
Mbak Yuyun membawa belanjaannya dengan erat hingga akhirnya ojek yang ditumpanginya berhenti tepat di depan pintu gerbang. Ia lalu turun membawa keranjang berisi sayuran segar dan sekantung besar entah apa saja isinya yang jelas itu adalah bahan makanan segar yang didapatnya dari pasar sesuai permintaan Bu Marina. Setelah membayarkan sejumlah ongkos kepada tukang ojek itu, Mbak Yuyun lalu masuk dengan mengangkat keranjangnya. Pak Eko, security rumah itu menghampiri Mbak Yuyun.
"Yang itu tolong langsung angkut ke dapur ya, Pak."
"Siap, Mbak."
Kedua pekerja di rumah itu seperti sudah terbiasa untuk saling bekerja sama. Pak Eko selalu membantu Mbak Yuyun disaat-saat seperti ini. Ketika membutuhkan bantuan dengan benda-benda berat, Mbak Yuyun akan meminta bantuan Pak Eko. Mbak Yuyun juga tidak pernah lupa menyiapkan kopi Pak Eko ketika pagi dan malam. Mereka saling membantu sama lain sejak mereka bekerja di sini bertahun-tahun yang lalu.
Mbak Yuyun berjalan menuju dapur dengan diikuti oleh Pak Eko dibelakangnya. Tapi saat memasuki dapur, Mbak Yuyun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mau tidak mau Pak Eko pun turut berhenti mendadak mengikuti Mbak Yuyun.
"Kenapa pakai rem cakram, Mbak. Hampir saja aku menabrak." Keluh Pak Eko.
Tapi Mbak Yuyun tidak menjawabnya dan hanya mematung melihat apa yang ada di depannya. Pak Eko penasaran lalu melongok apa yang sebenarnya dilihat oleh temannya itu. Sebuah wajan dengan ceceran nasi di segala tempat yang hampir rata. Panci dan spatula juga tergeletak sembarangan di sana. Padahal seingatnya sebelum berangkat ke pasar ia sudah membersihkan dapur dan tidak ada noda sedikitpun. Tapi saat ia kembali kenapa dapur itu sudah berubah berantakan lagi.
"Nona Gina..." Bisik Mbak Yuyun sambil menghembuskan nafas berat.
Ia berfikir pastilah Gina yang melakukan itu. Nasi goreng yang berceceran serta bungkus coklat bubuk pasti adalah "hasil kerja" Gina. Baru saja ia berfikir bahwa Gina sudah berubah menjadi istri yang baik dengan mulai mau menyentuh dapur dengan tangannya sendiri tapi ternyata beginilah akhirnya yang ia hasilkan. Dapur yang kotor setelah ia gunakan.
"Sudah Pak, letakkan di sana saja." Mbak Yuyun memberi instruksi kepada Pak Eko yang menuju ke arah seperti perintahnya. Setelah Pak Eko keluar dari dapur, Mbak Yuyun menghela nafas berat sambil mulai menyentuh wajan yang harus ia cuci itu. Ia pun melakukan pembersihan ulang sekarang.
Kamar itu seperti hangat sekarang. Dengan pencahayaan dari sinar matahari yang masuk melalui tirai transparan di cendela dan angin yang masuk perlahan menerpanya. Surya merasakan tubuhnya menjadi hangat oleh sesuatu di dekatnya. Matanya yang terpejam terasa ada yang meneduhi dari cahaya yang semula terasa hangat di kelopak matanya. Ia lalu membuka matanya dan penglihatannya langsung disambut oleh wajah Gina yang mendekat ke wajahnya. Wajah yang tidak ada cacat sedikitpun itu meneduhinya. Surya menjadi gusar dengan jantung yang mendadak berdebar kencang.
"Nona, apa yang sedang Anda lakukan?" Surya merasa harus mencegah Gina untuk lebih dekat lagi padanya. Gina yang terkesiap lalu beberapa saat kemudian mengangkat wajahnya dan kembali pada posisi berdiri.
"Oh itu, aku khawatir kepadamu. Kenapa kau tidur dengan sangat pulas. Aku hanya ingin memastikan apa kau masih bernafas atau tidak." Jawab Gina cepat dan lancar. Tapi Surya masih memandangnya lurus.
"Kau fikir apa yang sedang ku lakukan kepadamu?" Gina sekarang memelototi Surya.
"Tidak ada, Nona. Saya tidak berfikir apapun." Surya lalu mengangkat tubuhnya untuk duduk.
