Tahta Surya

Tahta Surya
Rencana 2, Kecelakaan


__ADS_3

Setelah menghabiskan menu sarapan pagi hasil masakan Surya, Gina membawa piringnya ke dapur menyusul Surya yang bersiap mencuci piring dan peralatan masak yang baru saja ia pakai.


"Surya, biarkan aku yang melakukannya." Ujar Gina yang berdiri di samping Surya sambil menenteng piring dan gelas di kedua tangannya masing-masing.


"Tidak usah, Nona. Biar saya saja yang melakukannya "


"Kau sudah memasak, biarkan aku yang mencuci piring. Agar adil, kita harus berbagi tugas."


"Tidak apa-apa, Nona. Saya akan melakukan ini."


"Aku saja. Bajuku juga belum datang, jadi sambil aku menunggu bajuku datang, aku akan mencuci itu dulu sambil mengisi waktu."


"Kalau begitu Nona silakan mandi. Mungkin sebentar lagi baju Nona akan datang."


"Aku tidak mau menunggu lagi kalau ternyata bajuku belum datang. Aku tidak suka seusai mandi tidak segera berganti baju. Jadi, kau saja dulu yang mandi, biarkan aku yang mencuci piring."


"Tapi Nona... Apa Nona bisa?"


"Hei, kau menghinaku?" Gina melebarkan kedua matanya merasa tidak terima dengan penilaian Surya terhadapnya. Gina lalu meletakkan piring dan gelas yang sejak tadi dipegangnya ke dalam tempat cuci piring.


"Minggir kau, akan ku tunjukkan kalau aku tidak seperti yang kau fikirkan."


"Bukan. Bukan begitu, Nona..."


"Sudah... kau pergilah mandi. Usai mandi, ku pastikan semua sudah bersih." Gina mendorong tubuh Surya untuk keluar dari dapur.


"Baiklah Nona, saya akan mandi lebih dulu. Jika mengalami kesulitan, Nona tinggalkan saja. Biarkan saya yang mengerjakan."


"Kau ini benar-benar sangat tahu cara menjatuhkan harga diriku ya. Sudah ku katakan aku bisa melakukannya." Omel Gina dan akhirnya membuat Surya menyerah lalu benar-benar meninggalkannya untuk mandi.


Gina lalu kembali ke tempat cuci piring dan mulai mengambil spon cuci piring yang diberinya sabun cuci. Kemudian Gina mengambil piring dan mulai menggosoknya. Perlahan dan sedikit kerepotan ia mulai mencuci piring dan peralatan dapur itu karena ini adalah kali pertama selama hidunya melakukan pekerjaan itu. Tapi demi misi pertamanya yang gagal tadi, maka Gina harus melakukan misi kedua dengan cara lain untuk bisa menarik perhatian Surya.


Berbagi tugas. Ya, Gina menggunakan cara itu untuk menunjukkan kepada Surya bahwa dirinya juga bisa bersikap seperti istri-istri yang baik dan tidak manja dengan berbagi tugas rumah bersama suami. Sehingga ia akan berusaha sebaik mungkin mencuci piring agar Surya bisa terkesan padanya.


Tak lama kemudian Surya sudah seleaai dengan mandinya. Memang tidak memerlukan waktu yang lama untuk Surya mandi sehingga hanya beberapa saat saja ia sudah selesai. Tapi baru saja keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya yang menjadi tempat tidur Gina semalam, ia mendengar suara dentingan benda pecah belah terjatuh. Surya segera teringat pada Gina dan keluar sambil melempar sembarangan handuk yang semula ia pakai untuk mengeringkan rambutnya ke sofa di ruang tengah.


"Nona... Ada apa?" Teriak Surya sambil berjalan cepat menuju ke tempat Gina di dapur.


Tapi sebelum Gina menjawab, Surya sudah lebih dulu sampai di pintu dapur dan melihat sebuah alat makan yang sepertinya sebuah gelas jatuh ke lantai.


