Tahta Surya

Tahta Surya
Balas Dendam


__ADS_3

"Mari kita berpacaran, Nona." Ujar Surya setelah mengungkapkan perasaan cintanya kepada Gina.


Gina yang merasa dilema dengan harus bagaimana menentukan sikapnya jadi bingung harus menjawab apa. Ia merasa ungkapan cinta Surya diucapkan di saat yang tidak tepat. Setelah menolaknya lalu sekarang tiba-tiba mengatakan cinta. Setelah mereka mengakhiri pernikahan, lalu sekarang Surya mengatakan telah jatuh cinta padanya. Gina merasa ia harus mempertahankan harga dirinya. Ia tidak ingin menjadi wanita gampangan terutama di depan Surya saat ini. Lagipula ia pun telah memiliki prinsip tidak akan kembali bersama dengan seorang mantan jadi Gina merasa ini harus menjadi hal yang tidak mudah bukan hanya untuknya. Tapi juga untuk Surya.


"Rayu aku." Itulah jawaban yang akhirnya Gina ucapkan. Bukan kalimat semacam meminta waktu untuk memikirkannya atau alasan lain yang Gina buat agar Surya harus menunggu, tapi Gina ingin melihat apakah mantan suami pura-puranya itu benar-benar serius terhadapnya atau tidak. Jika karena permintaan Gina lalu ia dianggap sebagai bagian dari sebuah rencana balas dendamnya, Gina akan mengakui itu. Ia memang ingin Surya merasakan apa yang pernah ia rasakan dulu terhadap Surya. Bagaimana Gina berusaha keras untuk menarik hati Surya dengan berbagai cara, mulai dari cara yang biasa hingga cara konyol dan membuat dirinya harus berusaha keras setiap harinya. Belajar memasak, mencuci baju, bersikap manis, dan hal-hal yang mungkin tidak pernah Surya sadari bahwa itu adalah bagian dari usaha Gina untuk menarik hatinya.


Surya yang mendengar jawaban Gina pun memandangnya lurus. Ia tidak mengatakan apapun tapi kemudian perlahan ia mengulas senyum mendengar itu.


Gina berjalan memasuki ruang tamu dengan fikiran yang masih tertinggal pada kejadian yang baru saja ia alami. Ia masih tidak menyangka jika Surya akhirnya kemudian benar-benar menyatakan perasaan cinta kepadanya setelah sebelumnya mengatakan bahwa telah putus dari Siska. Mengingat Siska, Gina jadi penasaran bagaimana kabar mantan sekretaris R-Company itu. Tiba-tiba muncul perasaan iba kepada mantan pacar Surya, meskipun Gina pernah mengungkapkan akan merebut hati dengan cara sportif, tapi sebenarnya Gina pun menyadari apapun caranya, yang namanya merebut tetaplah sebuah kejahatan. Hanya saja waktu itu ia ingin menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hati Surya, sehingga ia berdalih bahwa tidak apa-apa Gina melakukannya karena dirinya akan menggunakan cara sportif yang katanya tidak akan mengusik hubungan Surya dengan Siska, tapi Gina hanya akan berusaha menarik perhatian Surya. Itu saja.


Gina tersenyum sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit ruang tengah saat mengingat itu. Dirinya sungguh konyol telah melakukan semua itu. Tapi yang membuatnya lebih merasa geli adalah cara sportif yang ia lakukan tetap saja tidak bisa membuat Surya bisa menerimanya saat itu. Justru ketika ia sedang berusaha untuk melupakannya, Surya kembali datang dan menyatakan cinta.


"Apa itu oleh-olehmu dari pergi kemarin?" Suara Pak Rangga yang membuat Gina terjingkat karena kaget. Ia segera menoleh ke sumber suara dan melihat Papanya yang mengerutkan kening heran dengan tingkah Gina.


"Semalam tidak pulang dan sekarang kau bertingkah aneh. Itu benar-benar membuatku khawatir."


"Apa benar Papa mengkhawatirkan aku?" Tanya Gina sambil berjalan mendekatinya lalu duduk di sofa lain. Bu Marina tampak masih acuh sedang mengupas buah jeruk di depannya dan memberikan kepada Pak Rangga.


"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Kau putriku satu-satunya pergi hingga tidak pulang semalaman. Itu hal yang tidak biasa terjadi padamu. Apalagi aku tahu mobilmu pun tidak ada sejak kemarin lusa. Itu membuatku sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi padamu."


