
Gina keluar dari dalam ruangannya karena merasa jenuh. Ia menarik kedua tangannya ke atas lalu berjalan ke arah pagar pembatas lantai dua. Dari situ ia bisa melihat lalu lalang pegawai di lobi di lantai tepat di bawahnya. Tiba-tiba pandangannya mendadak auto focus pada dua orang pria yang baru saja masuk dari arah pintu di lantai dasar. Surya dan Marco.
Gina mengawasi mereka berdua. Ia tidak tahu ada urusan apa Marco datang ke R-Company tapi pastinya berhubungan dengan kerja sama antar perusahaan. Surya berjalan sambil berbincang dengan Marco. Sesekali Surya menyunggingkan senyum seperti biasa bagaimana saat berbicara dengannya. Itu adalah sikap khas ala Surya. Sebelum mengenal Surya lebih dekat Gina tidak tahu jika Surya ternyata sebenarnya adalah pria yang ramah. Yang ia tahu sebelumnya, Surya adalah pria yang pendiam dan jarang tersenyum. Surya juga adalah pria yang patuh kepada atasannya, bekerja sangat profesional dan juga sangat loyal. Ternyata lebih dari itu Surya adalah pria yang ramah dan juga hangat. Sifat Surya sangat di luar ekspektasi Gina. Itu membuat Gina jadi kemudian mengagumi Surya.
"Sedang apa, Nona." Hanna sekarang sudah ada di samping Gina bersandar juga pada pagar pembatas.
"Tidak apa-apa. Aku sedang butuh udara segar. Berada di dalam ruangan terasa sangat pengap." Gina masih melihat Surya dari tempatnya berdiri sampai akhirnya Surya memasuki lift. Sepertinya ia dan Marco akan menuju ke ruangan Surya. Hanna melihat itu dan tersenyum. Ia tahu Gina sedang mengawasi Surya saat ini.
"Hanna..." Panggil Gina tanpa mengalihkan pandangan dari lantai dasar.
"Iya Nona." Hanna melepas pandangan dari lantai dasar dan beralih kepada Gina.
"Kau tahu rasanya jatuh cinta bukan?"
"Iya Nona."
"Seseorang pernah mengatakan bahwa setiap orang pasti pernah jatuh cinta. Aku setuju dengan pendapatnya. Tapi apa kau tahu cara orang jatuh cinta itu sama sekali kadang tidak terduga." Hanna mengerutkan kening mendengar ucapan Gina. Ia mulai mencari tahu arah pembicaraan atasannya itu.
"Dan juga, ada sebagian orang yang tidak mudah menjatuhkan hati kepada lawan jenis tapi ada sebagian lainnya yang merasa sangat mudah menyukai lawan jenis dengan hatinya. Termasuk aku adalah bagian dari orang yang terakhir itu." Mendengar pernyataan Gina, Hanna tersenyum. Gina memandang Hanna dengan tawa kecil seperti menertawakan dirinya sendiri.
"Setiap orang memiliki karakternya masing-masing, Nona."
"Kau tahu, sangat mudah bagiku menyukai seorang pria sehingga aku sangat terbiasa mengartikan apa yang ku rasakan itu cinta." Gina sekarang merubah posisinya dengan tubuh yang membelakangi pagar pembatas dan bersandar disana.
"Itulah karakterku. Aku sangat mudah sekali jatuh cinta. Hanya dengan sedikit pendekatan dan perlakuan manis aku langsung menyukai pria itu. Sudah, hanya begitu saja sudah cukup."
"Itu adalah kesimpulan dari perasaan yang Anda rasakan." Komentar Hanna. Gina menatap Hanna lekat menunggu apakah ada kalimat selanjutnya yang akan Hanna ucapkan demi menjelaskan pernyataannya. Tapi Hanna tidak juga melanjutkan kalimatnya.
"Apa maksudmu aku terlalu cepat menyimpulkan perasaanku dan menamainya dengan cinta?"
