Tahta Surya

Tahta Surya
Foto-Foto


__ADS_3

Langit masih abu-abu menyembunyikan matahari yang berada di baliknya seperti membiarkan pagi menjadi tetap redup. Hujan pun masih turun memberikan sentuhan udara dingin yang menyusup ke dalam tubuh yang bahkan berpakaian tebal.


Gina merasa jantungnya berdegup kencang ketika tatapan Surya seperti menelusuri tiap jengkal kedalaman hatinya. Entah apa yang sedang ada di fikiran Surya tapi itu membuat Gina menjadi canggung.


"Oh iya, ku rasa cuciannya sudah selesai. Aku akan menjemurnya." Ujar Gina menghindari tatapan Surya yang mengusiknya sambil beranjak dari tempatnya duduk untuk meninggalkan Surya.


Melihat itu Surya tersenyum. Ia tahu Gina sedang menyembunyikan rasa canggungnya dan memilih untuk menghindar darinya. Tepat saat itu bel rumahnya berbunyi. Surya menajamkan pendengarannya lagi. Dan sekali lagi bel berbunyi. Ia menjadi heran. Tidak biasanya ada tamu yang datang ke rumahnya. Ia tidak pernah memberitahukan kepada siapapun dimana alamat rumahnya. Ia juga lebih suka bertemu di luar jika harus bertemu seseorang. Surya mengingat-ingat juga tidak memesan apapun secara online sehingga tidak mungkin itu adalah seorang kurir. Ia lalu melihat monitor di dalam rumahnya untuk melihat siapa yang memencet bel di depan pagar.


"Mama..." Surya merasa heran dengan keberadaan Bu Marina di depan pintu pagar rumahnya.


Ada perlu apa sehingga ibu mertuanya itu harus datang ke rumahnya? Apa mungkin Bu Marina bermaksud untuk menjemput Gina dan mengajaknya kembali pulang? Atau mungkin ada hal lain? Banyak pertanyaan yang berputar di kepala Surya sambil membuka pintu rumah lalu menghampiri ibu mertuanya dengan harus membuka pintu pagar lebih dulu.


"Mari masuk, Ma." Sapa Surya kepada Bu Marina setelah pintu pagar terbuka.


"Apa saja yang sedang kau lakukan? Kau sengaja membiarkan aku kehujanan di sini?" Ujar Bu Marina dengan nada bicara yang mengingatkan Surya pada seseorang. Gina.


Ya, saat Gina berada pada suasana hati yang tidak baik, nada bicara itu akan muncul dari mulutnya dan segala macam hal yang ia lakukan akan tampak salah sebelum suasana hatinya kembali menjadi baik.


"Maafkan saya, Ma. Silakan." Surya mempersilakan ibu mertuanya untuk memasuki halaman rumah. Memberinya jalan masuk dan membiarkannya berjalan mendahului. Surya berjalan mengikuti Bu Marina yang berjalan menuju ke rumah Surya.


"Dimana Gina?" Tanya Bu Marina setelah memasuki rumah Surya tapi tidak menemukan Gina menyambutnya. Seharusnya dia akan menyambut kedatangan dirinya karena sudah hampir seminggu ia tidak pulang dan bertemu dengan mamanya.


"Surya, jeda dulu filmnya. Aku harus menyelesaikan ini." Teriak Gina dari bagian belakang rumah Surya. Bu Marina memandang Surya di belakangnya dan seolah Surya memberi isyarat bahwa Gina ada di arah suaranya.


"Surya, kau mendengarku?" Suara Gina lagi yang semakin jelas setelah Bu Marina berada semakin dekat dengan tempatnya berada.


Bu Marina menuju pintu di mana tadi asal suara Gina. Benar, Gina berada di sana. Sedang melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah Bu Marina lakukan. Gina mengambil cucian dari dalam keranjang dan satu tangannya yang lain mengambil hanger untuk menggantung cuciannya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Bu Marina kepada Gina yang langsung mengenali suaranya.


"Mama..." Gina dengan kaget mendapati mamanya tiba-tiba ada didepannya.


"Kenapa Mama ke sini?" Tanyanya kemudian.


Sekarang Gina, Surya dan Bu Marina sudah berada di ruang tengah. Bu Marina menelusuri wajah putrinya yang baru saja menjemur pakaian miliknya dan juga milik Surya. Pekerjaan yang sangat mustahil dilakukan oleh seorang pewaris tunggal R-Company.


