat-kalimatnya. Tapi belum sempat Gina membalas kalimat Surya, seorang member wanita mendekati Gina dan mengatakan ia harus datang ke basement. Gina segera turun daru kursinya dan menuju tempat yang diberitahukan oleh teman satu komunitasnya itu.
"Maaf, Nona. Nona Hanna adalah asisten pribadi Anda, bukan?" Gina mengangguk.
"Dia sedang bertengkar dengan Pak Marco di basement. Sebaiknya Anda datang ke sana." Begitu yang dikatakan oleh temannya itu yang mengetahui kejadiannya usai memarkir mobilnya dan menemukan Hanna dan Marco berdebat hebat.
Saat ini, dengan setengah berlari Gina berharap akan segera sampai ke tempat Hanna. Surya yang juga mendenar itu turut mengikuti Gina untuk mendatangi Hanna juga dan mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Begitu sampai di basement, Gina melihat Hanna yang memasuki mobilnya dan segera mengendarainya dengan kecepatan tinggi hingga membuat suara ban berdecit karena bergesekan dengan lantai basement. Gina yang tidak bisa menghentikan Hanna hanya mampu memandangnya dengan nafas terengah. Hanna sudah keluar dari basement sekarang tapi Gina masih mematung ditempatnya dan berfikir apa yang sebenarnya terjadi. Surya juga tampak terengah di belakang Gina.
Saat menyadari Marco masih ada di sana berdiri menatap pintu basement yang kosong, Gina lalu mendekatinya. Disana juga berdiri seorang wanita yang Gina tidak mengenalnya siapa.
"Kenapa?" Tanya Gina sambil masih menata nafasnya.
"Kenapa Hanna pergi seperti itu? Apa yang kau lakukan padanya?" Lanjut Gina yang meyakini bahwa Hanna seperti itu disebabkan oleh Marco.
"Ini tidak seperti yang terlihat. Hanna hanya salah faham." Mendengar penjelasan Marco yang seperti ada yang ia tutupi, Gina semakin yakin jika suami Hanna itu pasti melakukan kesalahan. Ditambah dengan keberadaan wanita tidak jauh dari mobil Marco, Gina menyimpulkan bahwa itu pasti seperti yang ia fikirkan.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk menjaga Hanna dan tidak menyakitinya. Tunggu saja, kalau apa yang sedang ku fikirkan saat ini benar, aku tidak akan mengampunimu." Ujar Gina dengan wajah seramnya. Setelah itu ia berbalik badan meninggalkan Marco.
__ADS_1
"Surya, ayo kita pergi." Ajak Gina yang berjalan melintasinya dan membuat Surya yang mendengar itu jadi heran. Tiba-tiba saja Gina mengajaknya pergi. Entah akan pergi kemana tapi Surya hanya bisa mengikuti langkahnya dan meninggalkan Marco yang tidak berkata apa-apa lagi. Surya pun tidak bertanya ataupun mengatakan apapun pada Marco tentang apa yang sebenarnya terjadi karena ia merasa sekarang bukanlah saat yang tepat. Ia harus menenangkan Gina yang sedang marah terlebih dulu. Karena jika tidak, ia pun juga akan mendapat kemarahan dari Gina.