"Kau mau kemana? Kau tetaplah disitu. Aku akan menyiapkan obatmu." Gina membuka kantong berisi obat dari resep dokter tadi.
"Baik, Nona." Surya lalu diam di tempat menunggu Gina memberikan obatnya.
Gina menyiapkan obat Surya di meja dekat sofa kamarnya sambil menarik nafas dalam tapi perlahan. Ia tidak mau Surya tahu apa yang sedang dialaminya. Rasanya seperti mendapatkan serangan jantung mendadak. Wajah Surya yang menggemaskan hampir saja membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.
🌸🌸🌸
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku merasa Gina benar-benar sudah jatuh cinta kepada Surya. Ini tidak baik. Bagaimana bisa gadis bodoh itu masih saja kekanak-kanakan dengan sangat mudah jatuh cinta kepada para pria. Dasar Gina." Gumam Bu Marina sambil menatap layar televisi.
Sejak tadi ia berdiam di kamar berfikir bagaimana mungkin seorang Gina benar-benar menyukai pria seperti Surya. Pria yang berasal dari kampung dan tidak terlihat menarik, menurut Gina waktu itu.
"Apa itu karena Gina mengubah penampilannya sehingga terlihat menarik dan membuat Gina lalu jatuh cinta?" Tebak Bu Marina.
"Kalau memang karena itu, bagaimana caranya aku membuat Surya kembali pada penampilan lamanya sehingga Gina akan membencinya lagi?" Bu Marina berfikir. Ia masih memeluk remot tv yang sejak tadi dikuasainya agar Pak Rangga tidak mengubah saluran televisi itu menjadi acara warta berita.
"Tidak... tidak... itu akan sangat sulit karena Ginalah yang memegang kendali atas penampilan Surya. Jadi itu jelas-jelas bukan kuasaku untuk mengubah penampilan Surya." Bu Marina memandang televisi tapi fikirannya tidak ada di sana.
"Aku harus memikirkan cara lain agar Gina berhenti menyukai Surya. Apapun itu aku harus membuat Gina membenci Surya lagi. Aku tidak tahan jika putriku satu-satunya benar-benar bersuamikan orang kampung."
Di saat Bu Marina sibuk dengan fikirannya, Pak Rangga memasuki kamar dan berbicara dengan seseorang dari ponselnya.
"Iya, untuk itulah aku merumahkan diriku sendiri. Aku punya menantu yang sangat kompeten untuk mengurus perusahaanku. Dan juga, putriku pun ada di sana. Aku tidak punya alasan untuk tidak menikmati masa tuaku." Entah dengan siapa Pak Rangga berbicara tapi Bu Marina memanyunkan bibirnya tidak suka saat suaminya mengatakan semua itu.
"Apa cucu? Tentu saja menantuku juga akan memberikanku cucu. Aku akan membuat mereka memberiku banyak cucu. Diusiaku yang sekarang tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa bermain dengan cucu-cucu yang lucu dan menggemaskan." Pak Rangga lalu tertawa.
"Berapa? Kau punya 5 cucu? Itu dari berapa anakmu? Apa? Tiga? Baiklah, aku akan memiliki paling tidak lima cucu hanya dari Gina. Aku akan membuatnya melanggar aturan keluarga berencana yang di sarankan oleh pemerintah. Aku akan membuatnya tidak sepatuh aku yang hanya memiliki dua anak cukup. Aku harus membuat keluarga Ranggahadi menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya." Wajah Pak Rangga tampak senang berbicara seperti itu. Tapi sebaliknya Bu Marina cemberut saja dari tadi melihat suaminya yang berbicara panjang lebar tentang Gina.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita bertemu pekan ini. Di tempat biasa bukan? Kau tahu betul baru saja aku membeli stik golf baru. Ku rasa inilah saatnya aku mencoba kempuannya seperti yang dikatakan oleh penjualnya." Setelah mengucap salam perpisahan, Pak Rangga lalu menutup teleponnya dan meletakkan di atas meja.
"Siapa dia? Pasti Pak Sasono." Tebak Bu Marina.
"Siapa lagi yang selalu suka menyombong padaku kalau bukan dia. Pensiun lebih dulu, memiliki cucu lebih banyak, dia selalu menyombongkan semua itu. Aku akan membalasnya nanti."
"Bagaimana bisa kau membuat Gina memberimu lima orang cucu. Dia bukan mesin yang bisa kau program sesuai keinginanmu."
"Apa salahnya hanya meminta padanya. Tentang ia mampu atau tidak, aku tidak akan memaksakan diri." Jawab Pak Rangga santai.
