
Gina menjuntaikan kakinya masuk ke dalam sungai yang mengalir di bawahnya. Rasa dingin menyentuh kulit kakinya tapi itu memberi sensasi segar. Ikan-ikan kecil berenang berkelompok berkejar-kejaran. Gina suka melihat itu dan teringat pada kolam di rumah Surya dengan ikan koi berwarna belang-belang merah disana.
Kenangan bersama Surya di rumahnya kembali datang. Gina tersenyum sendiri mengingat momen-momen yang membuatnya terlihat konyol tapi sekaligus membuatnya bahagia. Bersama Surya memang bisa membuatnya sebahagia itu. Bahkan walau hanya dengan hal sederhana, berbincang dengannya, makan bersama dan melihatnya tidur terlelap bisa membuat perasaannya berbunga-bunga.
Gina menarik nafas berat dan menghebuskannya. Suasana perlahan menjadi redup. Bayangannya yang sedang duduk di atas batu ditepi sungai sudah hampir memudar. Beberapa hari di sini membuatnya mulai mengenal tempat ini. Dan melihat sungai ini membuatnya ingin turun ke sana. Airnya yang sangat jernih dan menimbulkan suara gemericik saat mengalir cukup menenangkan hatinya.
"Saya merasa lega ternyata Anda berada di sini." Suara tiba-tiba dari belakangnya dan membuat Gina hampir melompat karena kaget.
"Ya Tuhan!!!" Gina memegangi dadanya dengan detak jantung yang spontan melompat.
Surya tersenyum melihat reaksi Gina terhadap kedatangannya. Gina memandang Surya yang sekarang duduk disampingnya, melepas sepatunya dan turut menceburkan kakinya ke dalam sungai. Merasa diperhatikan oleh Gina, lalu Surya menoleh kepadanya sambil tersenyum.
"Anda heran kenapa saya bisa tahu?" Ujar Surya masih dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Kau punya mata-mata yang juga membuntutiku?" Tanya Gina membalas tatapan Surya.
"Bisa dikatakan begitu."
"Apa kau meretas ponselku?" Gina mengambil ponsel di saku belakang celana jeansnya dan melihat ponselnya masih mati.
"Apa badan intelijen yang kau bayar juga bisa meretas informasi dari ponsel yang mati?"
"Saya punya banyak cara untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, Nona."
"Wah, sombong sekali." Gina tersenyum sinis sambil mengalihkan pandangannya ke depan memandang rumpun bambu di seberang sungai.
Surya masih memadang Gina dan lagi-lagi merasa lega karena menemukan keberadannya. Saat ia mendapatkan informasi dari Hanna tentang Gina yang mungkin berlibur ke Bali kemudian anak buahnya yang ada di sana melaporkan bahwa tidak ada tanda-tanda keberadaan Gina. Entah bagaimana tapi Surya memikirkan bahwa bali yang ia katakan kepada Hanna bukanlah nama tempat tapi nama makanan yang ia sukai. Dan pertama ia memakan bali adalah masakan ibu Surya.
"Ayu..." Surya menyapa Ayu dari sambungan ponselnya kemarin.
"Apa Gina berada di situ?"
"Tidak ada, Mas." Jawab Ayu dan itu membuat Surya lemas karena harapannya bisa menemukan Gina yang sedang ingin makan masakan ibunyalah yang menarik Gina untuk datang ke kampung halamannya pun pupus.
"Memang ponsel Mbak Gina kenapa, Mas. Kenapa tidak menghubungi langsung ke ponselnya?" Mendengar itu Surya diam sejenak mencerna kalimat Ayu. Karena dari ucapan Ayu yang ia dengar, itu mungkin saja Gina sebenarnya memang ada di sana.
"Entahlah, mungkin baterainya habis atau tidak ada sinyal, saat ku telepon ponselnya tidak aktif." Surya masih berusaha memancing-mancing Ayu. Ia tidak ingin Ayu tahu ia sedang kehilangan Gina yang pergi entah kemana. Kalau sampai ia tahu mungkin Ayu akan melapor kepada kedua orang tuanya dan mereka akan berfikir terjadi sesuatu yang tidak baik dengan keduanya. Itu bisa membuat orang tuanya panik dan akan menanyakan banyak hal padanya sehingga masalah akan jadi bertambah runyam sebelum Surya menjelaskan.
"Apa perlu aku memberitahu Mbak Gina kalau kau ingin bicara dengannya agar dia mengaktifkan ponsel?" Dari apa yang Surya dengar kali ini ia langsung bernafas lega karena yakin bahwa Gina berada di rumahnya di kampung.
