Tahta Surya

Tahta Surya
Deal


__ADS_3

Gina menutup pintu begitu keluar dari sebuah ruangan. Menghela nafas panjang dan melepaskannya seketika. Ia berusaha memantapkan hatinya. Memantapkan untuk berada di R-Company. Baru saja ia menghadap ayahnya.


"Papa, aku sudah meninggalkan Font."


"Bagus." Jawab papanya dibelakang meja kerjanya sambil menatap Gina di depannya.


"Jadi, aku siap untuk menjadi Direktur Font."


"Seingatku kesepakatan kita kemarin bukan seperti itu."


"Ayolah, Papa... Mari kita ubah kesepakatan kita." Rengek Gina.


"Apa Papa tidak melihat seberapa bersungguh-sungguhnya aku saat ini? Aku berjanji akan melakukan semua yang terbaik untuk R-Company seperti apa yang Papa lakukan. Dan biarlah Surya menjadi orang dibawahku lurus tanpa kami harus menikah."


"Tidak. Keputusan Papa pada kesepakatan itu sudah bulat. Jadi kau hanya bisa melanjutkan kesepakatan atau berhenti sekarang juga." Pak Rangga merapikan dasinya yang ia rasa agak miring.


"Masih banyak yang bisa mengisi posisimu yang sekarang. Tapi sebagai Direktur R-Company, aku yakin saat ini hanya Surya yang bisa. Jadi walaupun kau tidak pernah ada di R-Company, itu tidak akan mengubah takdir R-Company sedikitpun. R-Company akan terus berkembang dengan baik walau tanpa kau."


"Baiklah... baiklah... beri aku waktu untuk memikirkannya lagi. Terutama untuk poin dimana aku harus menikahi Surya. Itu adalah keputusan besar yang harus ku ambil dalam hidupku."


"Terserah kau. Tapi yang jelas menikahi Surya adalah satu-satunya cara untuk bisa merebut posisinya."


"Papa benar-benar ingin aku berkompetisi dengan Surya?"


"Tidak. Tidak ada kompetisi dalam hal ini. Kau tidak bersaing dengan Surya. Kau hanya harus menjalani hidupmu dengan baik dan memiliki 'rasa' terhadap R-Company."


"Rasa? Rasa apa?" Gina berfikir.


Sekarang ia berjalan menjauhi pintu ruangan Pak Rangga dan merogoh ponsel di dalam tas yang ia bawa.

__ADS_1


"Surya, temui aku." Gina menutup telepon dan berjalan menyusuri lorong menuju lift.


🌸🌸🌸


Gina masih memasang wajah dingin pertanda ia sedang berada pada hal yang tidak ia sukai. Surya meneguk kopinya perlahan setelah beberapa menit disajikan. Mereka berdua ada di sebuah cafe di komplek perkantoran dimana R-Company juga berada di sana. Surya meraih kertas diatas meja lalu membacanya.


"Itu adalah semua ketentuan usai kita menikah nanti." Ujar Gina masih dingin.


Surya membaca daftar perjanjian yang Gina berikan. Ada banyak poin yang harus Gina dan Surya sepakati bersama. Tidak tidur sekamar, tidak berbicara akrab, tidak ada kontak fisik dan masih panjang daftar kesepakatan yang ia buat.


"Baik Nona." Surya selesai membaca dan langsung sepakat dengan semua daftar yang Gina buat. Surya memang sangat patuh. Tidak hanya kepada papanya tapi juga kepada dirinya. Gina mendapat sedikit angin segar dengan sikap Surya yang kooperatif begini.


"Jangan pernah bermimpi menjadikan pernikahan kita seperti pernikahan orang lain. Aku menikah denganmu hanya demi hakku untuk mendapatkan R-Company."


"Baik Nona, saya mengerti." Ujar Surya masih dengan sikap hormat layaknya kepada seorang atasan.


Perjanjian itu Gina buat rangkap dua. Satu adalah milik Gina, dan yang lainnya milik Surya. Gina mengatakan agar mereka sama-sama memiliki bukti dan tidak ada yang bisa berbuat curang. Surya pun sudah berjanji untuk taat pada aturan yang Gina buat. Dan kepatuhan Surya paling tidak membuat langkah pertama Gina terasa mudah.