"Jadi, apa itu yang biasa kau lakukan?" Tatapan Bu Marina tajam kepada Gina. Gina mengerjapkan matanya melihat ada kilatan rasa tidak suka dari wajah cantik ibunya itu.


"Tidak juga, aku hanya penasaran bagaimana cara menggunakan mesin cuci. Lalu aku juga merasa harus bertanggung jawab pada pakaianku." Alasan Gina.


"Mama tahu bukankah tidak ada orang yang boleh menyentuh pakaianku kecuali Mbak Yuyun. Aku tidak percaya jika itu orang lain. Termasuk Surya." Jelas Gina.


"Mana boleh Surya menyentuh pakaianku. Apalagi menyentuh... ehmm... itu. Mama tahu maksudku, bukan?"


"Apa? Menyentuh apa?" Tanya Bu Marina dengan fikiran yang menampilkan ekspektasi kemana-mana.


Tapi Gina lalu membisikkan sesuatu kepada Mamanya dengan menutup sebagian wajahnya agar Surya tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh ibu dan anak dengan posisi berhadapan itu. Surya yang ada di samping Gina jadi tersenyum melihat mereka berdua. Seperti faham dengan maksud Gina, Bu Marina lalu manggut-manggut mengerti.


"Tapi..." Kali ini pandangan Bu Marina tertuju kepada Surya.

__ADS_1


"Aku harap itu tidak membuatmu menjadikan Gina sebagai asisten rumah tanggamu di sini."


"Tentu saja tidak, Ma." Ujar Surya.


"Tidak Ma." Ujar Gina yang hampir bersamaan dengan Surya. Melihat itu Bu Marina lalu menoleh kepada Gina juga.


"Kau tahu, Surya?" Bu Marina kembali menatap Surya.


"Gina dibesarkan sebagai seorang putri jadi jangan jadikan dia sebagaimana istri-istri yang ada di kampungmu. Yang terpenjara oleh rumahnya hanya demi melakukan pekerjaan rumah tangga dan melayanimu saja. Dia juga nanti memegang tanggung jawab besar sebagai pemilik R-Company yang sebenarnya jadi jangan manfaatkan Gina untuk melakukan pekerjaan tidak penting seperti itu."


"Maafkan saya, Ma." Suara Surya rendah dengan pandangan mata tulus.


"Mama... sudah ku katakan itu karena aku penasaran." Kalimat Gina berusaha meredakan Mamanya agar tidak lebih lanjut memarahi Surya.


"Dan juga, apa ini yang kalian lakukan selama bersama? Bahkan kalian juga menonton film dewasa." Bu Marina mengalihkan pandangan pada film yang Gina putar dan belum sempat mereka matikan. Gina dan Surya bersamaan memandang ke arah TV dan melihat adegan berciuman itu.


"Ini hanya adegan berciuman, apanya yang film dewasa. Mama berlebihan." Gina meraih remot dan mematikan film itu.


"Kami bukan orang seperti itu. Itu hanya film drama biasa. Adegan berciuman adalah hal biasa dalam setiap film. Bahkan di dalam film action saja ada adegan semacam itu. Mama terlalu banyak menonton sinetron yang monoton dan tidak tahu hal ini." Jelas Gina sedikit gugup karena telah dituduh menonton film dewasa.


"Sudahlah, lagi pula aku jauh-jauh ke sini tidak untuk mengatakan ini. Tapi untuk ini." Bu Marina meletakkan kertas-kertas bergambar itu diatas meja. Lebih tepatnya itu adalah foto-foto seseorang.


Dari foto yang paling atas Gina bisa melihat itu adalah foto Surya. Ya, Surya. Mata Gina hampir lepas dari tempatnya saat melihat foto itu. Ia lalu mengambilnya dari atas meja dan melihatnya lebih dekat di tangannya. Foto Surya bersama seorang wanita. Bukan Hanna. Sama sekali itu bukan Hanna. Mereka berpelukan. Wajah wanita itu sangat jelas terlihat saat kamera itu dibidikkan. Surya tampak membelai rambutnya dengan hangat.


Melihat itu darah Gina seolah mendidih dan mengalir panas menjalari tubuhnya. Entah ada berapa banyak wanita yang sebenarnya ia miliki selama ini. Gina benar-benar tidak menyangka bahwa dibalik sikap dingin dan kaku Surya ternyata dibalik itu semua ia adalah seseorang yang bisa bersama banyak wanita. Surya benar-benar tidak sama dengan ekspektasi Gina selama ini. Foto itu mewakili bagian dari diri Surya yang tidak pernah Gina duga sebelumnya.