"Tidak, jangan. Biarkan saja. Mungkin sebentar lagi aku bisa menghubunginya." Jawab Surya akhirnya.
Entah kenapa Gina melakukan ini, pergi ke kampung halaman Surya tanpa dirinya dan tanpa pamit pula. Apa yang ingin ia lakukan di tempat asal Surya ini tanpa dirinya? Apakah itu memang benar karena ia sedang rindu masakan bali buatan ibunya ataukah ada hal lain yang jelas Gina pasti tidak ingin ia tahu apa alasannya pergi ke kampung halamannya saat ini dengan cara seperti ini?
"Nona, hari sudah mulai gelap. Mari kita pulang." Ajak Surya. Gina masih tidak bergeming. Ia masih menunduk sambil memainkan kakinya di dalam air.
"Nona..." Panggil Surya karena Gina tidak menghiraukannya.
"Kenapa mencariku?" Tanya Gina langsung tanpa basa-basi.
"Karena Anda tidak ada di rumah."
"Aku sudah sangat cukup umur untuk pergi tanpa pengawasan seorang wali."
"Tapi saya adalah suami Anda." Ucapan Surya membuat Gina menatapnya tajam.
"Sesuatu yang hanya tertulis di atas kertas seharusnya tidak mempengaruhimu sampai demikian. Kita memang menikah, tapi kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing jadi kau tidak perlu berusaha seolah peduli padaku."
__ADS_1
"Apakah kepedulian dan kekhawatiran itu harus ada pada sepasang suami istri saja? Seorang teman pun boleh mempunyai rasa khawatir."
"Tapi kita juga bahkan bukan teman." Gina menatap Surya marah. Surya hanya diam membalas tatapan mata Gina. Sebaliknya mendapat tatapan itu Gina akhirnya membuang muka karena merasa desiran hangat di dadanya muncul lagi.
"Baik, anggap saja saya adalah pengawal pribadi Anda yang harus selalu memastikan Anda dalam keadaan baik-baik saja kapanpun dan dimanapun berada."
"Baiklah, karena kau adalah pengawal pribadiku, aku akan memberimu perintah untuk meninggalkanku sendiri. Aku sedang tidak ingin melihatmu."
"Karena saya adalah pengawal pribadi yang bertugas menjaga keselamatan Anda, jadi Anda tidak bisa mengusir saya begitu saja. Misi sudah tidak bisa dibatalkan."
"Kau ini benar-benar keras kepala." Gina menatap Surya tajam.
"Kau tahu, berada dekat denganmu seperti ini membuatku semakin ingin memilikimu. Membuatku ingin menguasaimu dan tidak ingin orang lain bersamamu. Aku takut akan menjadi posesif terhadapmu padahal kau sudah memiliki orang yang lebih berhak melakukan itu padamu." Ujar Gina panjang lebar.
"Jangan dekat. Jaga jarak. Kau harus memastikan jarak amanmu padaku. Karena aku bisa saja semakin menyukaimu kalau kau terus saja memberi perhatian padaku seperti ini. Aku memiliki hati jadi jangan selalu kau buat berharap kepadamu." Ujar Gina selanjutnya. Surya tidak menjawab apapun yang Gina katakan, ia hanya menyimak dan menatap Gina dengan seksama. Melihat itu Gina menjadi kesal karena tidak ada tanggapan apapun dari Surya. Dan itu membuatnya beranjak pergi dari tempat itu.
Melihat Gina yang beranjak dari tempatnya dengan terburu-buru, Surya pun mengikutinya. Tapi ia harus tertinggal dari Gina karena mengambil sepatunya yang ia lepas dan juga sandal Gina yang ditinggalkan begitu saja.
"Nona, tunggu." Teriak Surya yang menaiki sebuah tangga batu dari sungai dibawah jalan desa itu. Tapi Gina tidak menghiraukannya dan berjalan tanpa memakai alas kaki. Surya menyusulnya dengan tangan menenteng sepatunya dan sandal milik Gina.
"Nona, pakai dulu sandalnya. Anda bisa terluka. Jalannya berbatu. Kaki Anda bisa sakit." Bujuk Surya yang berjalan mensejajarinya.
Berhasil, Gina berhenti dan mengambil sandalnya dari tangan Surya lalu memakainya dan kembali berjalan tanpa menghiraukan dirinya. Surya masih berjalan di samping Gina yang terlihat sekali sedang marah padanya.
"Berhenti." Seru Gina. Mendadak Surya pun berhenti mengikuti instruksi Gina.
"Ada apa, Nona."
"Kita harus menjaga jarak. Jangan dekat-dekat denganku."
"Tapi, Nona..."
"Nona, jalanan di sini gelap. Anda bisa terjatuh kalau berjalan sendirian."
