
"Jadi, dia gadis itu?" Suara seorang gadis tiba-tiba kepada sepasang kekasih yang duduk berdekatan.
"Hei, dengarkan aku." Pemuda itu memegang lengan gadis yang baru datang. Tapi sentuhannya segera ditepis.
"Jadi benar, ternyata kau memang berselingkuh." Gadis itu tampak sangat marah.
"Iya, aku berselingkuh." Pemuda itu berterus terang. Tidak mengelak sama sekali. Gina yang mendengar itu pun ikut terperanjat. Berani sekali pria itu berterus terang bahwa dia berselingkuh dengan sangat mudah.
"Dasar pria kurang ajar." Maki gadis itu.
"Hei, perempuan perebut pacar orang, kau tahu mungkin dia hanya mempermainkanmu. Dia hanya ingin uangmu. Dia akan sangat manis padamu lalu setelah mendapatkan apa yang dia mau, kau akan dibuangnya ke tempat sampah." Ganti gadis itu menghadik pacar baru pacarnya.
"Jaga mulut besarmu." Pemuda itu mengangkat tangan hendak melayangkan pukulannya. Tapi belum sampai menyentuh gadis itu, seseorang menahan lengannya. Pemuda itu memandang dengan penuh amarah karena telah menahannya. Gadis yang sudah memejamkan matanya rapat-rapat karena hendak mendapat pukulan kini membuka matanya perlahan.
"Gina..."
"Hei, pria tukang selingkuh. Bisa-bisanya kau memukul wanita. Kau ini pria atau bukan? Kalau kau memang ingin memukul wanita, pilihlah wanita yang bisa mengimbangimu." Gina tidak menghiraukan Lita yang kaget tiba-tiba ia sudah ada disampingnya.
"Jadi, menurutmu kau sepadan denganku?" Setelah itu pacar Lita tertawa meremehkan.
"Bagaimana kau bisa melawanku sedangkan hak sepatumu saja setinggi itu."
"Jangan memancing amarahku. Kesalahan pertamamu adalah menyelingkuhi temanku. Jangan tambah lagi kesalahan yang lain dengan mencoba kemapuanku. Aku tidak biasa menyombongkan diri, tapi jika kau memaksa aku bisa apa kalau bukan selain meladenimu."
"Kalian teman?" Pemuda itu sinis.
"Nona cantik, bagaimana kau mau berteman dengan gadis jelek seperti dia. Dia pendek, jelek, gemuk, aku saja malu berjalan dengannya. Kau tahu, satu-satunya hal baik yang dia punya adalah dompetnya." Sejurus kemudian, sebuah tinju mendarat di wajah pacar Lita, yang sebentar lagi Gina memastikan akan menjadi mantan.
Pemuda itu terhuyung dan kemudian jatuh tersungkur.
"Mau mencobanya lagi?" Gina mengangkat tinjunya berpura-pura akan memukul pemuda itu lagi.
"Lihat saja gadis sialan, aku akan membalasmu nanti." Ancamnya. Pacar baru pemuda itu membantunya berdiri. Pacar Lita tampak kesakitan. Pipinya mulai terlihat merah memar.
"Tidak usah nanti, sekarang saja. Aku juga sudah lama tidak berolah raga. Aku rasa meninju manusia lebih menyenangkan dari pada meninju samsak." Gina berbicara dengan tenang dan penuh percaya diri. Ia memang menguasai ilmu bela diri. Ia dan kakaknya sejak kecil sudah mendapatkan latihan taekwondo. Orang tuanya mendatangkan pelatih profesional agar mereka bisa menjaga diri mereka sendiri karena Pak Rangga memiliki kekhawatiran jika anak2nya mungkin bisa menjadi sasaran para penculik atau pelaku kejahatan lain untuk mendapatkan uang dari itu. Jadilah Gina adalah seorang taekwondoin dengan sabuk hitam.
__ADS_1
Tidak banyak yang tahu Gina jago taekwondo karena penampilannya yang sangat feminim. Begitu pula Lita. Baru kali ini ia tahu bahwa temannya itu bisa berkelahi juga. Seorang Gina yang manis dan manja bisa meninju seorang pria hingga roboh.
"Gina, kau tidak apa-apa?" Lita mendekati sambil masih memandang mantan pacarnya yang keluar dari restoran.
"Tidak." Jawab Gina singkat dan duduk di kursinya kembali.
"Nona baik-baik saja?" Hanna tampak khawatir sekaligus takut. Gina sempat meliriknya tadi saat Gina meninju mantan pacar Lita. Hanna menutup kedua wajahnya. Ia seperti merasa ngeri.
"Aku baik-baik saja." Gina melanjutkan makan.