"Maaf Nona, bukan saya sok tahu tapi itu yang saya fikirkan dari apa yang Anda katakan. Jika itu tidak benar, saya benar-benar minta maaf. Itu hanya sebuah pendapat dari saya. Bukan pernyataan, Nona." Hanna tampak gelisah. Sepertinya ia takut Gina marah dengan apa yang ia ucapkan.
"Tidak apa-apa, sekarang aku sedang berbicara denganmu sebagai teman jadi jangan merasa tidak enak karena ucapanmu. Aku tidak akan memberi pukulan atau bahkan memecatmu jika itu bukan tentang pekerjaan. Jadi, jangan khawatir." Gina tertawa lucu melihat Hanna sempat berwajah pucat setelah mendengar penuturannya.
"Mari mengobrol sebagai teman." Mendengar itu Hanna jadi ikut tertawa karena merass terlalu bodoh sudah menyimpulkan sendiri apa yang difikirkannya tentang Gina.
"Baik Nona." Hanna mengangguk mengerti.
"Kau tahu, setiap orang pasti mengalami berbagai cara yang berbeda-beda untuk akhirnya bisa jatuh cinta."
"Anda benar, Nona."
"Kau juga pasti mengalami sebuah cara hingga jatuh cinta kepada pacarmu, bukan?" Hanna mengangguk membenarkan.
"Tapi, apakah masuk akal jika kau jatuh cinta kepada orang yang bahkan sama sekali tidak masuk hitunganmu?"
"Maaf Nona? Tidak masuk hitungan?" Hanna bingung dengan kalimat Gina.
"Iya, orang yang sama sekali diluar tipe pria idealmu. Orang yang sama sekali kau fikir tidak akan bisa menggetarkan hatimu."
__ADS_1
"Oh itu bisa saja terjadi, Nona. Karena sebenarnya cinta bukanlah sesuatu yang baku. Yang memiliki aturan harus bagaimana memulai cinta dan menjalaninya. Yang harus memandang ideal atau tidak ideal. Cinta memiliki caranya sendiri untuk menentukan siapa yang dicintai meski awalnya kita bahkan tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta dengan siapa dan bagaiamana." Jelas Hanna.
"Wah, kau cukup kompeten dalam hal ini. Apa kau dulu lulusan psikologi?" Goda Gina. Hanna tergelak mendengar komentarnya.
"Nona tahu saya bukan alumni mahasiswa psikologi." Ujar Hanna ingin mengingatkan bahwa cuticulum vitae yang diserahkan pada Gina pafa daftar pendidikannya bukanlah jurusan itu.
"Tapi kau banyak tahu tentang hal seperti ini."
"Entahlah, saya hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam fikiran saya saja, Nona."
"Sangat tepat Surya membuatmu menjadi asistenku. Tidak hanya dalam hal pekerjaan saja kau cekatan. Bahkan soal perasaan pun kau bisa jadi penasehatku." Hanna tergelak lagi. Hanna tersenyum lebar melihat ekspresi Gina yang merasa lucu seperti itu.
"Itu sebuah penghormatan bagi saya, Nona." Hanna masih dengan sisa tertawanya.
"Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba Anda membicarakan hal ini?" Hanna memberanikan diri untuk bertanya dan menjadi sedikit lancang. Itu karena Gina sepertinya sudah memberinya lampu hijau untuk menjadi temannya, bukan sekadar asistennya.
"Sebenarnya..." Gina tersenyum dengan mata berbinar memandang Hanna.
"Saat ini aku merasa sedang jatuh cinta." Mendengar itu Hanna mengerjapkan matanya berkali-kali. Gina tahu pasti ada banyak hal yang sedang difikirkan Hanna setelah mendengar penyataannya.
Hanna pastilah penasaran siapa yang sudah membuatnya jatuh cinta. Ia juga pasti berfikir bagaimana dengan Surya kalau akhirnya Gina jatuh cinta pada pria lain sementara saat ini ia sedang terikat pernikahan dengan Surya, pria yang selama ini ditolaknya. Gina melihat Hanna tampak seolah bingung mendengar ucapan darinya.
