Tahta Surya

Tahta Surya
Sarapan Pagi


__ADS_3

Gina keluar dari dalam kamar mandi dengan piyama mandinya dan rambut digulung dengan handuk.


"Segar sekali. Akhirnya aku bisa mandi dengan menyenangkan." Gina berjalan menuju meja riasnya. Kemudian ia mengambil serum wajah dan meneteskan di telapak tangan lalu mengoleskan perlahan pada wajahnya.


Tepat saat itu seseorang masuk ke dalam kamarnya. Gina terjingkat dan buru-buru berdiri dari duduknya. Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu.


"Ahh Mama mengagetkanku saja." Gina terlihat panik awalnya dan kemudian merasa lega saat tahu yang masuk adalah Mamanya.


"Kenapa reaksimu berlebihan begitu? Memangnya kau pikir siapa yang masuk?" Mamanya heran sambil berjalan mendekati Gina.


"Kenapa Mama tidak mengetuk dulu?"


"Aku lupa cara melakukannya." Jawab Mamanya sambil tertawa kecil.


"Aku lupa kalau anak gadisku sudah menikah. Seharusnya aku ingat itu dan membiarkannya memiliki privacy terutama saat bersama suaminya di dalam kamar."


"Mama bicara apa? Bukan itu maksudku." Gina masih duduk di kursi rias dan Mamanya duduk di tepi tempat tidur.


"Aku hanya memakai piyama mandi dan bagaimana jadinya kalau yang masuk adalah Surya. Itu akan menjadi pemandangan indah untuknya."


"Kenapa memangnya dengan hal itu? Bukankah kalian adalah suami istri. Lalu apa yang ingin kau rahasiakan darinya?" Goda mamanya sambil menahan tawa melihat putrinya cemberut begitu.


"Mama...." Gina gemas dengan mamanya.


"Kenapa kau tidak mengunci pintu kalau kau ingin melakukan segala hal sendiri di kamarmu?"


"Iya, aku lupa."


"Dasar pelupa." Mamanya masih memandang putrinya.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menyapaku? Apa kau tidak merindukan Mamamu ini?"


"Maafkan aku, Mama. Aku harus mempersiapkan diriku yang cantik dulu kalau harus menyapa Ibu Suri." Ujar Gina dengan senyum lebarnya.


"Sejak kapan aku jadi Ibu Suri?"


"Sejak Mama menuruti Papa untuk turun tahta dari R-Company."


"Kau ini. Bagaimana pun juga Tuan Rangga adalah bosnya. Aku bisa apa kalau pada akhirnya dia memecatku."


"Ahh, dasar istri penurut." Gumam Gina menyindir.


"Hei, kau tahu kan akan sia-sia saja aku membangkang terhadap Papamu. Itu sama saja dengan mengirim diriku sendiri ke neraka." Mendengar itu Gina memanyunkan bibirnya.


"Jadi bagaimana? Kau masih membuat Surya tidur di sofa?"


"Tentu saja. Dia bahkan tidak boleh bermimpi bisa naik ke atas tempat tidurku." Mendengar itu Mamanya tertawa kecil. Ia hafal betul sifat putrinya.


"Maafkan Mama hanya bisa sampai sejauh ini. Papamu sepertinya sudah sangat ingin sekali pulang. Sehingga aku tidak bisa membuatnya bertahan lebih lama lagi."


"Tidak apa-apa, Ma. Ini sudah cukup. Mama sudah melakukannya dengan baik. Nanti akan ku fikirkan lagi bagaimana caranya agar Papa tidak terlalu ketat mengawasiku."


"Tenang, Mama akan selalu ada dibelakangmu. Kalau butuh apapun, datanglah padaku."


"Ahh, Mama..." Gina lalu memeluk Mamanya manja sebagai bentuk rasa terima kasih atas dukungan Mamanya. Semakin hari hubungan mereka semakin baik dan semakin dekat sejak Mamanya sudah berhenti dari R-Company.

__ADS_1


"Baiklah, aku mau berganti baju. Jadi Mama tunggu aku dibawah. Mari kita sarapan. Perutku sangat lapar."


"Baiklah, aku akan turun lebih dulu." Mama Gina berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Gina menuju ruang closet yang masih terhubung dengan kamarnya. Deretan lemari dan rak berisi tas juga sepatu tertata rapi di ruangan yang luas itu. Ruangan yang lebih luas dari pada rumah Surya itu bernuansa maroon. Dengan pencahayaan yang sempurna ruangan itu terlihat sangat nyaman. Gina lalu mengambil sebuah kemeja dengan puff sleeve berwarna fucia lalu menuju deretan rok. Akhirnya ia memasangkan kemejanya dengan rok span selutut warna merah muda.


"Bagaimana?" Ulang Pak Rangga yang kali ini dengan wajah serius membuyarkan fikiran Surya.


Bagaimana bisa Pak Rangga memiliki fikiran seperti itu. Seorang Gina yang nyaris sempurna dan juga sedang menyukai orang lain jadi menyukai dirinya. Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin baginya.