"Itu... aku tidak sengaja menyenggol gelas dan jatuh." Jelas Gina.


"Diam di situ, Nona." Ucap Surya dan Gina benar-benar tidak berani bergerak karena disekeliling kakinya berceceran pecahan kaca dari gelas yang ia jatuhkan.


Surya mengambil sapu dan sebuah dustpan di sisi lain dapur di dekat tempat sampah. Kemudian ia lalu menyapu pecahan-pecahan itu. Melihat disekitar kakinya terlihat bersih dari pecahan gelas, Gina bermaksud beranjak dari situ.


"Tunggu, Nona." Gina segera mengurungkan niatnya dan berhenti seperti yang diinstruksikan oleh Surya.

__ADS_1


Setelah itu Surya membawa pecahan itu untuk dibawa di sisi dapur, bukan di buang ke tempat sampah melainkan dibiarkan tetap berada di dalam dustpan. Surya lalu kembali menghampiri Gina yang masih berdiri tegak di tempatnya. Dan dengan tenang Surya tiba-tiba menunduk lalu memeluk paha Gina untuk ia angkat dan berpindah dari situ. Gina yang awalnya tidak siap dengan itu jadi kaget dan reflek tangannya memeluk leher Surya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh karena digendong dengan cara seperti itu.


Dari jarak sedekat itu Gina bisa mencium aroma rambut Surya yang segar seusai mandi. Rambutnya yang basah masih meneteskan air di beberapa bagian yang juga membasahi tangan Gina. Setelah itu Surya menurunkan Gina di ruang TV.


"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Surya dengan rambut depannya yang basah menjuntai di dahinya. Ada tetesan air yang menggantung diujung-ujung rambut basah itu.


Dari sisi yang Gina lihat saat ini, Surya tampak seperti malaikat yang turun dari langit dengan wajah segar dan aroma wangi yang menghipnotisnya. Mata kecoklatan yang memandangnya lurus penuh rasa khawatir itu membuatnya semakin terpesona. Lalu tiba-tiba Surya merunduk untuk memastikan apakah kaki Gina mengalami luka oleh pecahan gelas itu tadi. Pandangan mata Gina mengikuti gerakan tubuh Surya yang ada di bawahnya. Tapi setelah yakin Gina tidak terluka sama sekali, Surya kembali berdiri dan menatap Gina lagi. Mereka saling bertemu pandang. Gina masih terpaku di tempatnya tanpa bisa berkata walau hanya untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Ada yang meletup-letup di dalam dada Gina. Rasa cinta yang sepertinya sedang mendidih di dalam sana dan membuat wajahnya merona di kedua sisi pipinya.


"Nona..." Surya menyentuh kedua pipi Gina yang memerah untuk memastikan apa yang sedang terjadi padanya. Tapi hal itu adalah kesalahan kedua yang dilakukan oleh Surya setelah kesalahan pertama ia awali dengan menggendong Gina demi menyelamatkannya dari pecahan gelas.


"Aku suka..." Ujar Gina sambil memandang Surya dengan tatapan lembut dan senyum manis yang ia berikan. Surya mengerjapkan mata setelah kata itu sampai ke telinganya. Ia lalu melepas tangkupan tangannya di wajah Gina karena yakin Gina tidak apa-apa.


"Ehhemm... aku... suka masakanmu pagi ini." Ucap Gina dengan sedikit terbata.


"Rasanya enak." Mendengar itu Surya lalu tersenyum melihat Gina berusaha mengalihkan perhatian Surya dari kejadian yang baru saja dialaminya.


"Saya harap Anda tidak bersikeras mencuci piring lagi, Nona." Ujar Surya tetap ingin membicarakan hal yang ia pikir ingin Gina hindari.


"Kenapa?"


"Saya tidak ingin Anda terluka."


"Kenapa kau begitu khawatir. Hanya gelas yang pecah. Itu tidak akan membuatku mati terbunuh." Gumam Gina sambil memandang Surya lekat-lekat.


