
Gina duduk diteras samping rumah Surya sambil menikmati secangkir coklat panas. Ikan-ikan di tepi kolam tampak berebut makanan yang baru saja ia taburkan. Surya belum pulang. Hatinya gelisah sejak tadi. Sebelum pulang ia menyempatkan diri menuju ke ruangan Surya untuk suatu maksud tapi setelah ia benar-benar datang ke sana itu hanya membuatnya resah. Setelah memastikan Siska pergi bersama Surya, hatinya menjadi sakit. Walaupun mereka memang sepasang kekasih dan Gina hanya orang lain diantara mereka, nyatanya menyadari hal itu ia merasa sangat cemburu. Surya dan Siska bersama dan entah apa saja yang mereka lalukan saat bersama seperti itu. Seusai acara mungkin mereka akan mengambil kesempatan itu untuk pergi ke suatu tempat, entah untuk makan atau hanya untuk bisa saling melepas rindu layaknya pasangan kekasih yang lain.
Memikirkan itu hati Gina terasa sakit. Jantungnya berdetak tidak tenang sejak tadi. Saat mobil Surya menjemputnya sore ini, ia ingin sekali pergi ke tempat Surya dan Siska berada. Ia ingin berada di sana juga dan mengganggu kebersamaan mereka. Ia ingin sekali melakukan itu. Tapi akal sehatnya akhirnya yang lebih mampu menguasai. Ia harus terlihat sangat halus melakukan pendekatan dengan Surya. Ia harus tidak boleh menunjukkan sifat buruknya atau ia akan kehilangan Surya sampai itu benar-benar terjadi.
"Sudah pukul 8 malam. Mereka pasti sangat menikmati kebersamaan mereka." Setelah itu Gina beranjak dari duduknya dan menarik tangannya ke atas sambil menarik nafas berat.
Gina memikirkan cara yang lebih efisien untuk mengambil alih perhatian Surya dari Siska. Hingga tiba-tiba Gina seperti mendapatkan inspirasi saat melihat sebuah iklan di TV yang sedari tadi ia biarkan menyala untuk mengisi suasana sepi di rumah itu. Sebuah iklan minuman berenergi yang diperankan oleh seorang wanita berpakaian seksi dan seorang pria bina raga dengan badan bugar di dalam layar kaca. Gina lalu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Mbak Yuyun, tolong kirimkan padaku baju di paperbag di dalam lemari. Paperbag berwarna garis-garis putih dan merah muda." Gina tersenyum malu setelah menutup telepon.
Ia membayangkan alangkah indahnya jika memakai baju itu malam ini. Gaun malam keluaran sebuah merk terkenal yang biasa di pamerkan oleh model-model dunia yang berbadan seksi. Gina membelinya saat berjalan-jalan di Mall waktu itu. Ia memang suka memakai pakain dalam dari merk itu karena menurutnya sangat nyaman. Bagi Gina harga tidaklah menjadi masalah karena menurutnya pakaian dalam yang nyaman akan membuatnya lebih percaya diri. Dan juga beberapa piyama tidurnya pun ia beli dari merk itu. Hingga suatu ketika ia melihat sebuah gaun malam yang tampak manis baginya dan membelinya beberapa buah.
Bel pintu berbunyi. Gina bergegas keluar untuk membuka pagar. Perasaannya sudah berdebar walau baru akan menerima kiriman baju malam miliknya.
"Mbak Yuyun?" Gina bengong saat melihat yang ada di balik pagar adalah asisten rumah tangganya sambil memamerkan senyum lebar.
"Kenapa Mbak Yuyun sendiri yang mengantar?" Tanya Gina heran.
"Ini sudah malam."
"Saya merindukan Nona." Hanya itu yang diucapkan Mbak Yuyun sambil tersenyum senang bisa bertemu Gina.
"Oh, aku juga." Mendengar kalimat Mbak Yuyun, Gina lalu menghamburkan pelukannya. Mereka pun berpelukan erat layaknya dua orang yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Padahal mereka hanya berpisah belum sampai 2 pekan.
"Nona, kenapa bulan madunya lama sekali?" Mbak Yuyun sudah duduk di ruang TV bersama Gina.
"Seru sekali tinggal di sini. Aku melakukan banyak hal. Aku mencuci piring, membuat nasi goreng, mencuci baju dan... apalagi ya?" Gina mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukannya selama berada di rumah Surya.
"Oh iya, aku juga menjemur pakaian."