"Sebentar..." Gina memicingkan mata teringat sesuatu.


"Apa Papa melakukannya?" Tanya Gina dan tentu saja meski tidak mengatakannya secara langsung tapi Pak Rangga bisa membaca maksud putrinya. Sehingga Pak Rangga mengangguk mengiyakan apa yang sedang Gina fikirkan saat ini.


"Ahh, ku fikir Papa sudah membiarkanku melakukan apapun semauku tapi ternyata aku masih seorang anak kecil yang harus terus diawasi." Gina tersenyum kecut sambil mengatakan itu.


"Sudah ku katakan kau putriku satu-satunya yang sangat berharga jadi aku harus tahu sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi padamu."


"Jadi, kalian akan segera rujuk?" Kalimat Bu Marina sambil meletakkan pisaunya setelah memotong buah apel. Gina mengalihkan pandangan kepada Mamanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Wah... aku tidak percaya ini." Gina lalu tergelak.


"Ku lihat wajahmu penuh dengan senyuman tadi. Jadi, pasti apa yang sedang ku fikirkan adalah benar. Kalian kembali bersama?" Tanya Bu Marina tenang. Tapi Gina tahu pada situasi seperti itu, sikat tenang Mamanya justru adalah yang paling mengkhawatirkan. Ia pasti sedang berusaha menutupi sikap khawatir kepada dirinya. Ia sangat tahu bagaimana Mamanya tidak menyukai Surya sehingga pasti akan sangat meresahkan jika ia harus menjalin hubungan lagi dengan Surya.


"Ahh, aku lelah. Aku harus mandi dan menyegarkan badanku kembali." Gina berdiri dari duduknya dan tidak mempedulikan apa yang mamanya tanyakan.


Gina sempat melirik ke arah Mamanya yang memelototinya karena mengabaikan dirinya seperti itu. Tapi Gina berpura-pura tidak menyadari hal itu dan tetap berjalan meninggalkan ruang tengah dengan santai. Gina menahan tawa melihat kedua orang tuanya yang diam tanpa kata melihatnya bersikap begitu.


"Anak itu... benar-benar menyebalkan." Bu Marina terlihat sangat gemas terhadap sikap putrinya.


"Aku tidak yakin mereka pergi hanya untuk menjemput Hanna." Gumam Bu Marina.

__ADS_1


"Papa yakin orang suruhan Papa memberikan informasi dengan akurat?" Bu Marina memandang suaminya yang sudah kembali menonton TV.


"Dia tidak akan berani melaporkan berita hoax." Jawab Pak Rangga santai masih menatap layar TV.


"Tapi aku merasa itu mungkin hanya alasan yang mereka buat. Terutama Surya. Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu." Ujar Bu Marina. Tapi karena tidak ada tanggapan apapun dari Pak Rangga ia kemudian menjadi kesal bahwa argumentasinya tidak mendapat dukungan dari suaminya.


"Papa... Papa tidak mendengarku?" Bu Marina menjadi kesal dengan sikap Pak Rangga yang tetap serius menonton bola dan mengabaikan dirinya.


"Aku mendengarmu."


"Tapi kenapa mengabaikanku?"


"Aku hanya tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Mereka sudah sama-sama dewasa." Jawab Pak Rangga santai. Mendengar tanggapan Pak Rangga yang tidak sesuai harapannya, Bu Marina semakin cemberut karena merasa tidak mendapat dukungan darinya.


Surya tidak bisa menahan senyumnya sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya. Mengingat kalimat Gina membuat dirinya merasa mendapatkan sedikit angin segar.


"Rayu aku." Ujar Gina yang membuat Surya merasa paling tidak Gina tidak langsung menolaknya.


Dengan cara yang cukup unik, entah Gina ingin membalas dendam atau ingin menguji dirinya tapi itu membuat Surya merasa memiliki harapan untuk menarik hatinya.


"Buktikan padaku bahwa kau benar-benar mencintaiku. Aku tidak bisa dengan mudah percaya kepadamu lagi. Jadi, berusahalah." Lanjut Gina.


"Kooperatif?" Kalimat Gina saat mengeringkan rambutnya dengan handuk dan baru saja keluar dari dalam kamar mandi mengingat kalimat yang diucapkan oleh Surya.


