Tahta Surya

Tahta Surya
Jangan Pergi


__ADS_3

"Jangan pergi. Tetaplah di sini bersamaku." Gina menatap Surya bersungguh-sungguh. Surya tidak mengatakan apapun dan membalas pandangan Gina.


"Lagipula, kenapa kau harus pergi? Apa menjadi bawahanku membuatmu merasa terhina?"


"Bukan, Nona."


"Lalu kenapa?" Surya masih diam tak menjawab.


"Oh, aku tahu." Gina membulatkan matanya seperti tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.


"Kau berencana mendirikan perusahaanmu sendiri?"


"Tidak, Nona. Saya tidak memiliki modal sebanyak itu untuk pendirikan perusahaan saya sendiri."


"Kau punya banyak kenalan yang bisa kau jadikan rekan berbisnis. Kau pasti tidak kesulitan dalam hal itu."


"Sepertinya Anda memberi saya ide untuk apa yang harus saya lakukan nanti jika benar-benar tidak berada di R-Company lagi."


"Apa itu? Aku tidak percaya kau belum memiliki rencana apapun saat kau berniat meninggakan R-Company." Cibir Gina.


"Dengan kemampuanmu yang cepat tanggap pastilah sekarang kau sudah memilki sesuatu untuk kau kerjakan nanti saat kau benar-benar pergi." Tebak Gina.


"Anda benar, Nona. Saya memang memiliki rencana untuk itu."


"Wah, yang benar saja kau ini. Kau menjadi seperti sekarang ini dengan kampuan yang kau miliki karena kau berada di R-Company. Karena Papa yang menjadikanmu sebagai anak emasnya dan mengajarimu banyak hal untuk bisa memimpin perusahaan. Lalu setelah kau mampu, kau mendirikan perusahaan sendiri dan menjadi pesaing kami?" Surya mengerutkan kening mendengar kalimat terakhir Gina yang mulai menggunakan nada tinggi.


"Kau benar-benar..." Gina tidak melanjutkan kata-katanya dan memalingkan wajahnya dengan kesal. Surya tersenyum melihat itu.


"Tidak akan ada yang bisa menyaingi R-Company dalam waktu dekat ini, Nona. Apalagi kalau itu hanya sebuah perusahaan rintisan yang baru berdiri. Butuh banyak waktu untuk bisa menandingi R-Company." Gina masih memalingkan wajahnya.


"Lagipula saya tidak akan mendirikan sebuah perusahaan. Saya akan berganti suasana. Mungkin menjadi petani akan lebih menyenangkan. Saya bisa kembali ke kampung. Bisa bersama Bapak dan Ibu dan merawat sendiri sawah dan kebun yang sudah saya miliki."


"Oh jadi begitu. Aku tahu, kau bekerja di R-Company dengan gaji yang tinggi lalu membeli semua tanah di kampungmu agar setelah kau bosan kau bisa kembali ke sana dan menjadi tuan tanah." Surya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gina selalu berhasil untuk membuatnya tersenyum dengan semua kata-kata yang dianggapnya lucu.


"Benar bukan? Memang sepert itu rencanamu, bukan?"


"Benar, Nona. Hidup di kampung sangat menyenangkan. Hidup sederhana. Suasana yang damai. Dan itu adalah kampung halaman saya."


"Aku benar-benar tidak percaya kau ternyata orang yang seperti itu." Gina lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamar meninggalkan Surya. Surya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Gina yang menjadi kesal padanya hanya karena mengetahui dirinya harus pergi suatu saat nanti.


Surya berfikir seharusnya Gina cukup senang dengan kepergiannya. Bukankah dirinya selalu ingin terlepas dari pernikahan pura-pura mereka saat ini. Dan kepergiannya akan membuatnya tenang sehingga ia bisa menjalani hidup sesuai keinginannya.


🌸🌸🌸


Gina keluar dari kamar mandi dan melihat Surya sedang membuka gagang pintu untuk keluar dari kamar.


"Kau mau kemana?" Tanya Gina dengan memegang handuk di atas kepalanya.


"Saya tunggu Anda di bawah untuk makan malam, Nona."


"Kau tidak ingin aku membawakan makan malammu ke sini saja?"


"Tidak Nona, itu akan merepotkan Anda. Seharian ini Anda sudah naik turun untuk mengambilkan semua yang saya butuhkan."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku memang ingin melakukannya."


"Jangan, itu akan membuat Anda lelah. Saya cukup bisa melakukan apapun sendiri. Jadi jangan manjakan saya. Nanti kalau saya menjadi suka, bagaimana?"


"Apa? Suka?" Gina mengerjapkan matanya berkali-kali sambil mencerna makna kata suka yang Surya ucapkan.


