
"Mari kita turun, Nona." Ajak Surya.
"Yang benar saja. Kau mengajakku ke warung kopi itu?" Tanya Gina kesal. Tapi Surya tidak menjawab dan kembali menutup pintu.
"Hei..." Panggil Gina yang tidak dihiraukan oleh Surya yang kemudian mendekatinya dan membuka pintu untuknya.
"Saya sudah berjanji, jadi percayalah kepada saya." Ujar Surya sambil tersenyum.
Gina juga sudah terlanjur menyanggupi saat Surya mengajaknya jadi sekarang mau tidak mau ia hanya harus menurut padanya. Ia pun turun dari mobil dan berjalan mengikuti Surya mendekati warung kaki lima itu. Saat masuk, Gina melihat bukan dirinya satu-satuya wanita yang ada di warung itu. Dan mereka tampak memutari gerobak penjual sambil menghadapi sepiring kue yang Gina seperti pernah tahu tapi ia lupa apa itu.
"Silakan, Nona." Surya meletakkan sebuah kursi plastik kotak di dekat Gina dan menyuruhnya untuk duduk.
"Anda ingin kue serabi dengan toping apa? Coklat, keju, telur, ayam, daging, sosis, kismis, sukade, manisan?" Gina menyimak dengan baik penawaran dari Surya dan bingung harus memilih yang mana.
"Mmm..." Gina akhirnya ingat nama kue itu. Ia pernah melihatnya di televisi ketika melihat sebuah acara kuliner.
"Oh, ini macam-macam topingnya, Nona." Surya meraih selembar kertas berisi menu serabi beserta gambar yang terlihat menarik seleranya.
"Baiklah, saya akan memesan untuk Anda." Ujar Surya sambil meninggalkan Gina menuju penjual serabi. Gina hanya bisa bengong dengan kelakuan Surya yang seenaknya sendiri. Ia bahkan belum menentukan serabi mana yang ingin ia pesan tapi Surya sudah memesan untuknya.
"Apa maksudnya, coba?" Gina menggerutu saat melihat Surya kembali kepadanya.
"Saat memakan serabi saya biasa memesan minuman teh susu. Tapi di sini juga tersedia kopi, teh, jahe, tauwa."
"Aku mau teh manis saja."
"Baiklah, Nona." Surya lalu memesan pada penjual yang bertugas menyiapkan minuman. Setelah itu ia kembali duduk di samping Gina yang sedang memeriksa ponselnya. Ia melihat sebuah pesan dari Marco dan tersenyum. Surya yang melihat itu ikut tersenyum. Entah apa yang sedang Gina lihat, tapi itu pasti adalah hal baik yang membuatnya senang.
Marco duduk di ruang tamu dan berhadapan dengan Hanna yang memeluk bantal sofa di pangkuannya diam namun menatapnya tajam. Marco merasakan tulang keringnya ngilu setelah Hanna menendangnya tadi.
"Hanna..." Begitu pintu dibuka oleh saudara Hanna dan terlihat Hanna dari sekat ruang tamu, Marco lalu menyonsong dan memeluknya dengan erat. Hanna gelagapan mendapatkan perlakuan Marco seperti itu.
"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangnya lagi. Aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Aku merindukan bayi kita." Mendengar kalimat terakhir Marco, secara reflek Hanna menendang kakinya dan itu membuat Marco kesakitan dan melepas pelukannya seketika.
"Bayi?" Tanya Hanna heran.
"Ya, bayi kita." Marco menjawab dengan masih mengelus tulang di kakinya.
"Ini sakit sekali." Keluh Marco. Tapi Hanna seperti tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanya dari mana Marco tahu bahwa dirinya sedang mengandung.
"Jadi, Nona Gina memberitahumu?" Tanya Hanna sambil menatap Marco tajam dari tempatnya duduk. Ia masih membuat jarak dari Marco yang mengangguk. Hanna menjadi heran darimana Gina tahu tentang kehamilannya. Padahal ia merahasiakan itu dan tidak memberitahukan kepada siapapun.
"Apa Nona Gina juga yang memberitahukan keberadaanku?"