"Ya paling tidak seorang cucu saja dalam waktu dekat sudah cukup bagiku. Istri Faris baru saja melahirkan seorang bayi, aku rasa Gina pasti ingin melahirkan seorang bayi juga untuk kita."
"Papa tidak pernah mengerti Gina. Bagaimana bisa dia memberi Papa bayi jika pernikahannya saja karena Papa paksa."
"Siapa bilang dia tidak bisa? Kalau pada akhirnya dia benar-benar jatuh cinta kepada Surya, bukankah bukan hal sulit untuknya bisa memberiku seorang bayi?"
"Apa itu? Kenapa Papa percaya diri Gina benar-benar jatuh cinta kepada Surya? Papa tidak ingat bagaimana putri kita yang playgirl itu sering kali berganti pacar? Bahkan Papa sampai mengirim pengawal tanpa sepengetahuan Gina karena Papa takut dia dimanfaatkan oleh para teman prianya? Itu artinya mungkin saja perasaannya kepada Surya sekarang juga sama seperti itu. Hanya sesaat saja." Jelas Bu Marina panjang lebar.
"Dan lagi, bagaimana seandainya ternyata Surya hanya Gina jadikan sebagai pelarian saja karena Faris sudah menikah? Kita tidak tahu bukan, apa yang sebenarnya terjadi pada Gina?"
"Benar. Dan kita juga tidak tahu kalau apa yang Mama katakan juga berarti sebaliknya. Mungkin saja Gina sudah bukan seorang playgirl lagi yang mudah sekali jatuh cinta. Atau mungkin dia juga pada akhirnya menemukan cinta sejatinya dan bukan menjadikan Surya sebagai pelarian cintanya saja." Bantah Pak Rangga.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Aku sangat mengenal putriku meski aku jarang bersamanya. Surya bukan pria yang bisa membuatnya jatuh cinta."
"Itu hanya teori Mama." Jawab Pak Rangga singkat lalu berjalan menuju kamar mandi.
Bu Marina masih duduk di tempatnya seperti semula sambil memasang wajahnya yang penuh dengan kilatan petir karena semua teorinya tentang Gina berusaha dipatahkan oleh suaminya. Ia benar-benar tidak terima jika Gina ternyata memang jatuh cinta kepada Surya.
Surya merasa bosan terus berada di kamar sepanjang hari. Yang ia lakukan hanya menonton tv dengan sesekali memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan masuk apalagi panggilan. Itu pasti karena Gina sudah menyuruh sekretarisnya untuk tidak mengganggu dengan urusan pekerjaan sehingga yang ada sekarang Surya benar-benar memiliki waktu yang sangat luang.
Gina melihat Surya melipat wajahnya. Ia tahu Surya mungkin merasa bosan. Gina tersenyum melihatnya. Ia merasa benar-benar harus menjaga Surya dengan baik hingga sembuh. Berkali-kali Gina mencuri pandang kepada Surya yang sekarang mengganti chanel televisi sembarangan. Lalu kemudian ia mengambil ponselnya lagi dan membukanya. Ia tampak memencet-mencet touch screen ponselnya. Lalu kemudian ia tersenyum. Gina menjadi penasaran apa yang sebenarnya sedang Surya lihat. Kenapa dia terlihat bahagia begitu.
"Apa yang kau lihat? Sepertinya kau senang sekali." Gina sudah ada di samping tempat tidur dimana tempat Surya sedang duduk bersandar kepala tempat tidur.
"Hanya foto-foto, Nona."
"Foto? Foto siapa?"
"Ahh, tidak penting, Nona."
"Kalau tidak penting, kenapa kau terlihat senang saat melihatnya?" Gina masih menyelidik.
"Oh, itu tadi saat saya melihat potongan film komedi, Nona."
"Film apa?" Surya menatap Gina dengan pandangan heran. Tiba-tiba saja Gina tertarik dengan apa yang ia lihat. Tidak biasanya Gina seperti itu.
"Ini Nona." Surya mengalihkan layar ponsel ke arahnya. Gina mendekatkan wajahnya. Tapi kemudian Surya menggeser tubuhnya. Gina memandang Surya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa?" Tanya Gina menginginkan penjelasan kepada Surya yang telah membuat jarak dengannya.
"Aku sudah mandi, apa aku masih bau?"
"Oh, bukan, Nona. Bukan begitu. Silakan Anda duduk. Pasti tidak nyaman melihat dalam posisi seperti itu." Surya menjelaskan. Gina lalu membuat tubuhnya menjadi tegak kembali.
"Baiklah." Gina lalu menurut apa yang dikatakan oleh Surya.