"Aku tidak akan pernah bisa kalau aku tidak mencobanya. Jadi aku harus mencoba beberapa hal agar aku tidak menyesal."


"Menyesal?" Surya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Fikirannya bertanya-tanya apakah bisa mencuci piring sangatlah penting untuk Gina saat ini?


"Ya, aku sedang penasaran apakah mencuci piring itu mudah. Dan ternyata memang mudah sekali. Hanya saja yang baru saja terjadi itu murni karena kecelakaan. Aku kurang hati-hati." Gina lalu menyengir menyadari kebodohannya tadi. Ia harus tampak keren apapun yang terjadi. Sehingga menutupi kesalahannya sebagai sebuah kecelakaan adalah cara yang sedang ia pakai untuk berdalih di depan Surya. Ia harus menunjukkan kepada Surya bahwa dirinya juga bisa melakukan pekerjaan rumah seperti wanita lain.


Tepat setelah itu bel rumah Surya berbunyi. Surya dan Gina bersamaan menoleh ke arah pintu.


"Itu pasti baju Anda yang datang. Anda mandi saja, saya yang akan menerimanya." Surya mulai berjalan meninggalkan Gina untuk membuka pintu. Gina menurut dan berjalan menuju kamar.


🌸🌸🌸


Gina berjalan mendekati pintu ruangannya dan menarik nafas dalam-dalam. Setiap hari dirinya akan bertemu seseorang yang juga menyukai orang yang ia sukai. Hanna. Entah sejak kapan mereka berpacaran tapi yang jelas Gina tidak ingin melepaskan Surya ketika baru saja perasaannya mendefinisikan bahwa telah jatuh cinta pada kekasih asisten pribadinya itu. Meskipun menjadi kejam, tapi siapa yang bisa tahan dengan hanya menahan perasaan suka jika setiap saat selalu bersama. Sehingga Gina memproklamasikan niatnya untuk bersaing secara diam-diam dengan Hanna. Ia akan tetap berpura-pura tidak tahu tentang hubungan Hanna dengan Surya. Kalau diingat-ingat, rasanya seperti mengulang lagi kisahnya beberapa waktu lalu saat ia harus berpura-pura tidak mengetahui hubungan Faris dan Sunday. Karena saat itu ia tidak berhasil, maka kali ini ia berharap tidak akan kalah lagi karena posisinya saat ini lebih menguntungkan. Ia dan Surya sudah resmi menikah.


"Pagi Hanna..." Sapa Gina dengan senyum lebar melihat asisten pribadinya sudah ada dibalik meja kerja.


"Selamat pagi, Nona." Hanna membalas senyumnya.


Melihat senyum tulus Hanna, terus terang hati Gina terasa kecut. Bagaimanapun juga ada rasa bersalah jika ia juga menyukai Surya dan ingin memilikinya. Tapi, sekali lagi sifat egoisnya selalu berhasil mendominasi dirinya dan kengininan secara diam-diam menarik perhatian Surya sudah bulat dalam tekatnya.


"Hanna, laporan pembelian bahan baku yang kemarin sudah selesai, bukan?"

__ADS_1


"Sudah, Nona." Jawab Hanna. Tapi lalu ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Gina sambil membawa sebuah berkas.


"Ini untuk rencana pembelian bahan baku selanjutnya, Nona. Silakan Anda periksa kembali." Hanna menyodorkan sebuah file.


"Ini untuk produk-produk berbahan kayu?"


"Benar, Nona."


"Baiklah, akan ku lihat seberapa banyak yang kita butuhkan. Produk apa yang akan kita produksi dan berapa banyak, semua sudah tertera?"


"Sudah Nona."


"Oke." Gina lalu membaca laporan itu secara saksama.


Siang ini Gina dan Hanna akan makan bersama lagi. Surya sedang ada pertemuan dengan relasi sehingga makan siangnya tidak bisa ia lakukan bersama Gina.