"Benarkah? Nona benar-benar melakukan semua itu?" Tanya Mbak Yuyun tidak percaya. Tapi Gina mengangguk dengan sungguh-sungguh sehingga Mbak Yuyun mencoba untuk mempercayai apa yang dikatakan olehnya.
"Nona keren sekali." Puji Mbak Yuyuh yang disambut senyum jumawa oleh Gina.
"Apa itu artinya Nona dan Pak Surya sudah menjalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya?"
"Apa itu artinya?" Gina mengangkat alis sebagai ekspresi tidak tahu harus menjawab apa dari pertanyaan Mbak Yuyun.
"Ya, kehidupan sepasang suami istri pada umumnya."
"Ku rasa sudah." Jawab Gina agak ragu-ragu.
"Ku rasa?" Ulang Mbak Yuyun yang merasa aneh dengan kata itu.
"Kenapa 'ku rasa', Nona? Bukankah itu sesuatu yang pasti. Pasti dilakukan atau pasti belum dilakukan." Kali ini Gina menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Mbak Yuyun yang tidak ia fahami.
"Ku rasa sudah memang. Kami berbagi tugas rumah. Surya memasak, aku mencuci piring. Surya menyapu aku menyiram bunga. Aku memasukkan cucian, kadag Surya menjemurnya. Seperti itulah." Jelas Gina.
"Ahh, Nona bersekolah sampai tinggi tapi ternyata tidak sepandai itu." Keluh Mbak Yuyun yang bisa didengar oleh Gina.
"Apa maksud Mbak Yuyun berbicara seperti itu? Aku bisa mendengarnya." Gina cemberut mendengar ucapan Mbak Yuyun.
"Baiklah, jadi maksudku, apa Nona dan Pak Surya tidur bersama?"
"Mbak Yuyun juga tahu aku dan Surya biasanya selalu tidur bersama."
"Bukan tidur yang seperti itu, Nona." Mbak Yuyun jadi gemas melihat Gina yang polos seperti itu.
__ADS_1
"Lalu?" Gina seperti meminta penjelasan Mbak Yuyun. Tapi belum sampai Mbak Yuyun membuka suara, Gina akhirnya tahu apa yang dimaksud oleh asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarganya sendiri itu.
"Oh, kalau maksud Mbak Yuyun adalah itu..."
"Iya Nona, benar..." Wajah Mbak Yuyun berubah berbinar menanggapi Gina yang sudah memahami maksudnya.
"Rahasia..." Gina lalu tertawa terbahak-bahak. Mbak Yuyun yang tidak mendapat jawaban sesuai keinginannya berubah cemberut.
"Mbak Yuyun mau tahu saja." Gina mencibir.
"Tapi kalau melihat bagaimana Nona sebahagia ini pasti kalian 'sudah'." Kata terakhir yang diucapkan Mbak Yuyun sengaja ia beri penegasan agar Gina tahu maksudnya.
"Ahh, Mbak Yuyun jangan begitu. Aku jadi malu." Gina berpura-pura malu untuk membuat Mbak Yuyun percaya pada bualannya.
"Ya Tuhan... Nona Gina sudah dewasa sekarang." Mbak Yuyun lalu memeluk Gina lagi. Merasa turut bahagia dengan Gina yang terlihat bahagia begitu.
"Tentu saja aku sudah dewasa. Aku sudah menikah sekarang."
"Benar, wanita seusia Nona dikampung saya pasti sudah memiliki anak 2 atau 3. Anak pertama mungkin sudah lulus SD."
"Mbak Yuyun, jangan dilanjutkan. Aku dan wanita di kampung Mbak Yuyun tentu saja berbeda." Ujar Gina sambil melirik pada Mbak Yuyun yang terlihat antusias membicarakan usia Gina. Menyadari Gina tidak suka dibandingkan dengan wanita di kampungnya, lalu Mbak Yuyun mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Ngomong-ngomong, dimana Pak Surya?" Mbak Yuyun celingungakan mencari sosok Surya karena akhirnya ia sadar sedari tadi tidak menemukannya di rumah itu.
"Dia masih ada urusan." Jawab Gina.
"Oh..."
"Oh iya, Mbak Yuyun mau minum apa?" Tawar Gina.
"Hei, sekarang Mbak Yuyun adalah tamuku. Aku Nyonya rumah di sini jadi aku akan menjamu Mbak Yuyun."