Akhirnya mereka benar-benar melihat film itu berdua di sebuah situs. Film yang berasal dari negara Thailand itu memang sangat lucu. Gina sampai tertawa hingga mengeluarkan air mata menontonnya.
__ADS_1
"Kau juga suka menonton film?" Tanya Gina kepada Surya yang ada di sebelahnya.
"Iya Nona."
"Kau sering menonton ya?"
"Tidak juga, Nona."
"Oh iya, kau orang yang sangat sibuk jadi pasti kau tidak punya banyak waktu luang apalagi untuk menonton film."
"Begitulah, Nona."
"Kau memang suka menonton film humor?"
"Iya Nona, itu sangat menghibur."
"Aku lebih suka film romantis."
"Iya, saya tahu, Nona." Jawab Surya santai.
"Jangan-jangan kau juga pernah membuntutiku saat menonton dengan pacar-pacarku dulu?" Gina mandang Surya lurus. Surya membalas pandangan Gina sebentar lalu memalingkan wajahnya lagi ke layar ponsel. Melihat gerak-gerik Surya, Gina jadi berfikir bahwa tuduhannya memang benar.
"Benarkah? Kau benar-benar membuntutiku hingga ke dalam bioskop?" Tanya Gina yang kali ini sangat ingin mendapatkan jawaban dari Surya. Akhirnya Surya mengangguk sebagai jawabannya.
"Wah, kau benar-benar penguntit sejati ya. Kau bahkan mengikutiku hingga ke dalam gedung bioskop." Gina memelototi Surya.
"Apa Papa yang menyuruhmu begitu?"
"Saya hanya melakukan yang seharusnya saya lakukan, Nona. Papa memerintahkan untuk tidak pernah kehilangan Anda sedetikpun jadi saya berusaha tidak akan melewatkan apapun dari yang Anda lakukan. Dan bioskop adalah tempat para pasangan bermesraan terutama bagi mereka yang menonton film--film romantis. Jadi saya rasa saya harus sigap jika terjadi sesuatu kepada Anda."
"Wah, aku tidak percaya ini bisa terjadi di dalam hidupku. Jangan-jangan kau juga bahkan mengikutiku sampai ke toilet?"
"Oh tidak Nona, saya menghindari tempat yang satu itu."
"Benarkah?"
"Benar, Nona." Jawab Surya sungguh-sungguh.
"Jadi, kau tahu segala hal tentangku saat menjadi 'penguntitku'?"
"Iya Nona, saya cukup lega karena Anda tidak pernah macam-macam saat berada di bioskop."
"Tentu saja, aku bukan wanita murahan yang bisa menggunakan sembarang tempat untuk bisa bermesraan dengan seorang pacar." Jawab Gina sambil mengangat dagunya.
"Tapi Anda juga tidak pernah bermesraan dengan siapapun dan dimanapun." Ucap Surya dengan yakin.
"Hei, kau ini benar-benar membuntutiku ya?" Gina memelototi Surya karena ia sangat tahu tentang hal itu.
"Seandainya saat itu aku mendapatimu mengawasiku sedetail itu, ku pastikan akan menghajarmu."
Surya ingat saat menjadi orang yang dipercaya Pak Rangga untuk mengawasi Gina, ia berusaha sangat sigap. Suatu ketika Gina sedang menonton, pacarnya seperti ingin menambil kesempatan dengan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Gina yang sedang asyik menikmati film, Surya lalu melempar botol air mineral tepat ke kepalanya agar pacar Gina tidak jadi menciumnya. Lalu saat Gina dan pacarnya berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, mereka terlihat bergandengan. Lalu dengan sengaja Surya memisahkan mereka dengan berpura-pura tersadung dan menabrak mereka hingga terpisah. Dan sebenarnya banyak hal yang ia lakukan agar Gina tidak melakukan kontak fisik dengan pacar-pacarnya. Tentu saja semua aksinya 'merusak' acara kencan Gina yang dilakukan dengan menyamar agar Gina tidak dapat mengenalinya. Sehingga semua itu berhasil dan berjalan sesuai harapannya.
Ia rasa itu akan sangat berbahaya untuk putri bosnya karena bagaimanapun juga 'keselamatan' Gina adalah tanggung jawabnya secara penuh. Dan mengingat semua itu tanpa sadar Surya menyunggingkan senyum.
"Hei, kau senang sekali ya mencampuri urusan orang lain?" Surya mengerutkan kening mendengar kalinat Gina.
"Itu karena saya peduli, Nona."
__ADS_1
"Oh ya?"