Tahta Surya

Tahta Surya
Nona Manis


__ADS_3

Gina mendekati meja makan dan menarik salah satu kursi untuk duduknya. Rumah terlihat sepi. Entah kemana semua orang. Tapi Gina sudah terbiasa dengan hal itu. Seumur hidupnya, ia terbiasa hidup sendiri di rumah. Bahkan terasa asing baginya saat beberapa hari ini rumahnya selalu terasa berpenghuni. Papanya, Mamanya, mereka ada di rumah sepanjang hari.


Gina menggigit roti yang ia olesi selai coklat kesukaannya. Satu potong roti habis. Ia bermaksud mengambil satu lembar lagi, tapi ia mendengar ada suara orang datang. Pak Rangga dan Bu Marina memasuki rumah dengan pakaian 'aneh'.


"Kalian dari mana?" Gina memperhatikan penampilan kedua orang tuanya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kami bersepeda." Jawab Pak Rangga mendekati meja makan.


"Bersepeda?" Gina heran. Tidak biasanya mereka melakukan itu dan dengan kostum bersepeda mereka.


"Menyenangkan. Rasanya sudah lama sekali tidak bersepeda." Celetuk Bu Marina dengan wajah sumringah.


"Aku benar-benar sulit menjaga keseimbangan. Sepertinya karena lama tidak bersepeda aku jadi kesulitan." Bu Marina tergelak sendiri. Pak Rangga meneguk air putih yang ia tuang ke dalam gelas.


"Kapan terakhir Mama bersepeda?" Tanya Gina sambil mengoleskan coklat di roti keduanya.


"Entahlah, mungkin waktu SMA atau kuliah? Ahh, tidak. Waktu kuliah aku biasa naik angkot. Sepertinya terakhir bersepeda saat masih sekolah."


"Itu bukan karena Mama yang tidak pernah bersepeda tapi karena faktor usia." Jawab Gina cuek.


"Kenapa dengan usia Mama? Mama belum tua untuk tidak bisa bersepeda. Lihatlah, tidak ada satupun keriput di wajah Mama." Bu Marina mendekatkan wajahnya pada Gina yang langsung melengos.


"Iya iya, akan sangat sia-sia kalau sampai ada keriput diwajah Mama. Uang yang Mama keluarkan untuk produk skincare itu aku tahu sangat banyak jumlahnya." Bu Marina hanya tertawa kecil mendapat semprotan dari putri semata wayangnya itu.


"Hei, sudah berapa lembar roti yang kau makan?" Bu Marina melihat Gina memegang roti lagi setelah suapan terakhirnya tadi.


"Dua lembar dan segelas besar susu." Tunjuk Gina pada gelas didepannya yang sudah kosong.


"Sejak kapan kau jadi rakus? Tidak biasanya kau makan sebanyak ini. Kau sudah tidak takut gemuk lagi? Lihatlah, sudah berapa kalori yang kau masukkan ke dalam tubuhmu?" Mamanya terkejut melihat putrinya diluar kebiasaan.


"Habis." Gina meminum air putih setelah suapan terakhir rotinya lalu beranjak dari duduknya dan tidak menanggapi Mamanya.

__ADS_1


"Karung samsak, I'm coming...." Gina meregangkan jari-jarinya dan berjalan menjauh. Melihat itu, Bu Marina hanya bisa menggelengkan kepala. Pak Rangga sudah beranjak dari tadi.


Gina memasuki ruangan gym yang ada di lantai 2. Tempat favorit jika suasana hatinya sedang tidak baik.


R-Company harus jadi milikku secepatnya. Gina memakai sarung tinjunya. Setelah itu tibalah tinjuan pertama pada sarung samsak dan hatinya seperti mulai mendapat sedikit kelegaan. Sebuah kelegaan tersendiri yang entah bagaimana mendefinisikannya. Gina selalu kesepian. Ia tidak punya banyak teman. Ia juga tidak punya keluarga lain di kota ini selain papa dan mamanya. Jadi setelah puas di luar rumah bermain dengan teman-temannya yang sangat terbatas atau dengan pacar-pacarnya yang sering bergonta-ganti itu, ia biasa menyendiri di tempat ini. Karung samsak adalah partner yang ia anggap paling mengerti dirinya saat dia sedang tidak baik-baik saja seperti saat ini.


Sebenarnya itu bukan satu-satunya cara yang Gina miliki untuk menghibur diri. Kebiasannya hidup sendiri tanpa ada keluarga disisinya membuat ia berinovasi pada banyak hal untuk bisa mengisi rasa kesepiannya. Ya, Gina sangat tahu bagaimana rasanya kesepian. Dan ia selalu bisa melalui itu dengan cara-cara yang ia punya.


Entah ini sudah pukulan yang ke berapa. Keringat Gina mulai mengalir. Pelipisnya mulai basah oleh keringat yang menetes.


Andai membunuh Papa tidak membuatku masuk penjara, aku pasti sudah melakukannya sejak kemarin. Ahh, aku benci Papa. Aku benci... Gina semakin gencar memukul samsak didepannya. Emosinya sedang meluap-luap sekarang.