"Benarkah, Nona?" Ekspresi wajah Hanna benar-benar menunjukkan rasa penasaran yang tinggi. Ia sampai membulatkan kedua matanya karena saking antusiasnya.
"Ya, akulah orang yang saat ini sedang jatuh cinta kepada orang yang sama sekali sebelumnya tidak masuk hitunganku."
"Siapa?" Gina sudah menunggu kalimat Hanna selanjutnya karena Hanna tidak juga kunjung mengatakan apa yang seharusnya ia katakan itu.
"Mmm... maafkan saya sudah menjadi lancang, Nona. Saya tidak menyadari hal ini. Maafkan saya."
"Hei, kita sedang dalam mode : teman sekarang. Jadi kau bebas mengatakan apapun yang ingin kau katakan karena aku adalah temanmu, bukan atasanmu. Jadi, katakan saja apapun itu."
"Baiklah Nona. Tapi saya tidak enak mengatakannya."
"Sudahlah, aku ingin tahu apa yang sedang kau fikirkan sekarang. Aku tahu sepertinya kau ingin menebak siapa orang yang sedang ku sukai saat ini. Benar, bukan?"
"Oh, iya benar, Nona." Wajah Hanna menjadi canggung. Mungkin dia merasa tidak enak sendiri setelah hampir menebak pria yang sudah membuatnya jatuh cinta sekarang.
"Jadi, tebaklah siapa dia."
"Maaf Nona, saya tidak yakin. Saya hanya asal saja." Hanna lalu tersenyum. Senyumnya masih terlihat canggung dan ragu.
"Ayolah, aku sedang sangat bersemangat bermain tebak-tebakan sekarang. Ini seru sekali. Rasanya sudah lama aku tidak mengobrolkan tentang hal ini dengan seorang teman. Mengobrol tentang pria yang sedang ku sukai."
"Oh ya?" Hanna merasa lucu dengan apa yang di katakan Gina. Lalu ia memaklumi karena Gina memang tidak banyak memiliki teman sehingga wajar saja ia bersikap seperti itu.
"Jadi, menurutmu siapa orangnya?" Sekarang Gina mendekatkan wajahnya kepada Hanna untuk menyimak tebakannya dengan lebih jelas.
"Pak Surya?" Jawab Hanna ragu-ragu. Mendengar itu Gina tertawa sejadi-jadinya. Melihat itu Hanna mengerutkan keningnya heran. Bagaimana bisa Gina terbahak seperti itu setelah mendengar tebakan darinya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Hanna. Bagaimana ini..." Gina masih tertawa dan belum bisa melanjutkan kalimatnya. Itu membuat Hanna merasa telah memberika lelucon segar kepada Gina dengan jawabannya. Ia masih merasa bingung dan ikut tertawa. Tapi tawanya terdengar kaku karena sangat dibuat-buat.
"Sepertinya kita memang berjodoh. Kau sangat memahamiku. Jadi rasanya aku ingin sekali bekerja terus denganmu. Kau yang terbaik."
"Maaf, Nona. Jadi..." Hanna mulai menebak apa yang sedang dibicarakan oleh Gina. Gina menganggukkan kepalanya beberapa kali mengiyakan jawaban Hanna.
"Tepat sekali, tebakanmu sangat tepat." Gina memandang Hanna lurus dan sangat mantap membenarkan tebakan Hanna.
"Dialah orangnya." Gina tersenyum kepada Hanna. Lalu selanjutnya ia menarik nafas panjang. Ia merasa jantungnya berdebar hebat mengakui itu. Hanya dengan mengakui perasaanya kepada Hanna saja rasanya Gina ingin sekali pingsan setelahnya. Bagaimana kalau ia membuat pengakuan cinta kepada Surya. Apakah jantungnya akan berhenti berdetak karena saking grogi sekaligus antusias menjadi satu dalam dirinya.