Gina memalingkan wajahnya kepada Surya dengan isyarat memberi penjelasan. Tapi Surya hanya memandangnya dengan tatapan beku dan seperti enggan membuka suaranya sama sekali. Gina lalu mengalihkan pandangannya kepada Bu Marina.


"Yang jelas aku tidak melakukan apa yang kau fikirkan. Tapi aku mendapatkannya. Foto-foto itu bukan aku yang membuatnya ada tapi aku mendapatkan dari suatu tempat. Dari orang yang kau percayai, Surya." Ganti Bu Marina memandang Surya yang masih diam penuh hormat padanya.


Semalam Bu Marina benar-benar gelisah memikirkan bagaimana Gina semakin betah tinggal di rumah Surya dan membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak sehingga sering terjaga. Ia sangat khawatir jika Gina akan meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tinggal di rumah Surya dan memutuskan untuk menjalani pernikahan mereka dengan benar. Bukan lagi pernikahan pura-pura. Ia melihat Pak Rangga yang tertidur lelap di sampingnya.


"Tentu saja dia bisa tidur dengan tenang. Dia yang menginginkannya. Dia benar-benar sudah kehilangan akal. Bagaimana bisa membiarkan Gina bersama Surya dan mendukung penuh kebersamaan mereka." Gumam Bu Marina yang duduk bersandar kepala tempat tidur.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Gina tidak boleh terus bersama Surya apalagi menjadi lebih dekat dengannya. Aku harus segera memisahkan mereka." Tekatnya.


Bu Marina lalu beranjak dari tidurnya dan bermaksud keluar untuk menghirup udara segar. Tapi saat akan membuka pintu kamar ia melihat sebuah kertas yang mengintip dari sebuah berkas di kolong tempat tidur tepat dibawah tempat Pak Rangga tidur saat ini. Bu Marina mengerutkan kening melihat ada sebuah berkas di kolong tempat tidur lalu dengan mengendap-endap mengambilnya. Saat membuka berkas itu ia menemukan setumpuk foto-foto yang membuatnya terbelalak tidak menyangka.


"Surya dan..." Gumam Bu Marina melihat foto-foto Surya bersama orang yang ia kenal.


"Anak ini... Ahh, mereka berdua ternyata seperti itu." Bu Marina berpindah memandang suaminya yang masih terlelap. Ia bermaksud membangunkan Pak Rangga dan meminta penjelasan pada foto yang sedang dilihatnya saat ini tapi ia urungkan.


Bu Marina berfikir ulang tentang apa yang harus ia lakukan dengan foto-foto itu. Dan akhirnya ia memutuskan untuk membawanya langsung kepada Gina dan Surya. Menunjukkan kepada mereka secara langsung. Terutama untuk Gina. Dengan ini ia pasti akan berfikir ulang jika ingin menyukai Surya. Ia pasti akan mundur karena bagaimanapun juga ia pernah menyukai seseorang yang sudah memiliki pacar dan akhirnya harus patah hati. Bu Marina berfikir pasti Gina tidak akan mengulang pengalaman lamanya lagi.


"Jadi, apa kalian..." Ujar Bu Marina kepada Surya yang tidak ia lanjutkan karena Gina memotong ucapannya.


"Mama... kenapa membawa foto ini kepada kami. Mama tahu persis apa yang terjadi padaku dengan Surya. Itu tidak akan mempengaruhi kami." Potong Gina.


"Aku tidak peduli pada kehidupan Surya jadi foto ini bukanlah sesuatu yang penting."

__ADS_1


Bu Marina memandang Gina lurus berusaha mencari sesuatu dari ucapan Gina. Apakah benar foto itu tidak memperngaruhinya? Bukankah Gina mulai menaruh hati kepada Surya? Kalau iya, kenapa ia tidak terpengaruh?


"Daripada meributkan foto Surya dengan pacarnya, lebih baik Mama mencoba masakanku."


"Masakanmu?" Tanya Bu Marina tidak percaya dengan ucapan Gina yang mengatakan ia memasak.


"Kau bisa memasak?"


"Tentu saja bisa. Mama tahu, aku mencoba memasak telur ceplok. Memasak air. Memasak mi instan. Aku mencobanya di sini. Tidak ada Mbak Yuyun, aku jadi harus melakukannya sendiri."


"Apa Surya menyuruhmu melakukan semua itu?" Bu Marina memandang Surya tajam.


