Tahta Surya

Tahta Surya
Cinta Kehilangan Panca Indra


__ADS_3

"Wah, pasti sangat menyenangkan pengantin baru kemana-mana selalu bersama." Hanna menggoda Gina.


"Menyenangkan apanya."


Mereka semakin akrab satu sama lain sehingga Hanna sudah memiliki keberanian untuk melakukan hal yang seperti ini. Mereka bahkan sedikit demi sedikit sudah mulai membuka rahasia-rahasianya. Termasuk tentang pernikahannya yang memiliki perjanjian.


Gina semakin merasa nyaman berteman dengan Hanna. Semua hal pribadinya juga mulai ia buka kepada Hanna. Sebenarnya Gina yang jarang memiliki teman wanita memang selalu antusias bila memiliki teman wanita. Rasanya sangat menyenangkan bisa bercerita dan berbagi sesama wanita. Ia akan lebih mendapat pemahanan secara personal karena memiliki karakter dan perasaan yang sama. Sama-sama wanita.


"Hanna, makan siang nanti mari kita makan daging bakar." Ajak Gina.


"Sate atau Steak?" Tawar Hanna.


"Sate saja. Aku rindu aroma daging di atas arang." Sejak Hanna mengajak Gina makan di warung sate waktu itu Gina menjadi suka makan sate. Gina selalu makan sate di restoran ternama sehingga tidak pernah mencium aroma bakaran dari arang. Dan saat pertama mencium aroma sate ia seperti menemukan cita rasa baru dalam sebuah daging bakar.


Dan benar saja siang ini mereka sudah berada di sebuah warung sate kambing. Gina memesan dua porsi sate yang berisi 20 tusuk sate. Hanna hanya memesan satu porsi saja dan juga seporsi gulai kambing.


"Ini adalah warung sate yang menurut saya paling enak di kota ini, Nona." Ujar Hanna sambil menunggu pesanan mereka yang masih berada di atas arang membara.


"Benarkah? Pantas saja tempat ini ramai pengunjung."


"Warung sate ini juga sering didatangi para pembuat konten kreatif, Nona."


"Oh ya? Sebegitu populernya?"


"Ya, semakin banyak yang meliput akan semakin banyak yang penasaran. Entah mencoba makanannya atau untuk turut meliput juga."


"Ahh iya kau benar."


Percakapan mereka terpaksa terjeda sampai di situ karena pesanan mereka datang.


Sebenarnya Gina adalah orang dengan selera makan tinggi sehingga ia harus rajin berolah raga untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuhnya. Itulah sebabnya ia membeli alat gym untuk ia gunakan di rumahnya kapanpun ia mau. Ia juga memiliki tutor yang memandunya di rumah di hari-hari tertentu ketika ia tidak ingin pergi ke tempat gym dimana dirinya sudah menjadi member.


"Hanna, apa yang itu pacarmu?" Tanya Gina disela-sela makan mereka.


"Maaf, Nona?" Hanna kaget dengan pertanyaan Gina.


"Yang berbincang denganmu tadi pagi di dekat pintu tangga darurat."


"Oh dia hanya teman, Nona."


"Ku pikir dia pacarmu. Waktu itu kau katakan pacarmu juga pegawai R-Company. Jadi aku langsung menebak dia adalah pacarmu."


"Ahh, tidak Nona." Jawab Hanna melanjutkan lagi aktifitas makannya.


"Lalu pacarmu yang mana?" Gina penasaran.


"Sepanjang hari kau selalu bersamaku jadi kapan kau bisa bertemu pacarmu? Apa kau dan dia pergi dan pulang bersama setelah kerja?"


"Tidak juga, Nona." Hanna tersenyum.


"Oh, sepanjang weekend kalian pasti tidak ingin berpisah antara satu sama lain karena selama weekdays kalian bahkan tidak bisa bertemu." Analisa Gina.

__ADS_1


"Mmm... tidak juga, Nona." Lalu Hanna melanjutkan makan lagi dan menanggapi Gina dengan senyum saja.


"Oh ya? Lalu kapan kalian bertemu?"


"Saat kami sama-sama memiliki waktu bertemu."


"Ya Tuhan, apa-apaan itu. Gaya berpacaran model apa itu? Sangat tidak menyenangkan. Bagaimana bisa satu tempat tapi tidak saling bertemu. Dan juga tidak memiliki jadwal rutin untuk saling bertemu."