"Bisa-bisanya dia memintaku melakukan itu." Gina sekarang duduk di depan meja riasnya.


"Semaunya saja dia." Gina mengoleskan krim ke wajahnya secara merata.


"Lihat saja, aku akan membuatmu merasakan apa yang pernah ku rasakan padamu dulu." Gina tersenyum menyeringai.


🌸🌸🌸


Marco duduk sendirian dengan sepiring makanan yang ia pesan dari aplikasi pemesanan online. Hampir 3 hari ia mencari Hanna dan belum mendapati keberadaannya. Semua kerabat pun telah ia hubungi tapi mereka mengatakan Hanna tidak bersama mereka. Sebenarnya ia tidak yakin mereka semua berkata jujur. Pasti ada diantara mereka yang atas permintaan Hanna sengaja berbohong darinya dan melindungi persembunyian Hanna. Tapi bagaimana ia harus mencari dan menemukan Hanna jika Hanna sedang begitu marah padanya seperti ini? Surya sampai kehabisan cara lagi untuk dapat menemukannya. Ingin sekali ia melibatkan polisi tapi itu akan membuatnya terlihat bodoh ketika polisi tahu apa motivasi Hanna menghilang.


Marco pun hanya menarik nafas berat sekarang. Ia bahkan tidak sanggup memakan makanannya. Penyesalan memang selalu datang setiap kali Hanna marah padanya. Tapi kali ini adalah kemarahan terbesarnya. Hingga harus pergi dan tidak pulang beberapa hari. Itu membuatnya sangat khawatir. Bagaimanapun juga Hanna adalah istri yang ia nikahi. Ia pun telah berusaha untuk berhenti bermain-main dengan wanita lain tapi keinginan itu selalu saja datang dan membuatnya selalu mengingkari janjinya kepada Hanna. Ia tahu itu adalah kesalahannya dan jika Hanna benar-benar semarah ini, itu adalah hal yang tidak bisa Marco hindari.


Marco memegang ponselnya dan menghubungi nomor Hanna. Kali ini nomor Hanna tidak aktif. Surya menutup panggilannya kembali. Lalu ia menekan nomor Gina setelah beberapa kali pun Gina tidak menghiraukannya. Kali ini demi bisa menemukan Hanna yang mungkin Gina tahu keberadaannya, Marco siap mendapat reaksi apapun dari atasan Hanna itu. Meskipun harus diabaikan berkali-kali, tapi Marco akan tetap menghubunginya hingga bisa Hanna ia temukan atau paling tidak hingga Gina mengangkat teleponnya.


"Kau ini memang tidak tahu malu. Setelah apa yang kau lakukan kepada Hanna, berani-beraninya kau menghubungiku. Kau benar-benar menyebalkan. Kau fikir aku mengangkat teleponmu kali ini karena aku kasihan padamu? Tidak, aku lelah melihat namamu dari layar ponselku." Ucapan pembuka Gina begitu Surya mendengar nada teleponnya dijawab.


Dan meskipun yang ia dengar adalah suara hujatan dari Gina tapi Marco malah tersenyum lebar. Akhirnya teleponnya diangkat oleh Gina. Ini adalah kesempatan untuknya memohon agar Gina mau memberi tahu keberadaan Hanna.

__ADS_1


"Aku memang tidak tahu malu, tidak tahu diri, dan banyak ketidaktahuanku yang lain, jadi aku mohon beri tahu aku dimana Hanna." Ujar Marco cepat sebelum Gina menutup ponselnya kembali.


"Kenapa kau penasaran sekali dimana Hanna berada? Bukankah dengan Hanna tidak ada kau bisa lebih leluasa bermain dengan teman-teman wanitamu?" Semprot Gina to the point.


"Kau boleh mengatakan apapun kepadaku. Bahkan kau boleh dengan leluasa memakiku. Aku akan menerima semua perlakuan burukmu padaku asal kau beri tahu dimana Hanna berada sekarang."


"Kau yakin bisa menerima semua itu?"


"Ya, aku akan menerimanya. Jadi katakan padaku dimana Hanna berada."


"Temui aku di sanggar taekwondo. Jangan lupa pakai dobok (baju taekwondo). Sudah lama aku tidak berlatih dengan lawan." Ujar Gina kemudian ia menutup teleponnya.