"Ya." Jawab Marco masih dengan wajah memelas berharap Hanna akan segera memaafkan kesalahannya.
Marco : Aku sudah menemukan Hanna. Jangan katakan padanya aku hampir kau hajar demi mendapatkan alamat keberadaannya
"Dasar. Dia masih saja memikirkan tentang harga dirinya." Gina lalu tersenyum kecut melihat isi pesan itu.
Akhirnya Gina menghentikan aktifitas melihat ponsel saat penjual serabi itu mengantarkan pesanan. Gina memandang Surya tak mengerti melihat semua serabi yang ada di hadapannya.
"Kau memesan ini semua?" Tanya Gina sambil menunjuk hidangan di depannya. Surya mengangguk.
"Lalu, siapa yang akan menghabiskannya?"
"Kita." Jawab Surya santai.
"Kau fikir aku rakus?'
"Tidak. Anda tidak rakus tapi Anda tukang makan."
"Hei, jaga bicaramu." Gina memelototi Surya yang mengatakan hal hampir sama dengan yang ia maksud. Surya lalu tertawa.
"Karena pesanan kita banyak, jadi untuk menghemat waktu, mari kita cicipi." Ajak Surya.
"Anda mau yang mana?"
"Entahlah, semua seperti enak sekali."
"Coba toping coklat ini, Nona. Bukankah Anda adalah penyuka coklat." Saran Surya.
__ADS_1
"Baiklah." Gina lalu mengambil serabi dengan toping coklat meses di atasnya. Rasa bahan dasar serabi yang adalah tepung beras menyatu dengan coklat meses yang manis dan harum. Gina benar-benar menyukai itu.
"Enak sekali." Ujar Gina memandang Surya dengan mata berbinar.
"Aku suka ini." Gina lalu menggigit lagi sisa kue serabi di tangannya dan menghabiskan dengan cepat.
"Aku mau yang ini." Selanjutnya Gina mengambil serabi dengan toping daging ayam yang sepertinya itu ditumis dengan bumbu cabai.
"Mmm... ini pedas tapi gurih dan enak." Gina bersemangat mendeskripsikan apa yang sedang lidahnya rasakan.
"Semua serabi di sini sangat enak, Nona. Itulah kenapa untuk mendapatkan serabi di sini harus selalu mengantri."
"Kau memang pecinta kuliner sejati. Kau tahu tempat-tempat makan yang recomended."
"Sering-seringlah pergi berwisata kuliner bersama saya Nona, saya pastikan Anda akan selalu menemukan makanan-makanan enak."
"Wah, kau benar-benar sedang mempromosikan dirimu padaku." Gina mencibir.
"Anda Benar. Saya akan merayu Anda dengan segala cara dan itu akan membuat Anda tidak memiliki alasan untuk menolak saya." Ujar Surya percaya diri. Matanya yang kecokatan terlihat sangat indah dibawah lampu remang warung serabi. Jantung Gina berdetak kencang lagi. Gina buru-buru memalingkan wajah agar ia tidak semakin tenggelam dalam pesonanya dan melupakan misi balas dendam yang ia lancarkan. Misi agar Surya tahu bagaimana rasanya menjadi dirinya yang berupaya menarik hatinya dulu.
🌸🌸🌸
Gina duduk di balik meja kerja dengan laptop yang sejak tadi ia biarkan menyala. Ia masih teringat ucapan Surya tentang bagaimana dia akan merayu dirinya dan juga apa yang Mamanya katakan tadi pagi.
"Akhir-akhir ini kau sering pergi bersama Surya, bukan?" Gina tidak jadi menyuapkan sarapannya saat mendengar itu. Ia merasa atmosfer meja makan jadi berubah dingin. Gina sempat melirik Papanya juga tapi sepertinya Pak Rangga tampak santai dan tidak terpengaruh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mamanya.
"Tidak juga. Itu hanya karena aku sedang ada sedikit urusan dengannya."
"Benarkah?"
"Lagipula dia juga terdaftar dalam member serikat pengusaha di kota ini jadi walau tidak menemuinya, kami jg masih akan bertemu di forum itu."
