Tahta Surya

Tahta Surya
Khawatir


__ADS_3

"Banyak bicara kau." Pria itu melayangkan pukulan ke wajah Gina. Tapi Gina cepat menangkis dan menendang pangkal paha pria itu. Dengan sekali tendangan pria itu jatuh terjungkal memegangi 'asetnya' yang sangat berharga dengan kesakitan.


Lima pria yang bersama preman itu bermaksud menghampiri tapi Gina mengeluarkan ponselnya dan memencet sebuah nomor.


"Hallo, kantor polisi. Saya sedang ada di sebuah desa dan dikeroyok oleh enam orang. Tolong bantuan segera." Gina mengarahkan layar ponsel kepada pria yang terjatuh karena tendangan Gina tadi. Pria itu membaca nomor yang tertera di layar ponsel itu adalah 110, layanan darurat polisi. Melihat itu, ia lalu mengomando anak buahnya untuk tidak mendekat.


"Oh iya, siapkan juga ambulan. Bukan, bukan untuk saya. Saya baik-baik saja. Tapi disini ada satu korban yang tampaknya sangat kesakitan." Gina melirik preman yang kesakitan itu berusaha bangun. Salah satu anak buahnya berusaha membantunya berdiri.


Gina mematikan teleponnya saat preman itu sudah berdiri dengan tegak tapi wajahnya masih terlihat menahan rasa sakit.


"Aku merasa kita tidak memiliki urusan. Kalau kalian melakukan ini demi solidaritas, sebaiknya jangan. Karena solidaritas itu akan benar-benar membawa kalian semua ke penjara juga, mengikuti teman kalian." Gina berbicara cukup tenang.


"Bagaimana bisa kalian marah padaku sementara teman kalian sudah berusaha mengambil ponselku."


"Sudah... jangan menceramahi kami. Kami tahu apa yang harus kami lakukan."


"Mengeroyokku?" Gina memelototkan matanya dan tampak marah.


"Baiklah, kalau kalian mau itu. Tapi kalau pada akhirnya kalian tidak hanya masuk penjara tapi juga masuk rumah sakit karenaku, aku bisa apa selain membela diri dan membuat kalian merasakan akibatnya." Gina mulai benar-benar marah sekarang.


"Kalian, mau mendapatkan pukulanku juga?" Gina mengepalkan tangannya dan membuatnya menjadi berbunyi gemerutuk. Tampak para preman itu saling pandang. Pimpinan preman itu pun tampak menelan ludah karena grogi mengingat baru saja Gina mencelakai aset berharganya.


"Aku bisa walau melawan kalian sendiri. Kalian hanya bisa berkelahi tapi aku tahu teknik bagaimana berkelahi untuk membela diri." Ayu yang ada di belakang Gina sekarang tampak masih ketakutan walaupun Gina berusaha menghalau para preman itu untuk mendekati mereka dengan kata-katanya.


"Dasar perempuan jadi-jadian." Umpat preman itu. Mendengar itu Gina lalu berjalan menghampirinya. Tapi pria itu sudah memiliki trauma terhadap Gina, jadi baru saja Gina melangkah preman itu lari sehingga anak buahnya pun ikut lari menaiki motor mereka masing-masing dengan suara knalpot yang menyakitkan telinga.


Gina bernafas lega. Ayu mendekatinya.


"Mbak... mereka sudah pergi." Ujar Ayu. Gina juga diam-diam menghela nafas karena ancaman bahaya sudah tidak ada lagi.


Ia sengaja menggunakan sebuah tak tik karena ia tahu meskipun dirinya pandai bela diri tapi jika dikeroyok oleh enam pria sekaligus pastilah ia kualahan. Sehingga kali ini Gina harus menggunakan strategi, bukan otot. Dan berhasil, berkat bualannya para preman itu mundur juga.


"Ayo kita pulang." Ajak Gina.


"Apa mereka akan menghadang kita lagi?"


"Aku rasa mereka tidak mungkin lagi berani." Gina menaiki motor diikuti Ayu di jok belakangnya.


"Mbak Gina tadi benar-benar berbicara dengan kantor polisi?"


"Iya, tapi aku tidak benar-benar menghubungi kantor polisi. Aku hanya berbicara dengan mesih perekam mereka." Gina tertawa lalu menstarter motor Ayu.


Dalam perjalanan mereka tidak bicara apapun. Pikiran mereka tertinggal pada kejadian pagi ini yang menguras emosi dan tenaga. Apalagi Ayu yang melihat preman-preman berwajah bengis itu sangat ketakutan. Ia masih tegang walau telah sampai di depan rumah Surya. Surya dan Pak Wiro ada di teras rumah berbincang. Gina menghentikan motor di depan rumah, lalu Ayu turun dan diikuti dirinya.