"Jangan, Nanti tangan Nona jadi kasar."
"Ya Tuhan, hanya minuman. Itu tidak akan melukai tanganku saat membuatnya jadi kasar."
"Baiklah kalau Nona memaksa." Jawab Mbak Yuyun sambil tersenyum lebar.
"Es campur saja, Nona."
"Mbak Yuyun ini tadi ku tawari tidak mau, sekalinya mau, mintanya yang susah." Gina melipat kedua tangannya di dada melihat kelakuan Mbak Yuyun yang disengaja itu. Mbak Yuyun lalu tertawa melihat wajah cemberut Gina.
Gina lalu beranjak dari duduknya untuk menjamu tamunya yang istimewa itu.
Setelah menghabiskan secangkir teh buatan Gina untuk pertama kali untuknya, lalu Mbak Yuyun mohon pamit.
"Terima kasih, Mbak Yuyun." Ujar Gina saat taksi online yang Gina pesankan sudah sampai depan pagar rumah Surya.
"Terima kasih juga untuk tehnya, Nona. Itu adalah teh ternikmat yang pernah saya minum."
"Wah, Mbak Yuyun meledekku?" Gina memelototkan matanya."
"Tidak Nona, teh yang dibuat oleh Nona memang enak."
"Tentu saja, itu hanya terdiri dari teh yang disedu dan ditambah dengan gula. Tidak terlalu sulit untuk membuatnya." Gina memanyunkan bibir masih merasa Mbak Yuyun meledeknya.
"Baiklah, saya pulang dulu, Nona." Mbak Yuyun memasuki taksi online.
__ADS_1
"Kalau butuh apapun hubungi saja saya." Mbak Yuyun masih membuka kaca cendela mobil.
"Baiklah." Jawab Gina yang sudah merubah wajahnya jadi tersenyum sambil melepas kepergian Mbak Yuyun di dalam taksi online yang mulai berjalan itu.
"Semoga sukses, Nona." Sayup-sayup Gina mendengar suara Mbak Yuyun dari taksi online yang berjalan semakin jauh itu.
"Sukses? Apa maksudnya?" Gina menggeleng tak mengerti sambil lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Mbak Yuyun tersenyum-senyum sendiri berada di dalam mobil itu. Tadi saat berangkat mengantar barang yang diminta Gina tiba-tiba taksi yang Mbak Yuyun tumpangi oleng karena menghindari seorang pengendara motor yang ugal-ugalan saat melintasi jalan raya. Tidak hanya Mbak Yuyun yang dibuat ikut oleng oleh taksi yang menghindari sepeda motor itu tapi paperbag yang diletakkan Mbak Yuyun disampingnya pun ikut terjatuh. Isinya keluar dari dalam tas yang awalnya Mbak Yuyun tidak tahu apa itu.
"Apa ini?" Mbak Yuyun memungut sebuah kain tipis dan transparan dengan tali seukuran pasta spageti berwarna maroon.
"Apa ini kain kasa?" Mbak Yuyun merentangkan kain itu dan akhirnya tahu benda apa yang sedang ia pegang.
"Ya Tuhan..." Mbak Yuyun tersenyum sendiri dibuatnya.
"Ku harap Pak Surya bisa menutupi Nona Gina dengan baik dan benar agar tidak sampai masuk angin." Gumamnya sambil masih belum bisa melepas senyumnya, lalu memasukkan kembali gaun malam itu ke dalam paper bag.
Gina yang sudah ada di dalam kamar dengan paperbag itu mulai membuka isinya. Sebuah lingeri berwarna merah maroon dengan potongan belahan dada rendah dan bahan transparan sedang ada di tangannya. Kemudian ia mengganti bajunya dengan gaun malam itu. Gina melihat dirinya sendiri dengan gaun malam yang sekarang melekat indah di tubuhnya itu. Warnanya sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Bagian belakang gaun dengan potongan backless menampilkan betapa cantik tubuhnya dari sisi itu. Dan dengan belahan dada rendah, gaun itu bisa mengekspos setiap detail bagian depan tubuhnya yang sangat menarik. Saat memakai gaun malam itu, siapapun tidak akan sanggup berkedip melihatnya. Gina tersenyum puas melihat gaun malam mahal itu sangat sesuai dengan harapannya.
Saat Gina masih berlenggak lenggok di depan cermin terdengar seperti ada yang membuka pintu depan. Mengetahui hal itu, ia yakin itu adalah Surya. Jantungnya jadi berdebar kencang. Wajahnya menghangat membayangkan Surya melihatnya memakai gaun itu.