"Apa pertemuanmu juga di adakan di kedai serabi?" Tanya Bu Marina dengan nada suara sinis. Gina sontak tersedak mendengar itu. Ia segera meminum air di dalam gelasnya.
"Jadi, kalian masih suka memata-mataiku?" Nada bicara Gina meninggi.
"Tidak, hanya saja ada seseorang yang kebetulan melihatmu bersama Surya di sana."
"Jadi, kalian masih berhubungan baik?"
"Ehemm..." Gina bingung harus mengatakan apa. Ia sudah berusaha untuk menyembunyikan pertemuan-pertemuannya dengan Surya termasuk saat makan serabi malam itu. Gina bahkan menolak ketika Surya ingin mengantarkan dirinya sampai rumah dan menyuruh orang untuk membawa mobilnya pulang. Ia memilih kembali ke sanggar taekwondo hanya untuk mengambil kembali mobilnya dan pulang dengan memakai mobilnya sendiri.
"Ya, kami memutuskan untuk tetap berteman. Toh dia juga seseorang yang cukup punya banyak berjasa untuk R-Company. Jadi, kita tidak bisa langsung memutus hubungan dengannya." Jelas Gina.
"Ya, tentu saja. Kita juga bukan orang yang tidak tahu berterima kasih. Dan walaupun Surya mendapatkan imbalan setimpal dengan gajinya yang sangat besar, kita tetap harus menghargainya. Ditambah lagi, walaupun hanya sebentar, tapi dia sempat menjadi bagian dari keluarga kita jadi memang sudah sepantasnya kita harus tetap bersikap baik padanya." Ujar Bu Marina dengan nada suara yang dibuat-buat ramah. Gina menyimak dengan perasaan aneh dan menunggu kalau-kalau akan ada semacam 'serangan gerilya' dari Mamanya yang jelas sekali memperlihatkan sikap tidak sukanya dengan tindakan Gina.
"Tapi, aku mulai mengkhawatirkan sesuatu." Bu Marina memandang Gina lurus di depannya. Gina merasa pandangan Mamanya itu menusuk matanya sehingga ia harus memalingkan wajah agar pandangan Mamanya tidak semakin membuatnya kelilipan. Gina merasa akan ada sesuatu yang tidak baik setelah ini.
"Kau belum berubah fikiran dengan prinsipmu, bukan?" Tanyanya dengan masih menatap Gina.
"Prinsip apa?" Gina melanjutkan makan walau sebenarnya ia sudah tidak berselera lagi. Tapi demi tidak terlihat gugup telah dicerca sedemikian rupa oleh Mamanya, Gina berpura-pura untuk tetap menikmati sarapan.
"Prinsip untuk tidak memakai kembali semua bekas yang sudah pernah kau pakai termasuk tentang mantan yang kau punya." Gina mengerjapkan matanya berkali-kali memandang Bu Marina yang tersenyum menyeringai padanya.
Itulah sekarang yang akhirnya membuat Gina menjadi dilema. Prinsip yang pernah ia buat menjadi bertentangan dengan syarat yang sempat ia berikan kepada Surya untuk merayunya.
Gina menarik nafasnya lagi dengan berat. Kalau Mamanya sampai tahu ia sedang memberi kesempatan Surya untuk mendekatinya, ia pasti akan dikatai sebagai wanita plin-plan. Dan tentu saja itu akan sangat menodai harga dirinya. Sehingga saat ini Gina seperti sedang dilema. Hatinya mulai diliputi kebimbangan dengan keputusan yang ia buat. Ia merasa harus meninjau ulang keputusannya untuk memberi kesempatan Surya.
Tepat saat itu ponsel Gina berbunyi. Ia kemudian melihat layar ponsel yang sedang menyala. Disana terdapat nama Surya yang sedang memanggil. Gina terpaku di tempatnya dengan tangan yang masih ada di samping ponsel. Tidak ingin menyentuhnya sama sekali. Ia berfikir ulang tentang semua yang ada dikepalanya hingga membiarkan telepon dari Surya berhenti begitu saja.