Surat perjanjian usai disepakati, Gina meninggalkan Surya di tempatnya setelah menyimpan surat itu di dalam tas. Ada rasa curiga kenapa Surya begitu saja menuruti keinginannya. Bukannya ia sangat patuh kepada papanya. Tapi kenapa ia mau bersedia membantu mendapatkan R-Company?


Apa Surya memang setau diri itu? Apa karena ia tahu ia memang tidak sepantasnya berada di posisi tertinggi R-Company? Aku harus mencari tahu lebih jauh apa yang sebenarnya direncanakan Papa dan Surya.


Gina melajukan mobilnya keluar pelataran parkir cafe. Ia bisa melihat Surya juga berjalan mendekati mobilnya dan sempat memberi hormat dengan menundukkan wajah tanda mempersilakan.


Hari menjelang sore. Gina belum memiliki rencana akan kembali ke R-Company karena dia akan secara resmi bekerja besok. Ia memilih memutar mobilnya ke sebuah salon kecantikan biasa ia melakukan perawatan wajah dan tubuhnya.


Sesampainya di sana Gina disambut ramah oleh seorang resepsionis yang sudah mengenalnya.


"Selamat datang, mbak Gina. Kali ini treatment apa yang bisa kami berikan?"

__ADS_1


"Semua, mbak. Besok adalah hari saya memulai hidup baru jadi saya ingin terlihat segar."


"Mbak Gina mau menikah?" Tanya resepsionis kaget.


"Bukan... bukan..." Gina buru-buru menampik.


"Aku hanya ingin sedikit tampil berbeda."


"Baik mbak, silakan tunggu sebentar. Kami akan mempersiapkan pelayanan untuk Anda." Balas resepsionis ramah dan kemudian menghubungi seseorang melalui telepon disampingnya.


Gina berpindah duduk di ruang tunggu dengan sofa berwarna maroon itu. Seperti biasa, ia menanti seseorang yang akan menjemputnya dan mempersilakan untuk melakukan perawatan padanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Gina, apa-apaan ini." Semprot suara perempuan dari seberang.


"Faris mengatakan kalau kau keluar dari Font."


"Iya, aku harus pergi dari sana. Kau senang sekarang?" Gina tertawa setelahnya. Hatinya kecut tapi ia tidak mau terlihat sedih karena itu.


"Bicara apa kau. Kenapa tiba-tiba?" Lanjut Sunday, istri Faris. Walau bagaimanapun, mereka pernah menjadi teman kerja dan Gina harus menekan perasaannya kepada Sunday. Perasaan cemburu.


"Sebenarnya ini bukan sesuatu yang mendadak tapi aku memang menyerahkan surat pengunduran diriku terlalu lambat."


Sunday... Sunday... kenapa naif sekali. Aku tahu kau pasti sangat bahagia dengan kepergianku dari Font. Kau akan tenang karena orang yang sangat mengharapkan Faris akhirnya mengundurkan diri. Asal kau tahu, aku bukan pergi karena Faris menikahimu. Tunggu saja, kau akan tahu alasanku dengan berat hati meninggalkan Font.


Seperti itulah rasanya cemburu. Karena hingga saat ini Gina masih mengharapkan Faris, maka Sunday masih ia anggap bagai musuh dalam selimut. Gina masih merasa sakit hati mengingat Faris lebih memilih Sunday daripada dirinya. Tapi karena perkenalan awalnya dengan Sunday adalah sebagai teman, maka ia tidak bisa secara terang-terangan memusuhi Sunday. Ia berusaha bermain lembut untuk akhirnya bisa merebut Faris kembali.


Tunggu saja Sun, akan ada saatnya nanti Faris akan tahu siapa yang lebih tepat untuknya dan orang itu pastilah aku. Batin Gina.


Dan rencananya untuk merebut Faris secara halus sepertinya akan sedikit tertunda karena perebutan kekuasaan di R-Company saat ini jauh lebih penting dari apapun.

__ADS_1


__ADS_2