"Kau pikir aku orang bodoh yang buta? Sampai tidak bisa berjalan sendirian. Sudah. Diamlah disini dan jangan terlalu dekat denganku." Surya mematung mendengarkan instruksi Gina. Menurut dengan ucapannya lalu berbalik badan berjalan berlawanan dengan Gina.
Gina lalu berjalan tanpa mempedulikan Surya dibelakangnya. Surya benar-benar merusak rencanannya. Gina pergi ke tempat ini adalah untuk menghindari dirinya. Gina sedang tidak ingin bersama Surya. Ia sedang ingin sedikit melepaskan beban di hatinya. Beban cinta bertepuk sebelah tangannya kepada Surya. Melihat Surya masih saja dekat dengan Siska walau dia berusaha menarik hatinya membuat Gina berfikir untuk menyerah saja. Apalagi Surya juga berniat untuk mengundurkan diri dari R-Company, itu membuat Gina yakin Surya sungguh ingin terlepas darinya. Ingin menjauhinya dan akan bersama Siska karena hubungan mereka sudah terkuak. Bahkan seluruh pegawain R-Company membicarakan cinta segitiga mereka. Itu membuat Gina kesal karena ia seperti seorang istri yang diselingkuhi oleh suaminya. Kalau difikir-fikir, rasanya itu memalukan bagi Gina. Bagaimana bisa seorang seperti Gina diduakan oleh seorang pria. Walaupun itu hanya akan jadi opini publik, tapi nama Gina tetap akan dibicarakan karena hal itu.
"Nona, mari saya bonceng." Tawar Surya pada Gina dengan sepeda federal yang ia bawa tadi.
"Tidak, terima kasih." Tolak Gina tegas kepada Surya yang masih berada di atas sepedanya dengan jalan lambat hampir sempoyongan karena dalam keadaan seperti itu sepedanya menjadi berjalan tidak seimbang.
"Rumah masih jauh, Anda akan lelah sampai sana."
"Biar saja."
"Lagi pula hari sudah gelap. Jalanan ini juga sepi. Apa Anda tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa."
"Kalau senja begini biasanya makhluk dunia lain mulai bangun dan kembali menunjukkan eksistensinya. Terutama di tempat seperti ini, Nona." Gina masih terus berjalan dan tidak menanggapi Surya sama sekali walaupun sedang menakutinya.
"Anda yakin tidak apa-apa pulang jalan sendirian."
"Jangankan hantu yang tidak kasat mata. Aku bahkan tidak takut walau itu Hulk yang menghadanku. Aku pastikan akan membunuh siapapun yang berani mengusikku. Termasuk kau." Gina memelototi Surya.
"Sudah pergi sana, aku sedang malas melihatmu." Gina mendorong bahu Surya agar ia mengayuh sepedanya lebih dulu dan meninggalkannya.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu memang mau Anda. Saya jalan lebih dulu, Nona." Kali ini Surya benar-benar mengayuh sepedanya dan meninggalkan Gina sendirian. Gina berpura-pura tidak menghiraukan dan masih berjalan kaki di jalan berbatu itu.
"Apa? Dia benar-benar meninggalkanku?" Gina sekarang menjadi kesal karena Surya benar-benar pergi meninggalkannya di jalan sepi itu sendirian.
"Ya Tuhan, teryata dia setega itu." Diam-diam Gina menyesal sudah mengacuhkan Surya dan jadi benar-benar sendirian sekarang.
Dari tempatnya berdiri ia sudah melihat Surya mengayuh sepedanya semakin jauh dan Gina semakin merasa seram. Jalan gelap dan sepi yang disamping kanan dan kirinya hanya ditumbuhi rumpun bambu. Gina mulai berekspektasi tentang hal-hal seram di dalam kepalanya. Ia lalu mempercepat jalannya, semakin cepat dan semakin cepat. Karena sudah tidak tahan dengan suasana menyeramkan itu, Gina pun berlari sekuat tenaga agar cepat sampai daerah pemukiman warga. Dan setelah berlari beberapa jauh, akhirnya Gina mulai mamsuki daerah perkampungan. Di ujung kampung itu ada sebuah rumah yang saat ia melihatnya tadi sore merasa rumah itu memiliki gaya bangunan paling modern dari sekian banyak rumah di kampung ini. Gina berhenti di depan rumah itu sambil menata nafasnya yang terengah dengan keringat yang membasahi dahinya. Di depan rumah itu berhenti seorang tukang bakso dengan gerobaknya. Sepertinya seseorang sedang memesan baksonya. Tiba-tiba rumah itu mendadak menjadi terang benderang. Gina bisa melihat setiap detail bagian luar rumah dengan pencahayaan yang baik itu.