"Kami sama-sama sibuk, Nona. Jadi tidak masalah jika kami tidak bertemu sementara waktu."


"Kalian ini seperti pasangan korban LDR. Long distance relationship."Hanna menanggapi dengan senyum lagi.


"Baiklah, sesekali kau boleh tidak selalu bersamaku. Kau boleh menemui pacarmu saat jam istirahat. Kau tidak harus makan siang bersamaku. Rasanya itu seperti aku sangat kejam kepadamu sampai tidak memberimu kesempatan menjalani hidupmu sendiri. Kau bekerja disini untuk gaji atas jasamu, bukan untuk seluruh hidupmu. Jadi, jangan sungkan jika kadang kau ingin menemui pacarmu di tempat kerja."


"Terima kasih atas kebaikan Nona. Tapi kami nyaman dengan yang kami jalani."


"Dasar pasangan yang aneh." Cibir Gina.


"Aku bahkan pernah sangat menginginkan memiliki pacar di tempat kerja. Jadi kami bisa saling mencuri waktu untuk bertemu, untuk saling sapa, atau saling berdebar saat tiba-tiba berjumpa. Atau kami bisa sedikit bermesraan di tangga darurat ataupun di dalam lift. Ahh, alangkah serunya." Gina merona saat menceritakan imaginasinya berpacaran di tempat kerja.


"Anda bisa melakukan semuanya dengan Pak Surya, Nona."


"Dengan Surya? Kau pasti bercanda. Mana bisa aku melakukan semua itu dengannya. Sangat tidak mungkin." Gina menunjukkan wajah kesal. Hanna sudah harus berhenti menggoda Gina saat ia sudah terlihat seperti itu.


"Tapi ngomong-ngomong, pacarmu ada di divisi apa?" Gina menyelidik lagi.


"Kenapa, Nona?"


"Aku ingin tahu pacarmu yang mana." Gina membuka air mineral dalam kemasan yang ia pegang.


"Waahh, kalau seperti itu kau mungkin terkena sindrom cinta buta?" Goda Gina.


"Semua cinta itu buta, Nona." Gina tersipu.


"Benarkah?" Gina mengerjapkan matanya tidak percaya.


"Ya. Kita tidak akan peduli bagaimana wajah dan penampilannya saat kita sudah mencintainya. Bahkan ketika kakinya bau, ketiaknya juga memiliki aroma yang memusingkan, dan semua orang mencibirnya, itu tidak akan mengurangi rasa cinta kita kepadanya."


"Yang benar saja. Itu bukan lagi cinta buta namanya. Tapi itu cinta kehilangan panca indra. Bagaimana bisa tidak melihat, tidak membau bahkan tidak mendengar sedangkan yang dia hadapi sangat 'menyeramkan'." Gina bergidik membayangkan jika memiliki pacar dengan ciri yang disebutkan Hanna.


"Begitulah kalau cinta sudah membutakan hati, Nona." Hanna tertawa kecil.


"Benarkah? Selama ini aku tidak pernah merasakan itu. Pacarku banyak tapi aku tidak pernah segila itu untuk mencintai pria diluar tipeku." Setelah mengatakan itu lalu Gina meminum air mineralnya.


"Aku selalu memilih pria dengan karakter baik. Si tampan, si jenius, si kaya, si populer, merekalah pria-pria yang layak menjadi pacarku. Yang tidak memenuhi kriteria, jangan harap bisa dekat denganku. Dan, kalau bukan karena R-Company aku tidak akan dekat dengan Surya. Kau tahu itu bukan." Hanna memandang Gina dan menyimak setiap kalimatnya. Sate di depannya sudah habis. Suasana warung sate itu semakin ramai pengunjung.


"Tapi menurutku Pak Surya lumayan, Nona."


"Lumayan bagaimana?"


"Wajahnya tampan. Wajah sangat pribumi. Dia juga cerdas."

__ADS_1


"Tampan?" Gina tertawa dan itu membuat orang di meja seberangnya menoleh mencari tahu siapa yang tertawa seperti itu di dekatnya. Mengetahui itu Gina lalu menghentikan tawanya dan mengatur letak duduknya kembali.


"Dari sudut mana ketampanannya bisa kau lihat? Karena aku tidak menemukannya sama sekali." Gina berganti tertawa kecil agar tidak membuat kegaduhan seperti sebelumnya.