Marco menarik nafas berat. Sudah terbayang Gina akan menghajarnya habis-habisan nanti malam. Dilihat dari kesalahannya yang sangat besar, Gina pasti tidak akan memberinya ampun karena telah mengingkari janji untuk tidak menyakiti Hanna. Sekali lagi Marco menarik nafas berat. Ia tidak memiliki pilihan lain selain harus menerima persyaratan yang diajukan oleh Gina. Itulah kenapa Marco mengejar untuk mencari informasi tentang Hanna kepada Gina. Karena Hanna pergi menggunakan mobil Gina sehingga Marco yakin walau bagaimanapun caranya Gina pasti tahu keberadaan Hanna.


Malam ini Gina memarkir mobilnya di area parkir sanggar tempatnya dulu berlatih taekwondo. Meskipun ia mahir taekwondo saat ini, tapi sesekali ia masih datang untuk bertemu para taekwondoin muda dan juga master yang dulu menjadi guru taekwondonya. Tapi kali ini ia tidak hanya ingin berlatih dengan mereka tapi ingin memberi Marco pelajaran. Sehingga saat melihat Marco duduk di salah satu kursi tunggu di lorong menuju arena taekwondo, Gina seperti tidak sabar untuk membuatnya babak belur.


Mendengar langka kaki mendekat, Marco mendongakkan wajahnya dan melihat Gina berjalan semakin dekat kepadanya. Gina melihat tangan Marco memegang head guard. Gina lalu berjalan melintasi Marco dan membuat dirinya harus mengikuti masuk ke arena latihan. Untuk malam hari seperti ini arena latihan terlihat sepi karena jam latihan telah habis. Hanya tersisa beberapa anak saja yang masih mengobrol usai latihan atau ada beberapa yang sedang melakukan latihan sendiri.


"Kenapa kau tidak memakai hogo (pelindung badan)?" Tanya Gina saat berhadapan dengannya dan melihat sepertinya Marco tidak memakai pelindung badan karena badannya tidak terlihat bervolume dibalik baju taekwondonya.


"Aku siap menerima semua pukulanmu sebagai hukuman." Ujar Marco dengan mata sendu seolah ia memasrahkan dirinya malam ini untuk dihabisi oleh Gina demi menebus rasa bersalahnya.


"Kau yakin tidak akan mengulangnya lagi?"


"Kau boleh membunuhku kalau aku mengingkari janji lagi." Jawab Marco tegas.


"Waw, aku merinding mendengarnya." Gina meledek. Ia tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh Marco karena ia bukan tipe pria setia sehingga berbohong untuk mendapatkan apa yang ia mau pasti bukan hal sulit untuknya.


"Baiklah, ku pegang janjimu. Tapi aku ingin perjanjian kita memiliki kekuatan hukum agar tidak terulang lagi kejadian seperti kemarin. Aku ingin kau menandatangani surat perjanjian kita ini. Sehingga selanjutnya aku tidak perlu memberi hukuman dengan mengotori tanganku untuk menghajarmu. Biarkan pihak berwajib yang akan menanganimu." Gina menyodorkan sebuah amplop putih kepada Surya.


Ragu-ragu Surya menerima amlop putih yang diulurkan oleh Gina. Ia tidak menyangka jika Gina setegas ini sekarang. Apakah karena ia sekarang adalah pimpinan perusahaan besar, Gina terlihat lebih keras dari sebelumnya. Marco berfikir sepertinya Gina mulai terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara menggunakan hukum sebagai ukurannya.


"Ini." Gina menyodorkan pena kepada Marco untuk membuatnya segera menandatangani surat perjanjian itu.


"Cepat tanda tangani." Desak Gina. Itu membuat Marco segera membuka amplopnya.


Tapi saat membuka kertas yang ada di dalam amplop itu, Marco memandang Gina tak mengerti. Sekali lagi ia membacanya dan sekali lagi Marco memandang Gina. Tapi kali ini dengan senyum yang berkembang di bibirnya.


"Jangan senang dulu. Seharusnya tanyakan pada dirimu, apa kau berhak merasa sebahagia itu." Tanya Gina dengan nada sinis.


"Ya, aku berhak untuk itu. Bagaimana aku tidak bahagia ketika sebentar lagi akan ada yang memanggilku Papa." Jawab Marco dengan wajah bahagia yang tidak bisa ia kendalikan.

__ADS_1


__ADS_2