Entah apa yang Surya ingin sampaikan padanya, yang jelas saat ini Gina belum ingin berbicara apapun dengannya. Ia merasa memang harus memikirkan keputusan terbaik yang akan ia ambil sebelum berbicara dengan Surya lagi dalam waktu dekat ini.
🌸🌸🌸
Gina berjalan menuju ruang rapat dengan diiringi oleh Hanna. Asisten pribadinya itu sudah mulai bekerja lagi sejak beberapa hari yang lalu.
"Selamat pagi, Nona." Sapa Hanna Gina membuka pintu ruangannya.
"Hei, kau sudah masuk kembali?" Tanya Gina sambil mendekati Hanna yang berdiri dibalik meja kerjanya memberi hormat pada Gina.
"Benar, Nona. Maafkan saya karena beberapa hari ini harus mengambil cuti."
__ADS_1
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah melanggar janjiku padamu untuk tidak mengatakan kepada Marco dimana kau berada. Tapi, pada akhirnya aku tidak ingin kalian berjauhan. Seorang ibu hamil harus bersama ayah dari anaknya."
"Terima kasih, Nona. Saya mengerti kenapa Anda melakukan itu. Tapi, bagaimana Anda menemukan surat keterangan dokter milik saya?" Tanya Hanna yang penasaran sejak kemarin.
"Kau menjatuhkannya di dalam mobilku dan aku menemukannya." Akhirnya Hanna mengerti dari mana Gina mendapatkan itu.
"Jagalah kehamilanmu. Jangan terlalu banyak berfikir apalagi bersedih. Kalau Marco masih berulah lagi, jangan kau hiraukan dia. Ingatlah ada bayimu yang sedang butuh kesempatan untuk tumbuh berkembang dengan baik."
"Baik Nona, terima kasih." Hanna merasa Gina menjadi lebih dewasa dibanding dengan saat pertama mereka saling mengenal. Gina sekarang bahkan bisa memberinya nasehat yang cukup berarti.
Gina dan Hanna memasuki ruang rapat. Di dalam sana telah ada Feby yang mempersiapkan segala sesuatu yang Gina butuhkan untuk keperluan rapat. Melihat kedatangan atasannya itu, Feby berdiri dari duduknya untuk memberi hormat. Itu diikuti oleh semua peserta rapat yang berasal semua devisi. Ini adalah rapat bulanan untuk mengevaluasi kegiatan produksi dan operasional selama satu bulan yang telah terlewati serta untuk melakukan perencanaan selama satu bulan kedepan. Saat ini Gina mulai banyak melakukan tugasnya dengan baik. Dengan bantuan Hanna, Gina mulai bisa memimpin R-Company seperti saat Pak Rangga dan Surya masih menjabat sebagai presdir.
Gina keluar dengan diikuti oleh para pimpinan divisi. Tapi saat beberapa langkah ia keluar dari ruang rapat, seseorang memanggilnya. Gina dan Hanna berhenti dan menoleh ke sumber suara. Itu adalah kepala divisi produksi yang baru saja naik jabatan beberapa waktu lalu.
"Nona, nanti malam kami akan mengadakan acara makan-makan bersama para kepala divisi. Kami berharap Anda bisa hadir juga sebagai atasan kami yang baru. Sejak Anda menjabat sebagai presdir, kami juga belum pernah melakukan penyambutan secara resmi. Jadi, kami harap Anda berkenan untuk datang."
"Baiklah, saya akan datang." Jawab Gina ramah yang disambut senyum bahagia oleh Kepala divisi produksi itu.
"Saya akan beritahukan tempatnya nanti, Nona." Gina mengangguk lalu kembali berjalan meninggalkan bawahannya yang memiliki usia jauh diatasnya itu.
"Aku tidak menyangka mereka sebaik itu." Ujar Gina kepada Hanna yang berjalan dibelakangnya.
"Sepertinya mereka senang dengan kepemimpinan Anda, Nona."
"Benarkah?" Tanya Gina tidak percaya.