"Ahh, Mama... Mana mungkin aku bisa diperintah olehnya." Gina memandang Surya sambil tersenyum lebar.


"Tentu saja itu karena aku penasaran dengan semua hal baru itu. Aku harus menantang diriku untuk urusan ini. Aku harus menjadi si multitalenta. Aku pemegang sabuk hitam taekwondo. Aku cantik dan punya pacar banyak. Aku kaya raya dan akan mewarisi harta Papa. Jadi aku harus mencoba pekerjaan-pekerjaan yang mudah ini." Jelas Gina panjang lebar agar mamanya menjadi tenang.


"Bagaimana? Mama mau aku memasak apa pagi ini?" Gina memandang wajah mamanya sambil tersenyum merayu.


"Wah, dingin-dingin begini sepertinya mi kuah akan enak." Jawab Gina tanpa menunggu suara dari mamanya.


Surya yang sedari tadi berada di samping Gina jadi tersemyum melihat bagaimana ia membujuk mamanya. Gadis yang sejak kecil jarang bersama orang tuanya ternyata memiliki cinta yang besar kepada mereka. Ia sering marah kepada orang tuanya, tapi terlihat bahwa Gina tidak pernah menaruh dendam kepada keduanya. Bahkan saat mamanya marah seperti ini, ia berusaha keras untuk menghiburnya agar tidak jadi marah. Sebenarnya Gina memang berhati lembut. Hanya saja rasa kesepian yang membuatnya sering bersikap keras dan semaunya karena memang itulah caranya untuk membuat dirinya terlihat kuat.


"Tidak, terima kasih. Aku harus pulang. Mungkin Papamu akan mencariku."


"Jadi, Mama pergi tanpa sepengetahuan Papa?" Mamanya mengangguk.


"Pasti foto-foto ini juga Mama dapatkan secara ilegal dari Papa." Gina memicingkan mata menyelidik.


"Atau aku menelepon Papa sekarang dan melaporkan perbuatan Mama?"


"Lakukan saja. Aku tidak peduli." Bu Marina berdiri dari duduknya sambil menatap Surya lekat.


"Surya, kita akan bicara lagi nanti." Ujar Bu Marina dingin.


"Baik Ma." Jawab Surya patuh.


"Kapan? Dimana? Aku boleh ikut, bukan?" Gina menimpali.


Bu Marina tidak menjawab. Ia hanya melangkah pergi meninggalkan dirinya dan Surya. Merasa ia tidak akan diajak dalam pertemuan mereka berdua, Gina jadi kesal.


"Benar, Mama tidak akan mengajakku?" Gina mensejajari langkah Mamanya yang berjalan menuju pintu. Surya berada di belakang mereka ikut mengantar Bu Marina keluar.


"Yang benar saja. Apa ini perlakuan Mama terhadapku? Aku anak Mama. Kenapa aku tidak boleh ada di antara kalian?" Gina tahu pertanyaanya sangat konyol untuk dilontarkan kepada Mamanya. Gina juga tahu Mamanya pasti akan mengatakan banyak hal yang Gina tidak boleh mengetahuinya kepada Surya.


Tiba-tiba Gina menjadi khawatir kalau Mamanya akan membuat Surya pergi darinya dengan berbekal foto-foto itu. Dan Gina tidak ingin itu terjadi. Ia memiliki rencananya sendiri saat ini. Ia tidak ingin Bu Marina mengacaukannya. Ia ingin melakukan apa yang dulu tidak ia lakukan kepada Faris sehingga ia tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya lagi.


"Sampai jumpa, Ma. Kalau rindu, telepon saja aku." Ucap Gina kepada Mamanya yang berada di dalam mobil dan mulai meninggalkan mereka. Mamanya hanya melambaikan tangan tanpa mengucap sepatah katapun.


Gina dan Surya masih memandang mobil mewah yang Bu Marina tumpangi hingga berjalan semakin menjauhi mereka berdiri. Langit masih redup dengan gerimis kecil yang turun. Gina dan Surya berdiri tanpa payung yang melindungi mereka.

__ADS_1


"Jadi, kau dan Siska pacaran?" Tanya Gina dengan masih memandang mobil Mamanya yang berjalan semakin mengecil dari pandangannya. Akhirnya Gina tidak tahan dan mencari kejelasan dari foto yang diberikan oleh Bu Marina tadi. Surya mengalihkan matanya menoleh kepada Gina disampingnya.


__ADS_2