"Ahh, aku sangat butuh minum air putih." Ayu lalu masuk ke dalam rumah Surya.


"Kenapa dia? Apa sepanas itu?" Surya bertanya pada Gina yang duduk di kursi depan Surya duduk.


"Sepertinya iya." Gina tersenyum dan meletakkan kunci motor Ayu di atas meja.


"Nona... tangan Nona kenapa?" Surya melihat kunci motor itu terdapat darah sehingga ia menyahut tangan Gina.


"Ahh, tidak apa-apa. Hanya luka kecil." Ujar Gina sambil berusaha menarik tangannya.


"Ambilkan obat sana, Sur." Pak Wiro juga khawatir.


"Tidak apa-apa, Pak." Gina meyakinkan.


"Aku ambilkan obat, Mbak." Ayu yang melihat itu kembali lagi ke dalam untuk mengambil obat.

__ADS_1


"Bagaimana Anda bisa terluka, Nona."


"Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak menyadarinya. Mungkin karena..."


"Tadi mbak Gina kena jambret." Sahut Ayu yang keluar membawa obat luka dan kapas.


"Jambret?" Ujar Surya dan Bapaknya hampir bersamaan.


"Lalu bagaimana?" Tanya Bapak Surya.


"Nona tidak apa-apa? Apa yang kena jambret? Anda terluka dimana lagi?" Tanya Surya panik.


"Tenanglah, aku tidak apa-apa. Ponselku juga sudah kuambil kembali." Gina memamerkan ponsel di tangannya yang lain. Tangan Gina yang terluka masih berada dalam genggaman tangan Surya.


"Bagaimana bisa, Nduk?"


"Iya Pak, itu salahku juga. Seharusnya aku tidak mengeluarkan ponsel di tempat umum karena itu akhirnya mengundang kejahatan."


"Tapi syukurlah kau tidak apa-apa, Nduk."


"Iya, Pak." Gina tersenyum pada ayah mertuanya.


Gina akan menarik tangannya tapi Surya menariknya lagi.


"Biar saya obati, Nona." Ujar Surya.


"Yu, ambilkan alkohol 70%." Ayu memberikan alkohol setelah diteteskan Ayu pada segumpal kapas. Gina meringis mendapatkan sentuhan-sentuhan Surya.


"Aww, perih sekali." Keluh Gina.


"Pelan-pelanlah, Mas." Ayu mengomentari.


"Kau tahu Mas, Mbak Gina ini hebat sekali. Jambretnya dikejar sampai dapat lalu dibanting."


"Benarkah?" Bapak Surya kaget mendengar cerita Ayu.


"Kau membantingnya, Nduk?" Tanya Bapak Surya tidak percaya. Gina hanya membalasnya dengan senyum menyengir karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa jambretnya masih anak-anak?"


"Tidak, Pakde. Jambretnya orang dewasa juga. Kira-kira badannya se... sePakde."


"Oalah..." Bapak Surya manggut-manggut.


"Kalau perlu istrimu bawa ke puskesmas, Sur."


"Untuk apa, Pak?" Tanya Surya sambil mengolesi salep luka di telapak tangan Gina. Gia tampak sesekali memejamkan mata menahan perih pada lukanya.


"Jangan sampai tangan istrimu infeksi. Lukanya panjang begitu. Itu tadi bagaimana kok bisa terluka?"


"Ahh, tidak apa-apa, Pak. Cuma luka kecil. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa terluka." Sambil Gina mengingat-ingat kira-kira luka itu berasal dari mana. Mungkin saat mengejar jambret tidak sengaja tangan Gina menyentuh benda yang tajam di pasar atau entah apa. Gina benar-benar tidak tahu sama sekali.


"Mbak, atau waktu menghajar preman dijalan tadi?"


"Preman di jalan? Katamu itu jambret, Yu? Kau ini, kenapa ceritamu berubah-ubah?"


"Iya Mas, Mbak Gina itu setelah dijambret di pasar lalu jambretnya di bawa mbak Gina ke pos satpam. Nah, setelah itu kita pulang. Baru pas pulang kita dihadang oleh teman-teman jambret itu."


"Dihadang?"

__ADS_1


"Iya, sepertinya mereka tidak terima temannya dibawa ke pos satpam oleh mbak Gina."


"Heeemmm... dasar orang edan, yang seperti itu kok ya dibela." Bapak Surya berkomentar.


"Biar aku suruh ibu membuatkan minum untukmu, Nduk. Sebentar Bapak ke dalam."


"Tidak usah, Bapak." Tolak Gina merasa tidak enak sambil meniup lukanya.


"Tidak apa-apa, Nduk." Bapak Surya tersenyum pada Gina lalu masuk ke dalam.


Surya menatap Gina yang masih meniup lukanya setelah diolesi salep. Gina yang merasa diperhatikan jadi kembali menatap Surya.