"Hai, Nona..." Gina yang masih duduk berjongkok karena lelah dan terengah segera menoleh ke sumber suara yang menyapanya. Yang ia temukan adalah Surya dengan membawa dua buah mangkuk kosong.
"Apa yang Anda lakukan disana?" Tanya Surya.
"Kau... kenapa keluar dari sana?"
"Saya mau membeli bakso."
"Tapi mangkuk itu?"
"Iya, agar Abang tukang baksonya tidak perlu menunggu. Jadi saya membawa mangkuk sendiri." Gina berdiri dari duduknya berjongkok lalu mendekati Surya yang sudah menyerahkan mangkuk untuk diisi oleh Abang tukang bakso.
"Rumah siapa?" Akhirnya tanya Gina pada rumah tempat Surya keluar gerbangnya tadi.
"Rumah saya." Jawab Surya santai.
"Rumahmu?" Gina mengalihkan pandangan pada rumah bergaya modern tropis itu. Ia pernah melihat rumah model seperti itu di sebuah katalog agen properti saat iseng-iseng memasuki sebuah pameran properti di pusat perbelanjaan.
Rumah yang Gina lihat dari luar pagar sebagai rumah dengan banyak cendela kaca dengan di bagian depan dan samping. Lalu terasnya terdapat sebuah sepasang meja kursi panjang terbuat dari kayu yang di atasnya tergantung lampu yang cukup terang. Di samping rumah terdapat sebuah pohon yang terlihat baru saja di tanam dengan tinggi setinggi manusia yang dikelilingi dengan bebatuan apung berwarna putih. Halaman luas dengan rumput taman yang hijau. Di rumah ini tidak ada tanaman bunga seperti di rumahnya di kota.
"Nona, Anda mau sambal berapa sendok?" Tanya Surya pada Gina yang masih mengagumi rumah yang tidak begitu besar tapi sangat manis itu. Rumah itu bahkan hanya berlantai satu, bukan rumah dua lantai.
"Satu sendok." Jawab Gina tidak melepas kekagumannya pada rumah yang ada di hadapannya.
"Mari Nona." Ajak Surya sambil masuk ke dalam halaman rumah.
"Hei, siapa yang ingin ikut denganmu." Jawab Gina acuh sambil mengalihkan pandangan pada Abang tukang bakso yang mulai berjalan sambil mendorong gerobak untuk kembali berjualan keliling.
"Lalu siapa yang akan memakan bakso dengan satu sendok sambal ini?" Mendengar itu Gina gelagapan karena ia ingat tadi memang dia yang menginsruksikannya.
"Kau benar-benar menjebakku." Gumam Gina dan membuat Surya menahan tawa atas tuduhan wanita di depannya.
"Cepatlah Nona, mangkuk ini cukup panas." Surya menenteng mangkuk berisi bakso dengan kepulan uap panas di atasnya dan memasuki pagar.
Gina menatap Surya yang berjalan memunggunginya lalu kemudian ragu-ragu turut masuk juga. Kakinya melangkah menapaki jalan beton yang menuju ke sebuah rumah yang Surya katakan sebagai rumahnya.
Gina sudah duduk di sebuah bangku panjang menghadapi baksonya. Surya pamit akan mengambil air minum dan juga sendok ke dalam rumah. Gina masih tidak berhenti mengagumi rumah itu. Rumah sederhana tapi indah di sebuah kampung.
"Ini, Nona." Surya sudah berada di luar membuyarkan konsentrasinya tentang sekitar dan menerima sendok yang diulurkan oleh pria yang belakangan menyita perhatiannya.
"Sepertinya Anda sangat menyukai rumah ini." Ujar Surya menggoda Gina.
"Tidak." Jawab Gina berbohong dan Surya tahu itu. Gina mulai menyendok baksonya dan menghindari pembicaraan dengan Surya.
"Jadi, kenapa Anda berlibur ke sini?" Tanya Surya. Gina masih menyendok baksonya dan belum ingin menjawab.
"Apakah itu karena Anda benar-benar rindu bali telur buatan ibu atau karena..." Surya menggantungkan kalimatnya dan membuat Gina menatapnya karena penasaran dengan ucapan Surya selanjutnya.
"... ingin menghindari saya?" Gina meletakkan sendoknya.
__ADS_1
"Tidak keduanya." Jawab Gina perlahan tapi terasa dingin saat Surya mendengarnya.
"Aku ke sini karena aku harus mempertahankanmu ada di dekatku." Surya memandang Gina lurus dengan ketidakfahaman yang ia miliki saat ini atas kalimat wanita di depannya.