Sedangkan Hanna tidak berkata apapun. Wajahnya menggambarkan keterkejutan. Dan melihat Hanna, Gina tersipu sambil tersenyum. Ia merasa perlu berbagi kepada Hanna karena Gina sudah menganggapnya lebih dari sekadar asisten, tapi juga teman. Sehingga berbicara apapun kepada Hanna membuatnya merasa nyaman. Seperti saat menceritakan perihal perasaan jatuh cintanya kepada Surya. Setelah menceritakan kepada Hanna beban Gina sedikir berkurang. Sekarang yang ia fikirkna hanya bagaimana caranya menunjukkan kepada Surya bahwa ia menyukainya.
Ditambah lagi Gina tidak tahu bagaimana perasaan Surya kepadanya. Sehingga Gina harus berfikir bagaimana caranya agar Surya bisa tertarik juga terhadapnya. Walaupun selama ini Surya selalu ada untuknya, selalu bersikap baik saat Gina bersikap kasar kepadanya, Gina sadar itu bukan berarti Surya juga menyukainya. Sifat dasar Surya yang lembut dan baik hati membuat Gina tidak mau mudah menyimpulkan bagaimana perasaan Surya terhadapnya.
Surya membuka ruangannya dan mempersilakan Marco untuk masuk.
"Silakan Duduk." Surya mempersilakan Marco untuk duduk di sofa biasa ia menerima tamu di ruangannya.
"Jadi, apa yang ingin Anda sampaikan sehingga harus datang langsung ke sini?" Surya bersikap ramah.
"Mengenai kontrak kerja yang telah kita sepakati bersama sebentar lagi akan berakhir jadi saya rasa kita perlu membicarakan tentang hal ini."
"Oh jadi tentang itu. Saya juga sudah berfikir tentang itu dan bermaksud akan membahasnya terlebih dulu dengan pihak HRD kami."
"Maafkan saya karena terlalu terburu-buru."
"Tidak apa-apa, Pak."
"Saya harap kita akan tetap selalu berada dalam hubungan kerja sama seperti sebelumnya, Pak."
"Saya juga berharap begitu. Walaupun R-Company sudah berubah kepemilikan tapi saya tidak akan merubah apapun yang sudah berjalan dengan baik. Justru mungkin saya akan memperbaiki hal-hal yang kurang baik sehingga R-Company akan lebih berkembang."
"Anda benar-benar pengganti Pak Rangga yang sempurna. Tidak heran Gina sangat menyukai Anda." Mendengar kalimat terakhir Marco, Surya mengangkat alisnya. Marco lalu tertawa melihat ekspresi heran Surya.
"Maaf jika saya salah bicara, Pak."
"Ahh, tidak apa-apa. Saya juga orang yang suka bercanda." Surya lalu tertawa.
Saat memasuki lobi R-Company tadi Marco sempat melihat Gina memandang Surya dari lantai dua. Pandangan Gina mengikuti kemana arah Surya pergi. Itu membuat Marco merasa Gina memperhatikan Surya yang berarti dia juga perhatian kepada suaminya itu sampai tidak ingin melewatkan apapun darinya. Dan sampai sekarang Gina dan Hanna masih berbincang di tempat yang sama.
"Tapi aku sendiri tidak yakin dengan apa yang sedang ku rasakan ini nyata adanya atau karena pengaruh sesuatu yang magis." Ucap Gina dengan santai.
"Sesuatu yang magis?" Hanna heran dengan istilah yang digunakan oleh Gina.
"Kau tahu bukan kalau Surya berasal dari kampung. Sedangkan di kampung masih kental dengan unsur budaya, animisme, dinamisme, penganut kepercayaan yang bisa sangat lekat dengan praktek berbau supranatural." Hanna dengan sabar menyimak penjelasan Gina yang semakin membingungkan untuknya.
"Setelah aku menyadari bagaimana aku mulai menyukai Surya, aku sempat berfikir mungkinlah Surya memberiku jampi-jampi sehingga aku jadi menyukainya?"
"Apa Nona?" Hanna membulatkan kedua matanya mendengar apa yang Gina ucapkan padanya.
__ADS_1