"Ada apa?" Tanya Gina yang merasa aneh ditatap seperti itu. Mata kecoklatan Surya seperti menelusuri kedalaman matanya. Lalu Surya meraih tangan Gina dan meniup lukanya.


"Seharusnya Anda menghubungi saya." Ujar Surya disela ia meniup lukanya.


"Betul, sayangnya aku tidak membawa hp, Mas. Jadi aku tidak bisa menghubungi siapapun." Sahut Ayu dengan wajah menyesal.


"Kenapa aku harus menghubungimu? Itu bukan masalah besar. Aku bisa mengatasinya. Jadi..."


"Karena Anda adalah istri saya." Jawab Surya menyela kalimat Gina. Gina menatap wajah Surya yang masih menunduk meniup luka di tangannya. Lalu ketika mengangkat wajahnya, Gina melihat wajah dingin itu berubah teduh baginya. Dan secara perlahan namun pasti, dada Gina menghangat merasakan sesuatu di sana.


"Apapun yang terjadi pada Anda adalah tanggung jawab saya secara penuh. Meskipun Anda lebih pandai berkelahi dari pada saya tapi saya tidak boleh diam saja saat istri saya menghadapi kesulitan."


"Apa-apaan itu. Sudah ku katakan itu bukan sesuatu yang sulit. Jadi aku tidak butuh siapapun. Aku sudah terbiasa melakukannya sendiri." Gina lalu terkekeh setelah mengatakan itu karena melihat wajah Surya yang berubah menjadi lebih dingin. Ada rasa takut di hati Gina sehingga ia berharap setelah mengajaknya tertawa, Surya akan mengerti bahwa dirinya memang baik-baik saja.


"Tapi sekarang Anda memiliki saya yang bisa Anda butuhkan kapanpun Anda mau." Surya menatap Gina lekat-lekat.


"Wah, seperti layanan Unit Gawat Darurat saja." Ayu menggumam sambil menahan tawa lalu keluar dari rumah Surya karena tidak mau menjadi wasit diantara kedua pasangan yang sedang beradu argumen itu.


Gina membuang wajah ke arah lain karena tidak ingin pandangan Surya semakin membuat debaran di dadanya lebih menggila.


"Mulai sekarang, percayakan semuanya kapada saya, Nona. Apapun yang Anda inginkan, mintalah kepada saya."


"Rasanya aku jadi seperti memiliki jin dalam botol." Gina tertawa kecil.


"Tidak Nona, jin di dalam botol hanya bisa mengabulkan tiga permintaan saja. Saya bisa melakukan jauh lebih banyak dari itu."


"Kau ini selalu menyombong. Memangnya kau punya kantong ajaib?"


"Kantong ajaib?" Surya tidak faham maksud Gina.


"Ya, kau bukan Doraemon jadi jangan menyombong dengan akan selalu melakukan segala hal untukku."


"Oh, saya lebih dari semua tokoh imajinasi para penulis dongeng itu, Nona. Jadi, selanjutnya jangan hadapi kesulitan Anda sendiri. Ada saya. Saya akan membantu Anda."


"Baiklah, aku tahu kerjamu yang bagus akan mengatasi masalahku tanpa masalah."


"Tapi saya bukan pegawai pegadaian, Nona." Mendengar itu Gina tertawa, Surya juga tertawa. Senang sekali melihat Gina tertawa seperti itu.


Surya tahu sudah lama Gina tidak tertawa selepas itu. Wajahnya sampai memerah karena tawanya. Ia sangat tahu Gina sudah terbiasa mendiri dan mengatasi masalahnya sendiri. Karena itulah salah satu faktor kenapa ia tumbuh menjadi gadis yang sangat percaya diri. Ia tidak takut kepada siapapun dan juga apapun. Baginya tidak ada hal yang sulit. Ia hanya butuh berusaha dan berusaha, untuk bagaimanapun hasilnya, Gina akan melihat pada akhirnya saja.


"Jadi, jangan ragu untuk memanggil saya, Nona."


"Baiklah, kalau aku membutuhkanmu aku akan memanggil namamu tiga kali."


"Tidak perlu sampai tiga kali. Cukup satu kali saja, saya akan datang."


"Baiklah, aku akan masukkanmu ke dalam daftar emergency call-ku." Gina lalu tertawa. Wajahnya terlihat segar saat tertawa begitu. Surya suka melihatnya. Wajah yang bersih dengan hidung mancung dan mata menyudut serta alis dengan ketebalan yang pas sangat enak dipandang. Bibirnya saat tertawa seperti itu memberikan pemandangan yang menenangkan. Pria manapun yang melihat Gina pasti akan suka berlama-lama memandangnya.

__ADS_1


__ADS_2