Walaupun akhir-akhir ini Gina memang kadang bersikap baik padanya tapi itu bukan berarti Gina jatuh cinta padanya. Ia sangat tahu tipe pria yang disukai oleh Gina dan itu sama sekali tidak ada pada dirinya.


Surya tidak tahu harus menjawab apa karena hal itu sama sekali tidak ada dalam fikirannya. Sehingga yang bisa ia lakukan hanya tertawa menanggapi pertanyaan Pak Rangga. Melihat Surya malah menertawakannya, Pak Rangga tersenyum.


"Apakah itu lucu sampai kau tertawa?" Tanya Pak Rangga.


"Saya akan bersiap ke pembukaan R-Company, Pa. Saya permisi." Surya pamit demi menghindari pertanyaan aneh ayah mertuanya.


"Ya baiklah..." Pak Rangga mempersilakan. Surya keluar dari ruangan itu.


"Dia tidak menjawab pertanyaanku. Apa pertanyaanku aneh?" Pak Rangga bergumam sendiri dibalik meja ruangannya.


"Aku berharap ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua."


Surya menutup pintu dan berjalan menuju ruang tengah saat Gina menuruni tangga. Surya melihat Gina dengan sepatu hak tinggi seperti biasanya sedang perlahan menapaki anak tangga satu per satu. Kembali terngiang pertanyaan Pak Rangga padanya barusan.


Mana mungkin wanita seperti Nona Gina menyukaiku. Dia telah menolakku setengah mati. Jadi, hal yang mustahil keajaiban itu bisa terjadi. Pikir Surya.


Tapi... kecuali jika memang cara itu berhasil.


"Kau dari ruangan Papa?" Ujar Gina saat mereka sudah berhadapan.


"Iya Nona." Jawab Surya singkat.


"Apa yang kalian bicarakan?" Akhirnya Gina menanyakan itu juga.


"Tidak ada yang penting, Nona."


"Memangnya kau masih asistennya mau main rahasia denganku?" Gina memicingkan mata tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Surya.


"Tidak Nona, kami hanya mengobrol biasa. Papa sudah beberapa waktu pergi jadi beliau ingin tahu perkembangan R-Company."


"Benarkah? Apa Papa tidak menanyakan apapun tentang kita?"


"Tidak Nona." Surya berbohong.


"Hmmm... baguslah kalau begitu." Tanggapan Gina santai. Surya mulai bisa lega mendapat introgasi Gina.


"Tapi sebenarnya aku tidak percaya dengan kata-katamu." Ucapan Gina membuat Surya tersenyum kecut.


"Kau pikir aku bodoh dan percaya kalau Papa tidak banyak bicara. Aku mengenalnya lebih lama dari dirimu, kau tahu." Gina lalu berbalik badan dan menuju meja makan. Surya tersenyum lagi. Gina adalah putri Pak Rangga, jadi bagaimanapun juga dia hafal tabiat Papanya.


Bu Marina membawa keluar sebuah nampan dari arah dapur dan sekarang sudah ada di samping Gina.


"Wah, muffin coklat. Mama membuatnya?" Gina membuka matanya lebar.

__ADS_1


"Apa aku terlihat bisa membuat muffin sebaik ini?" Bu Marina tersenyum lebar setelah menjawab pertanyaan Gina.


"Aku membelinya secara online."


"Ahh, sudah ku duga. Mana mungkin seorang negosiator seperti Mama bisa membuat pastry. Yang ada muffin-muffin itu malah menyusut karena takut kepada Mama." Bu Marina yang mendapat cibiran dari Gina lalu memelototinya. Gina tertawa mendengar itu. Surya yang duduk di sisi lain meja itu ingin tertawa juga tapi menahannya untuk menjaga perasaan ibu mertuanya.


"Sudah jangan banyak bicara, makanlah. Tadi kau bilang sudah lapar." Bu Marina menyodorkan satu muffin coklat ke pada Gina. Gina menerimanya sambil masih dengan sisa tawa.


"Oh iya, Surya. Kau tahu bukan bagaimana Gina diperlakukan di rumah ini. Apa saat di rumahmu kau juga memperlakukannya dengan baik? Orang tuamu juga?"


"Tentu saja, Ma. Bapak dan Ibu Surya sangat baik. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Ibu Surya membuat masakan yang enak sekali. Namanya adalah bali. Itu mirip seperti bumbu balado tapi rasanya sangat komplit. Pedas, manis, sedikit asam segar. Entahlah bagaimanaya aku bisa mendeskripsikannya. Pokonya kalau itu adalah telur, rasa telurnya menjadi cremy tapi segar. Mmmm... bagaiaman rasanya, Surya?" Belum sempat Surya menjawab, Gina sudah membuka mulut menjawab Mamanya.


"Menurut saya enak. Hampir sama dengan deskripsi Nona."