"Entahlah Nona, menurutku dia lumayan tampan. Hanya saja memang penampilannya terlalu biasa."


"Benarkah? Menurutku bagaimanapun penampilannya, dia akan tetap sama kampungannya." Ujar Gina cuek. Sudah tidak mau mendebat Gina lagi, Hanna pamit untuk ke kamar kecil.


Tiba-tiba ponsel Gina bersuara. Nama Surya terpampang jelas di layar ponselnya.


"Apa dia benar-benar memiliki guru spiritual? Baru saja aku membicarakannya, sekarang dia langsung menelepon. Dasar." Setelah mengutuk Surya, akhirnya Gina mengangkat teleponnya juga.


"Ya. Ada apa?" Jawab Gina malas.


"Nona, saya ingin Anda datang ke sini. Saya menunggu Anda sekarang."


"Heh, mentang-mentang ini jam kerja lalu kau memerintahku seperti aku adalah bawahanmu?" Gina menyolot.


"Lagipula jam makan siang belum berakhir jadi jangan menggangguku."


"Saya tahu Anda sudah menyelesaikan sepiring sate di depan Anda Nona. Jadi saya harap Anda segera kemari." Mendengar itu Gina celingukan ke kanan dan ke kiri mencari Surya yang bisa tahu aktivitasnya saat ini.


"Kau memata-mataiku? Apa kau tidak punya pekerjaan?" Gina menyolot.


"Tidak Nona, tapi saat ini kita harus menghadiri sebuah pertemuan penting. Jadi saya harap Anda bisa segera datang. Seseorang sudah menunggu Anda di luar, Nona."


"Luar?" Gina celingukan melihat ke arah luar warung. Dan tepat di depan warung seorang pria bersetelan hitam berdiri di samping mobil Surya.


"Bagaimana kau menemukanku?" Tanya Gina bingung karena Surya tahu tempatnya makan siang bersama Hanna.


"Ya Tuhan, kau benar-benar memata-mataiku?" Gina tersadar dengan apa yang dialaminya.


"Nona, pertemuan ini sangat penting jadi saya harap Anda bergegas."


"Tidak, aku tidak mau."


"Nasib R-Company ada di tangan Anda, Nona. Jika pertemuan ini berjalan lancar, Papa pasti akan sangat senang."


"Oh ya?" Gina mulai tertarik saat Surya menyebut papanya.


"Saya tunggu Anda sekarang juga, Nona."


Gina memasuki mobil Surya yang dikendarai oleh seorang sopir. Hanna keluar dari kamar kecil dan menuju mejanya tapi tidak menemukan Gina di sana. Sampai sebuah pesan masuk ke ponsel di tangannya.


Aku sedang ada urusan. Kembalilah ke kantor lebih dulu. Jika sampai jam pulang aku tidak kembali, pulanglah tepat waktu. Jangan lembur. Temuilah pacarmu. Ini perintah.


Hanna tersenyum membaca pesan Gina. Lalu ia memasukkan ponsel ke dalam saku tasnya dan keluar dari warung untuk kembali ke tempatnya bekerja.


Beberapa saat setelah berada di mobil Surya untuk menuju ke tempat yang Surya maksud, Gina menuruni mobil dan berjalan ke tempat Surya berada. Penuh tanda tanya di kepala Gina sepenting apa pertemuan itu sehingga kehadiran Gina menjadi sebuah keharusan.


Apakah ini adalah pertemuan serah terima saham? Serah terima jabatan? Tiba-tiba langkah Gina menjadi ringan seiring imajinasinya yang melambung tinggi. Dan senyumnya pun terkembang saat melihat Surya duduk di mejanya di ruangan itu.

__ADS_1


"Hai." Sapa Surya kepada Gina dengan mata berbinar dan senyum mengembang sambil berdiri dari duduknya untuk menyambut Gina. Agak aneh melihat ekpresi Surya yang seramah itu untuk orang yang sebentar lagi kehilangan jabatannya. Tapi walau begitu Gina tetap membalasnya dengan senyum juga.


"She is my wife." Surya menggenggam jemari Gina dan memperkenalkannya pada seluruh penghuni meja. Saat itu Gina sadar orang yang ada di meja itu adalah orang-orang yang tidak Gina kenal sama sekali.


__ADS_2