"Atau mereka sedang menjilatku untuk akhirnya meminta kenaikan gaji?" Hanna tersenyum mendengar ucapan Gina yang sedang berburuk sangak itu.
"Kita tunggu saja, Nona. Kalau memang seperti itu adanya, mereka akan akan segera menyampaikan rencananya kepada Anda." Mereka berdua lalu berjalan menuju ruangan Gina kembali.
🌸🌸🌸
Gina keluar dari dalam ruangannya. Sedangkan di luar Hanna sudah menunggu dengan berbincang bersama Feby.
"Ayo kita pergi." Ajak Gina kepada Hanna dan Feby.
"Maaf Nona, saya tidak dapat hadir juga."
"Kenapa?"
"Sebenarnya saya sudah memiliki acara sendiri."
"Baiklah kalau begitu." Gina lalu berjalan menuju lift dengan diikuti oleh Hanna dan Feby dibelakangnya.
Mobil Gina sampai di tempat yang diberikan oleh kepala divisi produksi sebagai koordinator acara malam ini. Setelah itu ia dan Hanna memasuki cafe yang memiliki desain interior modern minimalis yang telah ada para pegawainya disana memutari sebuah meja panjang.
"Selamat datang, Nona." Sapa kepala divisi produksi yang melihatnya datang. Gina mengangguk ramah dan mengambil duduk di salah satu kursi dan Hanna berada di sebelahnya.
"Silakan Anda memesan sambil menunggu yang belum datang, Nona. Ada beberapa orang yang masih harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dulu sehingga mungkin akan sedikit terlambat."
"Baiklah, mari kita tunggu." Gina meraih buku menu yang diberikan oleh kepala divisi produksi itu. Hanna juga memegang buku menu lain dan sedang memilih apa yang ingin ia pesan. Gina sudah menutup buku menu sehingga saat melihat itu Hanna memanggil seorang pramusaji untuk memesan.
Semua orang tampak menikmati hidangan di cafe itu. Cafe yang menyajikan berbagai olahan daging dan sayur. Seorang pegawai sempat merekomendasikan kepada Gina tadi bahwa beef steak di cafe ini enak, dengan saus lada hitam yang sangat terasa. Sehingga akhirnya Gina memesan menu itu. Dan benar, beef steak yang ia pesan membuatnya tidak bisa berhenti menyuap. Kematangan daging yang pas dengan saus yang menyatu. Semua seperti harmoni rasa yang sempurna bagi Gina.
"Ini adalah cafe yang baru dibuka beberapa hari lalu. Saya merekomendasikan cafe ini karena kemarin saya sudah datang ke sini sehingga terinspirasi untuk makan bersama kalian di sini. Terutama beef steak, saya rasa menu itu akan jadi menu yang banyak diminati di sini." Mendengar itu, Gina menjadi penasaran dan lalu memesannya. Ditambah lagi ia selalu suka menu olahan daging sehingga memilih menu itu seperti sebuah keharusan jadinya.
"Selamat malam semua." Sapa seseorang di ujung meja dari jarak beberapa kursi. Gina langsung menoleh begitu mendengar suara yang sangat ia kenal itu. Suara Surya.
"Pak Surya." Sapa hampir semua orang di meja panjang yang berisi hampir 20 orang itu.
"Anda ada di sini juga?" Tanya kepala divisi keuangan.
"Ya Pak, saya sedang melakukan kunjungan."
"Kunjungan?" Ujar kepala divisi keuangan yang juga mengenal baik dirinya.
"Kunjungan pemeriksaan cafe."
"Apa Anda... pemilik cafe ini?" Tanya kepala divisi keuangan memastikan. Surya akhirnya hanya mengangguk. Melihat itu Gina lalu memandang Hanna yang juga memandangnya. Memberi kode apakah Hanna mengetahui hal itu. Dan seperti tahu maksud Gina, Hanna pun menggeleng.
Sedangkan di ujung meja, Surya memandang Gina. Menyapanya sambil menyunggingkan senyum. Gina yang masih tidak menyangka bahwa ini adalah cafe milik Surya ragu-ragu membalas senyumnya.
__ADS_1