"Nah, kurang lebih begitulah rasanya. Dan juga, Mama tahu, tinggal di rumah Surya sangat menyenangkan. Kampung Surya sangat indah. Banyak sekali sawah dan kebun. Mama pasti tidak percaya kalau ku katakan kampung Surya mirip pedesaan di Eropa."


"Oh ya? Apa itu seperti di Bibury Inggris dengan rumah-rumah berasal dari abad pertengahan? Atau apakah itu sebuah desa di tepi danau seperti di Hallstatt, Austria? Atau itu adalah sebuah desa di atas bukit seperti desa Murren di Swiss?"


"Ahh Mama, mana mungkin bisa sama persis seperti itu. Negara kita dan negara Eropa memiliki iklim dan dataran yang berbeda. Pokonya sangat indah." Jelas Gina dengan mata berbinar.


"Benarkah?" Bu Marina masih terlihat tidak percaya.


"Kapan-kapan mari kita ke rumah Surya. Agar Mama bisa melihatnya sendiri. Kehidupan disana juga masih sangat baik. Semua orang di kampung bisa saling mengenal. Bahkan sampai tetangga kampung juga kenal. Tidak seperti di sini. Bertahun-tahun tinggal dirumah ini aku baru tahu beberapa bulan yang lalu kalau tetangga kita adalah seorang aktris film yang sangat terkenal." Gina bercerita panjang lebar.


"Oh iya, dan juga tepat sekali saat itu ada pasar malam di kampung Surya. Semua wahana masih sangat sederhana. Menggunakan tenaga manusia untuk memainkannya, Ma. Bianglala, komidi putar, semua di dorong oleh orang."


"Ya Tuhan, itu masih sangat kuno."


"Iya Ma, mereka belum bisa membeli wahana yang menggunakan mesin." Jawab Surya.


"Ohhh..."


Gina memakan muffin di tangannya. Surya juga mengambil sebuah dan menikmatinya juga. Bu Marina melihat wajah segar Gina yang tampak bahagia dan penuh semangat. Ada yang sedikit berubah dari Gina setelah mereka tidak bertemu beberapa waktu. Saat Bu Marina berangkat berlibur waktu itu, ia melihat Gina yang kecewa dengan keputusan Papanya, marah tapi dia harus dengan terpaksa menuruti ketentuan Papanya, sehingga Bu Marina semakin yakin bahwa tindakannya membawa Pak Rangga berlibur akan membuat Gina memiliki waktu untuk bebas melakukan banyak hal tanpa ada Pak Rangga di sekitarnya.


Tapi sekarang, Gina seperti menjadi seseorang yang berbeda. Gina yang ceria, banyak tersenyum dan tertawa. Sinar matanya menyiratkan kebahagiaan. Sinar mata yang Bu Marina kenal sebagai Gina yang sedang jatuh cinta. Bu Marina jadi berfikir apa ada yang telah terjadi diantara mereka selama kepergiannya? Bagaimanapun juga meskipun awalnya Gina menolak Surya habis-habisan, tapi sekarang mereka tinggal satu rumah bahkan satu kamar, apa mereka sudah semakin dekat satu sama lain sekarang? Apa mereka benar-benar menjadi suami istri seperti orang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul satu per satu dari fikiran Bu Marina. Dan tiba-tiba ia menjadi gelisah.


"Surya, sudah jam berapa ini? Kau bahkan belum mandi. Cepatlah. Aku tidak mau menunggumu terlalu lama. Bisa-bisa riasan diwajahku meleleh karenamu. Kau harus bertanggung jawab kalau aku berubah menjadi topeng monyet setelah ini." Gina mengomel. Surya hanya menanggapinya dengan senyum.


"Baik Nona. Saya hanya butuh waktu 10 menit untuk bersiap."


"Ahh, cepat habiskan sarapanmu dan cepatlah bersiap sete..." Belum selesai dengan kalimatnya, tiba-tiba ia tersedak karena berbicara sambil mengunyah muffinya.


Surya buru-buru mengambilkan air minum dan mendekati Gina untuk memberikan air putih ditangannya. Gina menerima gelas yang di sodorkan oleh Surya dan meminum isinya. Surya tidak segera pergi tapi masih menepuk-nepuk punggung Gina berusaha membuat Gina nyaman dan terlepas dari tersedaknya.


"Jangan makan sambil berbicara, Nona." Gumam Surya masih menepuk-nepuk punggung Gina. Gina meminum sekali lagi air putihnya sambil dengan nafas tersengal.


"Semua ini karena kau." Gina cemberut memandang Surya disebelahnya.


"Iya, maafkan saya, Nona." Surya masih kalem dengam senyum yang tidak lepas dibibirnya.


"Cepatlah kau bersiap. Tunggu apa lagi."


"Baik Nona." Surya lalu pamit untuk kembali ke kamar untuk bersiap.


Bu Marina yang melihat tingkah dua orang di depannya lalu menarik nafas dalam. Mereka memang telah menjadi dua orang yang sangat berbeda dari orang yang telah ia tinggalkan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


__ADS_2