🌸🌸🌸


Jalanan kota ini tidak pernah sepi apalagi siang akhir pekan begini. Gina heran kenapa siang-siang begini banyak orang berada di jalan. Apalagi untuk para pengendara sepeda motor. Sinar matahari siang bisa saja membakar mereka. Gina yang berada di dalam mobil mewah Surya saja bisa membayangkan bagaimana rasanya terbakar matahari siang.


Surya sudah memiliki mobil ini sejak setahun yang lalu sebagai hadiah dari Papanya. Kalau dipikir-pikir Surya memang sudah seperti anak Pak Rangga. Semua Pak Rangga berikan kepada Surya seolah hutang budinya belum terbayar hingga saat ini. Hutang budi menyelamatkan Roby dari kecelakaan itu.


"Nona..." Surya membuka suara. Gina masih diam tidak ingin berbicara pada Surya yang ada disampingnya. Ia masih jengkel kepada papanya sejak keberangkatannya tadi dari rumah.


Gina masih didalam kamar saat Mbak Yuyun memanggilnya.


"Nona, Tuan Rangga memanggil." Ujar Mbak Yuyun sopan.


"Aku segera turun." Gina melepas earphone ditelinganya. Ia sedang mendengarkan lagu-lagu di playlist ponsel.


Tampak Pak Rangga dan Surya berbincang di ruang tamu. Bu Marina juga terlihat menuju salah satu sofa dan duduk di samping suaminya.


"Ayo." Ajak Gina cuek sambil berjalan menuju pintu tanpa menghiraukan semua orang di ruangan itu. Surya berpamitan dan beranjak dari duduknya mengikuti Gina. Langkah Surya yang lebar membuatnya bisa menyusul dan bahkan mendahului Gina. Gina hanya meliriknya sekilas saat Surya melewati langkahnya.


Surya sudah sampai di mobil dan membuka pintu depan. Tapi Gina tidak masuk dan membuka sendiri pintu belakang lalu memasuki mobil Surya. Surya melihat Gina dan ragu-ragu akan menutupnya kembali.

__ADS_1


"Surya, biarkan Gina duduk disampingmu." Suara tiba-tiba Pak Surya dari arah pintu utama rumah. Gina bisa mendengar jelas suara Papanya karena pintu mobil belum sepenuhnya tertutup. Ia memandang Papanya kesal.


"Gina, jaga sikapmu. Surya bukan sopir pribadimu. Kau adalah calon istrinya. Lakukan semua dengan benar." Seribu kali ia ingin marah tapi Gina harus menahannya. Sekali lagi demi R-Company.


Dan sekarang inilah akhirnya, Gina duduk disamping Surya yang sedang menyetir.


"Nona..." Ulang Surya karena Gina tidak juga menanggapi.


"Aku tidak tuli." Jawab Gina sengak masih melihat kaca disampingnya.


"Aku akan memutar musik. Anda sedang ingin mendengarkan apa?"


"Apapun asal jangan suaramu."


"Baik, Nona."


Gina melirik Surya dan melihat pria disampingnya itu seperti tidak terpengaruh pada sikap kasarnya. Dan fikirannya segera teralihkan begitu terdengar lagu Maroon 5 dari audio yang dinyalakan Surya. Gina mengenali vocal Adam Levine tapi tidak tahu apa judul lagu yang dinyanyikannya.


Perjalanan Gina kali ini terasa begitu lama. Gina benar-benar tidak nyaman pergi bersama Surya berdua seperti ini. Ini membuat mereka seperti benar-benar pasangan. Walaupun sebenarnya mereka memang adalah pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.


Surya memarkir mobilnya di depan sebuah butik lalu membukakan pintu mobil untuk Gina. Gina masih acuh kepadanya. Ia benar-benar menganggap Surya hanya sopirnya.


"Selamat datang, Nona, Tuan..." Sapa salah seorang penjaga butik.


"Silakan duduk." Ajaknya membimbing Gina dan Surya ke sebuah sofa set dan mereka pun mengikuti.


"Kami memiliki koleksi busana pengantin dengan desain terbaik dari tekstil pilihan. Seperti ini." Penjaga butik itu menyodorkan sebuah katalog. Gina belum bergeming dan masih mengabaikan. Akhirnya Surya meraih katalog itu karena ia tahu penjaga butik memberi tatapan aneh kepada mereka berdua. Sepertinya penjaga butik itu menangkap sesuatu yang tidak baik dari sikap Gina.


"Semua koleksi ini bagus dan cantik. Saya yakin Anda pasti cantik memakai semua ini, Nona." Bujuk Surya agar Gina mau menanggapi katalog yang ia buka.


"Nona?" Penjaga butik terkejut dengan panggilan Surya kepada Gina. Ia mengira mereka adalah pasangan tapi ternyata pria yang bersama Gina memanggilnya Nona.

__ADS_1


"Oh itu, aku suka memanggilnya begitu. Nona manis. Begitu aku biasa memanggilnya." Seketika Gina menoleh kepada Surya dengan pandangan melotot. Tak mengerti kenapa Surya melakukan itu. Kenapa mengarang cerita tentang panggilannya. Sementara itu Surya hanya membalas pandangan Gina dengan tatapan teduh dan senyum yang mengembang lembut.


__ADS_2