"Nona Gina?" Panggil Surya dari arah luar kamar.
"Iya." Jawab Gina dari dalam kamar dengan sedikit gugup menata debaran di dadanya yang masih belum mereda.
Gina menarik nafas panjang lalu berbalik menuju pintu untuk keluar. Ia memegang gagang pintu dan mulai meraba-raba kira-kira apa yang terjadi diantara mereka setelah ini. Apakah Surya akan melakukan hal yang seperti Gina bayangkan atau malah sebaliknya? Surya memiliki pacar dan Gina tidak tahu sejauh apa kesetiaan yang Surya miliki untuk Siska. Tapi ia yakin pria manapun akan menyukai keindahan semacam ini.
Surya keluar dari dapur untuk mengambil air minum dan membawanya ke depan ruang TV. Ia sendiri lalu duduk di sana dan mulai menyalakan TV dengan remot yang ada di atas meja. Surya menoleh ke arah pintu kamar ketika Gina muncul dari dalamnya. Surya menelan ludah memandang Gina yang mematung di depan pintu seperti itu.
"Nona, kenapa memakai seperti itu?" Ujar Surya sambil meminum lagi airnya hingga habis. Ia seperti merasa sangat kehausan sekarang. Matanya belum beralih dari Gina.
"Kenapa?" Tanya Gina jadi salah tingkah dipandang Surya seperti itu. Pandangan Surya benar-benar membuat jantungnya berdebar semakin kencang. Mata coklat itu seolah meneduhinya tapi sekaligus membuatnya merasa gerah.
"Itu terbalik, Nona." Ujar Surya menunjuk T-Shirt milik Surya yang dipakai oleh Gina dipakai secara terbalik olehnya.
Gina melihat baju yang ia pakai itu dan segera kembali masuk ke dalam tanpa aba-aba. Surya tertawa kecil melihat Gina seperti itu.
"Ini karena aku terburu-buru." Gumam Gina kesal sambil memakai bajunya kembali setelah ia balik dari bagian dalam ke bagian luar.
Beberapa saat yang lalu Gina sangat yakin ingin menyambut Surya dengan memakai gaun malam yang indah itu. Tapi kemudian ia berfikir kembali. Jika ia menarik hati Surya dengan menggunakan tubuhnya maka hanya akan sebatas itu saja ia bisa memiliki Surya. Hatinya mungkin akan tetap menjadi milik Siska. Sehingga ia membatalkan niatnya untuk menggunakan cara itu demi merebut hati Surya. Sehingga Gina lalu menukar kembali bajunya dengan baju yang biasa ia pakai.
Setelah memakai bajunya dengan benar, Gina lalu keluar dari dalam kamar dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa. Surya melihatnya dan menggeser tubuhnya agar Gina bisa duduk di ujung sofa dan menikmati martabak telur yang ia bawa.
"Apa ada yang datang, Nona?" Tanya Surya karena melihat ada dua cangkir bekas teh masih ada di atas meja.
"Oh, Mbak Yuyun." Jawab Gina singkat lalu menggigit martabaknya.
"Ada apa?" Tanya Surya heran karena Mbak Yuyun datang ke rumahnya.
"Aku memintanya mengirimkan suatu barang ke sini tapi Mbak Yuyun malah mengantarnya sendiri." Gina melahap satu potong martabak yang ia ambil itu.
"Apa?" Tanya Surya heran karena apakah itu adalah barang yang sangat penting sampai-sampai Gina ingin segera diantar.
"Bukan apa-apa. Hanya sebuah barang." Jawab Gina dengan sedikit gugup tapi ia berusaha menutupinya. Ia jadi malu mengingat hampir saja ia memamerkan gaun malam transparan itu kepada Surya untuk menggodanya.
Ia tahu akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian Surya tapi ia bukan wanita seperti itu. Ia bukan wanita murahan yang bisa menggunakan tubuhnya untuk menarik perhatian lawan jenis terutama Surya. Gina mulai berfikir kembali bahwa cara menarik hati Surya bukanlah dengan cara seperti itu tapi ia harus bisa menyentuh hatinya dengan tindakan yang tepat. Dengan berusaha menjadi istri yang baik atau dengan perhatian-perhatian yang mungkin akan membuat Surya luluh nanti.
__ADS_1