"Baiklah, saya turun dulu, Nona." Surya tidak menjawab pertanyaan Gina dan tanpa meminta persetujuannya lagi, Surya keluar dari dalam kamar.


Sedangkan Gina masih memikirkan ucapan Surya sambil berjalan ke arah meja riasnya. Ia memandang dirinya di depan cermin.


"Menjadi suka? Apa perlakuanku yang seperti itu bisa membuatnya suka?" Gumamnya sambil melepas handuk di atas kepalanya. Rambutnya yang basah seketika terurai memanjang.


"Bukankah itu bagus. Dia menyukaiku juga akhirnya. Jadi itu akan membuatnya mengurungkan niat untuk pergi." Wajah Gina berbinar.


"Ahh, kenapa juga Surya harus pergi. Bukankah dia sudah nyaman berada di sini? Bekerja di R-Company dan mendapatkan gaji yang besar. Apa enaknya menjadi petani? Bekerja di sawah yang panas dan kotor. Itu hanya akan membuat kulitnya terbakar matahari dan menjadi semakin gelap." Wajah Gina berubah menjadi sendu.


"Tapi Surya mengatakan perlakuan baikku bisa membuatnya suka. Apa aku harus selalu baik padanya agar dia menjadi suka lalu tidak akan pergi dari sini?" Gina merasa dirinya harus melakukan itu untuk membuat Surya bertahan di rumahnya. Ia menyukai berada di dekat Surya dan merasa harus bisa membuat Surya tidak akan pergi.


"Yang jelas, ku rasa dia benar-benar bosan hari ini tidak ku perbolehkan sama sekali keluar dari kamar. Dasar pria aktif. Dia benar-benar tidak tahan walau diam hanya sehari saja."


Gina sudah selesai mengeringkan rambutnya. Sekarang ia mulai menuruni tangga untuk menuju meja makan. Terlihat Pak Rangga, Bu Marina dan Surya sudah berada dalam satu meja.


"Kalian tidak berniat makan malam tanpa aku, bukan?" Sapa Gina menghampiri meja makan lalu menarik salah satu kursi di samping Surya untuk ia duduki. Sekilas Gina sempat melirik Surya yang sedang menoleh kepadanya.


"Kenapa kau lama sekali? Surya mengatakan kau akan segera turun, tapi ternyata kata 'segera' itu adalah setengah jam lamanya." Pak Rangga memprotes.


"Aku harus memastikan rambutku kering agar bisa menikmati sup ayam sedap ini." Gina mengambil semangkuk sup dengan potongan ayam di dalamnya. Aromanya sangat menggugah selera.


Pak Rangga menggelengkan kepala mendengar jawaban putrinya yang sangat mengada-ada itu. Dan Gina benar-benar tidak peduli dengan Papanya yang kesal karena terlalu lama menunggunya. Gina lalu meletakkan mangkuk di depan Surya sambil memberinya senyuman. Surya bengong melihat itu.


"Terima kasih, Nona." Balas Surya.


"Atau aku menyuapimu saja? Ku rasa kau belum bisa bergerak dengan leuasa karena luka itu."


"Tidak Nona, saya bisa melakukannya sendiri." Surya buru-buru menolak karena seharian ini Gina benar-benar sudah membuatnya makan dengan disuapi olehnya. Sehigga malam ini ia segera turun sebelum Gina melakukan hal itu lagi padanya.


"Memangnya dia bayi, makan harus disuapi." Gumam Bu Marina dan itu bisa di di dengar oleh semua penghuni meja makan. Gina memilih untuk pura-pura tidak mendengar ucapan mamanya dan juga Surya jadi merasa tidak enak. Pak Rangga memilih untuk tidak peduli dengan ucapan istrinya dan menikmati makan malamnya dengan lahap.


"Surya, besok pertemuan itu akan dihadiri juga oleh Font dan juga Bio Grup. Untuk Font, kita sudah menjalin kerja sama denga baik selama ini. Dan besok adalah kesempatan kita untuk mulai mendekati Bio Grup. Pastikan mereka tertarik untuk mensuplai bahan mentah kepada kita dengan harga yang paling baik."


"Apa itu? Kau besok sudah kembali bekerja?" Sela Gina mendengar pembicaraan Surya dan Papanya.


"Iya Nona."


"Tidak boleh. Lukamu belum sembuh. Kau tidak boleh melakukan apapun selain hanya beristirahat di rumah."


"Manja sekali. Aku bahkan sudah mulai bekerja dua minggu setelah melahirkanmu." Ujar Bu Marina sinis. Gina memandang tajam Mamanya.