"Ahh, makanan ini sudah tidak enak." Ia meletakkan kembali sendoknya.
"Ini semua gara-gara kau. Kenapa membuat keributan di sini saat aku sedang makan." Omel Gina kepada Lita yang sekarang ikut duduk semeja dengannya.
"Mana ku tahu kalau kau ada disini." Ucap Lita sendu lalu menangis.
"Kau menangis?" Gina menatap Lita.
"Ya Tuhan, apa yang kau harapkan dari pria seperti dia? Dia hanya memanfaatkanmu dan juga menghinamu di depan banyak orang. Apa kau sudah tidak waras menangisinya begitu." Omel Gina.
"Baru saja kau katakan kepada gadis perebut pacarmu kalau dia hanya mau uang, kenapa sekarang kau menyesal memutuskannya. Menurutku putus dengannya adalah hal terbaik untukmu."
"Entahlah... aku tahu dia hanya mau uangku, tapi menurutku dia tampan. Kau bisa lihat kan. Dia tampan sekali." Lita masih berlinang air mata.
"Hmmmm... wajah tampan hanya kedok saja baginya. Apalah artinya berwajah tampan kalau kelakuannya seperti itu. Sudahlah, masih banyak ikan di laut."
"Maksudmu aku harus berpacaran dengan ikan?"
"Kalau kau mau." Jawab Gina asal sambil menahan tawa. Lita tiba-tiba menjadi naif setelah patah hati. Beberapa hari tidak bertemu Lita, mereka bertemu lagi disaat yang tak terduga.
Menurut cerita Lita ia tahu pacarnya sedang berselingkuh dari temannya yang memergoki mereka dan mengirim pesan padanya. Awalnya ia tidak percaya. Tapi setelah melihatnya langsung, ternyata temannya benar.
"Jadi, kau sekarang memimpin perusahaanmu sendiri? Kau jadi bosnya?" Ujar Lita antusias saat Gina mengajaknya bermain ke R-Company agar Lita sedikit terhibur setelah baru saja putus dari pacarnya. Gina belum bisa melakukan hal lebih selain itu karena dirinya juga masih terikat jam kerja saat ini.
"Tentu saja." Jawab Gina bohong. Hanna yang mendengar itu dibelakang Gina berjalan hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Pantas saja kau meninggalkan Font begitu saja." Lita ikut berhenti di tempat Gina membuka pintu.
"Wah, ini ruanganmu?"
"Hmm..." Gina duduk di sofa ruangan itu.
"Duduklah, ayo kita mengobrol."
"Jangan sekarang." Lita melihat jam tangannya.
"Aku harus kembali ke Font sebelum jam 2." Lita tampak siap beranjak.
"Yang jelas sekarang aku sudah tahu kantormu dan terima kasih sudah menjadi peyelamatku tadi." Setelah kalimat terakhirnya, wajah Lita tampak sendu.
"Sudahlah... banyak pegawai Font yang keren dan masih single. Jangan bersedih. Berterima kasihlah kepada mantan pacarmu yang tidak tahu diri itu. Berkat dia, sekarang kau bisa ganti pacar baru."
"Oh iya kau benar." Wajah Lita mulai bersinar lagi. Kata-kata Gina seperti memberinya motivasi.
"Kau juga harus berterima kasih kepada Sunday. Berkatnya, kau bisa berganti pujaan hati." Lita menggoda Gina.
"Hei... itu hal yang berbeda." Jawab Gina langsung.
"Berbeda apanya. Dasar!" Lita tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya tersenyum jenaka lalu beranjak dari situ setelah sempat juga memberi salam pada Hanna yang juga ada di dalam ruangan.
Gina masih duduk di sofa ruangannya. Ia yakin besok Lita akan sangat terkejut ketika undangan pernikahannya dengan Surya sampai padanya. Lita akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan Gina harus siap dengan itu. Bukan Lita saja, semua orang yang mengenalnya akan bersikap sama. Karena mereka tahu gadis seperti apa Gina. Gina tidak menyukai sesuatu yang biasa, termasuk seleranya soal pacar apalagi suami.
"Nona, bisa kita mulai bekerja?" Ajakan Hanna membuat lamunannya buyar.
"Baiklah... kita mulai dari mana?"
🌸🌸🌸
Gina menyisir rambutnya di depan cermin. Ada ketukan di pintu kamarnya. Dan tanpa menunggu persetujuan Gina, pintu itu sudah di buka. Mamanya masuk dengan senyum mengembang.
"Mama yakin tidak pernah berselingkuh dari Papa?" Seketika wajah mamanya berubah menjadi pucat pasi. Tampak juga kepanikan disana.
__ADS_1