"Hanna, makan siang lalapan sepertinya enak. Bagaimana?"


"Boleh, Nona."


"Aku mau bebek goreng mentega dengan sambal tomat di tempat yang kita pernah makan."


"Baik Nona. Mari kita ke sana." Gina dan Hanna menuju tempat yang di tuju.


"Maafkan aku, Hanna. Aku selalu menebeng mobilmu setiap kita pergi bersama. Ini gara-gara Papa yang mengambil paksa mobilku. Aku jadi tidak punya mobil lagi."


"Tidak apa-apa, Nona. Saya juga minta maaf selalu Anda yang mentraktir setiap kita makan bersama."


"Hei, itu hal yang berbeda. Atasan harus selalu melakukan itu. Gajiku lebih besar daripada gajimu jadi jangan sungkan soal itu." Ujar Gina sambil tersenyum lebar. Hanna tersenyum juga mendengar Gina menyombong begitu.


"Ngomong-ngomong, tidak apa-apa kau tidak bisa makan bersama Bayu?"


"Tentu saja tidak apa-apa, Nona."


"Tapi bukankah sangat senang bisa makan bersama pacar?" Pancing Gina tentang Bayu.


"Tidak selalu begitu, Nona." Hanna masih menyetir dan berkonsentrasi dengan jalan di depannya. Sedangkan Gina yang duduk di samping Hanna mencoba selalu melihat bagaimana tanggapan Hanna dengan pembicaraan yang Gina bangun.


"Bukankah bersama orang yang kita cintai rasanya sangat menyenangkan? Aku, setiap bersama Surya rasanya tidak ingin waktu berlalu." Gina mulai meniupkan kalimat yang mungkin seharusnya tidak di dengar oleh Hanna. Gina ingin melihat bagaimana tanggapan Hanna.


"Anda benar-benar sedang jatuh cinta, Nona." Hanna tersenyum sambil mengatakan itu seperti tidak terjadi apa-apa padanya. Gina mengerutkan kening melihat Hanna yang biasa saja begitu. Ia berpendapat bahwa Hanna cukup baik menyembunyikan perasaannya.


Bagaimana tidak, saat wanita lain membicarakan perasaannya kepada pacarnya, ia malah bisa tetap bersikap santai begitu. Kalau saja Hanna adalah Gina pasti ia tidak akan segan untuk meninjunya tanpa pikir panjang dan tidak peduli walau itu adalah atasannya sekalipun. Sungguh Hanna wanita yang luar biasa. Atau... itu karena selain Surya, Hanna memiliki Bayu? Jadi itu tidak begitu berat karena ia akan tetap bersama pacarnya yang lain?


Wah... Hanna, kau keren sekali bisa memiliki dua pria tampan seperti mereka. Batin Gina mengagumi Hanna yang memiliki bakat tersembunyi di balik sikap kalemnya itu.


Saat memikirkan itu Gina jadi ingat sesuatu. Ketika Gina mengatakan bahwa Bayu adalah pacar Hanna terlihat sekali Surya seperti tidak percaya. Apakah saat itu Surya mencurigai Hanna? Atau dia cemburu mendengar kekasihnya sebenarnya juga adalah pacar pria lain? Gina jadi berfikir kira-kira apa yang kemudian terjadi pada mereka setelah Surya mendengar apa yang Gina katakan padanya tentang Bayu saat itu. Tapi Surya dan Hanna sepertinya masih berhubungan walau Gina memberi tahunya tentang Bayu yang mungkin adalah pacar Hanna. Sebenarnya hubungan macam apa yang sedang Hanna dan Surya jalani, Gina merasa itu terlihat aneh.

__ADS_1


Gina juga sempat berfikir apa mungkin mereka memiliki hubungan yang terbuka? Mereka memiliki hubungan tapi juga tetap bisa bersama orang lain. Memikirkan hal itu Gina jadi merinding. Andai itu benar, mereka berdua sungguh diluar dugaan.


__ADS_2