"Itu karena Mama adalah seorang workaholic. Tapi Surya, aku tidak mengizinkanmu untuk seperti itu."


"Maaf, Nona. Tapi sebagai pimpinan perusahaan, saya harus datang pada rapat persatuan para pengusaha besok."


"Kau bisa meminta asistenmu itu untuk menggantikan. Dulu Papa selalu mengandalkanmu sebagai asistennya dalam berbagai hal. Sekarang giliranmu untuk melakukan hal yang sama."

__ADS_1


"Saya cukup sehat untuk bisa hadir besok, Nona."


"Siapa yang tahu kau berbohong."


"Nona, saya benar-benar sudah lebih baik. Obat yang Dokter berika benar-benar obat terbaik sehingga luka saya terasa sudah tidak nyeri lagi. Saya serius." Surya memandang lekat wajah Gina berusaha meyakinkannya.


"Benarkah? Kau yakin tidak membohongiku demi bisa pergi besok?"


"Benar, Nona. Saya benar-benar sudah merasa jauh lebih baik. Itu juga karena seharian ini Anda merawat saya dengan sangat baik. Terima kasih, Nona." Surya menyunggingkan senyum diakhir kalimatnya. Gina berdebar lagi.


"Ehhem, kalian tidak melihat ada kami di sini? Bagaimana bisa kalian berlagak seperti sedang syuting sebuah FTV." Protes Bu Marina


"Tepat sekali, dengan adegan seromantis itu." Bu Marina seketika menoleh pada Pak Rangga sambil memelototkan matanya tanda tidak suka dengan apa yang suaminya katakan.


"Baiklah, aku ke kamar dulu." Pamit Bu Marina.


"Kau tidak melanjutkan makanmu?"


"Aku sudah kenyang sampai mau muntah." Jawabnya sambil meninggalkan meja makan.


"Jangan hiraukan Mamamu." Ujar Pak Rangga kepada Gina dan Surya yang bengong melihat wanita paruh baya itu.


"Hei, aku masih bisa mendengarmu, Pa. Iya, jangan hiraukan aku." Bu Marina berhenti dari langkahnya dan membalas ucapan suaminya itu. Setelah itu ia benar-benar pergi dan memasuki kamarnya.


Semua orang di meja makan hanya bisa diam setelah mendapati suasana yang tidak enak itu. Terlebih Surya yang merasa sebagai penyebab hal itu terjadi. Akhir-akhir ini ibu mertuanya semakin jelas menunjukkan sikap tidak sukanya itu padanya. Sejak awal Surya mengetahui hal itu tapi hanya saja Bu Marina tidak menunjukkan sejelas ini. Surya menarik nafas berat dengan sangat perlahan agar Gina maupun Pak Rangga tidak mengetahui ada beban yang ia sembunyikan saat ini.


"Maafkan atas sikap Mama." Ujar Gina. Ia sudah ada di dalam kamar sekarang.


"Kenapa meminta maaf?" Surya menutup pintu kembali. Gina masih berdiri di depan Surya setelah membalik badan untuk bisa berhadapan dengannya.


"Aku tahu seharusnya Mama yang harus meminta maaf. Tapi aku juga tahu mungkin Mama tidak akan mau melakukannya. Jadi, aku akan meminta maaf atas dirinya." Surya tersenyum.


"Sudah malam. Mari kita tidur." Surya berjalan menuju sofa dan mengalihkan pembicaraan yang membuat mereka jadi tidak nyaman.


"Kau mau tidur di sofa?"


"Iya, Nona."


"Tidak, tidurlah di tempat tidurku. Aku yang akan tidur di sofa."


"Jangan Nona. Saya akan tidur di sofa."


"Aku takut lukamu tertindih lagi kalau kau tidur di tempat sesempit itu." Gina membujuk Surya.


"Saya akan lebih berhati-hati, Nona."


"Tidak, tidurlah di tempat tidur." Gina menarik tangan Surya dan membawanya ke tempat tidur.


"Tapi Nona..."


"Sudahlah, jangan membuatku terus merasa bersalah dengan tidak menurut padaku lalu lukamu tidak juga sembuh." Bujuk Gina.


"Baiklah, Nona. Tapi dengan satu syarat." Gina mengerutkan kening mendengar kalimat Surya.

__ADS_1


"Apa?"


"Bagaimana saya bisa tidur nyenyak di sini jika Anda tidur di sofa? Anda tidak terbiasa tidur di sofa dan saya tidak terbiasa tidur di tempat tidur. Itu akan membuat kita sama-sama tidak bisa tidur akhirnya. Jadi... bagaimana kalau kita... tidur bersama..." Surya memandang lurus ke arah Gina yang masih mematung di tempatnya berdiri.


__ADS_2